Minggu, 07 Februari 2016

Kisah Gadis Pemulung Yang Menjadi Dokter

http://informid.com/kisah-gadis-pemulung-yang-menjadi-dokter/




Delapan belas tahun lalu adalah hari terberat yang pernah ada dalam hidup Anjali. Seorang anak gadis yang hidup dalam kemiskinan, tinggal di bantaran kali dengan rumah terbuat dari kardus harus rela melepaskan kepergian sang Ibu tercinta. Ia sangat mencintai Ibunya lebih dari apa pun, tak pernah sepatah kata pun ia membantah perintah Ibunya, baginya Ibu adalah jantung kehidupannya. Ibunya pun sangat mencintai nya lebih dari apa pun, terbukti dengan bagaimana Ibu Anjali berusaha, bekerja siang malam mengelilingi kota memulung sampah, botol, dan kardus-kardus bekas yang akan di jual demi sesuap nasi dan menyekolahkan Anjali. Anjali merasa sangat berdosa besar jika harus melawan orang tua apalagi menyakiti hati Ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan segala keterbatasan. Karena itu Ia berjanji pada dirinya tidakan pernah sedikit pun berani melawan dan menyakiti Ibunya yang sudah tua dan bungkuk.
Anjali tidak pernah malu jika sang Ibu mengantarnya ke sekolah dengan pakaian lusuh, kusut dan penuh tambalan, bahkan dengan penuh kebanggaan terlihat dari wajahnya karena ia masih memiliki seorang Ibu yang sangat mencintainya sejak ia menghirup udara dunia, walau Ayahnya telah pergi meninggalkannya ketika ia masih berumur dua tahun akibat kecelakaan. Demi membahagiakan Ibunya ia belajar sungguh-sungguh, ia pun selalu menjadi juara kelas bahkan sesekali juara umum. Baginya mungkin hanya dengan prestasi sekolah yang bisa membahagiakan Ibunya, hanya itu yang bisa ia berikan kepada sang Ibu, karena dengan itu juga ia sedikit mendapat keringanan dalam biaya sekolah. Kadang jika Ibunya sakit ia pergi keliling kota, memulung mencari botol dan kardus bekas di tempat pembuangan sampah, bahkan tak jarang ia terjerembab ke dalam tumpukan sampah karena tubuhnya SD nya yang masih kecil.
Sehabis sekolah menjaga sebuah toko sebagai uang tambahan membeli buku sekolah atau buku yang sangat ia inginkan. Baginya dengan berusaha dan bekerja keraslah keinginannya akan terwujud. Ia sangat beruntung memiliki orang tua yang peduli akan pendidikan anaknya, ia kadang sering menangis sendiri dalam malam gelap gulita sebelum azan subuh, ia selalu terpikirkan dengan anak-anak yang senasib dengannya yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan namun hanya ia yang mampu sekolah. Ia pun kadang menyempatkan waktu mengajarkan kawan-kawan sekitar rumahnya pelajaran matematika tanpa dibayar sesen pun, dengan begitu ilmunya semakin melekat, berkah dan bermanfaat. Semua pernak-pernik hidupnya berjalan seperti biasa hingga suatu yang paling ia takutkan menimpanya.
Ya, sesuatu yang sangat ia takutkan adalah kehilangan satu-satunya orang tua yang sangat ia cintai, yang sangat ia sayangi. Baginya musibah terbesar dalam hidupnya adalah harus kehilangan Ibu di usianya yang masih muda, di saat ia akan menamatkan SD. Ia ingin sekali ibunya melihat ia menjadi siswa terbaik se-provinsi dengan nilai yang tinggi dan masuk sekolah menengah pertama favorit di Jakarta, karena pemda Jakarta memberikan bea siswa penuh bagi 10 orang yang mampu mendapat nilai penuh dalam UN, yaitu semua nilai 10. Dan itu tinggal menunggu beberapa hari lagi setelah pengumuman kelulusan Sekolah Dasar. Namun takdir berkata lain, seakan-akan menantang harapan serta keinginannya itu, yang bahkan berusaha menyurutkan dan menghancurkan semangat gadis kecil itu untuk sekolah dan melanjutkan ke SMP favorit. Karena satu-satunya alasan semala ini ia belajar sungguh-sungguh hanyalah untuk menyenangkan hati Ibunya sebagai balasan atas jasa-jasa Ibunya yang membanting tulang, berpeluh keringat, terbakar terik siang dan bungkuk akibat memulung dan membawa barang berat.
Ibunya meninggal bukanlah karena kecelakaan, serangan jantung atau kelaparan. Ibunya ternyata selama ini menyimpan rahasia pada Anjali. Ibunya selama ini menderita penyakit kanker serviks (kanker rahim) yang harapan untuk dapat disembuhkan sangat kecil bahkan bisa dikatakan mustahil karena 98% penderita penyakit ini berakhir dengan kematian. Ia mengetahui itu dari pembicaraan rahasia Ibu-ibu tetangganya bahwa Ibunya terkena penyakit kanker ketika ada tes kesehatan pos kesehatan keliling dari pemda Jakarta. Ia terpukul karena rumah sakit di daerahnya belum memiliki pengobatan yang canggih untuk mengobati penyakit yang mamatikan ini, walau pun sebenarnya bisa dikirim ke rumah sakit yang lebih besar jika ada uang. Dan lebih terpukul lagi karena ia sadar, ia bukanlah orang kaya yang bisa membayar segala macam pengobatan, ia juga sadar apalah arti nyawa seorang pemulung di mata para dokter dan pemerintah, hanya menghabiskan tenaga dan waktu serta uang pemerintah.
Gadis kecil ini menangis sejadi-jadinya di tengah malam setelah Ibunya dikuburkan di pemakaman orang-orang miskin yang sekedarnya. Ia limpahkan semua isi hati dan pikirannya pada Ilahi. Ia yang dulunya belajar dan sekolah semata untuk membahagiakan Ibunya, kini berubah akan belajar dan bekerja mati-matian demi meraih cita-citanya, yaitu menjadi seorang dokter oncologi, dokter ahli special kanker. Apa pun yang terjadi dia akan berusaha mati-matian demi menjadi dokter spesialis kanker yang akan menyembuhkan seluruh macam penyakit kanker dengan segala kemungkinan yang ada. Dan tidak hanya itu, ia pun berjanji akan menolong sukarela siapa pun orang yang terkena penyakit kanker, apakah mereka orang kaya atau miskin.
Janji-janji yang ia buat, yang ia sampaikan di tengah malam pada Tuhan pada umur 12 tahun kini terpenuhi. Anjali dulu gadis kecil yang miskin dan kumuh kini sudah menjadi gadis dewasa yang cantik, baik dan kaya raya namun sederhana. Ia telah mewujudkan cita-citanya atas izin Tuhan melewati ujian-ujian besar dalam hidupnya. Baginya pendidikan tidak hanya diperuntukkan orang kaya, siapa pun boleh bercita-cita. Di umurnya yang masih muda (27) Ia menjadi dokter spesialis kanker ternama di rumah sakit terbesar di Jakarta dan menjadi dosen tetap di Universitas terkenal di jakarta. Ia membangun yayasan sosial untuk anak-anak miskin dann terlantar. Dengan kerendahan hati, ia bersama teman-teman dan bawahannya melakukan pos kesehatan keliling gratis ke daerah-daerah yang kehidupannya sangat memprihatinkan. Ia mampu menyelesaikan sarjana kedokterannya di Universitas terkenal dan ternama di Jerman, bahkan menjadi wisudawan terbaik dan banyak rumah sakit besar di Jerman dan menawarkan dirinya. Tapi ia lebih memilih tanah air yang telah membesarkannya, tempat ia dibesarkan bersama Ibunda tercinta, tempat dimana banyak nyawa orang miskin yang terancam kematian tanpa pengobatan.
kompasiana.com

Suprapto Adi Kusumo; Anak Orang Miskin yang Menjadi Rektor


http://kolom.abatasa.co.id/kolom/detail/hikmah/1498/suprapto-adi-kusumo%3B-anak-orang-miskin-yang-menjadi-rektor.html

Suprapto lahir dari keluarga tukang becak. Ibunya berjualan kembang di pasar, sementara ayahnya menarik becak yang selalu mangkal di sebuah pasardi kampungnya.Tak ada pekerjaan lain yang dilakukan oleh ayahnya. Suprapto menempuh pendidikan mulai dari sekolah menengah pertama hingga masuk perguruan tinggi dibiayai oleh orang yang sangat simpati padanya. Tentu saja, untuk mendapatkan simpati dan biaya dari seseorang bukanlah hal yang mudah, membutuhkan usaha yang keras dan perjuangan yang tak mengenal lelah.

Rupakmo, ayah Suprapto adalah lelaki yang suka mem¬bantu orang lain. la juga sangat gampang apabila orang lain meminta pertolongan padanya. Pada mulanya, ia selalu dimintai tolong oleh seorang guru di kampungnya untuk melakukan beberapa hal berkaitan dengan pekerjaan rumah, mulai dari menyabet rumput hingga menyapu rumah. Pada akhirnya, terjadi keakraban di antara keduanya. Setiap akan pulang, ia diberi upah sepantasnya oleh guru tersebut.

Suprapto memang tergolong anak yang cerdas. Di sekolahnya, ia sering mendapatkan bintang pelajar, la anak yang rajin belajar. Semangatnya selalu terpacu oleh keinginan untuk mengubah nasib keluarganya. "Jika ayah saya seorang tukang becak, maka saya tidak boleh menjadi tukang becak. Jika ibu saya seorang pedagang bunga, maka saya tidak boleh menjadi pedagang bunga. Saya akan meng¬ubah hidup saya dan keluarga saya."

Prinsip tersebut tertanam sangat kuat di dalam jiwanya sejak dari bangku SMP. Banyak guru-guru di sekolahnya yang kagum kepadanya. Karena bagaimanapun, jarang sekali anak dari keluarga yang pas-pasan memiliki semangat dan kecerdasan seperti yang dimiliki oleh Suprapto.

Bagi Suprapto, kondisi perekonomian keluarga tidak akan menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan menjadi orang yang sukses. la rajin datang ke perpustakaan untuk membaca buku, membaca surat kabar, dan lain sebagainya. Dengan cara demikian, berbagai informasi diserapnya semenjak dirinya duduk di sekolah menengah pertama, la sangat yakin bahwa suatu hari nanti kesuksesan akan datang kepadanya, la sangat percaya pada peribahasa "Berkait-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian."

Karena sering mendapatkan bintang pelajar, kepala sekolahnya kemudian mengajukan beasiswa terhadap anak didiknya tersebut dengan tujuan agar bisa melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni SMA. Atas perjuangan kepala sekolah itu, Suprapto pun mendapatkan beasiswa dari Departemen Pendidikan Nasional hingga ia selesai menem¬puh pendidikan di sebuah sekolah negeri. Karena tinggal di kota, ia memanfaatkannya dengan banyak berkunjung kepada orang yang banyak memiliki buku. Semua buku dari semua bidang ia lahap, mulai buku sejarah, sosial, politik, ekonomi, budaya, hingga sastra. Apa yang dilakukannya itu sangat bermanfaat untuk menambah luas wawasannya.

Suprapto mulai menuliskan gagasannya di majalah din¬ding sekolah. Kebetulan ada seorang guru yang membacanya. Guru tersebut sangat terharu karena ada di antara muridnya yang memiliki kemampuan menulis bagus. Kepala SMA itu memanggilnya, menanyakan tentang sumber tulisan ter¬sebut, tulisan sendiri ataukah plagiasi.

Suprapto dengan tegas mengatakan bahwa tulisan itu adalah karyanya sendiri. la kemudian mengungkapkannya secara lisan isi tulisannya sehingga sang guru dan kepala sekolah mengangguk-angguk dan tersenyum melihat murid¬nya itu sangat lancar berbicara.

Sejak saat itu, kepala sekolah itu selalu memfasilitasi buku bacaan dan menyarankan agar Suprapto mengirimkan tulisannya ke media massa, Suprapto pun mengikuti saran kepala sekolahnya. Tulisan-tulisan yang dikirimkan ke surat kabar banyak yang dimuat dan mengundang perhatian banyak orang. Setelah mengetahui bahwa yang menulis karya-karya tersebut adalah seorang anak SMA, banyak orang yang tertarik untuk memberikan beasiswa kepadanya, baik untuk dalam negeri maupun ke luar negeri. Namun, Supropto tidak terlena dengan semua tawaran tersebut, ia terus menulis dan tetap menjadi orang yang sederhana.

Ketika masuk dunia perguruan tinggi, ia selalu mendapat¬kan beasiswa. Praktis ia tidak banyak mengeluarkan uang untuk membiayai studinya. Bahkan, ia masih bisa menabung dari uang beasiswa dan honor dari karya tulis yang dikirim¬kan ke surat kabar. Meskipun demikian, Suprapto tetap menjalankan ritual dan rutinitasnya berpuasa pada setiap hari Senin dan Kamis.

Singkat cerita, setelah ia lulus dari perguruan tinggi, ia kemudian mendapat kepercayaan untuk menjadi dosen di kampus tempat ia menempuh pendidikan. Karena kinerjanya bagus dan memiliki potensi kepemimpinan yang luar biasa, oleh teman-teman sesama dosen, ia didaulat untuk menjadi rektor di perguruan tinggi tempat ia mengajar, la pun tidak bisa menolaknya dan menjalani hari-hari sebagai rektor dengan sangat sederhana.

Menjadi rektor tidak kemudian membuatnya berhenti dari rutinitas puasa Senin Kamisnya. Bahkan, ia bertambah semangat karena ia yakin bahwa ia menjadi orang yang sukses kini karena ia melakukan pertolongan Allah melalui puasa Senin Kamis.

8 Orang Miskin Ini Kini Jadi Konglomerat Dunia

http://www.tribunnews.com/bisnis/2015/03/12/8-orang-miskin-ini-kini-jadi-konglomerat-dunia

8 Orang Miskin Ini Kini Jadi Konglomerat Dunia


TRIBUNNEWS.COM - Bagi banyak orang, kehidupan sulit yang dilalui bisa menjadi tempaan untuk maju. Sejumlah nama ini dulunya hidup susah, kini menjadi orang sukses berpenghasilan tinggi. Berikut dicuplik dari BusinnessInsider.com:
Bos Starbucks Howard Schultz
Dulu ia tinggal di perumahan kaum miskin. Howard Schultz akhirnya berhasil mendapat beasiswa di Universitas Michigan Utara dan setelah lulus bekerja di Xerox. Tak lama setelahnya, ia mengambil alih kedai kopi Starbucks yang awalnya punya 60 gerai. Schultz kemudian diangkat menjadi CEO perusahaan itu pada tahun 1987 dan kini jaringan kedai kopi itu berjumlah 16.000 gerai di seluruh dunia.
Bintang TV AS Oprah Winfrey
Winfrey dilahirkan dalam sebuah keluarga miskin di Mississippi, tapi kondisi keuangan keluarga yang buruk tak menghentikan langkahnya mengambil pendidikan di Universitas Tennessee State lewat beasiswa. Ia kemudian menjadi pembawa acara TV pada usia 19 tahun. Pada tahun 1983, Winfrey pindah ke Chicago dan membawakan acara: "The Oprah Winfrey Show."

Ralph Lauren: Bermula dari Dasi
Ralph Lauren lulus SMA di Bronx, New York. Tetapi ia kemudian putus kuliah untuk bergabung dengan militer, lalu bekerja sebagai sales di perusahaan dasi. Kemudian ada yang menanyakan apakah ia bisa mendesain dasi. Dasinya terjual seharga 300 ribu dollar AS. Setahun kemudian ia membuka toko dasi sendiri: Polo.
Taktik Predator ala Pinault
Akibat kemiskinan, Francois Pinault berhenti kuliah pada tahun 1974. Namun sebagai pengusaha, Pinault dikenal punya taktik "predator". Yakni, membeli perusahaan-perusahaan kecil ketika pasar jatuh. Dimulai dari Kering (PPR), kini bisnisnya menjadi pemilik rumah-rumah mode ternama, termasuk Gucci. Usahanya diteruskan putranya.
Bos Ray-Ban Leonardo Del Vecchio
Leonardo Del Vecchio dikirim ke panti asuhan, karena ibunya yang menjanda tidak punya biaya. Del Vecchio kemudian bekerja di pabrik percetakan onderdil mobil dan bingkai kacamata. Pada usia 23 tahun, dia memberanikan diri untuk membuka toko sendiri. Toko itu kemudian semakin berkembang dan saat ini menjadi produsen kacamata hitam terbesar di dunia dengan merek Ray-Ban dan Oakley.
George Soros: Selamat dari Pendudukan Nazi
Saat remaja, George Soros diamankan seorang karyawan Departemen Pertanian Hongaria dari kejaran Nazi di Hongaria. Tahun 1947, Soros pindah ke London dan kuliah di London School of Economics, sambil bekerja sebagai pelayan dan portir kereta api. Setelah lulus, ia bekerja di toko suvenir sebelum mendapatkan pekerjaan sebagai bankir di New York City dan meraup untung dari perdagangan pound sterling.
Li Ka-shing: Anak Berbakti
Setelah ayahnya meninggal, pada usia 15 tahun Li Ka-shing harus berhenti sekolah untuk membantu menghidupi keluarganya. Pada tahun 1950, ia mendirikan perusahaan sendiri, Cheung Kong Industries, yang awalnya memproduksi plastik, kemudian bisnisnya meluas ke sektor properti.
Larry Ellison: Yatim yang Kerja Serabutan
Lahir di Brooklyn, New York, Larry Ellison tidak memiliki ayah. Dia dibesarkan oleh bibi dan pamannya di Chicago. Setelah bibinya meninggal dunia, ia terpaksa berhenti kuliah dan pindah ke Kalifornia untuk bekerja serabutan selama delapan tahun. Dia kemudian mendirikan Oracle, perusahaan pengembangan perangkat lunak. Oracle kemudian menjadi salah satu perusahaan IT terbesar di dunia. (Tribun Timur)

Tidak ada komentar: