Sabtu, 12 Maret 2016

XXVIII. KERJA ITU KUTUK

Kerja, melahirkan dengan susah payah dan kematian adalah kutuk dosa yang bermula dari Taman Eden. Ketiga hal itu akan selalu ada secara bersama-sama. Selama ada kematian, maka selama itu pula kerja dan kesukaran melahirkan masih tetap merupakan kutuk, bukan berkat sebagaimana yang diajarkan oleh pendeta-pendeta.

Sebab raja dan boss tidak perlu bekerja melainkan menerima pelayanan hamba-hambanya. Raja tinggal perintah maka sesuatu akan terjadi, seperti ALLAH berfirman maka terjadilah apa yang difirmankan itu. Dan kita orang-orang Kristen disebut sebagai anak-anak RAJA. Karena itu jika ada orang-orang Kristen yang bekerja, maka dia adalah orang yang menjalankan kutuk.

Perkataan kerja itu berkat merupakan penyesatan, serupa dengan perkataan orang dunia: selingkuh itu indah, dosa itu nikmat, dan lain-lainnya. Kutuk koq dibilang berkat?! Itu namanya orang membabi buta, seperti kata syair lagunya Gombloh: "Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing berasa coklat." Memangnya kalau cinta sudah melekat bisa merubah tahi kucing menjadi coklat? Memangnya pendeta berkuasa untuk merubah kutuk menjadi berkat?

Tapi sebagaimana orang berdosa bisa disucikan, maka ALLAH-pun bisa memberkati pekerjaan kita. Artinya, ALLAH memberikan rejeki melalui pekerjaan kita. Tapi pekerjaan itu tetap merupakan kutuk. Itulah sebabnya kita dipanggil untuk meninggalkan pekerjaan duniawi kita, supaya kita menjadi pemberita Injil bagi kemuliaan ALLAH. Di sinilah kita dibebaskan dari kuasa kutuk itu. Sebab sifat pekerjaan duniawi itu membuat sesuatu untuk kepentingan diri sendiri;

Kej. 3:19dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Bekerja untuk kepentingan sendiri itulah yang disebut kutuk. Membuat sesuatu lalu dijual, keuntungannya untuk makan, atau bekerja pada seseorang, menerima upah, upahnya untuk makan, itulah kutuk. Dengan mengingat kerja sebagai kutuk, kita akan bekerja dengan keprihatinan, bukan dengan enjoy. Kita akan bekerja seperlunya bukan seperti orang-orang China yang semangat sekali bekerjanya, pagi, siang, sore, malampun kerja terus. Kita bekerja secara terpaksa karena harus makan dan harus memberi makan keluarga, bukan dimanfaatkan untuk menumpuk kekayaan.

Bekerja sebagai kutuk akan membuat kita seperti minum pil, terpaksa, tidak seperti memakan buah apel yang makan bertambah-tambah.

Itulah sebabnya kita menyebut orang yang memburu kekayaan sebagai hamba uang, bukan hamba TUHAN. Dia diperbudak oleh uang! Tapi TUHAN memanggil kita supaya menjadi hamba TUHAN, meninggalkan perhambaan uang.

Yak. 4:4Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.
Rm. 8:7Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

Mat. 6:24Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Jika orang memburu uang seperti taoke-taoke China kita sebut sebagai menjalankan kutuk, maka betapa lebih terkutuknya orang-orang Kristen yang bekerja sebagai pegawai atau karyawan. Orang-orang Kristen sebagai anak-anak RAJA, masakan sampai menjadi hamba orang lain, bahkan menjadi hamba dari orang-orang yang menyembah berhala?!

Mengapa orang-orang China zaman dulu banyak yang menjadi wiraswastawan? Sebab nenek-moyang mereka mengajarkan: "Sekalipun tidak kaya, janganlah sampai kamu diperintah orang lain." Orang-orang China itu meletakkan martabat di atas uang! Biarpun miskin adalah boss. Buka toko kecil-kecilan sudah menjadi boss bagi dirinya sendiri. Tapi orang-orang zaman ini dengan alasan tekanan ekonomi telah menjungkirkan uang di atas harga dirinya. Mereka ini tidak tahan untuk mempertahankan nilai-nilai dirinya, sehingga kalau dalam bahasa perempuan namanya adalah pelacur, melacurkan dirinya, menjual dirinya untuk mendapatkan uang! Demi uang diperintah-perintah orang bahkan dimarah-marahi orang, tak apa! Sudah hilang rasa hinanya.

Di rumah diperintah bapak-ibunya tak pernah menurut, tapi di kantor dia diperintah bossnya tak pernah tak menurut. Di rumah tak pernah menyapu, di kantor sekalipun bukan tukang sapu rajin sekali menyapu.

Dan filosofi orang-orang China itu sesungguhnya sama dengan filosofi ALLAH. Tak ada hamba-hamba ALLAH yang menjadi hamba bagi orang lain. Jika bangsa Israel pernah diperbudak oleh bangsa Mesir selama 430 tahun itu adalah suatu rencana ALLAH untuk menyatakan kemuliaanNYA. Supaya dari Mesir mereka dipanggil anak-anak ALLAH. Dan terjadinya perhambaan bangsa Israel selewat di Mesir adalah merupakan hukuman ALLAH akibat kemurtadan mereka. Menjadi hamba itu adalah suatu aib atau kehinaan, suatu kutuk;

Kej. 9:25berkatalah ia: "Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya."

Yoh. 15:15Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Yes. 5:20Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.

Celakalah orang yang menyebut kutuk sebagai berkat!

Tidak ada komentar: