Jumat, 06 November 2015

BISAKAH SARJANA HUKUM HIDUP DI DUNIA?

Bisakah sarjana hukum hidup di dunia ini? Bagaimana dia harus membuntuti pembantunya yang membawa uang berbelanja ke pasar untuk memastikan bahwa uang itu tidak dilarikannya? Bagaimana dia harus membuntuti uang yang dipinjamkan ke temannya untuk memastikan bahwa uang tersebut tidak dibawa minggat? Bagaimana dia harus membuntuti istrinya untuk memastikan bahwa istrinya tidak akan selingkuh? Bagaimana dia harus menunggui rumahnya siang dan malam untuk memastikan tidak kemalingan?

Mungkinkah manusia hidup tanpa rasa percaya? Bisa gila kalau konsep "kejelasan" yang kita kenakan untuk hidup.

Jadi, sarjana hukum nggak mungkin bisa hidup jika dia tidak mengenakan ajaran "iman" dari ALLAH.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

 Ketika anda berangkat dari rumah ke kantor dengan naik motor, konsep apakah yang anda gunakan? Kepastian selamat atau keyakinan selamat?

Jika kepastian selamat, nyatanya bisa saja terjadi kecelakaan. Itu artinya konsep itu tidak benar. Yang benar adalah keyakinan selamat. Sebab kalau anda tidak yakin selamat, tidak mungkin anda berangkat.

Dalam kepastian harus ada kepastiannya. Tapi dalam keyakinan tersembunyi sebuah misteri, sebuah rahasia. Dan rahasia itu di tangan ALLAH, merupakan kuasa ALLAH.

ALLAH bukanlah skakelar lampu yang ketika di "on" menyala, di "off" mati. ALLAH bukanlah budak anda sehingga setiap doa anda mesti dikabulkan. Tidak! Di dalam ALLAH tidak ada kepastian, yang ada adalah kuasa!

ALLAH di Alkitab memang mengobral janji. Tapi tak semua janji DIA tepati dan siapakah yang hendak menggugat kuasaNYA?! Itu kuasa namanya. Jika janji ditepati itu skakelar lampu namanya, itu budak namanya, bukan boss.

Tapi sekalipun demikian semua janji ALLAH harus kita imani. Apa sebab? Sebab DIA sanggup melakukannya.

Ketika ALLAH menjanjikan keturunan sebanyak bintang di langit kepada Abraham, apakah Abraham menerima janji itu? Tidak! Hingga matinya, anak Abraham masih tetap satu: Ishak saja.

Ibrani 11:39Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.

Rasul Paulus membeberkan tokoh-tokoh Alkitab yang berani melakukan apa saja karena iman, bukan karena kenyataan. Mereka semua menerima janji, belum menerima bukti.

Roma
8:24Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?
8:25Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Tidak ada komentar: