Minggu, 10 Januari 2016

GAMBAR PERCINTAAN




Simbol percintaan selalu digambarkan dengan daun waru yang dipanah. Daun waru untuk menggambarkan “hati” sedangkan “panah” menggambarkan tembakan cinta. Padahal bentuk hati kita tidak seperti daun waru dan fungsinya tidak ada hubungannya dengan perasaan cinta. Gambar daun waru itu lebih menggambarkan bentuk kelamin perempuan sedangkan anak panah lebih menggambarkan kelamin laki-laki, sehingga “hati yang terpanah” itu lebih menggambarkan tentang hubungan seksual. Apakah ini tidak termasuk pornografi terselubung? Entahlah! Tapi yang jelas filosofi yang sudah terlanjur tertanam ke dalam pikiran kita telah mengarahkan kita untuk melihat orang pada kelaminnya.
Jangan lupa bahwa sebagian besar perbuatan kita dikendalikan oleh alam bawah sadar kita, oleh memori yang membuat rumus-rumus sehingga kita menjadi seperti mesin otomatis.
Contohnya: ketika kita menyetir motor atau mobil, yang bekerja itu otak bawah sadar kita, bukan otak sadar kita. Oleh otak itu kita dimungkinkan untuk membuat perkiraan yang presisi untuk menjalankan kendaraan di jalanan yang sempit, yang pas-pasan. Kita mempunyai ilmu perkiraan yang sangat canggih! Dari mana kita mendapatkan ilmu itu? Dari pengalaman menyetir mobil. Dari pengalaman-pengalaman itu otak bawah sadar kita membuat rumusan-rumusan sehingga kita bisa bekerja dengan cepat dan efektif.
Berbeda dengan tukang ukur jalan yang ke mana-mana membawa alat ukuran[meteran]. Mereka itu bekerja menggunakan otak sadarnya sehingga segala sesuatu harus mereka ukur, harus mereka perhitungkan. Mereka dituntut menggunakan kepastian bukan perkiraan.
Jadi, apa yang dihasilkan dari kepastian itu dikerjakan oleh otak sadar kita, sedangkan apa yang dihasilkan dari perkiraan itu dikerjakan oleh otak bawah sadar kita. Otak sadar itu seperti mesin manual sedangkan otak bawah sadar itu seperti mesin otomatis.
Jika otak bawah sadar kita diisi oleh konsep-konsep yang salah, maka tanpa sadar kita sedang dikendalikan oleh system yang salah, sehingga secara naluriah kita digiring untuk melihat orang dari alat kelaminnya. Padahal harusnya cinta itu ditujukan untuk mengasihi orangnya, kini telah bergeser ke alat kelamin, cinta = seks! Akibatnya fatal sekali, sesuai dengan kehendak setan kita dijadikan budak seks.
Sebab kalau soal alat kelamin, Siti juga punya, Susi juga punya, Sri juga punya. Tapi kepribadian Siti tidak mungkin dipunyai oleh Susi, kepribadian Susi tidak mungkin dipunyai oleh Sri, begitu dengan sebaliknya, bahwa masing-masing orang memiliki kepribadian sendiri-sendiri.
Jelas bahwa TUHAN berkehendak supaya kita mengasihi orang pada pribadinya, tapi setan menyelewengkannya ke alat kelamin. Pribadi ditukar dengan alat kelamin! Dan setan memulainya dari gambar-gambar yang abstrak supaya jalan penyesatannya bisa berhasil dengan mulus, sama seperti seorang pelancong yang melihat peta sebelum melangkahkan kakinya. Dari gambar akan diperoleh gambaran, dari gambaran akan dijadikan pelaksanaannya.

Nah, masihkah kita akan menggunakan gambaran cinta dengan daun waru yang tidak lain adalah kelamin wanita?!

  

HATI


Biasanya orang menunjuk hati itu ke dada, padahal organ hati itu ada di pinggang sebelah kanan, sedangkan yang ada di dada adalah jantung dan paru-paru. Jadi, apakah yang dimaksud dengan "hati?" Hati adalah akal pikiran kita, tempat kita mempertimbangkan segala sesuatu, yang baik atau yang buruk. Dari sanalah sumber segala perkataan dan perbuatan kita.


Kalau sakit hati? Sakit hati itu adalah sakitnya pikiran kita oleh karena perbuatan orang yang tidak masuk akal. Aku baik padanya, tapi mengapa dia jahat padaku? Nggak masuk akal, sakitlah pikiran kita. 

Tidak ada komentar: