Minggu, 12 Juni 2016

BANGSAKU BRENGSEK

Tak Manusiawi, Panti Rehabilitasi Narkoba di Binjai Digrebek

http://www.sumutonline.com/news/africa/item/2645-tak-manusiawi-panti-rehabilitasi-narkoba-di-binjai-digrebek.html

Polisi Polres Binjai bersama kantor Sosial, Rabu (20/5/2015) menggrebek satu rumah sekaligus tempat rehabilitasi narkoba yayasan Kasih Anugrah dan menemukan 130 pasien rehabilitasi dalam kondisi mengenaskan. (Foto: Zainal)


Binjai, SumutOnline-Polisi Polres Binjai bersama kantor Sosial, Rabu (20/5/2015) menggrebek satu rumah sekaligus tempat rehabilitasi narkoba yayasan Kasih Anugrah Jalan Letjen Jamin Ginting, Binjai Selatan dan menemukan 130 pasien rehabilitasi dalam kondisi mengenaskan.  Mereka dikurung dalam ruangan pengap tanpa kamar mandi dengan kaki dirantai besi. Pengelola hanya menyediakan toples untuk keperluan buang air besar dan buang air kecil.
 “Saya sudah enam bulan dirantai besi kaki saya pak,“ kata Helmi Surbaki ( 34 ) pasien Rehabilitasi Narkoba.

Menurut Helmi, seluruh pasien rehabilitasi narkoba, sejak hari pertama berada di dalam yayasan rehabilitasi narkoba, langsung di kurung dan di ikat kakinya dengan memakai rantai besi.
“Kami dikeluarkan pagi hari aja, untuk melakukan ibadah pagi dan makan pagi, sesudah itu kami seharian dalam kurungan,” jelas Helmi.
Sementara untuk keperluan buang air besar dan air kecil, pengurus yayasan , memberikan stoples ukuran sedang, guna menampung kotoran pasien.
 “ Kalau mau buang air besar atau air kecil, kami tampung di stoples ini pak “ kata Wesli, salah seorang pasien rehabilitasi kepada SumutOnline.
 Tidak semua orang tua pasien narkoba di yayasan Kasih Anugrah ini mengetahui metode penyembuhan yang dilakukan pihak yayasan, seperti merantai kaki dan mengurungnya di dalam ruangan tak layak huni tanpa ada kamar kecil.
  “Orang tua ngak tahu kami diperlakukan seperti ini pak “ kata Wesli , memaparkan kesulitan selama berbulan – bulan menjalani rehabilitasi narkoba . Bahkan menurut mereka, mereka acap kali mengalami penyiksaan , yang dilakukan para pengaman yayasan, terutama ketika meminta untuk dibukakan rantai besi di kaki mereka.
  Pihak kepolisian polres Binjai , dipimpin kasat Reskrim Polres Binjai AKP. Hanry Tambunan, menegaskan pengrebekan ke yayasan rehabilitasi narkoba, setelah mendapat laporan dari seorang pasien yang berhasil melarikan diri dan melapor ke polisi.
  “Kami tegaskan , bahwa kami kemari untuk menindak lanjuti laporan dari seorang pasien rehabilitasi tentang adanya penganiayaan selama menjalani rehabilitasi “ tegas AKP Hannry Tambunan kepada SumutOnline di lokasi rehabilitasi narkoba.
 Pihak kepolisian bersama kantor sosial meminta surat – surat izin pihak yayasan untuk melakukan rehabilitasi narkoba, namun tidak dapat di berikan pengurus yayasan dengan alasan, ketua yayasan lagi berada di Bogor.
                Polisi menegaskan kepada pihak yayasan, untuk segera mengembalikan pasien yang dirawat  kepada keluarga masing – masing, mengingat sampai saat ini pihak yayasan tidak memiliki izin dan tidak ada tenaga medis yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan pasien.
                “Kita kasih waktu dua hari untuk mengembalikan seluruh pasien kepada pihak keluarga masing – masing “ tegas  AKP Hannry , kasat Reskrim polres Binjai kepada SumutOnline. ( mza )

Ahok: Cara Dinas Sosial Enggak Manusiawi

http://news.detik.com/berita/2612159/blusukan-ke-panti-sosial-ahok-cara-dinas-sosial-enggak-manusiawi

Jakarta - Ahok mengkritisi cara kerja Dinas Sosial DKI Jakarta dalam menangangi gelandangan dan pengemis korban razia. Wagub bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu keberatan kalau para PMKS dikurung dalam waktu lama di panti sosial.

Usai melakukan pemeriksaan mendadak ke ruang penampungan para PMKS Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (18/6/2014), Ahok langsung memberi instruksi kepada para pegawai Dinsos, termasuk Kadinsos Masrokhan yang ada di lokasi itu.

“Kita tidak mau siapapun diperlakukan seperti ini. Menurut saya nggak manusiawi cara dinas sosial. Kita nggak mau kurung orang,” kata Ahok.

“PKL saja enggak boleh dikurung, kenapa anak-anak yang cuma ngemis karena butuh uang dikurung? Ini cara berpikir yang salah, tolong diubah polanya,” tambah Ahok.

Menurut mantan Bupati Belitung Timur ini, para PMKS yang terjerat razia seharusnya langsung diurus untuk dipulangkan ke wilayahnya masing-masing. “Kalau tangkap orang dari mana pun, kalau pagi-pagi langsung harusnya pulang hari itu. Paling lama nginap semalam. Anak-anak juga tidak boleh dikurung, begitu pun ibu-ibu yang bawa anak,” ucapnya.

Ahok sempat berkeliling ke tiga ruangan penampungan, namun dia hanya sebatas berdiri di luar sel kurungan yang bergembok. Para pengemis yang semuanya wanita itu lantas mendekat ke pintu sel dan mengadu soal pelayanan yang mereka terima selama di panti.

Rodiah, 29, warga Bekasi yang sempat ngobrol dengan Ahok mengungkapkan beberapa masalah seperti sulit mendapat minum dan belum diberikan makan siang pada saat itu sekitar pukul 12.30 WIB. Begitu juga soal urusan kamar mandi jadi sorotan Ahok, karena memang dari dalam sel itu menyeruak aroma yang sangat tidak sedap.

“WC nya penuh bagaimana,” kata Rodiah ketika ditanya Ahok apakah betah atau tidak. Mendengar jawaban itu, suara Ahok langsung meninggi.

“Siapa disini penanggungjawabnya?” tanya Ahok.

“Saya pak. Mereka di sini memang harus antri ke kamar mandi,” kata Purnowo yang berdiri di samping Ahok.

“Kasih ke tempat (WC) lain dong, ini mesti diatur. Mesti ada petugasnya yang duduk di depan, atau dipasang CCTV, kalau enggak kasihan nanti mereka sudah teriak-teriak tapi tidak ada yang dengar,” ucap Ahok tegas.

Soal aroma yang tidak sedap itu, Ahok meminta petugas dinas sosial memberikan sabun dan shampoo. “Gak ada mandiin ya? Bau. Kasih sampo. Mother Theresa saja mandiin pengemis. Minimal mereka mati terhormat,” ungkapnya.

Panti Sosial Tak Manusiawi
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=5&n=75&date=2016-06-07

MEDAN - Panti sosial dan rehabilitasi milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) di Berastagi, Kabupaten Karo, disebut tidak manusiawi.

Pasalnya, penghuni yang sedang ditampung di sana tidak mendapatkan fasilitas layak. Hal ini terungkap saat Komisi E DPRD Sumut saat kunjungan kerja (kunker) ke Panti Rehabilitasi Parawansa, Berastagi, baru-baru ini. Para wakil rakyat itu menemukan sejumlah persoalan ketika berkomunikasi dengan para penghuni panti rehabilitasi, mulai dari sarana prasarana, fasilitas, dan lainnya.

“Kondisi para penghuni panti sangat memprihatinkan. Mereka hanya diberikan jatah satu sabun mandi, satu batang sabun cuci, dan tiga bungkus sampo untuk satu bulan,” kata Ketua Komisi E DPRD Sumut, Syamsul Qodri Marpaung, di Medan, Senin (6/6).

Penghuni Panti Rehabilitasi Parawansa juga mengeluhkan makanan. Mereka dijatah layaknya tahanan karena pengelola panti, yakni Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Sosial (Dinsos) Sumut, mengaku kekurangan anggaran.

“Penghuni panti hanya mendapat Rp21.000 untuk biaya makan. Makanya mereka makan dengan lauk ala kadarnya seperti ikan asin,” ujar politikus PKS itu. Tak hanya itu, penghuni panti merasa diperlakukan layaknya narapidana.

Mereka tidak dibenarkan keluar ruangan atau kamar tidur. Situasi itu dinilai tidak ideal karena mereka tidak berada di penjara. “Mereka merasa terkekang. Ini bisa memunculkan masalah baru. Harusnya dipekerjakan petugas keamanan untuk berjaga- jaga,” tuturnya.

Syamsul menilai, UPT Dinsos Sumut sebagai pengelola panti tidak kreatif menjalankan tugas pokoknya dalam membina dan merehabilitasi para perempuan yang menjadi korban trafficking atau pekerja seks komersial di sana. Mereka menjadikan anggaran sebagai alasan.

Padahal, banyak potensi dana corporate sosial responsibility (CSR) yang bisa diperoleh untuk membantu mengelola panti. Berdasarkan hasil kunjungan tersebut, Komisi E meminta kepala UPT Dinas Sosial Sumut melaporkan kebutuhan atau biaya operasional, apakah sudah sesuai jumlah penghuni panti.

Komisi E akan memperjuangkan penambahan anggaran di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2016 dari dana APBD 2016 saat ini yang berjumlah Rp1,3 miliar. Saat kunjungan kerja ke Panti Rehabilitasi Parawansa, Berastagi tersebut, Komisi E DPRD Sumut diterima langsung Kepala UPT Dinsos Sumut, Ngiso.

Ketika ditanyai anggota Komisi E, Ngiso justru lebih banyak tidak menjawab dan mengaku jarang di tempat. “Wajar saja perlakuan mereka pada penghuni panti tidak manusiawi,” katanya.

Dari kunjungan itu, Wakil Ketua Komisi E DPRD Sumut, Zahir, menjelaskan didapatkan data kapasitas maksimal Panti Rehabilitasi Parawansa sebanyak 60 orang. Sementara anggaran yang disediakan pada APBD 2016 dialokasikan hanya untuk 27 orang. “Saya pikir ada yang salah dalam perencanaan anggaran ini,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut ditambah lagi dengan kinerja UPT Dinsos Sumut yang tidak profesional, menambah penderitaan penghuni yang seharusnya mendapatkan pembinaan selama di panti. Mereka seharusnya dibina dan diberdayakan, bukan dikurung.

“Kami akan merekomendasikan ke gubernur Sumut untuk mengevaluasi UPT Dinsos. Sebab, saat ini belum ada pejabat resmi definitif sebagai kepala Dinsos Sumut,” tandasnya.

fakhrur rozi

Mendagri Ingatkan Satpol PP Jangan Overacting

http://nasional.sindonews.com/read/1115998/15/mendagri-ingatkan-satpol-pp-jangan-overacting-1465713135

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengingatkan agar seluruh jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tidak overacting (berlebihan) atau sok berkuasa dalam melaksanakan Peraturan Daerah (Perda) selama bulan Ramadhan.

Para Satpol PP diminta bersikap simpatik mengedepankan penyuluhan dalam melaksanakan keputusan atau instruksi kepala daerah atau melaksanakan mengamankan Perda.

Sebab menurut dia Tjahjo, sikap overacting Satpol PP bisa membuat masyarakat tidak simpatik kepada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

"Terkait warung makan yang buka di hari puasa, diingatkan saja agar tidak terbuka menyolok atau ditutup tirai, apapun menjaga toleransi masyarakat yang beragam," kata Tjahjo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/6/2016).

Adapun mengenai seorang ibu pemilik warung makan di Kota Serang, Banten yang menangis saat dagangannya disita aparat Satpol PP Pemerintah Kota Serang, Jumat 19 Juni 2016, Tjahjo meminta aparat Satpol PP setempat introspeksi diri.

Terlebih, tindakan Satpol PP Kota Serang itu mendapat kritikan dari para netizen. "Saya pribadi sebagai Mendagri memberikan dana sebagai modal kerja kepada penjual makanan yang makanannya disita Satpol PP," ucapnya.

Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mengakui, memang Satpol PP bertugas melaksanakan Perda atau perintah kepala daerah.

"Saya sebagai pembina Satpol PP mengatakan, tugas Satpol PP harus simpatik, mengutamakan penyuluhan, jangan overacting, sok kuasa, apapun masyarakat di daerah harus ditertibkan tapi harus manusiawi," pungkasnya.

AROGAN ! Razia Satpol PP Serang Banten di Warung Makan Saat Puasa Bikin Penjual Menangis Histeris



VIDEO:

APAKAH MEREKA INI MALING? APAKAH MALING BOLEH DIPERLAKUKAN MACAM BEGINI?






Hanya di Indonesia, Sophia Latjuba Bisa Bedakan si Kaya dan Miskin

VIDEO:




Begini Kehidupan Ayah Marshanda Sebelum Masuk Panti Sosial

http://riautrust.com/read-131516--begini-kehidupan-ayah-marshanda-sebelum-masuk-panti-sosial.html


Sebelum terjaring petugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Jakarta Selatan, ayah Marshanda, Irwan Yusuf hidup berpindah-pindah tempat. Ia sempat tinggal sendiri di sebuah rumah kos di bilangan Pondok Jaya, Jakarta Selatan. 

Menurut Ibu Nanik, pemilik rumah kos, Irwan tidak lama menyewa kamar di rumahnya.
"Kalau enggak salah tahun 2010. Cuma sebentar, habis itu dia ke Bangka," kata Nanik saat ditemui di kediamannya, Mampang, Jakarta Selatan, Senin 28 Maret 2018. 

Diceritakan Nanik, saat menyewa kos di rumahnya, kondisi ayah Marshanda tidak seperti sekarang ini. Ia pun merasa terkejut melihat kondisi Irwan yang dibawa ke panti sosial dalam keadaan lusuh, dekil dan tak terurus. 

Ia menyatakan saat pindah Irwan juga tak mengungkapkan alasan apapun. "Enggak tahu pindahnya kenapa, dia enggak ngomong apa-apa juga. Enggak ninggalin barang sama sekali. Yang ada sprei milik dia saya buang, ah ngapain, bau. Enggak dicuci," tutur Nanik.

Ditambahkan Nanik, gaya hidup Irwan jauh dari kesan mewah. Ia hanya membawa motor butut.

Tidak ada komentar: