Senin, 23 Mei 2016

LIX. KERUSAKAN PARAH ISLAM


Berdasarkan arti, Islam itu artinya adalah tunduk dan patuh pada perintah ALLAH. Islam mengklaim dirinya adalah umat yang menjalankan apa yang hak dan menjauhi apa yang bathil atau yang dilarangkan. Dan sekalipun untuk hal-hal yang penting, seperti sholat 5 waktu tidak diperintahkan dalam Al Qur'an, namun untuk larangan memakan babi sangat jelas tersebutkan dalam Al Qur'an;

QS. 2:173   Bahwasanya Allah telah mengharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, ................. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Konsekwensi bagi suatu larangan adalah apapun yang terjadi, larangan tetap larangan. Sekalipun dalam setiap peraturan selalu tersedia kebijaksanaan, namun kebijaksanaan bukanlah untuk umum, bukan untuk semua orang. Kalau untuk umum atau untuk semua orang, maka itu sudah bukan kebijaksanaan lagi, melainkan menjadi suatu ketentuan.

Sebagai contoh Daud yang memakan makanan yang dikhususkan untuk para imam;

Matius
12:3Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
12:4bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?

Itu hanya merupakan peristiwa yang terjadi sekali itu saja, bukan diberlakukan untuk seterusnya. Tapi hal suntikan vaksin meningitis yang dikenakan untuk setiap jemaah haji, atau jika orang Islam sakit minum obat yang mengandung babi, itu masuknya sudah umum bukan lagi suatu kebijaksanaan. Sebab seorang saja bisa melakukannya secara berulang kali. Lebih-lebih jika semua orang diperbolehkan ibadah haji atau sakit berkali-kali, maka larangan itu sudah rusak. Kecuali hukum larangan dalam Al Qur'an itu menyebutkan secara jelas pengecualian untuk haji atau untuk orang sakit. Tapi yang diijinkan hanyalah yang karena kelaparan. Apakah kalau tidak ibadah haji akan mati seperti orang kelaparan? Apakah kalau tidak minum obat akan mati, jika penyakit itu termasuk penyakit yang ringan-ringan?

Sialnya yang mengenakan kewajiban suntik vaksin meningitis itu adalah negara Arab Saudi, sebagai pusat Islam dan pusatnya segala ritual Islam termasuk ibadah haji. Berikut saya sajikan ikhwal penyakit meningitis.

>> Apakah meningitis? Peradangan selaput otak dan sumsum tulang belakang.

>> Ditemukan di Afrika tahun 1911.

>> Aktor terkenal yang terkena meningitis adalah Olga Syahputra.

>> Penularan melalui batuk, bersin, ciuman, makan dengan sendok bersama, pemakaian sikat gigi bersama dan merokok bersama.

>> Termasuk penyakit yang mematikan.

>> Negara Arab Saudi mulai menerapkan peraturan suntik vaksin meningitis untuk setiap orang yang memasuki wilayah negaranya pada tahun 2014.

>> Gambar:   

Hasil gambar untuk gambar orang yang sakit meningitis




Menjadi pertanyaan, apakah ALLAH tidak tahu, tidak bisa melihat ke masa depan ketika umatnya harus dihadapkan dengan penyakit meningitis atau obat-obatan yang kebanyakan mengandung enzim babi sehingga membuat peraturan larangan memakan babi? Berbeda dengan YAHWEH yang pernah mengeluarkan larangan memakan babi tapi kemudian mencabutnya;

Makanan yang diharamkan YAHWEH bukan hanya babi. Imamat 11 memuat makanan haram secara lengkapnya. Sebelum YAHWEH yang mencabut larangan itu, YESHUA ha MASHIA sudah mengumumkannya;

Mrk. 7:19karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.

YAHWEH sendiri yang mencabut larangan itu dinyatakan kepada rasul Petrus, kepala para rasul;

Kis. 10:15Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram."

Dan rasul Paulus menegaskannya;

1Kor. 6:12Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

Dengan demikian tidak ada masalah bagi orang-orang Kristen untuk suntik vaksin meningitis maupun meminum obat-obatan dokter. Sebab siapakah yang di musim hujan tidak sakit flu atau batuk? Nah, dalam obat-obatan yang paling ringan itupun mengandung enzim babi.

Banyak obat-obatan yang berbentuk kapsul, sedangkan cangkang kapsulnya terbuat dari gelatin yang kebanyakan dibuat dari kulit atau tulang babi. Dan obat batuk kebanyakan mengandung alkohol yang juga merupakan larangan kaum Muslim.

Bagaimana dengan obat bius yang digunakan di rumahsakit-rumahsakit yang kebanyakan mengandung narkotika, seperti morfin?! Padahal Islam mempunyai banyak rumahsakit. Dan tahukah anda bahwa dari 30.000 macam obat yang sudah mendapatkan sertifikasi halal baru 22 obat saja?

JAKARTA Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Umat Islam Indonesia sudah kemasukan minyak babi yang terkandung pada mayoritas obat dan farmasi di Indonesia, karena nyatanya baru 22 produk yang bersertifikasi halal dari MUI.
 
"Di antara 30 ribu obat yang diproduksi sekitar 206 perusahaan di Indonesia, yang telah bersertifikat halal masih sangat sedikit. Dari kelompok obat-obatan, hanya ada lima perusahaan dengan 22 produk,” beber Direktur LPPOM MUI Lukmanul Hakim, Sabtu (7/11).
 
Di kelompok jamu, ada 14 perusahaan yang telah memiliki sertifikat halal dengan 100-an produk. Pada kelompok suplemen, yang telah mengantongi sertifikat halal sebanyak 13 perusahaan dengan sekitar 50 produk.
 
"Angka-angka tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk muslim yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa," ujar Lukman.
 
Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara mengenai pernyataan Nafsiah Mboi soal masih adanyan obat menggunakan katalisator berbahan babi. MUI menegaskan, hal itu tetap haram meski hasil akhirnya sudah tidak terdeteksi. 
 
Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi menolak sertifikasi halal produk Farmasi dalam Rancangan Undang-undang Jaminan Produk Halal (RUU JPH). Alasannya, hampir semua obat dan vaksin mengandung babi sehingga tidak bisa disertifikasi halal.
style="font-family: Helvetica Neue, Arial, Helvetica, sans-serif;"> 
“Contohnya, walaupun bahan vaksin tidak mengandung babi, tapi katalisatornya itu mengandung unsur babi. Sehingga tidak bisa dinilai kehalalannya,” ujar Nafsiah 
 
Sehingga Mboi menilai produk farmasi perlu dipisahkan dari makanan dan minuman dalam RUU JPH. Nafsiah juga membenarkan adanya penggunaan minyak babi pada katalisator dalam pembuatan obat
 
Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan, sesuai dengan kaidah ushuliah, sesuatu yang haram awalnya meski diproses sedemikian rupa, hasil akhirnya tetap haram. Amidhan berharap pemerintah lebih mendorong tersedianya obat halal, bukan malah menolak. Sebab, perlindungan terhadap konsumen muslim adalah hak konstitusional.
 
"Dalam Islam, hukum mengonsumsi obat dan vaksin sama dengan hukum mengonsumsi produk pangan, yakni harus halal,” ujar dia.
 
"Hal yang semacam itu di dalam paradigma fikih disebut istihalah, yaitu sesuatu yang haram setelah diproses berubah bentuk menjadi halal karena unsur haramnya tidak terdeteksi. Berdasar kaidah ushuliah di atas, MUI menolak perubahan bentuk istihalah tersebut," tutur Amidhan.

QS. 5:68   Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, dan Injil, yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

QS. 2:62    Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

QS. 43:61    Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.

Di Al Qur'an, nama Muhammad selalu diberi tanda kurung yang berarti merupakan keterangan dari para penerjemahnya, tapi nama ISA al MASIH disebutkan secara nyata sebanyak 25 kali.

Tidak ada komentar: