Kamis, 17 Maret 2016

XXIX. MEMBERKATI, MENGUTUK DAN MENDOAKAN

Ul. 11:29Jadi apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke negeri, yang engkau masuki untuk mendudukinya, maka haruslah engkau mengucapkan berkat di atas gunung Gerizim dan kutuk di atas gunung Ebal.

TUHAN mengajari bangsa Israel bila hendak memberkati seseorang supaya tidak dilakukan di sembarangan tempat, melainkan harus diucapkan di atas gunung Gerizim, sedangkan jika hendak menyumpahi seseorang harus di atas gunung Ebal. Kedua gunung itu letaknya saling berdekatan, berada di wilayah Samaria, merupakan pertengahan dari negeri Palestina. Tentu saja sangat jauh sekali bagi orang-orang Israel yang tinggal di Sidon[utara] ataupun Yudea[selatan]. Mereka harus melakukan perjalanan berhari-hari untuk mencapai gunung Gerizim atau gunung Ebal. Dan setiap kesalahan orang terhadap hukum ALLAH di zaman Perjanjian Lama hukumannya adalah mati. Hukum Taurat menuntut orang memenuhinya secara tepat secara harafiahnya. Itu memberikan pengertian bagi kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru supaya berhati-hati dalam memperlakukan Firman TUHAN, sekalipun itu bukan Hukum Taurat. Hargailah Firman TUHAN, jangan dianggap sepele, sebagaimana kita menuntut orang menghargai omongan kita.

Mengucapkan berkat di gunung Gerizim, kutuk di gunung Ebal, memberikan pesan supaya kita tidak sembarangan dalam memberkati, mengutuk, mendoakan maupun menumpangkan tangan ke atas seseorang. Bukan karena gampangnya mulut ini memuji, memaki atau mendoakan, dan bukan karena gampangnya tangan ini menumpangkan tangan, sehingga kita gampangan memberkati, mengutuk, mendoakan dan menumpangkan tangan. Tapi kita harus memikirkan siapa orangnya dan seperti apa kepentingannya. Harus tepat. Jangan sampai orang jahat kita berkati, orang benar kita kutuk!

Mulut ini memang dibuat mudah berbicara apapun, entah yang baik, entah yang buruk, entah memuji, entah memaki, entah tersenyum, entah marah, entah berbicara jujur, entah menipu, entah kebenaran, entah dongeng, entah terhadap TUHAN, entah terhadap sesama, entah terhadap suami, entah terhadap istri, entah terhadap orangtua, entah terhadap anak-anak. Kita bebas bicara apa saja, sebebas kita mengambil makanan yang tersedia di warung. Tapi jangan lupa bahwa setelah semuanya itu kita makan, kita harus membayarnya. Setelah kita mengucapkannya, kita harus mempertanggungjawabkannya.

Jangan karena hanya debu sehingga kita buat sembarangan, sebab debu itu bisa dijadikan manusia. Jangan karena hanya tongkat sehingga kita buat sembarangan, sebab tongkat itu bisa dijadikan ular. Jangan karena hanya air sehingga kita buat sembarangan, sebab air itu bisa dijadikan anggur. Demikian halnya dengan memberkati, mengutuk, mendoakan dan menumpangkan tangan, jangan dibuat sembarangan.

1. MEMBERKATI:

Yang termasuk memberkati adalah merestui, menyetujui, mendukung, memuji atau menyanjung. Di sini dalam berbasa-basi dengan orang kita sering dengan gampangan memuji orang. Padahal Alkitab tidak mempunyai acara berbasa-basi, melainkan harus berbicara secara apa adanya. Jika orang bersalah jangan kita puji: "Kamu memang betul. Langkah-langkahmu sudah benar itu", padahal sesungguhnya tidak benar. Tapi karena adat-istiadat berbasa-basi melarang menyinggung perasaan orang, maka kita sering terpaksa harus memuji orang yang harusnya kita luruskan. Basa-basi sering kali adalah kamuflase. Jadi, acara berbasa-basi ini harus kita hentikan karena justru menjerumuskan orang untuk melestarikan kesalahannya. Orang salah harusnya kita nasehati yang benar, malah kita biarkan tetap dalam kesalahannya.

Mat. 5:13"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Sebagai garam dan terang dunia kita harus berfungsi untuk membawa dunia ke dalam kebenaran TUHAN.

2. MENGUTUK;

Yang termasuk mengutuk adalah menyumpahi, memaki atau kemarahan. Sering kali hanya dari mendengar cerita sepihak, pihak teman atau sahabat atau sanak famili, kita dibuat ikut masuk ke dalam emosi teman atau sahabat tersebut. Asal teman yang ngomong kita sudah langsung membenarkan dan memihaknya.

Sebagai orang Kristen kita harus mengambil inisiatif untuk masuk atau mencampuri perkara orang dengan tujuan untuk menengahi, mendamaikan dan menyelesaikannya. Sekalipun menurut pendapat umum mencampuri urusan orang lain itu ditabukan atau dianggap tidak pantas, namun menurut Alkitab itu merupakan tugas kita. Jadi, setiap kali kita mendengar ada orang bermasalah, jangan kita menutup mata dan menutup telinga, berlaku seolah-olah tidak tahu apa-apa. Kecuali itu berita dari koran atau televisi bahwa ada tawuran antara kampung A dengan kampung B, itu bukan bagian kita mengurusinya. Tapi dari apa yang terjadi di sekitar kita itulah kewajiban kita untuk berpartisipasi. Misalnya kita mendengar ada pertengkaran suami-istri atau pertengkaran antar tetangga, kita wajib menengahinya supaya kejadian itu bisa dipetik pelajarannya bagi masyarakat yang lainnya. Jangan sampai suatu perkara dibiarkan mengambang tanpa ketahuan mana yang salah dengan mana yang benar. Jangan sampai suami-istri yang bertengkar itu berakhir pada perceraian, jika seharusnya permasalahan itu bisa didamaikan. Jangan sampai pertengkaran antar tetangga itu berlarut-larut sehingga mereka menjadi tidak bertegur sapa selama-lamanya.

Tentu saja anda atau rumahtangga anda sendiri harus beres duluan. Anda dan rumahtangga anda harus sempurna duluan, baru kita bisa menyempurnakan orang lain, supaya jangan dibilang orang;

Mat. 7:3Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Sempurna? Bisakah kita sempurna? Bisa!

Mat. 5:48Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Asal semua ajaran Alkitab kita laksanakan, maka sempurnalah kita;

1Yoh. 2:1Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.

Itulah ajaran kesempurnaan kita. Bahwa kita harus berusaha keras untuk tidak berbuat dosa. Namun jika masih tetap jatuh, kita mempunyai TUHAN YESUS KRISTUS yang menutupi dosa kita. Suatu dosa kita selesaikan, maka sempurnalah kita. Di zaman Perjanjian Lama, jika orang berbuat dosa dia membawa seekor kambing, disembelih, maka bereslah dosanya. Di Perjanjian Baru, jika kita berbuat dosa, minta ampun pada TUHAN YESUS, maka selesailah dosa kita. Oleh TUHAN YESUS kita yang berwarna merah seperti kirmizi akan dibuat putih seperti salju.

Jika hanya mengandalkan diri sendiri saja, maka tak ada orang yang sempurna. Benarlah kata dunia bahwa tak ada manusia yang sempurna. Tapi kita mempunyai andalan TUHAN YESUS KRISTUS. Dalam hal inilah kita berbeda dari orang dunia.


3. MENDOAKAN;

Jangan setiap orang sakit kita doakan, sebab kebanyakan orang sakit adalah karena dosa. Sakit adalah salah satu cara TUHAN menegur kita. Karena itu harus dilakukan pemeriksaan apakah penyakit itu penyakit biasa, atau merupakan hukuman atau merupakan ujian. Di Perjanjian Lama, setiap orang Israel yang sakit harus diperiksa oleh imam Lewi. Imam Lewi akan menyatakan apakah orang itu sakit biasa atau dikutuk TUHAN. Di Perjanjian Baru, kita bisa menguji melalui 10 Hukum ALLAH. Adakah pelanggaran terhadap salah satu hukum ALLAH? Jika tidak ada, maka penyakit itu merupakan ujian sebagaimana Ayub yang diuji dengan penyakit gatal-gatal di seluruh tubuhnya. Tapi jika ada pelanggaran hukum, maka itu harus diselesaikan dulu. Orang itu harus diajari kebenaran, diberitahukan kesalahannya, maka penyakit itu akan sembuh dengan sendirinya jika dosa-dosa itu sudah dibereskan dengan TUHAN YESUS.

Tapi jika orang tersebut dalam keadaan tidak sadar atau koma sehingga tidak bisa diajarkan kebenaran, maka sebaiknya kita melepaskannya ke tangan TUHAN, jangan sekali-sekali berdoa untuk orang itu, sebab orang itu berada dalam murka TUHAN. Kita tidak dibenarkan bersatu dengan orang yang dikutuk TUHAN. Kita harus tunggu sampai orang itu ada kesadarannya, barulah kita berbicara kebenaran padanya. Itu artinya TUHAN memberikan kemurahan, kesempatan pertobatan pada orang itu. Tapi jika pekabaran kita ditolaknya, maka kebaskanlah debu kaki kita, sebagai tanda kita telah melaksanakan tugas dan kewajiban kita sebagai hamba TUHAN.

Sebagai orang Kristen tugas kita adalah mengungkapkan kebenaran, memisahkan kebenaran dari kesalahan, dan tidak membiarkan suatu perkara berkeadaan tidak terurai. Kita harus membongkar atau mengungkapkan dosa-dosa yang disembunyikan orang. Misalnya perselingkuhan yang ditutup-tutupi, itu harus kita bongkar, seperti Yohanes Pembaptis membongkar perselingkuhan raja Herodes.

Lukas
3:19Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya,
3:20raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.


Dan sebagai orang Kristen yang mengutamakan kerohanian dari pada keduniawian, tentu sangat tidaklah tepat mendoakan orang sukses dalam pekerjaannya atau mendoakan kayaraya. Jadi, berdoalah yang selaras dengan Firman TUHAN.

Sekalipun dikabulkan atau tidaknya suatu doa itu bergantung dari kemurahan TUHAN, jangan karena berdoa itu gampang, hanya merangkai kalimat saja, maka kita berdoa secara sembarangan seperti menuliskan SMS yang pulsanya murah. Jangan perlakukan doa seperti SMS yang gratisan.

Keluaran
20:7Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Itulah hukum ALLAH yang ke-3 dari 10 Hukum ALLAH.


4. MENUMPANGKAN TANGAN;

Penumpangan tangan adalah cara kita menyalurkan ROH KUDUS. Kita memberikan ROH KUDUS kepada orang itu. Di sini kita harus berhati-hati supaya jangan orang yang tidak niat hidup benar kita tumpangi tangan. Orang yang masih kental sekali keduniawiannya, orang yang masih menolak KETUHANAN YESUS, lebih-lebih yang tidak mempercayai keberadaan ALLAH, jangan kita tumpangi tangan dia. Jika sekiranya ROH KUDUS sia-sia berada dalam diri orang itu, maka janganlah orang itu diberi ROH KUDUS.

Mat. 7:6"Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

Tidak ada komentar: