Selasa, 24 Mei 2016

SEPERTI SENGKON DENGAN KARTA

Gelas jatuh, pecah, bukan gelas lagi. Demikianlah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa membuat manusia tidak seperti manusia lagi. Sebab kalau manusia itu menggambarkan rupa YAHWEH, sebagaimana difirmankan pada waktu penciptaannya;

Kejadian 1:27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Tapi manusia keturunan Adam adalah manusia yang berantakan, manusia yang selalu berdosa, selalu khilaf, selalu salah dan selalu jahat. Dalam dosanya dia bisa khilaf, yakni tanpa sadar melakukan suatu kesalahan. Misalnya ketika berkendaraan lupa memakai helm sehingga ditilang polisi. Dan dalam salahnya dia bisa jahat, yakni secara sengaja melakukan kejahatan seperti sengaja tidak memakai helm, mencuri atau merampok.

Manusia yang mata gelap bisa melakukan apa saja, yakni hal-hal yang tak masuk akal, seperti yang dilakukan oleh polisi yang menangani kasus perampokan dan pembunuhan sadis di tahun 1974. Mungkin karena ditekan oleh atasan atau publik, sehingga melakukan tindakan yang ngawur, yakni menangkap Sengkon dan Karta. Mereka yang tidak bersalah itu dipaksa mengakui. Mereka mengalami penyiksaan berat hingga cacat seumur hidup dan berhasil dijebloskan ke penjara selama 5 tahun.

Dalam penjara 5 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi orang-orang yang tidak bersalah itu. Jelas mereka tersiksa lahir dan bathin. Dan TUHAN tak membiarkan mereka diperlakukan seperti itu, sehingga pada akhirnya pelaku yang sebenarnya berhasil ditangkap dan mereka dikeluarkan dari penjara. Tubuh cacat mereka menjadi bukti betapa mahalnya harga kebenaran dan keadilan itu, sebab kebenaran dan keadilan itu harus mereka bayar dengan cacat tubuh.


Berada di luar penjara tidak membuat nasib mereka membaik. Karta harus menemui kenyataan pahit: keluarganya kocar-kacir entah ke mana. Dan rumah dan tanah mereka yang seluas 6.000 meter persegi di Desa Cakung Payangan, Bekasi, telah amblas untuk membiayai perkara mereka. 

Sementara Sengkon harus dirawat di rumah sakit karena tuberkulosisnya makin parah, sedangkan tanahnya yang selama ini ia andalkan untuk menghidupi keluarga juga sudah ludes dijual. Tanah itu dijual istrinya untuk menghidupi anak-anaknya dan membiayai dirinya saat diproses di polisi dan pengadilan. Walau hanya menanggung beban seorang istri dan tiga anak, Sengkon tidak mungkin meneruskan pekerjaannya sebagai petani, karena sakit TBC terus merongrong dan terlalu banyak bekas luka di badan akibat siksaan yang dideranya. 

Sementara itu Sengkon dan Karta juga mengajukan tuntutan ganti rugi Rp 100 juta kepada lembaga peradilan yang salah memvonisnya. Namun Mahkamah Agung menolak tuntutan tersebut dengan alasan Sengkon dan Karta tidak pernah mengajukan permohonan kasasi atas putusan Pengadilan Negeri Bekasi pada 1977. ‘Saya hanya tinggal berdoa agar cepat mati, karena tidak ada biaya untuk hidup lagi’ kata Sengkon. 

Lalu Tuhan berkuasa atas kehendaknya. Karta tewas dalam sebuah kecelakaan, sedangkan Sengkon meninggal kemudian akibat sakit parahnya. Di sanalah mereka dapat mengadu tentang nasibnya, hanya kepada Tuhan (berbagai sumber).



Kira-kira seperti itulah nasib Kekristenan, seperti Sengkon dan Karta, yang dituduh bermacam-macam; mempertuhankan manusia, penyembah berhala, kafir, pemakan babi dan gereja-gerejapun dibakarnya. Tapi tak selamanya TUHAN membiarkan keadaan seperti itu, sebab setelah gelap malam adalah waktunya matahari bersinar;

Yes. 42:14Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap.




Tidak ada komentar: