Selasa, 17 Mei 2016

LIII. ANTARA AL QUR'AN DENGAN ISLAM

Jangan samakan antara Al Qur'an dengan agama atau lembaga Islam atau Alkitab dengan agama atau lembaga Kristen. Sebab Al Qur'an atau Alkitab adalah buku atau kitab pedoman yang bersifat tetap selama-lamanya, sedangkan lembaga keagamaan yang menjalankan kitab pedoman itu isinya manusia-manusia biasa yang bisa berbuat salah, bisa menyeleweng, bisa khilaf, dan berganti-ganti orang yang memimpin.

Kedudukan Al Qur'an atau Alkitab harus lebih tinggi dari kedudukan lembaganya. Artinya, kitab pedoman bisa mengoreksi lembaga, tapi lembaga tidak bisa mengoreksi kitab pedoman.

SELUK-BELUK LEMBAGA:

1. Kuasa mutlak ada pada pimpinan;

Sekalipun pemimpin lembaga itu bodoh sedangkan stafnya pintar, kepintaran stafnya itu tak ada gunanya sama sekali. Sekalipun pemimpin lembaga itu jahat sedangkan stafnya baik, kebaikan stafnya itu tak ada gunanya sama sekali. Staf hanya bisa memberikan nasehat atau masukan-masukan saja, sedangkan pimpinanlah yang membuat keputusannya.

2. Baik bukan kebenaran;

Sekalipun pimpinan itu berhati emas, jika kebijaksanaannya salah, ya tetap salah. Kesalahan kebijaksanaannya bukan karena dia jahat tapi mungkin karena kebaikan hatinya sehingga dia tidak tega membuat kebijaksanaan yang benar. Misalnya; presiden tidak tega menaikkan harga BBM, akibatnya negara kekurangan dana. Atau, hatinya baik tapi tidak tegas, tidak memiliki pendirian, tidak pandai, tidak cerdas, tidak menguasai permasalahannya, dan lain-lain, akibatnya kepemimpinannya menjadi amburadul.

3. Siapa pemilihnya;

Karena YAHWEH itu menghargai kemandirian manusia, maka sekalipun seorang raja atau nabi itu pilihan YAHWEH, namun raja atau nabi itupun bisa berbuat kesalahan. Jika YAHWEH saja bisa "salah pilih", lebih-lebih lagi rakyat. Kadang rakyat memilih karena faktor gantengnya, karena terkenalnya, karena ikut-ikutan teman atau karena dikasih uang atau karena nama besar bapaknya seperti Megawati yang karena faktor Soekarno-nya.

4. Jiwa orang yang bisa berubah;

Jiwa atau jalan pikiran orang itu bisa berubah-ubah; tadinya baik bisa menjadi jahat, tadinya jahat bisa menjadi baik. Tadinya berpikir begini, kemudian berpikir begitu. Bisa jadi karena perkembangan pengalaman atau wawasannya.

5. Beda pemimpin beda jalannya;

Jika satu orang saja bisa berubah-ubah haluannya, apa lagi pimpinan yang berganti-ganti orang. Lain orang lain cara berpikirnya.

Nah, karena faktor-faktor itulah maka jangan mempercayai lembaga secara mutlak. Lihatlah lembaga berdasarkan kitab pedomannya. Jika lembaga itu selaras dengan kitab pedomannya, maka lembaga itu "sedang" benar. Tapi manakala ajaran lembaga itu berbeda dari kitab pedomannya, maka lembaga itu sedang berada dalam kesalahan, sehingga janganlah kita membela mati-matian lembaga itu. Jika benar katakan benar, jika salah katakan salah.


Tentang hal ini Al Qur'an berkata;

QS. 6:115    Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an) sebagai kalimat yang benar dan adil. TIDAK ADA YANG DAPAT MENGUBAH-UBAH KALIMAT-KALIMAT ALLAH dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Kalau Al Qur'an sudah sempurna maka janganlah menambahkan keterangan apapun kepada Al Qur'an, termasuk yang disebut Hadist. Sebab Hadist tak pernah disebut sebagai Al Qur'an atau firman ALLAH. Atau adakah ayat Al Qur'an atau orang Islam yang menyebut Hadist itu firman ALLAH?!

Kedudukan Hadist bagi kaum Muslim adalah sebagai sunnah. Adapun yang disebut sunnah adalah sikap, ucapan dan tindakan nabi Muhammad. Dan itu dituliskan dalam Hadist-hadist. Okey! Tapi bagaimana jika sikap atau ucapan atau tindakan Muhammad itu tidak sesuai dengan Al Qur'an? Kalau Alkitab secara tegas akan menyatakan seorang nabi yang tidak sesuai dengan Kitab Suci sebagai nabi sesat atau nabi yang murtad. Jangankan nabi biasa. YESHUA ha MASHIA saja jika tidak sesuai dengan Perjanjian Lama harus kita tolak.

Kata Muslim: "yang namanya nabi itu pasti benarnya." Perkataan itu benar sekali, sebab artinya nabi adalah utusan TUHAN. Tapi itu dalam hal istilahnya. Menjadi berbeda jika nabi itu memiliki nama, misalnya: nabi Yesaya atau nabi Musa atau nabi Muhammad. Nama itu menunjuk pada pribadi orang yang bisa berubah-ubah. Nabi tidak bisa berubah-ubah tapi orangnya bisa berubah-ubah.

Contoh lain: guru, presiden, ayah, atau ibu itu pasti baiknya. Tapi menjadi lain jika guru itu bernama Pidolan, seorang guru yang memperkosa muridnya sendiri. Bagaimana dengan presiden Soeharto atau ayah yang bernama Susanto yang memperkosa anak kandungnya sendiri atau ibu Endang yang selingkuh?!

Jadi, status atau gelar itu berbeda dengan pribadi. Gelar tidak bisa salah tapi pribadi sangat bisa salah. Setuju?!

Sekarang kita masuk pada salah satu ayat di Al Qur'an;

QS. 19:33     Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".

QS. 5:117     Maka setelah ENGKAU WAFATKAN aku, ENGKAUlah yang mengawasi mereka


QS. 3:55     “Hai ISA, sesungguhnya AKU akan menyampaikan kamu kepada AKHIR AJALMU dan MENGANGKAT kamu kepadaKU serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir.”


Ada 3 ayat yang menyebutkan adanya kematian YESHUA ha MASHIA, masih ditambah dengan 1 perkataan lagi yang mendukung kematian itu;

>> Disebut meninggal.

>> Disebut bangkit hidup kembali.

>> Disebut wafat.

>> Disebut ajal.

4 perkataan kematian akan melawan 1 ayat yang bunyinya kontradiksi;

QS. 4:157-158   dan karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, 'Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang 'Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak  yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa. Tetapi, Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Padahal Al Qur'an itu sudah biasa dengan kontradiksi, sehingga kalau tidak kontradiksi bukanlah Al Qur'an.

QS. 15:39   Iblis berkata : "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

Ayat ini menyatakan bahwa iblis itu menyesatkan. Bandingkan dengan ayat ini:

QS. 4:88   Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah ? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.

Ternyata ALLAH = iblis, bukan?! Sekarang kontradiksi lainnya;

QS. 2:115   Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Bandingkan dengan ayat ini;

QS. 2:144   Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Mau lagi? Masih banyak; Ayat ini menyuruh orang bunuh diri;

QS. 2:54   Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

Bandingkan dengan ayat ini;

QS. 4:29     Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Jadi, kontradiksi Al Qur'an itu hal yang biasa sekali sebagaimana dinyatakan oleh ayat ini;

QS. 13:39   Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).

QS. 16:101   Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.


Kembali ke masalah kematian ISA al MASIH; apa kata kaum Muslim tentang kematian ISA al MASIH?

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu mengatakan, tatkala Allah akan mengangkat Isa ke langit, dia keluar menemui sahabat-sahabatnya. Di rumah tersebut ada 12 orang. Beliau (Nabi Isa) keluar menemui mereka dari salah satu sumber air di rumah itu dan kepalanya terkena air. Beliau berkata, "Sesungguhnya di antara kalian ada yang kafir terhadapku dua belas kali setelah beriman kepadaku".
Kemudian beliau berkata lagi, "Barangsiapa di antara kalian yang dijadikan serupa denganku, dia akan dibunuh untuk menggantikan diriku, maka dia bersamaku dalam satu derajat".
Mendengar perkataan Nabi Isa, salah satu pemuda langsung berdiri.
Tetapi Nabi Isa berkata kepadanya, "Duduklah".
Kemudian pemuda itu kembali lagi kepada mereka, lalu berdiri dan berkata "Saya".
Nabi Isa pun berkata, "Engkaulah orangnya".

Kemudian Allah mengubah pemuda itu seperti diri Nabi Isa, dan Nabi Isa 'alaihi sallam pun diangkat ke langit dari satu celah di dinding dalam rumah.
Lalu datanglah orang-orang Yahudi mencarinya. Maka mereka menyeret orang yang diserupakan oleh Nabi Isa itu, lalu mereka membunuh dan menyalibnya.

Siapakah Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu

Hadits ini tidak shahih dari Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam, bahkan tergolong hadits yang maudhu’ (palsu). Abul Faraj Ibnul Jauzi memasukkannya dalam kitab beliau Al-Maudhu’at (3/115-116) pada bab Fi Ibahatil Ghina (Bab Tentang Bolehnya Nyanyian). Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam takhrij beliau terhadap risalah Ada`u Ma Wajaba Min Bayani Wadh’il Wadhdha’ina Fi Rajab (hal. 150) mengatakan bahwa hadits ini bathil3.
Batilnya hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu �anhuma dapat diketahui dari beberapa tinjauan.
Pertama, kelemahan sanadnya.
Kedua, penyelisihannya terhadap Al-Qur`an.
Ketiga, penyelisihannya terhadap As-Sunnah yang shahih.
Keempat, hadits ini sangat bertentangan dengan keadaan sahabat Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik, yang sangat menjaga batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta�ala dan sangat jauh dari perkara-perkara yang diharamkan.



Rasul Paulus mengajarkan supaya kita jangan memadamkan roh. Artinya boleh mendengar setiap orang yang berbicara, jangan memandang muka tapi perhatikan pada apa yang diajarkannya.

1Tesalonika 
5:19Janganlah padamkan Roh,
5:20dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.
5:21Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

Setiap ajaran yang berbeda dari kitab pedoman jangan diikuti sekalipun itu malaikat yang mengatakannya;

Gal. 1:8Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

Harusnya kaum Muslim juga memiliki konsep untuk berpedoman pada Al Qur'an saja, bukan?! Jika Al Qur'an saja sudah kontradiksi jangan ditambah kontradiksi dengan apapun yang di luar Al Qur'an. Akan semakin kacau jadinya.

Jadi, sebenarnya Al Qur'an mengakui kematian, kebangkitan dan kenaikan YESHUA ha MASHIA ke sorga sebagaimana berita Alkitab. Itulah dalil yang paling kuat dalam Al Qur'an.

Tidak ada komentar: