Senin, 16 November 2015

MUSLIM SELALU BICARA TANPA BUKTI

1. Tahun penulisan Injil; 40 tahun setelah kematian YESUS?

Kebenaran Alkitab memang banyak didukung oleh hasil temuan arkeologis. Tapi kebenaran isinya, bukan tentang tahun penulisannya. Bahwa ketika Alkitab yang sekarang dicocokkan isinya dengan yang temuan isinya banyak yang klop.

Tapi untuk tahun penulisannya yang muncul adalah dugaan-dugaannya atau teori-teorinya saja, bukan merupakan sebuah kepastian. Karena itu mengapa kita harus diikat dan mempermasalahkan tanggal penulisannya, bukan pada isinya yang lebih penting?

2. Injil yang asli sudah hancur;

Kalau sebuah rumah yang dijaga Satpam terjadi kemalingan, siapakah yang memiliki tanggungjawab moral? Jadi, di mana ALLAH sehingga Injil yang asli bisa musnah tak berbekas? Masakan ALLAH kalah dengan polisi? Polisi bisa menemukan barang bukti sekaligus meringkus malingnya, masakan ALLAH hanya bisa menduga-duga saja: "orang-orang Israel yang memusnahkan Injil yang asli." Orang Israel itu ada jutaan, yang mana?

Taurat yang kata ALLAH kitab pedoman dan rahmat serta Injil yang katanya kitab kebenaran, masakan dianaktirikan dari Al Qur'an yang cuma kitab peringatan? Sebuah logika yang error, 'kan?!

3. Injil yang diubah;

Merubahnya bagaimana? Ayat yang mana, asalnya seperti apa dan buktinya apa? Islam - kegegabahan hukum. Harusnya ada bukti baru bicara, bukan?!

4. Siapakah ALLAH itu?

Misal: saya mencuri barangnya bung Cikung, bukankah harusnya bung Cikung mengurus perkaranya di Indonesia? Tapi bung Cikung pergi ke Malaysia dan melaporkan saya di kepolisian Malaysia. Lucu, 'kan?! Seperti itulah ALLAH. Urusannya dengan bangsa Yahudi tapi koar-koarnya ke negeri Arab.

5. Alkitab itu merupakan rangkaian yang sangat sempurna;

Ke-66 kitab dalam Alkitab itu saling kait-mengkait sehingga jika ada satu bagian yang dirubah atau dihilangkan itu sama seperti sepedamotor yang dicopot salah satu bagian vitalnya. Tidak mudah bagi orang untuk mengarang Injil. Sebab Injil harus menggenapi nubuatan-nubuatan yang dituliskan secara berpencaran oleh nabi-nabi Perjanjian Lama. Injil tidak boleh keluar dari rel Perjanjian Lama. Sebab jika Injil itu air laut, Perjanjian Lama itu pantainya yang membatasi Injil. Jadi, bukan karena YESUS itu TUHAN sehingga DIA bisa membuat Injil yang berbeda dari Perjanjian Lama. Sebab di atas YESUS adalah ALLAH yang meletakkan dasar di Perjanjian Lama.

Dan saya tidak ragu-ragu menyembah YESUS sebagai TUHAN karena pekerjaanNYA sesuai, tepat benar dengan yang digariskan Perjanjian Lama.

Yoh. 7:16Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Cikung


Sementara itu, Yesus diduga "disalib" pada pertengahan masa pemerintahan Pontius Pilatus, atau sekitar tahun 30 M. Asumsi ini didasarkan pada kurun waktu Pontius Pilatus menjadi pejabat gubernur Yudaea dari tahun 26 hingga 36 M.6 Pontius Pilatus konon menyerahkan Yesus kepada orang-orang Yahudi untuk disalibkan.7 Jadi, antara Injil yang diajarkan oleh Yesus dengan kitab sinopsis pertama (Markus) berjarak sekitar 40 tahun!
Jelasnya, keterangan dari kitab-kitab sinopsis di atas membuktikan bahwa kitab-kitab kanonik yang diduga Injil itu bukanlah Kitab Suci Injil yang sebenarnya, tetapi merupakan kitab-kitab biografi tentang Yesus yang memiliki nilai seni tertentu pada masa penulisannya. Sedangkan Kitab Suci Injil yang diajarkan oleh Yesus kepada umat Israel jelasnya sudah hancur oleh sekelompok tangan-tangan umat Israel sendiri. Hal ini dijelaskan oleh Kitab Suci Al-Qur'an mengenai kebiasaan buruk Bani Israel (orang-orang Yahudi) terhadap kitab suci mereka (cetak biru ditambahkan):
Apakah kamu masih mengharapkan mereka (Bani Israel) akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar Firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. 2:75)
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah kalimat (Allah) dari tempat-tempatnya. Mereka berkata : "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula) : "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) : "Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. 4:46)
(Tetapi) karena mereka (orang-orang Yahudi) melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah kalimat (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. 5:13)
Keterangan dari tiga ayat Al-Qur'an di atas, yang menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi (Bani Israel) gemar merubah kalimat/firman Allah di dalam kitab suci yang diturunkan kepada mereka seperti Taurat, Zabur/Mazmur, dan Injil, semakin memperjelas fakta bahwa kitab-kitab wahyu yang orisinal tersebut benar-benar sudah hancur dan tidak dapat dikenali lagi sebagai kitab-kitab yang tunggal dan utuh. Sebutan Taurat, Zabur/Mazmur, dan Injil yang seringkali kita dengar dari mulut golongan ahli kitab (Yahudi & Kristen) untuk mengklaim kitab-kitab tertentu di dalam Alkitab/Bible mereka, sebenarnya merupakan sebutan terhadap kitab-kitab wahyu yang sudah berkali-kali dirubah dan ditambah oleh masing-masing pengarang/penulisnya. Lebih jauh, Allah tidak pernah menjamin kemurnian ketiga kitab wahyu tersebut hingga akhir masa. Ini berbeda dengan Kitab Suci Al-Qur'an yang secara tegas Allah menjamin kemurniannya hingga akhir masa (QS. 15:9). Namun demikian, melalui pemeriksaan yang hati-hati, kita mungkin masih dapat mengenali beberapa ayat tertentu dalam Alkitab/Bible yang patut diduga merupakan ayat-ayat Taurat, Zabur, dan Injil yang sebenarnya atau serpihan-serpihannya.
Adapun klaim orang Kristen bahwa yang dimaksud Kitab Suci Injil adalah kitab-kitab seperti Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes, adalah klaim yang sangat lemah, karena orang Kristen hanya mendasarkan pada satu ayat Markus berikut ini (cetak tebal ditambahkan):
Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. (Markus 1:1)

Padahal, ayat-ayat Markus lainnya (berjumlah 11 ayat di atas) secara tegas menyatakan bahwa Kitab Suci Injil adalah kitab suci yang diajarkan oleh Yesus kepada umat Israel dahulu, jauh sebelum ditulisnya Kitab Markus sendiri.

Tidak ada komentar: