Selasa, 01 Desember 2015

MEMBUKTIKAN ALLAH

Suatu ilustrasi yang bagus dan bisa saya terima sekaligus merupakan konsep berpikir saya. Bahwa keimanan itu harus didasarkan pada pembuktian tentang sesuatu yang tak kelihatan. Polisi itu membuktikan suatu kejadian yang tidak dilihatnya secara langsung. Suatu perkara yang sudah terjadi baru diselidiki kebenarannya.

Ibr. 11:1Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Melihat ALLAH dari buah ciptaanNYA itu benar. Tapi itu sangat umum sekali. Semua orang tanpa melalui agama juga bisa membuktikan bahwa itu pekerjaan ALLAH. Sebab kata-kata: "ALLAH" sendiri berarti Pencipta. Tapi di dunia ini ada banyak agama sebagai seolah-olah ada banyak jalan untuk mencapai ALLAH. Dan ALLAH tahu itu. Karena itu DIA berfirman;

"Jangan ada padamu allah lain di hadapanKU." Itulah hukum pertama dari 10 Hukum ALLAH. Selain itu sekaligus memberitahukan akan terjadinya pelanggaran. Sebab suatu peraturan dibuat karena terjadinya pelanggaran. Kalau tidak ada pelanggaran tidak perlu dibuatkan peraturan. Contohnya: batu. Tidak perlu dibuatkan larangan memakan batu karena tidak mungkin orang akan makan batu, bukan?!

Nah, beberapa waktu setelah ALLAH menurunkan 10 Hukum, bangsa Israel sudah melakukan pelanggaran itu. Bangsa Israel memaksa nabi Harun untuk membuatkan "allah" dari patung anak lembu yang terbuat dari emas, lalu Harun mengumumkan: "Hai Israel, inilah allahmu yang menuntunmu keluar dari Mesir." Nabi Musa marah sekali melihat kelakuan bangsa Israel itu.

Kesalahan yang serupa terjadi 700 tahun kemudian ketika bangsa Israel dipecah ALLAH menjadi 2 kerajaan. Yerobeam memimpin 10 suku Israel memberontak melawan keluarga Daud atas perintah ALLAH oleh sebab dosa raja Salomo. Yerobeam memimpin Israel Utara. Karena dia takut rakyatnya akan berbalik ke keluarga Daud, maka Yerobeam mendirikan 2 kuil berhala di kota Dan dan di kota Betel. Dia kembali membuat patung anak lembu emas dan membuat hari raya-hari raya palsu bagi Israel;

1Raja-raja
12:32Kemudian Yerobeam menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan kedelapan, sama seperti hari raya yang di Yehuda, dan ia sendiri naik tangga mezbah itu. Begitulah dibuatnya di Betel, yakni ia mempersembahkan korban kepada anak-anak lembu yang telah dibuatnya itu, dan ia menugaskan di Betel imam-imam bukit pengorbanan yang telah diangkatnya.
12:33Ia naik tangga mezbah yang dibuatnya di Betel itu pada hari yang kelima belas dalam bulan yang kedelapan, dalam bulan yang telah direncanakannya dalam hatinya sendiri; ia menentukan suatu hari raya bagi orang Israel dan ia naik tangga mezbah itu untuk membakar korban.

TUHAN marah luar biasa pada Yerobeam;

1Raj. 14:10Maka Aku akan mendatangkan malapetaka kepada keluarga Yerobeam. Aku akan melenyapkan dari pada Yerobeam setiap orang laki-laki, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. Aku akan menyapu keluarga Yerobeam seperti orang menyapu tahi sampai habis.

Bukankah sekarang ini di Indonesia ada 7 agama yang berketuhanan yang mahaesa, sesuai dengan sila pertama Pancasila? Dan bukankah masing-masing agama itu merasa dirinya yang paling benar? Dalam hal ini ALLAH juga tahu. Karena itu ALLAH menetapkan suatu bangsa yang dijadikan pilihanNYA sebagai penanda ALLAH yang benar itu ada bersama dengan bangsa itu, yakni bangsa Israel, hal mana dituliskan juga dalam Al Qur'an;

QS. 2:45  Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. 

Yes. 60:14Anak-anak orang-orang yang menindas engkau akan datang kepadamu dan tunduk, dan semua orang yang menista engkau akan sujud menyembah telapak kakimu; mereka akan menyebutkan engkau "kota TUHAN", "Sion, milik Yang Mahakudus, Allah Israel."

Kota TUHAN adalah Yerusalem, bukan Mekkah, bukan pula Takhta Suci Vatikan. Bangsa pilihan TUHAN adalah Israel, bukan Arab dan bukan pula Romawi. Nabi yang seperti Musa adalah YESUS, bukan Muhammad, juga bukan Paus.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Oleh: Sarah Mulyani, Peminat Dunia Tulis-Menulis
DALAM sebuah kelas, seorang dosen bertanya pada mahasiswanya. Begini percakapan mereka:
Dosen : “Apakah ada yang pernah melihat Tuhan?”
Semua mahasiswa diam.
Dosen : “Apakah ada yang pernah mendengar suara Tuhan?”
Semua mahasiswa diam.
Dosen : “Apakah ada yang pernah menyentuh Tuhan?”
Semua mahasiswa diam.
Dosen : “Berarti Tuhan itu tidak ada!”
Semua mahasiswa melongo, dan dosen tertawa bahagia. Kemudian ada satu mahasiwa yang tidak setuju dengan pernyataan dosen tersebut, bertanya pada semuanya.
Mahasiswa : “Apakah ada yang pernah melihat otak dosen?”
Semua diam.
Mahasiswa : “Apakah ada yang pernah mendengar suara otak dosen?”
Semua diam.
Mahasiswa : “Apakah ada yang pernah menyentuh otak dosen?”
Semua diam.
Mahasiswa : “Berarti dosen kita tidak ada otaknya”
Semua mahasiswa bergembira dan tertawa.
Sekilas mungkin ini lelucon, tapi ini membuktikan bahwa untuk mengimani Allah tidak perlu melihat Dzat-Nya yang terpampang secara nyata. Cukup dengan melihat ciptaan-Nya kita wajib meyakini bahwa semua yang ada di dunia ini pasti ada yang menciptakan. Dengan memperhatikan keteraturan alam semesta ini, seharusnya kita yakin kalau semua itu pasti ada yang mengaturnya. Dia adalah Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur yang Maha Tunggal dan tidak ada satu pun menyerupai-Nya yakni Allah SWT. []

Tidak ada komentar: