Rabu, 18 November 2015

LHO ITU 'KAN YESUS?!

Saya sedang ngopi di sebuah warung ketika si Umar mendatangi saya, lalu berceritalah dia kalau sehabis kena tilang karena melanggar rambu-rambu lalu lintas di siratal Sudirman. "Untung polisinya mau saya suap/sogok Rp. 50.000,-" Umar mengakhiri ceritanya.

Maka sayapun menyahutinya: "Lho itu 'kan YESUS, Mar?!" Umar bingung menoleh ke kanan dan ke kiri dikiranya ada seseorang yang saya sebut YESUS. "Mana?" Tanyanya karena memang tak ada orang yang lewat. "Itu, kamu tadi cerita kalau semestinya kena tilang tapi tidak jadi ditilang karena polisinya mau kamu sogok Rp. 50.000,-. Uang Rp. 50.000,- itu 'kan darah YESUS?!" Kata saya menerangkan bahwa itulah konsep penebusan sebagaimana yang YESUS lakukan dengan darahNYA.

Ketika Umar sedang memesan bakso, datanglah Ali dengan wajah tegang, bercerita ke saya: "Bang, aku tadi barusan menabrak orang." Saya cukup terkejut juga: "Lalu?" tanya saya. "Untung orangnya mau saya kasih uang Rp. 200.000,- untuk ongkos berobat." Kata saya: "Lho, itu 'kan YESUS?!" Kali ini ganti Ali yang kebingungan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari orang yang saya sebut YESUS. Maka saya terangkan: "Coba seandainya orang itu tidak mau menerima uangmu Rp. 200.000,- bukankah kamu akan urusan polisi? Uang damai Rp. 200.000,- itulah darah YESUS sebagai pertukaran perkaramu." Maksud saya, seharusnya urusannya besar bisa diringankan oleh uang tebusan Rp. 200.000,- itu.

Ketika Ali sedang memesan minuman es teh manis, ibu pemilik warung tampak turun dari Gojek sambil menenteng tas belanjaan dari pasar. Bu Kris yang biasa suka ceplas-ceplos itupun berkata: "Aduh, aduh harga beras naik lagi, harga tepung naik terus........" Maka sayapun nyeletuk: "Lho itu 'kan YESUS?!" Bu Kris kaget dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari siapa orang yang saya maksudkan. "Mana?" tanyanya. Saya terangkan: "Ketika ibu membayar harga beras, bukankah itu nilai pertukaran sebagaimana yang YESUS lakukan? Dosa ditukar dengan darah, ibu menukarkan uang dengan beras."

"Gimana? Gimana?" Bu Kris kurang paham tampaknya. Saya terangkan lebih gamblang lagi: "Kalau uang ibu tidak ibu tukarkan dengan beras, masak ibu hendak memakan uang? Demikian pula kalau seandainya tidak ada YESUS, masakan kita yang harus dihukum di neraka?"

"Oh, gitu." Bu Kris manggut-manggut mengerti.

Tidak ada komentar: