Rabu, 20 April 2016

MENDALAMI KEKEJAMAN SATPOL PP

Menemukan gagasan pekerjaan sesederhana apapun pekerjaan itu, misalkan membuka warung soto, itu bukanlah hal yang mudah. Berpikir sebulan belum tentu sudah dicapai keputusan bulatnya. Tentunya banyak yang harus dipertimbangkan, misalkan: permodalannya, lokasi berjualannya di mana, dan bisa laku atau tidak?

Untuk menentukan lokasi berjualan juga bukan hal yang mudah. Yang jelas nggak mungkin terpikirkan untuk berjualan di tengah sawah atau di kuburan, tapi di lokasi-lokasi yang banyak orang pastilah menjadi tujuan utama seorang pedagang. Misalnya: pasar atau terminal. Tapi untuk mendapatkan sepetak tanah untuk perhentian rombong sotonya bukanlah hal yang gampang. Sebab ada banyak orang yang menginginkan lokasi itu.

Memang tidak semua pemilik warung itu miskin. Ada yang didukung dengan permodalan yang cukup. Tapi jelas masih lebih banyak pemilik warung atau pedagang yang modalnya nggak jelas. Utang sana utang di sini, apa boleh buat?!

Dan sekalipun pedagang itu sepertinya cinta banget dengan lokasi berjualannya, itu bukan berarti dagangannya laku, bukan berarti untung besar. Banyak yang penghasilannya senin-kemis, kadang untung kadang rugi, namun terpaksa mata pencarian itu dicintainya. Sebab untuk menemukan gagasan pekerjaan lainnya juga tidak mudah. Bahkan tidak jarang orang yang sampai habis-habisan hartanya, pikiran sampai stresspun terpaksa bertahan di lokasinya tersebut. Sebab tidak mudah untuk berganti pekerjaan.

Faktanya pemerintah sendiri yang dikelilingi ahli ekonomi tak juga bisa menemukan gagasan lapangan pekerjaan. Bahkan setiap hari selalu kebobolan bertambah-tambahnya pengangguran dan fakir-miskin. Jadi, betapa kejamnya Satpol PP yang mengobrak-abrik, mengangkuti rombong-rombong dan dagangan pedagang asongan hanya demi keindahan kota.

Apa gunanya kota indah jika masyarakatnya miskin, menganggur dan kelaparan? Mereka dituduh melanggar ketertiban. Ketertiban itu apa? Apakah mereka semacam teroris? Apa sih kesalahan mereka sehingga harus dibuat menganggur?

Jakarta memang bukan ibu kita, tapi ibukota. Pantaslah jika kejamnya melebihi ibu tiri. Becak-becak disingkirkan dengan alasan mengayuh becak itu tidak manusiawi. Tapi mana yang lebih tidak manusiawi jika mereka dibuat menganggur? Padahal pemerintah merekrut ribuan tukang sampah, karena kebutuhan mengangkut sampah ke tempat pembuangan. Mana yang lebih hina antara mengayuh becak dengan berada di lingkungan sampah busuk? Pemerintah mengajarkan kesehatan, tapi malah merekrut orang untuk mengurusi sampah.

Jadi, cobalah berpikir bagi negeri yang banyak fakir-miskinnya ini untuk tidak menilai orang dari pekerjaannya. Entah mengayuh becak atau mengurusi sampah tak usahlah dibilang hina atau tidak manusiawi, selama belum ada terobosan yang lainnya. Selama orang itu sendiri tidak merasa hina atau tidak merasa tidak manusiawi, ya biarkanlah saja mereka mengusahakan kebutuhan perut mereka. Yang penting halal dan tidak termasuk kejahatan.

Jangan pemerintah malah menjadi penjerumus orang baik menjadi khilaf sehingga terpaksa melakukan tindak kejahatan. Sebab banyak kejahatan yang dimulai dari keterpaksaan sampai akhirnya menjadi suatu kebiasaan atau profesi.

Tidak ada komentar: