Jumat, 18 Maret 2016

SABAR - SEPERTI APAKAH ITU?

Orang sabar adalah orang yang tidak marah ketika seharusnya marah. Ada ukuran atau rumusan yang bisa membuat orang habis kesabarannya sehingga ia marah-marah, sama seperti kertas yang akan terbakar ketika kena api. Ukuran kertas yang bisa terbakar adalah kertas yang kering. Kertas yang basah tidak mungkin bisa dibakar.

Apa sebab orang tidak marah ketika seharusnya marah?

1. Orang idiot; biarpun dimaki-maki dia tetap tidak marah, sebab dia tidak mengerti.

2. Orang sedang sakit; karena tubuhnya lemas dia tidak sanggup marah.

3. Orang pingsan, koma, atau mati; karena tidak memiliki kesadaran sehingga dia tidak bisa marah.

4. Orang bebal; karena sudah terlatih semenjak kecil dimarah-marahi ibunya yang tukang ngamuk sehingga dia sudah kebal.

5. Orang yang tidak pandai bicara; karena orang yang pandai marah itu umumnya orang yang pandai bicara, maka orang yang tidak pandai bicara kesulitan menyampaikan isi pikirannya.

6. Orang yang dalam posisi bersalah; karena merasa bersalah sehingga dia menahan pemberontakan dalam dirinya.

7. Orang yang dalam posisi lemah; karyawan yang dimarahi bossnya, anak yang dimarahi orangtuanya, murid yang dimarahi gurunya, adik yang dimarahi kakaknya, sopir yang dimarahi polisi, atau orang yang sedang ditodong penjahat. Mereka semua itu tidak bisa memberikan perlawanan karena posisinya yang lemah.

8. Orang yang menggunakan wawasan atau pengertiannya; sebagai pejabat dia merasa tidak pantas marah-marah di depan umum. Karena itu dia menahan amarahnya. Atau orang menggunakan pengertiannya atas suatu sebab-akibat, sehingga dia mengenakan pengertiannya untuk tidak marah. Misalnya; mobilnya diserempet motor tidak marah dengan anggapan pengendara motor itu tidak sengaja.

9. Orang yang melepaskan kemarahannya;

Jika kemarahan itu seumpama nilai utang. Anda mempunyai utang 10 juta pada saya, tidak sanggup bayar, maka saya lepaskan utang sebesar itu. Jadi, anda menerima kemurahan hati saya sebesar 10 juta itu.

Hukum Taurat mengajarkan mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan nyawa ganti nyawa. Ketika anda membunuh keluarga saya, saya mempunyai hak dari TUHAN untuk membunuh anda, sebagai nyawa ganti nyawa. Nah, hak itu tidak saya pergunakan, saya ampuni kesalahan anda itu. Itulah nilai dari kesabaran saya.

Jadi, hukum Taurat mengajarkan nilai-nilai bahwa mata itu senilai mata, gigi senilai gigi, nyawa senilai nyawa, rumah senilai rumah, mobil senilai mobil, cubitan senilai cubitan. Dari ajaran Taurat itu kita diberitahukan seberapa besar nilai kesabaran kita, yaitu apabila mengampuni kesalahan seseorang. Jika kita menggunakan hak tagih kita, maka kita menjadi sama jahatnya dengan orang yang berbuat jahat kepada kita, dan kita ternyata tidak memiliki kesabaran sama sekali. Sebagai orang Kristen kita kehilangan nilai-nilai Kekristenan kita.

ALLAH sendiri sekalipun menciptakan hukum nyawa ganti nyawa, namun ALLAH lebih suka tidak menggunakan hak tagihNYA. ALLAH lebih suka memberikan pengampunan dari pada menghukum kita. Kita yang seharusnya mati oleh dosa-dosa kita bisa diberikan hidup yang kekal melalui pekerjaan TUHAN YESUS.

Matius
5:38Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
5:40Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
5:41Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
5:42Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Jadi, orang sabar menurut konsep Alkitab adalah orang yang memiliki hak balas tapi yang tidak menggunakan haknya itu.


APAKAH ORANG KRISTEN TIDAK BOLEH MARAH?

Ef. 4:26Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

Ayat itu menyatakan kita boleh marah tapi jangan sampai kemarahan itu menjadi suatu dosa dan jangan sampai disimpan. Setiap kemarahan harus kita salurkan di hari itu juga dan harus selesai dengan damai. Marah bukanlah dosa selama masih berada dalam pagar 10 Hukum TUHAN.

Orang Kristen sebagai garam dan terang dunia justru harus pandai marah. Orang Kristen sebagai penginjil harus pandai bicara. Jadi, anda yang saat ini merasa tidak pandai bicara dan tidak pandai marah, harus belajar bicara dan belajar marah. Lebih-lebih sebagai orangtua dalam rangka mendidik anak-anaknya, atau sebagai pemimpin yang memimpin orang banyak, salah satu tonggak kepemimpinan adalah kemarahan, yaitu sikap tegas dan jelas, supaya bisa dijadikan standart yang jelas oleh anak-anak atau anak buah kita.

Kemarahan menyatakan di situlah letak kebencian kita yang harus diketahui oleh anak-anak dan anak buah kita. Semakin besar kemarahan kita semakin menyatakan tingkat kebencian kita terhadap sesuatu, supaya menjadi perhatian anak-anak dan anak buah kita di kemudian hari. Misalnya kita marah besar jika anak-anak berbohong atau mencuri. Di sini kita tidak boleh sabar, supaya tidak menjadi suatu kelonggaran bagi anak-anak.

Tit. 1:13Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman,

Tegorlah dengan tegas adalah istilah lain untuk marahilah.


ANTARA MARAH DENGAN EMOSI;

Emosi itu perasaan yang jika tidak disertai dengan logika akan menjadi kemarahan yang liar. Sebab kalau menuruti emosi saya pasti akan membunuh anda. Tapi karena nalar mengingatkan saya akan hukumnya jika saya membunuh anda, maka emosi itu menjadi kemarahan yang terkendali. Jadi, emosi adalah perasaan yang memicu kemarahan. Tanpa emosi kita tidak bisa marah. Tapi jika emosi tidak dikendalikan dengan akal pikiran akan menjadi kemarahan yang liar, kemarahan yang berdosa.

Karena itu jangan mengharamkan emosi dan berkata: "kamu jangan emosi." Emosi itu boleh! Asal terkendali.

Dalam diskusi jika tanpa emosi akan menjadi diskusi yang hambar, diskusi yang banyak basa-basinya. Tapi emosi menjadi suatu ekspresi bahwa kita melakukan diskusi dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita. Tanda bahwa kita sangat serius dan menghargai lawan diskusi kita.

Dalam diskusi saya sering mengambil inisiatif menciptakan emosi anda dengan kata-kata yang menggelitik. Tujuan saya supaya anda timbul kemarahan sehingga anda akan lebih bersungguh-sungguh menanggapi saya. Ini akan menjadi suatu tolok ukur bagi saya. Jika sampai anda mengambil batu atau menghunuskan pedang, itu pertanda anda kalah dan sayalah yang menang. Sebab seandainya anda masih bisa menjawab dengan kata-kata pasti anda takkan menjawab dengan lemparan batu atau menghunuskan pedang.

Sebagai petinju orang akan merindukan menang dalam bertinju. Saya juga, sebagai debater saya merindukan menang dalam berdebat atau diskusi. Dan tanda kemenangan mutlak saya adalah jika anda menghunus pedang. Itulah sebabnya saya ketawa kalau diancam orang, sebab itulah target yang saya inginkan.

Demikian pula dengan diblokirnya akun Facebook saya setiap hari oleh orang-orang yang kebakaran jenggot, menyatakan bahwa bidikan saya sudah tepat sasaran. Lampu menyala ketika saya tekan skakelarnya menyatakan sambungan kabelnya baik-baik saja.


SABAR TERHADAP APA, MARAH TERHADAP APA?

Sabar terhadap apa dan marah terhadap apa itu yang penting untuk kita ketahui. Bahwa kita harus sabar terhadap hal-hal yang sifatnya duniawi, tetapi harus keras dalam masalah kebenaran.

Anda punya utang pada saya dan tak sanggup membayar? Anda memukul saya? Anda menabrak saya? Anda berselingkuh dengan istri saya? Anda membunuh anak saya? Semua hal itu duniawi dan harus saya abaikan. Saya harus siap mengampuni semua itu. Tapi kalau soal Firman TUHAN saya tak mungkin berlaku lunak. Jangankan penyimpangan besar, penyimpangan satu inci saja harus saya perhitungkan.

Kalau uang saya yang diambil orang, mungkin saya akan diam. Tapi bagaimana kalau uang kepercayaan boss saya yang diambil orang? Tak mungkin saya diamkan saja sekecil apapun. Demikianlah tanggungjawab seorang hamba TUHAN terhadap Firman yang dipercayakan kepadanya, harus dia pertahankan mati-matian itu.

Firman TUHAN sebagai standart kebenaran harus terpelihara kebenarannya, sama seperti garam yang harus asin, lilin yang harus terang dan pisau yang harus tajam. Sebab jika garam tidak lagi asin, dengan apa lagi kita hendak mengasinkan masakan?


KEMARAHAN-KEMARAHAN ALLAH;

>> Di zaman Nuh, ALLAH menghukum manusia dengan air bah.

>> Di zaman Abraham, ALLAH menunggangbalikkan Sodom dan Gomora.

>> Di zaman nabi Musa, ALLAH membinasakan ribuan orang Israel yang tidak taat.

>> Nabi Elia melawan dan menyembelih 850 nabi-nabi palsu.

>> TUHAN YESUS sangat membenci orang-orang Farisi, Saduki dan ahli-ahli Taurat.

>> TUHAN YESUS marah terhadap orang-orang yang berdagang di Bait Suci.

>> Rasul Paulus memarahi rasul Petrus yang berlaku munafik.


ALLAH adalah kasih, itu benar. Tapi jika dikatakan kasih ALLAH itu tidak berbatas, itu tidak benar! ALLAH panjang sabar, bukan sabar terus!

Keluaran
34:6Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,
34:7yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat."

Kasih dan kesabaran ALLAH itu ada batasnya!

Tidak ada komentar: