Selasa, 02 Februari 2016

GEREJA DI KOREA YANG BERJUBEL

Konon gereja di Korea berjubel-jubel umatnya sehingga peribadatan hari Minggu saja masih kurang dan akhirnya mereka menyelenggarakan peribadatannya setiap hari.

Mengapa kita terpesona pada berjubel-jubelnya orang, bukan pada kebenarannya? Bukankah berkali-kali TUHAN YESUS mengatakan bahwa jumlah banyak itu dalam tanda bahaya?! Dan sekalipun jumlah sedikit bukan berarti kebenaran, namun kebenaran itu berjumlah sedikit.

Bus Metromini juga sering penumpangnya berjubel. Dan yang perlu kita perhatikan adalah sopirnya seperti apa, bukan penumpangnya seperti apa?! Sebab jika sopirnya mabuk, biarpun penumpangnya berjubel bisa terjadi kecelakaan yang semua penumpangnya mati, semua walaupun berjubel.

>> Banyak harta memang enak, tapi itu bukan jaminan kebahagiaan.

>> Banyak penasehat seperti presiden Jokowi malah semakin membuat pening kepala dan semakin membingungkan.

>> Banyaknya pasukan perang bukan jaminan kemenangan.

>> Yang lebih banyak dari umat gereja di Korea itu tentulah orang-orang yang tidak ke gereja, yang bukan Kristen dan yang atheis. Jumlah ini lebih banyak cuma mereka tidak dikumpulkan.

>> Umat Islam dan Katolik juga besar jumlahnya. Apakah itu kebenaran?

>> Bangsa Israel ada 12 suku. Tapi yang benar-benar dibuang oleh ALLAH berjumlah 10 suku, sehingga sekarang ini tinggal suku Yehuda dan Benyamin saja. Itupun mereka masih belum mau menerima YESUS. Artinya, sesungguhnya ke-12 suku itu tak lagi istimewa di mata ALLAH karena murtad.

>> Jika bangsa Israel yang disebut anak dan kekasih ALLAH saja dibuang karena tidak setia, apa lagi cuma bangsa Korea.

Perihal hari Sabat, bukanlah soal peribadatan atau perkumpulannya, tapi soal berhenti kerjanya. Orang mau ke gereja setiap hari tak masalah, tapi apakah orang berhenti bekerja di hari Sabtu sebagaimana difirmankan ALLAH?!

TUHAN YESUS marah besar terhadap guru-guru palsu dan penyesat, bukanlah karena mereka mencelakakan diri mereka sendiri, tapi karena penyesatan mereka itu mencelakakan umatnya juga. TUHAN YESUS tak mungkin akan menyelamatkan seseorang yang tersesat sekalipun orang itu baik hatinya. Sekalipun ada orang berjiwa emas di gereja itu, TUHAN YESUS takkan mengambilnya sebab orang itu telah bertindak ceroboh tidak meneliti ajaran yang diterimanya.

Baik tidak baiknya bangsa Israel itu seringkali dipengaruhi oleh rajanya. Jika rajanya benar, raja itu akan menyingkirkan segala berhala di tanah Israel, sehingga bangsa Israel tak mungkin menyembah berhala. Tapi jika rajanya seperti raja Ahab yang menyembah berhala, maka seluruh rakyatnya menjadi tercemar. Seluruh rakyat menjadi keracunan dan dibuang dari hadapan ALLAH.

1Raja-raja
Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain.

2Tawarikh
Lagipula ia membuat bukit-bukit pengorbanan di gunung-gunung Yehuda. Ia membujuk penduduk Yerusalem untuk berzinah dan ia menyesatkan Yehuda.


Jadi, keselamatan umat itu bergantung dari pemimpin yang diikutinya. Karena itu jangan sekali-sekali memberikan diri anda untuk dipimpin orang lain, tetapi biarlah setiap orang menjadikan TUHAN YESUS sebagai Pemimpinnya;

Matius
Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.
Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.
Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.


Itulah sebabnya saya keluar dari system supaya seorang pendeta bukan lagi guru, bukan lagi bapak dan bukan lagi pemimpin saya, melainkan saudara yang sederajat dengan saya. Jika pendeta masih memimpin saya, maka saya tak berani mengoreksi kesalahannya. Tapi sekarang saya orang yang merdeka, seorang “imamat yang rajani.” Seorang pemimpin yang bersifat raja. Jika saya “raja” maka saya berani mengoreksi raja dunia sebab sejajar.


Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.


Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:


Kalau diri kita sudah ada ROH KUDUS-nya, mengapa kita mau diajari orang lain? ROH KUDUS adalah pengajar ILAHI, mengapa ditandingkan dengan ajaran manusia? Jadi, anda yang saat ini mengaku ada ROH KUDUS-nya ternyatalah itu sebuah kebohongan. Sebab seorang yang ada ROH KUDUS-nya akan berdiri mengajar, bukan lagi sebagai penduduk gereja.


Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

Semua ayat Alkitab mendorong pertumbuhan kerohanian anda dari murid menjadi guru, dari jemaat menjadi penginjil. Bukannya sampai opa-oma masih menjadi pendengar celotehan pendetanya. Kapan hendak menjadi penginjilnya?! Baterai HP kalau setelah diisi listrik ya harus melayani HP-nya. Kalau diisi listrik terus baterai itu bisa jebol – terbakar.

Bagaimana dengan posisi saya saat ini? Bukankah saya mengajar dan memimpin orang? Benar! Tapi yang saya ajar dan yang saya pimpin adalah jiwa-jiwa yang masih membutuhkan pengajaran dan kepemimpinan. Saya menjual barang kepada yang membutuhkan. Saya memberi makan kepada orang yang lapar, bukan yang kenyang. Saya adalah garam dan terang dunia bagi yang membutuhkan garam dan yang membutuhkan terang. Sebagai orang Kristen saya memanggil dan memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum atau bukan Kristen. Saya mengajarkan kebenaran kepada orang yang berada dalam kesalahan. Saya memberitahu pada orang yang belum tahu. Terhadap orang yang sama-sama “ilmu”nya saya adalah kawan sekerja, bukan guru dan bukan pemimpin.

Sebagai tanda saya tidak mengikat anda sebagai apa-apa, saya tidak menerima “persembahan” anda. Sebab “persembahan” adalah semacam upeti tanda tunduk dan takluk, dari kata: “sembah” atau “menyembah.” Tapi jika saya menerima sesuatu dari antara anda, itu hanyalah berupa “pemberian” bukan “persembahan.”

Selesainya keimamatan Lewi, maka selesai pula segala macam bentuk persembahan, termasuk persembahan persepuluhan yang ditujukan untuk TUHAN, sebab suku Lewi mewakili TUHAN. Sekarang petugas TUHAN adalah penginjil yang kehidupannya ditopang dari pemberian-pemberian, bukan lagi bernama persembahan. Persembahan untuk TUHAN, pemberian untuk manusia.


Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.
Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.



Sesudah aku tiba, aku akan mengutus orang-orang, yang kamu anggap layak, dengan surat ke Yerusalem untuk menyampaikan pemberianmu.


Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.

Apa bedanya? Kalau persembahan itu mengikat sedangkan pemberian tidak mengikat. Persembahan harus setiap hari ibadah dan jumlahnya ditentukan, sedangkan pemberian tidak mengikat waktu maupun jumlahnya.

Bukankah seorang penginjil itu juga sama-sama utusan dan hamba TUHAN? Betul! Tapi beda zaman beda aturan. Jika Perjanjian Lama orang digerakkan oleh aturan, Perjanjian Baru TUHAN menghendaki orang digerakkan oleh kesadaran dan dorongan ROH KUDUS. Zaman Perjanjian Baru adalah zaman kemerdekaan, kemerdekaan yang sepenuh dan seluruhnya. Ada kesadaran atau tidak? Jika tidak punya kesadaran maka TUHAN tidak akan memilih orang itu. Alkitab menyebut hukum kesadaran itu sebagai hukum akal budi atau hukum Taurat yang ada di dalam pikiran kita.

Yesaya
Dan orang berkata: "Kepada siapakah dia ini mau mengajarkan pengetahuannya dan kepada siapakah ia mau menjelaskan nubuat-nubuatnya? Seolah-olah kepada anak yang baru disapih, dan yang baru cerai susu!
Sebab harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini, tambah itu!"

Kolose
Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:
jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini;
semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.
Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.


Orang yang masih hidup dari aturan dikatakan sebagai anak bayi.

Suatu kali seorang ibu memberi perintah kepada kedua anaknya; Ani dan Anto: “Anak-anak, kalau selesai tidur supaya dibersihkan tempat tidurnya, dirapikan sepreinya dan disapu lantainya.” Nah, Ani setiap hari melakukan itu tanpa disuruh-suruh lagi. Sekali perintah sudah cukup untuk membuka kesadarannya. Berbeda dengan adiknya; Anto, setiap hari ibunya harus ngomel-ngomel dan memarahinya: “Anto, masak untuk keperluanmu sendiri, ibu masih harus memerintah kamu baru kamu lakukan?”

Dari antara kedua anak tersebut manakah yang menghasilkan kebersihan? Jelas, Ani. Dia pasti melakukan tugasnya dengan lebih baik, sementara Anto pasti melakukannya secara asal-asalan saja. Asal pegang sapu atau asal kelihatan ibunya menyapu.


Tidak ada komentar: