Minggu, 12 Juni 2016

Kemana Perginya Sisi Manusiawi Kita?

Belajar dari Kucing
Hari itu kucingku pulang berdarah-darah. Baru kapan hari daun telinganya luka sekarang ketika sudah membaik ganti tengkuknya yang mengalami luka parah, kaki depan bagian kanannya pun pincang. Bukan pertama kalinya Tera, kucingku pulang dalam keadaan yang mengenaskan. Setiap kali seperti itu dia akan lemas dan tertidur berjam-jam untuk memulihkan diri serta cenderung berpuasa atau mengurangi porsi makannya. Begitu yang terjadi selama berhari-hari sampai luka-lukanya sembuh. Setelah membaik dia kembali ke alam bebas dan kemudian mendapatkan luka-luka baru. Siklus itu terus berulang. Mungkin begitulah dunia hewan, yang kuatlah yang berkuasa, seperti hukum rimba.
Dari sana saya beralih kepada kehidupan manusia. Mengapa banyak juga manusia yang seperti itu? Suka ‘memakan’ manusia lain. Asalkan keinginan/tujuannya tercapai mereka tak segan untuk memanfaatkan/mengorbankan manusia lain demi kepentingannya. Sering juga didapati manusia yang satu acuh terhadap manusia yang lain. Padahal secara teori mungkin banyak orang yang sudah tahu bahwa kita ini adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Kalau di agama saya (Islam) malah ada suatu hadits yang mengajarkan bahwa manusia yang terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya.

Dimulai dari yang Lingkungan Terdekat
Ketika muncul berita musibah di Yaman, Paris, Palestina, Myanmar atau negara luar lainnya, beberapa orang bersimpati. Beberapa orang yang lain mengatakan, “Mengapa tidak mendahulukan rakyat/negara Indonesia sendiri?” Sedang saya mengatakan, “Mengapa mendahulukan yang jauh?” Tentu saja maksud saya di sini adalah tanpa mengabaikan untuk menolong mereka juga.
Saya melihat seringkali orang itu suka mencari-cari yang jauh dulu, yang terlihat wah, dan semacamnya. Padahal di sekitar kita masih banyak hal yang perlu dibenahi, termasuk diri kita sendiri. Misalnya begini, kita memilih membantu panti asuhan yang jauh dari tempat kita, padahal orang di sekitar kita ada yang juga membutuhkan uang. Setidaknya ada beberapa kelompok yang terdekat dengan kita: diawali dari diri kita sendiri lalu lingkungan sekitar seperti keluarga, tetangga, saudara, serta sahabat dan teman. Ini adalah lingkungan terdekat kita. Mereka-lah yang paling mungkin untuk membantu kita terlebih dahulu di saat kita dalam kesulitan. Akan tetapi, mengapa sering juga kita lebih mengutamakan yang jauh?
Yang namanya hidup tentu ada pasang dan surutnya. Pada saat-saat tertentu kondisi kita akan ada di bawah. Alasan lainnya adalah bahwa kita sebagai manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan, baik waktu, tenaga, uang, ilmu, dan sebagainya. Sekarang mari kita perhatikan kondisi di sekitar, hubungan antar manusia menjadi semakin jauh. Kalau sedang tidak berkepentingan atau tidak sedang membutuhkan maka orang cenderung terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Contohnya begini, ada orang yang hanya akrab saat masih satu kantor, satu organisasi, satu sekolah, dan sebagainya. Jika orang tersebut pindah kerja, pensiun atau semacamnya maka hubungan itu bisa merenggang atau bahkan putus sama sekali. Lebih dari itu, orang yang masih “berkaitan” (sekantor, sekelas, seorganisasi, seperumahan, dan sebagainya) itu jarang yang berhubungan satu sama lain dengan alasan yang manusiawi dari dirinya sendiri. Kebanyakan mereka (maaf) serupa robot, (datang)-(bertemu)-(menjalankan rutinitas-rutinitas)-(selesai). Sepertinya sangat jarang yang berhubungan secara “closeness”/mendalam. Sesuatu yang saya katakan dari hati nurani dan bukan sekadar kewajiban, sungkan (segan), terpaksa, dan sebagainya. Datanglah karena kamu menyayanginya. Datanglah karena kamu peduli padanya. Bantu dan jenguk dia karena ada sisi manusiawimu yang tersentuh. Tidak ada motif yang lain. Bukan karena sedang butuh dia, bukan karena sungkan, terpaksa, atau lainnya.

Kemajuan Teknologi dan Kemunduran Sisi Humanis Manusia
Mula-mula adalah tentang televisi. Ketika pertama kali muncul TV hanya ada TV hitam putih dan hanya satu stasiun TV. Mau tak mau jika ingin menonton TV maka yang tersedia hanya itu, sehingga penonton tidak bertikai. Sekarang stasiun TV banyak, penonton maunya beda-beda. Ada yang ingin menonton stasiun A, ada juga yang B. Jadi cenderung timbul pertikaian. Selain itu, jika sudah menonton TV orang jadi sayang meninggalkan acara kesayangannya. Akhirnya mereka malas untuk berhubungan dengan sesama manusia (mengurangi frekuensi interaksi dengan manusia lain) hingga akhirnya sisi manusiawinya berkurang. Kepekaan dan kepedulian terhadap orang di sekitarnya menjadi menurun. Jangankan diajak berkegiatan lain, diajak bicara saja bisa malas karena tertinggal adegan/pembicaraan dalam acara kesayangannya di TV. Mereka bersama kita tetapi fokusnya pada acara TV.
Kemudian ada teknologi lain juga berupa telepon, HP, tablet, internet, dan sebagainya. Sekarang ini lucu, dengan tetangga sebelah/depan rumah saja harus pakai telepon/HP. Hari raya Idul Fitri pun yang sebelumnya diisi dengan silaturahim dari rumah ke rumah akhirnya hanya tergantikan oleh ucapan melalui SMS, FB, atau telepon. Kehadiran seseorang hanya digantikan oleh tulisan, gambar, atau suara. Ini tentu tidak benar. Tidak akan pernah sama antara benar-benar hadir di hadapan dan hadir melalui alat-alat teknologi canggih.
Coba perhatikan orang-orang di sekitar Anda. Pada berbagai kesempatan kita akan menemui orang-orang yang terlalu sibuk dengan gadgetnya. Badan mereka bersama kita namun pandangan dan perhatiannya pada gadgetnya. Apakah ini masih dibilang manusiawi? Ketika orang sudah semakin dekat dengan benda maka hubungan dengan manusia lain (kepekaan, kemanusiaan, dan kepedulian) semakin jauh. Murid-murid semakin berkurang rasa hormatnya terhadap guru, wali murid berkurang rasa hormatnya terhadap guru, anak-anak berkurang rasa hormatnya kepada orang tua, antara orang yang satu dengan orang yang lain berkurang kepedulian dan kerja samanya, dan sebagainya. Mungkin mereka berpikir bahwa kemanusiaan atau menolong adalah hanya tentang Palestina, panti asuhan, wakaf, memberi sedekah pengemis, menghujat koruptor melalui medsos, dan semacamnya. Akan tetapi secara riil di kehidupan sehari-hari mereka tidak menerapkannya. Anak/istri/suaminya tidak dibantu, tetangganya butuh tumpangan dicueki, sahabatnya ada perlu mereka sibuk sendiri, ada teman butuh tempat curhat kita tidak mau mendengarkannya, dan hal-hal serupa itu. Saya melihatnya sebagai suatu bentuk ketimpangan, dalam arti kemanusiaan yang membeda-bedakan. Bolehlah kita membantu yang jauh tetapi jangan lupakan yang dekat.

Dosa dan Lunturnya Rasa Malu
Berbicara mengenai TV dan teknologi kita mungkin sudah tidak asing dengan wajah-wajah koruptor yang tersenyum di TV. Mereka tidak merasa bersalah walaupun jelas-jelas terbukti melakukan korupsi. Korupsi itu tidak hanya tentang uang, tetapi bahkan bisa juga tentang nyawa. Ketika suatu pembangunan dikorupsi lalu menimbulkan kualitas yang rendah atau masa pakai yang singkat maka bisa terjadi kecelakaan akibat bangunan tersebut. Apakah ini manusiawi? Tidak, bukan? Sayangnya, korupsi sekarang sudah marak bahkan dilakukan berjamaah.
Contoh lain adalah suap-menyuap, mencuri, memperkosa, mencurangi, membunuh, menyerobot antrian, mengingkari janji, dan sebagainya. Pendek kata, semua perbuatan mengambil hak-hak orang lain, tidak adil terhadap orang lain, atau menyusahkan orang lain adalah bentuk pelanggaran kemanusiaan (perbuatan yang tidak manusiawi). Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk perbuatan dosa dan kita sepatutnya malu jika melakukannya. Namun saat ini banyak orang yang sudah menganggap biasa. Banyak yang sudah melakukannya sehingga jika membahasnya mungkin malah dianggap lebay (berlebihan), kuno, sok alim, dan semacamnya. Ini fakta lho, saya sendiri mengalaminya. Orang menyogok itu sudah tidak malu, malah pamer, dan terkadang malah mengajak untuk mengikuti jejaknya. Miris, kan?

Humanisme dalam Hubungan Pria dan Wanita
Nah sekarang kita beralih kepada salah satu lingkungan terpenting pembentuk humanisme ini, yaitu dimulai dari hubungan antara pria dan wanita (yang akhirnya membentuk keluarga). Banyak dari kita mungkin sudah pernah mendengar pertanyaan klise sebegai berikut: “Kapan menikah?”, “Kapan punya anak?”, “Kapan anaknya punya adik lagi?”, dan yang serupa itu. Menurut saya pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sesuatu yang tidak manusiawi. Kita hendaknya bisa berempati terhadap keadaan orang lain sehingga kita tidak mengucapkan, menanyakan, atau meminta sesuatu yang berpotensi untuk menyulitkan orang tersebut. Contoh yang lebih ekstrim adalah jika Anda menanyakan “Kapan sembuh?” atau “Kapan mati?” kepada orang yang sudah sakit parah atau orang yang sudah sakit lama. Atau menanyakan “Kapan mati?” kepada orang yang sudah tua. Tentunya tidak sopan bukan? Maka pilihlah perkataan/pertanyaan/perbuatan yang sekiranya bisa membahagiakan orang lain atau setidaknya bersifat netral (tidak menyulitkan orang tersebut).
Kembali kepada bahasan hubungan antara pria dan wanita di sini saya menyoroti tentang hubungan terdekat antara pria dan wanita, yaitu dalam rumah tangga (pernikahan). Ketika membicarakan tentang rumah tangga/pernikahan apa yang terbersit di pikiran orang-orang pada umumnya? Biasanya mereka berpikir bahwa si pria akan mencari nafkah dan si wanita akan mengurus dapur/rumah tangga dan anak. Jadi mungkin banyak orang yang terjebak bahwa pernikahannya itu hanya seperti sekadar tinggal di rumah bersama (berdua) dan melakukan kewajiban-kewajiban di atas tadi. Suami pulang kerja sudah capek, istri juga sudah capek mengurus rumah dan anak, akhirnya mereka sama-sama kecapekan dan tidak terjalin komunikasi dan interaksi yang dalam. Tidak ada yang namanya berbicara dari hati ke hati dengan nyaman, pacaran terus setiap hari, bermesra-mesraan, atau menikmati hari-hari indah mereka bersama. Mereka sudah terjebak dengan rutinitasnya. Suami bekerja sendiri, istri bekerja sendiri, dan anak-anak sibuk dengan urusan sekolahnya. Semua tentang rutinitas dan kewajiban sehingga tampak membosankan dan melelahkan. Padahal, di dalam kewajiban pun juga bisa dinikmati/terkandung kebahagiaan. Maksud saya begini, di dalam agama saya (Islam) sebelum menikah pria dan wanita sama-sama menjaga diri. Mereka baru halal setelah menikah. Pernikahan itu membuat istri umumnya mengikuti suami sehingga seringkali kehilangan pekerjaan, jauh dari keluarga (orang tua), jauh dari sahabat, jauh dari teman kerja, mendapat tetangga baru, dan sebagainya. Di sini istri sendiri dan kesepian, dia sangat membutuhkan suaminya. Lagipula suaminya adalah satu-satunya pria yang halal baginya. Jadi ketika dia memelihara diri untuk tidak pacaran sebelum menikah dia berharap akan adanya hal-hal yang indah itu (romantisme) setelah menikah/halal (yaitu dari suaminya). Ketika ternyata faktanya dia hanya dibebani dengan rutinitas dan kewajiban tanpa hal-hal “indah” tadi tentu tujuan pernikahan menjadi tidak tercapai. Si istri kecewa dan pernikahannya menjadi tidak indah, bahkan bisa juga pernikahan tersebut tidak bisa membuat diri si istri terjaga. Ini adalah salah satu contoh sisi manusiawi tentang hubungan dengan istri.
Sebaliknya, pria tercipta berbeda dari wanita. Mereka lebih mudah tersulut nafsu seksnya, sehingga pernikahan diharapkan bisa menyalurkan hasrat pria terhadap istrinya saja. Istri wajib menuruti “ajakan” suaminya karena memang hanya istri yang halal bagi suami. Di samping itu, meski banyak orang menganggap pria makhluk logis dan tidak terlalu menggunakan perasaan tetapi mereka manusia juga. Mereka juga membutuhkan kasih sayang seperti wanita. Oleh karena itu, mengapa suami istri itu banyak yang tidak menikmati kehidupan rumah tangganya dan hanya mengisinya dengan rutinitas/menganggap sebagai kewajiban saja? Mereka cenderung mengaburkan/menghilangkan sisi-sisi indahnya.
Yang terakhir adalah anak. Betapa banyak anak yang berkurang sisi humanisnya karena orang tuanya tidak dekat satu sama lain (tidak closeness) atau tidak dekat dengan dirinya. Anak-anak dari keluarga broken home cenderung menjadi anak yang kurang baik, nakal, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk.
Semua contoh di atas adalah penerapan dari kemanusiaan yang terdekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Sebelum kita berbicara tentang panti asuhan, anak jalanan, Palestina, dan sebagainya kita tengok dulu sekitar kita dan bantu yang terdekat. Kalau terhadap yang dekat saja sisi humanisnya sudah berkurang, maka sulit diharapkan untuk membantu yang jauh.
Hubungan yang terpenting setelah hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah hubungan antara manusia dengan sesamanya (manusia lain). Oleh karena itu, jangan biarkan sisi manusiawi kita pergi, berkurang, atau hilang. Hubungan antar manusia adalah sesuatu yang membuat hidup kita di dunia ini indah dan bermakna, maka jagalah itu selamanya.

Tidak ada komentar: