Rabu, 24 Februari 2016

XVII. BISNIS GEREJA

Rata-rata bisnis gereja itu sekolah dan rumahsakit, yang baik penghasilan gereja, penghasilan sekolah maupun penghasilan rumahsakit semuanya tak kena pajak. Maaf, saya bicara di zaman Orde Baru, semua bidang-bidang yang bersifat sosial tidak dikenai pajak. Dan jika sekarang dikenai pajak, sebenarnya juga bukan masalah sebab nyatanya semua itu memang murni bisnis. Justru sekolah dan rumahsakit gereja itu taripnya mencekik leher dan sama sekali tak pernah melakukan perbuatan sosial. Bahkan sekalipun pemerintah mempunyai program sosial untuk fakir-miskin, mereka menutup diri tidak mau bekerjasama dengan pemerintah. Kecuali saat ini program BPJS yang di pemerintahan Jokowi seolah-olah pesta uang rakyat, sehingga program tersebut tidak merugikan mereka.

1. Penghasilan gereja:

Penghasilan gereja dari hasil kantong kolekte ini untuk apa saja, nggak pernah jelas. Sebab setiap kali gereja mempunyai acara seperti KKR, perayaan Natal, perayaan Paskah, pengobatan gratis, bagi-bagi Sembako, seminar-seminar, membangun gereja, dan lain-lainnya, gereja selalu mencari sponsor dan sumbangan dari jemaat. Dan di zaman teknologi internet sekarang ini mereka pasti memiliki donatur dari luar negeri, yang memandang Kristen di Indonesia ini seolah-olah selalu berada dalam ancaman Muslim, sehingga orang luar negeri merasa kasihan dan memberikan sumbangan besar-besar. Padahal secara umum Kristen di sini sangat aman dan bukan golongan fakir-miskin. Tapi yang mereka kabarkan ke luar negeri adalah anak-anak panti asuhan yang terlihat miskin. - Hua..ha..ha....... cerdiklah seperti ular dan tuluslah juga seperti ular!

2. Sekolahan gereja:

Sekolahan gereja itu maju-maju, selalu di atas sekolahan negeri. Dari mana pasalnya? Dari menjejalkan pelajaran kelas 2 dijejalkan ke kelas 1, sehingga siswa kelas 1 setara dengan siswa kelas 2 negeri. Tapi yang kasihan anak-anak itu. Mereka dipaksa menerima pelajaran yang tidak sesuai dengan kapasitasnya. Coba bayangkan, jika orang dewasa saja jam kerjanya hanya 8 jam setiap hari, tapi anak-anak itu jam belajarnya padat sekali. Dari pagi sampai siang sekolah, sore les atau kursus, sedangkan malam belajar. Bahkan tidur siangpun dimasukkan sebagai jadwal seolah-olah mereka itu robot, bukan manusia. Suka atau tidak suka mereka dipaksa tidur. Begitu pula bangunnya, suka atau tidak suka mereka dipaksa bangun.

Atas nama kasih sayang, anak-anak itu dianiaya jiwanya. Sudah sedemikian keras pengorbanan anak-anak itu di dalam bersekolah, pada akhirnya ijasah harus mereka masukkan ke tong sampah. Apa sebab? Sebab setiap tahun semakin sulit mencari pekerjaan. Dan jika mereka pada akhirnya harus bekerja wiraswasta, maka bukankah tak guna ijasahnya? Sebab ijasah itu hanya untuk melamar pekerjaan. Ijasah bukan untuk wiraswasta. Untuk buka toko yang diperlukan ijin usaha, bukan ijasah.

Bagaimana dengan moral anak-anak sekolah? Di rumah anak-anak kita ajari jujur, sopan-santun dan kita jauhkan dengan yang porno-porno. Tapi sesampai di sekolah, mereka justru menjadi anak-anak yang rusak. Anak-anak mulai suka berbohong, suka membolos sekolah, suka ke warnet dan sialnya di warnet mereka mengakses gambar-gambar porno.

Buat apa sekolah?

Orang-orang di luar negeri sudah terlebih dahulu terbuka pikirannya: "buat apa sekolah?" Mereka lebih suka "home schooling."

Sekolah rumah

https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_rumah

Sekolah rumah atau Homeschooling adalah metode pendidikan alternatif yang dilakukan di rumah, dibawah pengarahan orangtua atau tutor pendamping, dan tidak dilaksanakan di tempat formal lainnya seperti di sekolah negeri, sekolah swasta, atau di institusi pendidikan lainnya dengan model kegiatan belajar terstruktur dan kolektif.
Homeschooling Bukanlah lembaga pendidikan, bukan juga bimbingan belajar yang dilaksanakan di sebuah lembaga. Tetapi homeschooling adalah model pembelajaran di rumah dengan orang tua sebagai guru utama dan bisa juga mendatangkan guru pendamping atau tutor untuk datang ke rumah. Homeschooling juga bukan berarti kegiatannya selalu dilaksanakan di rumah, siswa dapat belajar di alam bebas baik di laboratorium, perpustakaan, museum, tempat wisata, dan lingkungan sekitarnya. Tetapi inti dari homeschooling tetap yaitu model pendidikan yang dilaksanakan di rumah dengan orang tua sebagai guru utama.
Para orangtua memiliki sejumlah alasan yang membuat mereka memilih model pendidikan homeschooling untuk anak-anak mereka. Tiga alasan yang kebanyakan dipilih oleh orangtua di Amerika Serikat adalah masalah mengenai lingkungan sekolah, untuk lebih menekankan pengajaran agama atau moral, dan ketidaksetujuan dengan pengajaran akademik di sekolah negeri atau sekolah swasta.
Saat ini, homeschooling sangat populer di Amerika Serikat, dengan persentase anak-anak 5-17 tahun yang diberikan homeschooling meningkat dari 1.7% pada 1999 menjadi 2.9% pada 2007.[1]

Homeschooling di Indonesia

Makna homeschooling di Indonesia telah disalah artikan oleh beberapa pihak. Saat ini banyak lembaga pendidikan non-formal yang berdiri dengan menggunakan merek homeschooling tetapi kegiatan belajar dilaksanakan di lembaga. Tentunya hal ini tidak jauh berbeda dengan model sekolah non-formal lainnya. Padahal di luar negeri tidak ada istilah lembaga homeschooling, kecuali konsultan homeschooling, atau komunitas homeschooling. Adapun terkadang orang tua memanggil tutor datang ke rumah melalui perusahaan jasa penyedia tutor atau semacam lembaga les privat, atau juga mencari tutor dengan cara mencari informasi pada konsultan homeschooling dan komunitas homeschooling.
Di Indonesia, homeschooling semakin dikenal masyarakat setelah berdirinya beberapa lembaga pendidikan non formal elit yang menggunakan merk homeschooling. Selain itu, banyak para artis, seniman, hingga atlet memilih model pendidikan seperti ini. Hal ini membuat homeschooling terkesan esklusif dan hanya untuk kalangan masyarakat menengah keatas. Padahal pada hakikatnya, kegiatan homeschooling dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dari kalangan menengah atas hingga kalangan menengah bawah dengan syarat orang tua benar-benar mengatur model kegiatan belajar mengajar dan kurikulum yang paling efektif, sesuai dan benar bagi anak-anaknya.

Macam-Macam Homeschooling

Ada Beberapa klasifikasi model homeschooling diantaranya:[2]
1. Homeschooling tunggal
Model ini dilaksanakna dalam satu keluarga dan tidak bergabung dengan keluarga lainnya yang melakukan homeschooling terhadap anak-anaknya.
2. Homeschooling majemuk
Model ini dilaksanakan oleh beberapa keluarga dengan kegiatan-kegiatan tertentu juga kegiatan pokok dan kegiatannya tetap dilaksanakan di rumah masing-masing.
3. Komunitas homeschooling
Komunitas homeschooling adalah gabungan dari komunitas majemuk dan mereka menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok, dan hal-hal lainnya.


3. Rumahsakit gereja:

Rumahsakit-rumahsakit gereja sesungguhnya penyebar penyakit-penyakit baru. Sebab hanya demi mengejar kesembuhan penyakit, rumahsakit-rumahsakit tersebut berani memberikan pengobatan dosis tinggi, sehingga satu penyakit disembuhkan, ganti organ tubuh yang lainnya yang kena.

Efek Samping Mengejutkan dari Antibiotik

http://health.detik.com/read/2010/09/17/075559/1442128/763/efek-samping-mengejutkan-dari-antibiotik

Jakarta, Antibiotik telah banyak digunakan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Tapi ada beberapa efek samping antibiotik yang mengejutkan dan belum banyak diketahui orang. Apa saja?

Antibiotik merupakan senyawa atau kelompok obat yang dapat mencegah perkembangbiakan berbagai bakteri dan mikroorganisme berbahaya dalam tubuh. Selain itu, antibiotik juga digunakan untuk menyembuhkan penyakit menular yang disebabkan oleh protozoa dan jamur.

Tapi belum banyak orang yang tahu bahwa antibiotik juga dapat menyebabkan efek samping yang cukup membahayakan. Dilansir dari Ehow, Jumat (17/9/2010), berikut beberapa efek samping antibiotik:

1. Gangguan pencernaan

Salah satu efek samping antibiotik yang paling umum adalah masalah pencernaan, seperti diare, mual, kram, kembung dan nyeri.

2. Gangguan fungsi jantung dan tubuh lainnya
Beberapa orang yang mengonsumsi antibiotik mengalami jantung berdebar-debar, detak jantung abnormal, sakit kepala parah, masalah hati seperti penyakit kuning, masalah ginjal seperti air kecing berwarna gelap dan batu ginjal dan masalah saraf seperti kesemutan di tangan dan kaki.

3. Infeksi
Efek samping yang paling rentan dirasakan perempuan adalah infeksi jamur pada organ reproduksi yang dapat menyebabkan keputihan, gatal dan vagina mengeluarkan bau serta cairan.

4. Alergi
Orang yang mengonsumsi antibiotik juga sering mengalami alergi, bahkan hingga bertahun-tahun. Alergi yang sering terjadi adalah gatal-gatal dan pembengkakan di mulut atau tenggorokan.

5. Resistensi (kebal)
Orang yang keseringan minum antibiotik bisa mengalami resistensi atau tidak mempan lagi dengan antibiotik. Ketika seseorang resisten terhadap antibiotik, ada beberapa penyakit dan infeksi yang tidak dapat lagi diobati, sehingga memerlukan antibiotik dengan dosis lebih tinggi. Semakin tinggi dosis maka akan semakin menimbulkan efek samping yang serius dan mengancam jiwa.

6. Gangguan serius dan mengancam nyawa
Penggunaan antibiotik dosis tinggi dan dalam jangka lama dapat menimbulkan efek sampaing yang sangat serius, seperti disfungsi atau kerusakan hati, tremor (gerakan tubuh yang tidak terkontrol), penurunan sel darah putih, kerusakan otak, kerusakan ginjal, tendon pecah, koma, aritmia jantung (gangguan irama jantung) dan bahkan kematian.

Untuk menghindari efek samping antibiotik yang berbahaya tersebut, maka sangat dianjurkan untuk menggunakan antibiotik sesuai dengan dosis dan aturan pemakaian.(mer/ir)

Tidak ada komentar: