Senin, 21 Maret 2016

XXXI. PERNIKAHAN GEREJANI

Lembaga pernikahan gereja adalah salah satu dari warisan gereja Roma Katolik yang diwariskan ke gereja-gereja Kristen sekarang ini. Lembaga pernikahan gereja ini tentunya dimaksudkan untuk memberikan kewibawaan bagi gereja, seolah-olah gereja memiliki kewenangan untuk mengawinkan pasangan suami-istri. Lembaga ini hanya memperpanjang dan membikin rumit sebuah perkawinan yang sama sekali bertentangan dengan Alkitab dan fakta alamiah kita.

Alkitab tidak mengenal lembaga pernikahan, yakni penerbitan surat kawin untuk mengesahkan sebuah perkawinan. Sebab pasangan yang melangsungkan perkawinan itu sudah memiliki keluarga yang berwewenang untuk mengawinkan mereka. Mereka sudah memiliki orangtua[ayah-ibu] yang memiliki hak untuk merestui atau tidak merestui perkawinan anaknya. Mengapa harus dibelokkan ke pendeta, jika orangtua sudah merestui? Karena pendeta wakil TUHAN? Kalau dalam hal Firman TUHAN, pendeta mengklaim diri sebagai wakil TUHAN, boleh. Tapi dalam hal perkawinan TUHAN sudah berbicara melalui tanda-tanda akil baliq.

Apakah anda laki-laki yang sudah akil-baliq? Apakah anda perempuan yang sudah akil-baliq? Jika keduanya sudah akil-baliq, silahkan melakukan hubungan seks suami-istri, asal tidak ada yang merasa dipaksa dan itu dilakukan dengan bertanggungjawab sebagai suami-istri. Hubungan seks itu sudah sah dihadapan TUHAN melalui tanda akil-baliq. Ilmu kedokteranpun menyatakan bahwa tanda akil-baliq merupakan tanda sudah diperbolehkannya orang melakukan hubungan seks.

Karena TUHAN sendiri yang sudah mengesahkan hubungan seks anda, maka ayah-ibu apalagi pendeta, sudah tidak ada nilainya apa-apa lagi. Jadi, perkawinan sebenarnya tidak memerlukan persetujuan ayah-ibu. Karena itu jika ayah-ibu anda tidak menyetujui pasangan anda, anda boleh mengabaikan mereka. Itu tidak dosa. Ayah-ibu menguasai anak-anaknya hanya sebatas mereka akil-baliq. Selebihnya, anak-anak harus dilepaskan. Jika ada orangtua yang masih mengendalikan anak-anaknya yang sudah akil-baliq, maka orangtua itu adalah perampok dan pemerkosa anak-anaknya. Merekalah yang berdosa, jika mereka tidak mengerti batas-batas mereka.

>> Kejadian   2:24            Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan
                                            bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Anda harus bersatu dengan pasangan anda, bukan dengan ayah-ibu terus-terusan. Ada waktunya anda terpisah dengan orangtua dan bersatu dengan pasangan anda.

Apakah saya mengajari anda kurangajar pada orangtua? Tidak. Anda perlu merundingkan perkawinan anda pada mereka. Anda harus menghormati mereka. Anda harus memperkenalkan pasangan anda pada mereka sebelum anda melakukan hubungan seks. Anda juga perlu mendengarkan pertimbangan-pertimbangan pemikiran mereka. Jika mereka tidak setuju, anda boleh memperhatikan omongan mereka. Anda boleh putuskan hubungan dengan kekasih anda itu demi nasehat orangtua. Tapi anda juga boleh mengabaikan ketidaksetujuan mereka. Jadi, anda memiliki kebebasan untuk menuruti ataupun tidak menuruti omongan mereka dalam hal perkawinan anda.
Jika anda mempunyai pasangan dan mendapatkan persetujuan orangtua, bersyukurlah, sebab itu artinya posisi anda semakin baik/kuat.

Jika anda mendapatkan restu orangtua, tundalah melakukan hubungan seks sampai acara pestanya.
Itu untuk penghormatan kepada orangtua. Tapi jika sebelum anda memperkenalkan pasangan anda kepada orangtua, anda sudah melakukan hubungan seks duluan, misalkan: ketemu di jalan lalu anda keburu melakukan hubungan seks, anda tidak perlu merasa berdosa. Itu halal di mata TUHAN. Asalkan anda bertanggungjawab, bukan main-main. Jika anda melakukan yang seperti ini, inilah yang dituliskan Alkitab, bahwa anda harus membayar Mas Kawin.

>> Keluaran  22:16          Apabila seseorang membujuk seorang anak perawan yang belum
                                           bertunangan, dan tidur dengan dia, maka haruslah ia mengambilnya menjadi
                                           isterinya dengan membayar mas kawin.
                        22:17             Jika ayah perempuan itu sungguh-sungguh menolak memberikannya
                                            kepadanya, maka ia harus juga membayar perak itu sepenuhnya, sebanyak
                                            mas kawin anak perawan."

Jadi, Mas Kawin adalah semacam denda jika anda melakukan hubungan seks sebelum ijin dari orangtua gadis itu. Jika itu anda bayar, maka anda tidak berdosa sedikitpun. Halal itu.

Berapakah Mas Kawin menurut Hukum Taurat?

>> Ulangan  22:29           maka haruslah laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima
                                            puluh syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi
                                            isterinya, sebab laki-laki itu telah memperkosa dia; selama hidupnya tidak
                                            boleh laki-laki itu menyuruh dia pergi.


Syikal adalah ukuran timbangan di Timur Tengah pada zaman Alkitab sebesar 11,4 gram. Biasanya dipakai untuk ukuran jumlah uang. Syikal kudus ialah syikal (timbangan yang utuh, yang disimpan dalam Kemah Suci (Keluaran 30:13)


50 syikal perak = 50 x 11,4 gram = 570 gram perak.


Dengan demikian tidak ada istilah “kumpul kebo” atau “seks pranikah” atau “hamil diluar nikah”, sebab Alkitab tidak mengenal pernikahan. Semua istilah itu harus kita singkirkan. Tidak ada kebenarannya sama sekali itu. Setiap hubungan seks yang dilakukan oleh pasangan yang sudah akil-baliq dan bertanggungjawab adalah sah.

>> Lebih baik disebut kumpul kebo asalkan bertanggungjawab, daripada mempunyai surat kawin tapi
      tidak bertanggungjawab.

Tapi alangkah baiknya jika kita meluaskan makna akil baliq dari sekedar tanda-tanda lahiriah kepada tanda-tanda kedewasaan. Sebab akil baliq tapi pikirannya masih belum dewasa, maka perkawinan itu menjadi riskan sekali. Kedewasaan berpikir sangat diperlukan dalam membina rumahtangga.

Para orangtua boleh memperpanjang masa akil-baliq sampai ke masa kedewasaan anak dengan batasan usia yang relatif. Hanya saja jangan sekali-sekali mengatas-namakan TUHAN, jika TUHAN tidak mengatakan sesuatu. Juga jangan mempersulit perkawinan dengan tradisi-tradisi yang tidak
perlu.

Para nabi, para imam, TUHAN YESUS dan para rasul tidak ada yang mengadakan pemberkatan pernikahan. Karena itu pemberkatan pernikahan di gereja oleh pendeta harus ditiadakan. Yang boleh memberkati pernikahan dengan menumpangkan tangan ke atas kepala mempelai adalah orangtua. Pendeta bukan sanak keluarga mempelai biarlah datang sebagai tamu undangan, seperti TUHAN YESUS ketika diundang perkawinan di desa Kana. Syukur-syukur jika pendeta itu datang dengan menyumbang anggur, seperti yang TUHAN YESUS lakukan. Tapi kalau datang untuk bikin repot dan bikin ruwet, apalagi minta amplopan, lebih baik nggak usah diundang saja.

Pemberkatan dari TUHAN sudah diberikan melalui tanda akil-baliq. Di saat itu TUHAN seolah berkata kepada anda: “Sekarang,  silahkan anda kawin dengan siapa saja yang anda inginkan.” Dari segi kedokteranpun berkata yang sama dengan TUHAN. Jadi, jangan ada yang berlaku melebihi TUHAN dan dokter. Termasuk orangtuapun.


PERTUNANGAN.

Pertunangan adalah untuk mengikat pada perkawinan. Anda boleh mengikat pertunangan dengan anak kecil sekalipun. Misalnya anda hendak mengikat anak perempuan yang masih berumur 5 tahun. Itu boleh. Tapi untuk mengawininya harus menunggu sampai anak itu akil-baliq.



Mari, kita sudahi keberadaan pernikahan gereja yang merupakan warisan Roma Katolik ini. 

Tidak ada komentar: