Selasa, 05 Januari 2016

BEKERJALAH MENURUT PORSINYA


Kita diberi pikiran adalah untuk berpikir secara maksimal dalam mengatasi masalah-masalah hidup kita. Kita diberi kaki dan tangan adalah juga untuk berusaha secara maksimal dalam mengatasi masalah-masalah hidup kita. Namun baik pikiran maupun daya kita itu terbatas. Masing-masing orang berbeda-beda ukurannya. Karena itu jangan sekali-sekali kita mengecam atau mempersalahkan keterbatasan orang lain. Sebab apa yang bagi kita gampang, bagi orang lain belum tentu gampang.


Nah, pada saat pikiran dan usaha tampak sia-sia, sudah mencapai batas, itu artinya ada rambu-rambu untuk berhenti. Ada kuasa yang sedang menghentikan atau menghadang langkah-langkah anda. Bisa jadi kuasa setan, bisa jadi juga kuasa TUHAN. Itulah waktu bagi kita untuk merenungkan segala sesuatu, yakni hal-hal yang diluar kemanusiaan, entah dunia iblis maupun kerohanian[TUHAN]. Kita perlu mencari tahu: ada apa dan siapa yang melakukannya?


Jika iblis yang melakukannya, itu tanda TUHAN sedang menguji iman kita. Artinya, dalam diri kita ada iman yang sedang bertunas atau bertumbuh. Itu memang perlu diuji oleh TUHAN. Tapi jika TUHAN yang melakukannya, itu tanda kemarahan, tanda ada dosa dalam diri kita. Ada tuntutan agar anda bertobat dan memohon pengampunan.




Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Tetapi kamu enggan,


TUHAN memberitahukan letak kekuatan kita dalam mengatasi berbagai masalah adalah jika kita bertobat dan tinggal tenang, artinya menyerahkan persoalan ke tangan TUHAN. Apa yang kita tidak sanggup mengerjakannya, ya serahkan ke ahlinya. Jangan kita memaksakan diri jika pikiran dan usaha sudah tidak kuat lagi, sebab sudah bukan bagian kita lagi. Sebab jika kita melawan batas kita, maka TUHAN akan menambah kuat tekanannya;


Yesaya
kamu berkata: "Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat," maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: "Kami mau mengendarai kuda tangkas," maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.
Seribu orang akan lari melihat ancaman satu orang, terhadap ancaman lima orang kamu akan lari, sampai kamu ditinggalkan seperti tonggak isyarat di atas puncak gunung dan seperti panji-panji di atas bukit.


Hidup akan tenang, damai dan bahagia jika kita paham mengatasi masalah. Jika suatu masalah bukan lagi masalah, maka tak ada masalah. Masalah nol = kebahagiaan. Yang kita perlu berhati-hati adalah dalam mencari jalan keluar jangan sampai jalan keluar itu keluar dari hukum-hukum atau kaidah-kaidah TUHAN, supaya masalah itu tidak bertambah menjadi masalah yang membesar atau masalah yang baru.


Jadi, ada 2 cara menyelesaikan masalah; jika kita bisa ya kita lakukan. Tapi jika kita sudah tak sanggup itu harus kita serahkan ke tangan TUHAN.


Hasil kerja TUHAN ada 2; TUHAN selesaikan secara ajaib, atau TUHAN suruh kita menghadapi masalah itu. Itulah konsep berpikirnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego ketika mereka dihadapkan permasalahan ancaman dimasukkan ke perapian yang menyala-nyala jika mereka tidak mau menuruti perintah raja Nebukadnezar untuk menyembah patung yang didirikannya.


Yang pertama, mereka berharap TUHAN menolong mereka diluputkan dari perapian itu;
Daniel
Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;


Yang kedua, mereka siap menghadapi perapian itu;




tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."


Nah, dimana TUHAN bekerjanya? Di saat mereka berada di lautan perapian itulah TUHAN bersama Sadrakh, Mesakh dan Abednego;




Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!"
Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!"


Karena Sadrakh, Mesakh dan Abednego mempermuliakan ALLAH, maka apa yang ALLAH perbuat untuk mereka?




Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.
Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.
Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu."
Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.



Tidak ada komentar: