Minggu, 03 April 2016

SWEEPING DOA KRISTEN

Suatu kali saya berjalan-jalan menyusuri sepanjang jalan Jamin Ginting, daerah Padang Bulan, kota Medan, Sumatera Utara. Melihat banyaknya penjual daging babi disepanjang jalan itu, yakinlah saya bahwa di sana banyak orang Kristennya. Maka bertemulah saya dengan seorang muda bernama: Kornelius Panjaitan.

"Horas! lai," sapa saya sambil menjabat erat tangannya. "Siapa nama lai?" tanya saya. Dijawabnya: "Kornelius Panjaitan, pak."

"Waah, mantap sekali itu, lai." Komentar saya. "Kornelius pasti seorang Kristen, ya?!" Orang muda itupun mengangguk-angguk dengan mantap sekali.

Saya bertanya: "Sebagai Kristen Batak, apa yang paling kamu banggakan, Kornelius?" Korneliuspun menjawab dengan mantapnya: "Tangan kiri pegang tuak, tangan kanan pegang BPK - Babi Panggang Karo." Maka ketawalah saya: "Hua..ha..ha........... segala sesuatu halal bagiku, ya?!" Korneliuspun manggut-manggut dengan bangganya.

"Apa yang paling enak dari daging babi, Kornelius?" Tanya saya. Korneliuspun menerangkan: "darahnya." Kembali saya ketawa: "Hua..ha..ha......." lalu terbayanglah pesan ke-12 rasul;

Kisah
15:19Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah,
15:20tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.
15:21Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."

"Pernah kamu membaca Kisah 15:20, Kornelius?" tanya saya. Korneliuspun menggeleng. "Apa pendapatmu setelah mengetahui isi ayat tersebut?" Korneliuspun menjawab: "Yang penting hati kita, pak."

Dalam hati saya menjawabnya: "Kalau begitu buang saja mulutmu, matamu, telingamu, tangan dan kakimu, hidup sajalah dengan hatimu." Karena saya tak bermaksud membahas masalah Kekristenan di sini, maka saya abaikan masalah itu. Dalam hati saya hanya berpikir, seperti inikah hasil penginjilan Nomensen?

Saya lanjutkan bertanya: "Hari apakah kamu ke gereja?" Korneliuspun menjawab tanpa ragu-ragu sedikitpun: "Setiap orang Kristen ke gereja, ya hari Minggu, kalau nggak Minggu nggak Kristen, pak. Memangnya siapa yang melarang kita ke gereja hari Minggu?" tanya Kornelius.

Saya jawab: "Oh, tidak ada larangan orang pergi ke gereja hari Minggu atau hari apa saja. Semua hari boleh digunakan untuk ibadah." kata saya. "Tapi masalahnya adalah hari yang manakah orang dilarang berjalan-jalan ke mall-mall, berbelanja, shopping, memasak, mencuci pakaian, seterika, menyemir sepatu, dan lain-lainnya?" 

Kornelius mengerutkan kening keheranan. Pertanyaan saya dianggapnya aneh sekali, sebab tak ada di antara orang-orang Kristen yang meributkan masalah hari Sabat. Bagi orang Kristen hari Sabat adalah masalah orang Yahudi, sementara kiblat mereka bukanlah ke Yahudi melainkan ke kota Takhta Suci Vatikan. Sebab Paus Vatikan adalah pengganti YESHUA ha MASHIA yang diteguhkan oleh rasul Santa Klaus dan rasul Swater Piet, dengan simbol pohon cemara, pohon evergreen. Sebab Kristen bukanlah JALAN TUHAN yang dilahirkan oleh rasul Petrus dan rasul Paulus. Bukan alirannya, bukan jalurnya.

Lagi-lagi saya lewatkan masalah itu, tak ingin membahasnya sekarang. Saya hanya pingin tahu seperti apakah Nomensen mengajarkan mereka berdoa. Itu saja. Maka sayapun bertanya ke Kornelius; "Saya ingin tahu bagaimana kalau orang Kristen berdoa?"

Dengan sigap Kornelius memperagakan bagaimana orang Kristen berdoa; mula-mula bertelutlah, kemudian tangannya dilipat seperti sedang berusaha memecahkan buah jambu, kemudian dipejamkanlah matanya, mulailah keluar suaranya: "Ya, tuhan yesus kristus........."

Maka sayapun tersentak kaget: "Baah! siapa yang mengajari kamu berdoa seperti itu?" Korneliuspun kaget: "Kenapa, pak, memangnya salah yang kami lakukan? Sebab di mana-mana orang Kristen berdoa ya seperti itu. Kalau tidak seperti itu bukan Kristen, pak."

Sayapun menjawab dengan gusar: "Dasar kamu kacau! Justru mana ada orang Kristen berdoa seperti itu, tangannya dilipat, matanya dipejamkan. Nggak ada begitu itu! Kamu berdoa seenaknya sendiri seperti tidak ada aturannya di Alkitab. Coba baca ayat ini:

1Tim. 2:8Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.

"Dari cara berdoa saja kamu sudah salah, seenaknya sendiri, merubah-rubah perkataan Alkitab, bagaimana doa kamu didengarkan oleh YAHWEH? Melihat cara berdoa kamu yang seperti itu, YAHWEH pasti mengerutkan keningNYA: orang mana ini, apa yang sedang diperagakannya: senam atau jurus-jurus kungfu? Siapa yang mengajari berdoa seperti itu? Injil apa yang sedang mereka pelajari?"

Ada-ada saja, ya?! Bagi mereka Alkitab tidak lebih dari sekedar aksesoris Kristen, seperti tasbih, patung salib, gambar YESUS, kalung salib, gantungan kunci salib dan stiker-stiker seperti: "I Love Jesus." Alkitab masih belum begitu penting bagi mereka. Lebih baik Alkitab itu ditutupi debu daripada jika dibaca isinya mengerikan sekali karena selalu memusuhi ajaran-ajaran Kristen.

Yang penting iman, yang penting hati. Seperti apakah hatimu? Maka Korneliuspun menunjukkan gambar hati. "Baah! Itu maah gambar kelamin perempuan! Hati koq diganti kelamin perempuan? Itu nama dewa Eros, dewa cinta, dewa hawa nafsu, ingat kata-kata: erostis?"

Maka sayapun berteriak: "Kacau! Kacau! agama apaan ini, ya?!"

Tidak ada komentar: