Kamis, 05 November 2015

BEDA ALKITAB KRISTEN DENGAN KATOLIK

Alkitab Katolik terdiri dari 73 kitab sedangkan Kristen terdiri dari 66 kitab.
Gereja Katolik melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Alexandria - lebih dari satu abad sebelum kelahiran Yesus Kristus - yang menetapkan 43 kitab yang disebut Septuagint sebagai kitab-kitab Perjanjian Lama. Protestan melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Palestina yang diadakan oleh imam-imam Yahudi untuk memerangi umat Kristen, sekitar tahun 100 Masehi. Perlu dicatat bahwa baik Yesus maupun para murid-muridNya menggunakan Septuagint yaitu berdasarkan Kanon Alexandria. Tidakkah anda sebagai umat Kristen, mestinya memakai Kitab Perjanjian Lama yang dipergunakan oleh Yesus dan para murid-muridNya, dan bukan malahan menggunakan versi Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh para imam Yahudi yang ditetapkan puluhan tahun setelah wafat dan kebangkitan Yesus? 

Mengapa kitab-kitab yang ditolak dari Perjanjian Lama oleh imam-imam Yahudi itu disebut sebagai Deuterokanonika?  
Deuterokanonika artinya kira-kira kanon kedua. Disebut demikian karena disertakan setelah melalui banyak perdebatan. Santo Yeremia sendiri pernah mengutarakan kekhawatirannya akan keaslian kitab-kitab tersebut. Akan tetapi keputusan konsili-konsili Gereja Katolik dan para Paus menghentikan perdebatan dan menghapus kekhawatiran para ahli teologi pada masa itu. Santo Agustinus dari Hippo - salah satu Bapa dan Pujangga Gereja - pernah mengatakan begini: "Aku tidak akan meletakkan imanku pada kitab Injil, jika bukan karena otoritas Gereja Katolik yang mengarahkan aku untuk berbuat demikian." Bahwa keputusan Gereja Katolik untuk tetap mempertahankan kitab-kitab Deuterokanonika dan mengabaikan Kanon Palestina, menunjukkan bimbingan Roh Kudus yang membawa kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13). Ketika Gulungan-gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) ditemukan di Qumran, tepi barat sungai Yordan pada abad ke-20 ini, diantaranya terdapat sebagian salinan-salinan asli dalam bahasa Ibrani atas sejumlah kitab-kitab Deuterokanonika. 


Apokrif (atau dalam bahasa Inggris Apocrypha) berasal dari kata apokryphos dalam bahasa Yunani, artinya rahasia, tersembunyi atau tidak kanonik.[1] Dengan demikian, istilah ini merujuk kepada tulisan-tulisan yang diragukan keasliannya.
Istilah apokrif biasanya digunakan oleh Gereja Kristen Protestan untuk merujuk kepada kitab-kitab yang dianggap tidak kanonik, tidak termasuk ke dalam kanon Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru. Contohnya adalah kitab 1 dan 2 Makabe, Tobit, Yudit, Hikmat Salomo, Ecclesiasticus, Barukh, dan tambahan kitab Esther dan Daniel.


Deuterokanonika


Untuk kitab-kitab yang dipandang sebagai Apokrif dalam Perjanjian Lama oleh Kristen Protestan, istilah yang umum digunakan sekarang adalah Deuterokanonika, artinya kanon yang kedua, atau kanon yang kurang begitu penting. Meskipun dianggap kurang begitu penting, kitab-kitab di dalam "Deuterokanonika" tetap bermanfaat karena memberikan banyak informasi mengenai tradisi hikmat dan sejarah Yahudi sekitar masa pembuangan di Babel hingga menjelang kelahiran Yesus.
Namun dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur, Deuterokanika tetap termasuk dalam Kanon Alkitab sejak awal. Kristen Protestan memandang kitab-kitab Deuterokanonika sebagai apokrif sejak terjadinya Reformasi Protestan.
Istilah Deuterokanonika juga digunakan dalam Alkitab bahasa Indonesia yang diterbitkan bersama oleh Lembaga Alkitab Indonesia dan Lembaga Biblika Indonesia

 http://www.sarapanpagi.org/yesus-mengutip-septuaginta-atau-tidak-vt3889.html

Yesus mengutip Septuaginta atau tidak?

Tanakh Ibrani (naskah Perjanjian Lama berbahasa Ibrani) sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan dikenal dengan nama "Septuaginta", kadang ditulis juga dengan angka Romawi LXX (tujuh puluh) karena diterjemahkan oleh sekitar 70-an orang Yahudi berbahasa Yunani di Alexandria, Mesir. Diperkirakan diterjemahkan mulai abad ke-3 sebelum Masehi.

Jadi, pada zaman Yesus Septuaginta sudah ada dan juga digunakan sebagai Kitab Suci terjemahan bahasa Yunani. Bahasa Yunani kala itu mirip dengan bahasa Inggris zaman sekarang, sebagai bahasa internasional dan digunakan sebagai bahasa penghubung antar bangsa dan kaum pedagang dan cerdik-pandai. Selengkapnya mengenai Septuaginta bisa dibaca di septuaginta-vt116.html#p243

Pada zaman Yesus, masyarakat umum Yahudi menggunakan bahasa Aram sebagai bahasa sehari-hari. Meski Bahasa Ibrani pada suatu waktu tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari, bukan berarti bahasa Ibrani itu punah. Bahasa Ibrani tetap menjadi bahasa liturgis yang digunakan di sinagoga (rumah ibadah) dan juga di Bait Allah.

Di zaman Yesus Kristus, mereka menggunakan Tanakh (Torah + Nevi'im + Ketubim), dan Septuaginta. Tanakh digunakan di dalam sinagoga dan Septuaginta digunakan di luar sinagoga oleh Yahudi berbahasa Yunani yang sering datang ke Israel untuk berziarah ke Yerusalem.
Ada anggapan bahwa Yesus Kristus "konon" menggunakan versi Septuaginta ini ketika membaca kutipan Kitab Yesaya, namun ini adalah anggapan belaka dari perikop Lukas 4:16 dan seterusnya. Dikatakan bahwa Yesus Kristus membaca ayat dari kitab Yesaya, dan yang dibaca itu ternyata persis sama dengan yang ditulis di dalam Septuaginta.

Saya meragukan anggapan itu, karena Yesus Kristus membaca ayat itu "di dalam sinagoga" dan berdasarkan tradisi Yahudi, senantiasa ada Tanakh (bukan Septuaginta) di sinagoga. Bahwa yang dibaca itu persis seperti dalam Septuaginta barangkali karena penulis (Lukas) mengutipnya dari sana. Demikian juga saat Paulus dkk menulis, mereka juga mengutip Septuaginta, karena terjemahan itu dapat dibawa ke mana-mana, berbeda dengan Tanakh.

Tidak ada komentar: