Rabu, 20 Januari 2016

KEINGINAN DAGING

Apakah keinginan daging? Daging adalah tubuh, sedangkan roh menunjuk pada pikiran. Jadi, keinginan daging adalah keinginan tubuh kita, seperti makan, minum, nafsu seksual, apa yang dilihat mata, apa yang didengar telinga dan apa yang dirasakan oleh perasaan kita.

Tubuh menunjuk pada dunia atau duniawi, karena dari debulah kita dibuat dan kepada debu kita dikembalikan. Sedangkan roh atau pikiran menunjuk pada pikiran rohani atau KEILAHIAN, karena roh atau napas kita berasal dari ALLAH. Apa yang berasal dari debu akan dikembalikan kepada debu, sedangkan apa yang berasal dari ALLAH akan kembali pada ALLAH. Artinya, tubuh tidak akan dimintai pertanggungjawaban ALLAH, tapi pikiran kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh ALLAH. Kita adalah pikiran kita, bukan tubuh maupun wajah kita. Tubuh dan wajah kita tidaklah perlu. Entah ganteng atau tidak ganteng, entah cantik atau tidak cantik, tak pernah menjadi pertimbangan ALLAH. ALLAH yang menciptakan rupa buruk atau ganteng tak pernah tertarik oleh rupa kita. Tapi ALLAH tertarik pada pikiran kita.

Secara alamiah keinginan tubuh selalu melahirkan dosa, sedangkan keinginan pikiran kita selalu yang baik, yang benar dan yang kudus. Semua orang memiliki keinginan untuk menjadi orang baik, orang benar dan orang kudus. Itu dibuktikan dari usaha-usaha manusia di dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Ada lembaga-lembaga kepolisian, kejaksaan dan kehakiman. Sementara diri kita juga marah kalau dihina, direndahkan, diperlakukan tidak benar maupun diperlakukan tidak adil. Sekalipun kita pencuri tapi kita malu mengakuinya. Sekalipun kita pezinah tapi kita selalu melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Pendek kata pikiran kita selalu ingin yang baik. Tak ada seorangpun yang ingin menjadi orang jahat.

Tapi mengapa kenyataannya kita jahat? Sebab pikiran kita selalu dikalahkan oleh keinginan daging.

Contohnya: perut kita. Perut kita kalau lapar selalu menuntut diisi makanan. Perut tak mau peduli apakah kita punya uang atau tidak punya uang. Perut tak bisa berpikir dan tak mempunyai pengertian sama sekali. Perut ini bodoh! Karena itu perut harus dikendalikan oleh akal pikiran kita, jangan akal pikiran kita yang dikendalikan oleh perut. Sebab ALLAH berfirman kepada akal pikiran kita, bukan kepada perut. Firman ALLAH: “Jangan mencuri!” Larangan itu tak diketahui dan tak dimengerti oleh perut kita. Pendek kata dia lapar, dia akan menyakiti kita terus sampai dia terpuaskan. Dan karena kita tidak tega terhadap perut, maka kita terpaksa mencuri supaya bisa membeli makanan.

Perut juga tak tahu kalau Babi itu diharamkan ALLAH. Perut tak peduli daging apa saja yang dimasukkan ke dalamnya, yang penting kenyang. Begitu juga dengan kelamin kita tak mau tahu apakah berhubungan seks dengan istri tetangga itu berdosa atau tidak. Begitu ada hasrat berkelamin, maka dia akan menuntut terus sampai dikabulkan. Jadi, tubuh kita ini selalu main tabrak, tak tahu aturan. Karena itu tubuh kita ini harus dikendalikan oleh akal pikiran kita supaya tidak nabrak-nabrak hukum.

Pekerjaan dalam hidup kita di dalam TUHAN pada intinya adalah bagaimana akal pikiran kita itu menaklukkan tubuh berdosa ini. Bagaimana akal pikiran kita kembali menempati takhta pemerintahannya, bukan terus-terusan dijajah oleh tubuh. Sebab selama tubuh yang menguasai akal pikiran, kita masih seperti binatang yang tidak dikendalikan oleh hukum atau aturan. Tapi pada saat kita menguasai tubuh, pada saat itulah kita sebagai manusia.

Roma

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.
Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik.
Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.
Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.
Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.
Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.
Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.
Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,
tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.
Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7-26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Tidak ada komentar: