Selasa, 26 Januari 2016

BIARLAH ADA PERTENTANGAN DALAM GEREJA

Gereja di zaman para rasul tidak dipimpin oleh pendeta tapi oleh ketua jemaat. Karena itu suasana gereja bisa berlangsung alamiah, tidak dibuat-buat seolah-olah damai padahal gersang, seolah-olah bersatu padahal ada perpecahan.

1Korintus
Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji.

Gereja masa kini oleh pimpinan pendeta disetel untuk mengkultuskan seorang pendeta, sebagai orang yang tak bisa dijangkau, tak bisa diganggu-gugat oleh jemaat. Gereja itu dibuat bersatu dalam satu pandangan berdasarkan aliran-alirannya. Jemaat tak diijinkan untuk mempertanyakan ajaran gereja tersebut. Mau tak mau apa saja yang dikhotbahkan pendeta tak boleh ditentang, melainkan harus diaminkan. Dan khotbah pendeta disebut sebagai Firman TUHAN, biar keren dan menyeramkan.

Ketika pendeta mengutip ayat Alkitab, itu memang Firman TUHAN. Tapi ketika menjabarkannya, apakah itu Firman TUHAN? Berapa persen ayat Alkitabnya dan berapa persen perkataan pendeta sendiri?

Mari kita pelajari seperti apa suasana gereja ketika TUHAN YESUS masuk dan mengajar di situ.

Lukas
Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"
Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"
Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.


Pertanyaannya:

  1. Apakah TUHAN YESUS tidak tahu kalau kata-kataNYA akan menyulut kemarahan orang-orang di gereja itu? Jika tahu, mengapa TUHAN YESUS sengaja membikin onar di gereja tersebut?
  2. Mengapa TUHAN YESUS memberikan contoh menciptakan keonaran di dalam gereja, tidak mengusahakan ketenangan seperti di gereja Katolik?
  3. Mengapa TUHAN YESUS membikin onar bangsa Yahudi sehingga semua orang Yahudi memusuhiNYA, bahkan menyalibkanNYA?

Matius
"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.

Jadi, pertentangan di dalam gereja itu kebenaran. Justru persatuan dalam gereja itu sangat membahayakan bagi kebenaran. Ajaran-ajaran yang menyesatkan akan terbiarkan menyesatkan jika pertentangan dihambat.


Tidak ada komentar: