Jumat, 22 April 2016

PENTING MENIMBANG PERKATAAN

Saat ini sedang musim orang Kristen Minggu mengucapkan: "Selamat pagi BAPA", "Selamat siang YESUS", "Selamat malam ROH KUDUS", lalu ditambahi dengan kata-kata: "Ketiganya yang esa." Luar biasa sekali mereka menancapkan paham Trinitas. Tapi saya tertarik untuk membahas ucapan "selamat"-nya. Sebab kedengaran lucu dan ganjil sekali jika itu diucapkan untuk TUHAN.

Kata "selamat" sebenarnya dari akar kata: "salam" > "salamat" > "selamat." Sedangkan kata: "salam" dari kata bahasa Ibrani: "Shalom" yang artinya damai atau sejahtera. Melkisedek adalah Raja Salem, artinya Raja Damai.

Jadi, "selamat" itu artinya lolos dari bahaya atau dari celaka, sedangkan "shalom" artinya "damai dan sejahteralah kamu." Ucapan "selamat" dan "shalom" itu di Alkitab merupakan ucapan TUHAN atau malaikat untuk manusia, atau merupakan ucapan antar manusia. Tidak pernah ada manusia yang mengucapkan kedua kata itu untuk TUHAN atau malaikat. Apa sebab? Sebab di alam TUHAN dan malaikat tidak ada ancaman bahaya, tidak ada ancaman celaka, juga tidak ada ketidakdamaian. Di sorga itu tempat yang aman, nyaman dan damai.

Jika TUHAN atau malaikat yang mengucapkan kata-kata itu untuk manusia, apa arti dan maksudnya?

Luk. 1:28Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Itu ucapan malaikat atas nama TUHAN untuk Maria. Apa artinya "salam" itu? Artinya TUHAN mengaruniakan atau mengirimkan atau memberikan damai dan sejahtera untuk Maria. Sebab sebagai manusia Maria pasti hidup di tengah-tengah bahaya, celaka dan ketidakdamaian. Nah, TUHAN memberikan kedamaian ke hati Maria yang hendak mengandung dan melahirkan YESHUA, supaya tidak takut dengan masyarakat Yahudi oleh sebab dia hamil tanpa suami;

Luk. 1:34Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"

Perempuan Yahudi mana yang tidak ketakutan hamil tanpa suami? Sebab mereka bisa dilempari batu sampai mati jika kedapatan hamil tanpa suami.

Jadi, karena manusia tidak memiliki keselamatan dari bahaya, dari bencana, dari celaka, dan hidup dalam berbagai kesukaran, maka ucapan "selamat" dan "shalom" itu merupakan doa dan pengharapannya.

>> "Selamat bahagia" artinya semoga bahagia, semoga tidak ada aral melintang.

>> "Selamat jalan" artinya semoga selamat di perjalanan.

>> "Selamat datang" artinya anda telah tiba di sini dengan selamat.

>> "Selamat tinggal" artinya semoga baik-baik saja ketika aku tinggal pergi.

>> "Selamat ulangtahun" artinya anda telah mencapai di umur sekarang ini.

>> "Selamat Natal" artinya kita mencapai di perayaan Natal tahun ini."

>> "Selamat Paskah", "Selamat hari Kartini", dan sejenisnya.

>> "Selamat pagi", "selamat siang", "selamat malam" artinya kita mencapai di pagi/siang/malam ini dengan selamat.

Jadi, masakan tepat jika kita mengucapkan "selamat" atau "shalom" kepada TUHAN atau malaikat? Kepada iblis saja tidak tepat, sebab iblis tidak ada keselamatan. Karena itu iblis tidak memiliki pengharapan keselamatan sebagaimana manusia.

Kiranya TERANG TUHAN dan TERANG ROH KUDUS memberikan hikmat kepada kita supaya kita berkata-kata dengan hikmat, bukan asal berucap karena bebas pulsa.

Mat. 12:37Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Sekalipun berbicara tidak dikenai pulsa, tapi TUHAN menuntut pertanggungjawaban atas apa yang kita ucapkan. Sebab apa yang kita ucapkan itu berasal dari akal budi kita. Jika akal budi kita terang, akan teranglah seluruh perkataan dan perbuatan kita. Tapi jika akal budi kita gelap, maka gelap pulalah perkataan dan perbuatan kita.

Matius
15:18Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.
15:19Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

TUHAN YESHUA pernah menerima ucapan "salam" sebanyak 2 kali;

Yang pertama dari Yudas Iskariot, murid yang mengkhianati YESHUA;

Matius
26:49Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Salam Rabi," lalu mencium Dia.

Dan benarlah ucapan itu, bahwa YESHUA sedang tidak mempunyai keselamatan. YESHUA harus menghadapi salib. Tapi sekarang 'kan sudah tidak ada bahaya yang mengancam YESHUA?!

Yang kedua dari orang-orang Yahudi yang menyalibkanNYA;

Mat. 27:29Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!"

Dan ucapan itu masih benar, karena YESHUA harus menghadapi salib.

Tidak ada komentar: