Senin, 07 Maret 2016

TEMPAT PENITIPAN ANAK

Tadi kebetulan lewat sebuah tempat penitipan anak, menjadi menarik untuk saya bahas. Sangat menyedihkan sekali melihat semangat perempuan di zaman ini dalam menuntut ilmu, menuntut gelar, memburu pekerjaan, memburu jabatan dan memperjuangkan kesejajaran dengan kaum lelaki.

Pejuang emansipasi perempuan di Indonesia, Raden Ajeng Kartini itu bukan nabi dan bukan orang Kristen, sekalipun konon beragama Katolik. Karena itu kita umat Kristen, perempuan Kristen, tak perlu ikut-ikutan mempersamakan diri terhadap laki-laki. Sebab di dalam lembaga apapun, pemimpin itu hanya seorang, tidak boleh dua orang. Dan Alkitab menetapkan kepala perempuan adalah laki-laki, kepala laki-laki adalah YESUS, dan kepala YESUS adalah ALLAH;

1Kor. 11:3       Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

Jika kepala perempuan itu laki-laki, maka persamaan dengan laki-laki itu tak ada! Yang ada perempuan dibawah laki-laki, dan TUHAN sudah menetapkan pembagian tugas, laki-laki yang bekerja sedangkan perempuan yang melahirkan anak.

Kejadian 3:16  Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."
3:17     Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
3:18     semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
3:19     dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Firman ALLAH tak pernah berubah. Di zaman modern inipun tak ada yang menuntut seorang perempuan untuk sekolah yang tinggi, tak ada yang menuntut perempuan bekerja, juga tak ada yang menuntut perempuan supaya sejajar dengan laki-laki. Orang takkan mempertanyakan seorang perempuan yang tidak bersekolah. Tapi jika ada laki-laki yang tidak bersekolah, barulah orang mempertanyakan: “Kenapa kamu tidak sekolah?” Orang takkan mempertanyakan seorang perempuan yang menganggur. Tapi jika ada laki-laki yang menganggur, pasti akan dipertanyakan: “Kenapa tidak bekerja?” Orang juga takkan mempertanyakan jika seorang perempuan tunduk dan takut pada suaminya. Tapi jika ada suami yang takut pada istrinya, maka setidaknya orang akan mengerutkan keningnya: “Mengapa orang itu begitu takut pada istrinya?”

Mengapa anda melawan kodrat? Melawan kodrat sama dengan melawan ALLAH. Dan ingatlah bahwa dosa pemberontakan melawan ALLAH di Taman Eden itu dimulai oleh perempuan; Hawa, bukan Adam!

1Tim. 2:14       Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.

Coba pikirkan; apa sebab sekarang ini banyak laki-laki yang menganggur dan kesulitan mencari pekerjaan? Tidak lain adalah karena adanya persaingan dengan perempuan. Seandainya perempuan mau mengundurkan diri dari dunia kerja, pastilah bapak-bapak yang menjadi kepala keluarga bisa tertampung di lapangan kerja.

Coba pikirkan; pantaskah perempuan sampai meninggalkan keluarganya hingga luar kota yang jauh bahkan hingga ke luar negeri untuk menjadi TKW – Tenaga Kerja Wanita.

Coba pikirkan; pantaskah setelah melahirkan anak, lalu anak dititipkan ke orangtua atau mertua, dititipkan ke pembantu rumahtangga, hingga dititipkan ke tempat penitipan anak.

Coba pikirkan; pantaskah istri meninggalkan dapur, menyerahkannya ke pembantu atau sampai membeli masakan di warung? Pantaskah istri meninggalkan cucian pakaian dan menyerahkannya ke mesin cuci atau ke Loundry?

Coba pikirkan; jika anak diasuh sendiri saja belum tentu bisa baik, lebih-lebih diasuh orang lain.

Coba pikirkan; jika terjadi resiko anak anda itu hilang diculik orang atau sakit keras atau kecelakaan atau menjadi anak yang nakal, pantaskah anda marah-marah dan mempersalahkan orang lain? Bisakah semua resiko itu dibayar dengan penghasilan anda?

Coba pikirkan; terhadap siapakah TUHAN akan meminta pertanggungjawaban atas anak-anak anda; terhadap suami atau terhadap anda selaku ibunya? Tidakkah terkandung dosa yang teramat besar atas masalah pemberontakan perempuan terhadap kodratnya?

Coba pikirkan; bisakah kasih sayang anda terhadap anak digantikan dengan uang penghasilan anda? Jiwa anak yang merupakan penentu kepribadian anak itu dibentuk oleh orang yang bukan ibunya. Ibunya hanya berperan di perut anak; uang penghasilannya untuk mengisi perut anak dengan martabak. Jika seumpama ikan, kepalanya dipegang orang lain, ekornya anda yang pegang. Padahal masa kanak-kanak merupakan masa penentu masa depan anak. Di masa kanak-kanak itulah pondasi moral harus ditanamkan.

Mungkin yang dijadikan alasan perempuan mencari uang adalah kurang percaya pada tanggungjawab laki-laki. Tapi TUHAN sudah memikirkan perlindungan untuk perempuan jika ditinggalkan suaminya. Alkitab banyak memikirkan tentang nasib janda-janda supaya mendapatkan jaminan sosial.

Yak. 1:27         Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

1Tim. 5:3         Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda.

Yes. 1:17         belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!


Yes. 1:23         Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka.

Tidak ada komentar: