Sabtu, 25 Juni 2016

Kemenag akhirnya mengakui kesalahan terjemah Al Qur’an

https://www.arrahmah.com/read/2011/05/04/12252-kemenag-akhirnya-mengakui-kesalahan-terjemah-al-quran.html

Kemenag lakukan revisi terjemah Al Quran




JAKARTA (Arrahmah.com) – Setelah diskusi dan debat panjang, Kemenag (Kementrian Agama) akhirnya mengakui kesalahan terjemah Al Qur’an versi Departemen Agama. Hal ini terungkap setelah Majelis Mujahidin (MM) menggelar pertemuan dengan Kemenag di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jum’at (29/04/2011) lalu. Kemenag akhirnya berencan mengeluarkan terjemah Al Qur’an edisi revisi. Terjemah Al Qur’an keliru bisa halalkan kumpul kebo Akibat kesalahan fatal pada terjemahan Al Qur’an versi Departemen Agama (Depag, kini Kementerian Agama/Kemenag) bisa memicu orang menjadi teroris. Bahkan, terjemahan yang tidak pas itu dikhawatirkan juga bisa membuat orang menghalalkan pelacuran. Kemenag pun akhirnya mengakui kesalahan terjemah Al Qur’an versi Depag dan berencana akan mengeluarkan Al Qur’an terjemah edisi revisi. Kesimpulan di atas terangkum setelah Majelis Mujahidin (MM) mengadakan Dialog Keagamaan tentang Terjemah Al Qur’an dengan Kemenag di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jum’at (29/04/2011) lalu. MM sebagai lembaga yang selama ini mengupayakan penegakan hukum Islam di Indonesia, adalah pihak yang telah menemukan ribuan kekeliruan penterjemahan Al Qur’an versi Depag tersebut. Pada pertemuan itu, pihak MM antara lain diwakili Amir MM Muhammad Thalib, Ketua Lajnah Tanfidziyah (LT) Irfan S. Awwas, Wakil Ahlul Halli wal ‘Aqdi (Ahwa MM) Abu Muhammad Jibril Abdurrahman, Sekjen MM Shabbarin Syakur dan Amir MM Jabodetabek, Laode Agus Salim. Sementara pihak Kemenag diwakili sekitar 20 orang. Di antaranya, Prof. DR. Ali Mustafa Ya’qub, Prof. DR. Ahsin Sakho (Rektor Institut Ilmu al-Qur’an), dan DR. Muchlis Hanafi. Seharusnya terjemah tafsiriyah bukan harfiyah Acara dialog antara MM dan Kemenag dimulai pukul 9 pagi yang diawali dengan ramah tamah. Pada kesempatan pertama, Amir MM Ustadz Muhammad Thalib menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an mana saja yang telah diteliti kekeliruannya oleh MM. Kesempatan berikutnya, Ketua Lajnah Tanfidziyah, Ustadz Irfan S Awwas menjelaskan bahwa terjemah versi Depag yang kini beredar di Indonesia sekarang, adalah terjemah harfiyah. Mestinya, yang lebih aman terjemah yang diterapkan adalah terjemah tafsiriyah. Yakni, tak sekadar menerjemahkan, tapi juga dengan menjelaskan ayat-ayat yang diterjemahkan tersebut dari sisi-sisi yang penting. Terutama pada ayat-ayat yang berpotensi menimbulan salah pengertian bagi si pembacanya. Apalagi bila si pembaca sama sekali tidak mengerti bahasa Arab, tapi punya semangat Islam yang tinggi. “Misalnya pada terjemah surah at-Taubah, ayat 5. “Maka apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kalian jumpai mereka.” Kalau orang hanya membaca ayat ini, kan bisa membunuh semua orang musyrik dimanapun,” contohnya. Kesalahpahaman lainnya, jelas Irfan, juga bisa dilihat pada terjemah surah al-Ahzaab ayat 51. “…Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu…”. “Ayat ini, kan memunculkan anggapan, kumpul kebo antara mantan suami dan istri tidak berdosa. Padahal ini jelas perzinaan,” tegasnya. Kemenag akhirnya mengakui adanya kesalahan Kemenag melalui jubirnya yang diwakili oleh DR. H. Muchlis Hanafi beserta staf dan jajarannya di awal diskusi belum bisa mengakui adanya kesalahan pada terjemah Al Qur’an versi Depag tersebut, walau pun satu ayat. Diskusi sempat hangat dan tegang selama 4 jam dengan saling mengadu argumentasi. Kesempatan berikutnya untuk bicara adalah Ustadz Abu Jibriel selaku wakil Ahwa MM. Setelah mengucapkan terima kasih atas undangan Kemenag kepada MM, Ustadz Abu Jibriel memberikan beberapa masukan, diantaranya :
  1. Pihak Kemenag sensitive di dalam menanggapi masalah kesalahan terjemah Al Qur’an Depag dan mau untuk merevisinya jika memang terbukti terdapat kesalahan
  2. Pihak Kemenag jujur di dalam menanggapi masukan dari MM, antara lain tidak ada fihak-fihak yang merasa dan menganggap hanya terjemahannya yang paling benar. Selain itu harus ada kejujuran mengakui jika MM itu benar maka harus dikatakan benar dan begitu pula sebaliknya.
Setelah itu, Ustadz Abu Jibriel memberikan beberapa opsi terkait perdebatan yang menghangat dalam dialog, yakni : menarik seluruh terjemah Al Qur’an versi Depag yang salah dari peredaran, atau diadakan debat publik yang lebih luas untuk menguji mana terjemahan yang lebih benar, MM akan membawa masalah ini ke pengadilan atas kesahalan terjemahan Al Qur’an versi Depag. Namun, apabila Depag bersedia merevisi, maka kedua opsi sebelumnya tidak dibutuhkan lagi. Saran dari Ustadz Abu Jibriel ini akhirnya bisa diterima, dimana fihak Kemenagpun akhirnya mengakui bahwa memang telah terjadi kesalahan pada terjemahan Al Qur’an versi Depag, terutama sekali yang terdapat pada terjemah surah al-Ahzaab ayat 51. “…Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu…”. Kalau terjemahan ayat ini di’telan’ lalu dilaksanakan begitu saja, maka akan memunculkan anggapan, kumpul kebo antara mantan suami dan istri tidak berdosa. Padahal ini jelas perzinaan. Di akhir dialog, fihak Kemenag akan menjadikan masukan MM sebagai bahan pertimbangan revisi terjamah Al Qur’an versi Depag. Wallahu’alam bis showab! (M Fachry/arrahmah.com)





Ditemukan 3.229 Kesalahan Tarjamah Al-Quran Versi Kemenag RI

http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2011/11/01/16541/ditemukan-3229-kesalahan-tarjamah-alquran-versi-kemenag-ri/;#sthash.17DeJQiJ.dpbs



Jakarta (voa-islam) – Buku berjudul Koreksi Kesalahan Terjemah Harfiyah Al-Qur’an Kemenag RI” yang ditulis oleh Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Muhammad Thalib, memuat sebagian kecil dari 3.229 jumlah kesalahan terjemah yang terdapat dalam Tarjamah Harfiyah Al-Quran versi Depag. Sementara kesalahan pada edisi revisi tahun 2010 bertambah menjadi 3.400 ayat.
Seperti diketahui, penelaahan selama bertahun-tahun terhadap Al-Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitan Departemen Agama RI sejak 1965, kemudin mengalami revisi secara bertahap mulai 1989, 1998, 2002, hingga 2010, telah menyentak kesadaran iman kita, betapa selama ini ajaran kitab suci Al-Qur’an ternodai akibat adanya salah terjemah yang jumlahnya sangat banyak.
“Maka, kami tidak hanya sebatas koreksi, tapi juga menerbitkan Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’an lengkap 30 juz, sebagai tanggungjawab meluruskan terjemah harfiyah yang salah dari Al-Qur’an dan Terjemahnya versi Kemenag RI. Adapun Buku Koreksi Kesalahan Terjemah Harfiyah Al-Qur’an Kemenag RI ini hanya memuat 170 ayat saja. Karena sangat prinsip yang harus segera diketahui kaum muslim. Sebab tidak mungkin membukukan kesalahan terjemah 3.229 ayat sekaligus dalam waktu dekat ini,” kata Ustadz Thalib.
Dijelaskan Amir Majelis Mujahidin, ayat salah terjemah itu berkaitan dengan masalah akidah, syariah, dan mu’amalah. Khususnya menyangkut problem terorisme, liberalism, dekadensi moral, aliran sesat dan hubungan antar umat beragama.
Dalam Simposium Nasional bertema: “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme” di Jakarta, Rabu 28 Juli 2010, Dirjen Bimas Islam Kemenag dan sekarang menjadi Wamenag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan gamblang menyatakan: sejumlah ayat berpotensi untuk mengajak orang beraliran Islam keras, karena itu dalam terjemahan Al-Qur’an versi baru pemerintah menyusun kata yang lebih moderat, namun memiliki makna yang sama.
Selain meluncurkan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an versi baru, Kemenag juga melakukan upaya deradikalisasi lain, yaitu pembinaan pengurus masjid oleh 95 ribu penyuluh agama hingga ke pedesaan.
Ayat Salah Terjemah
Diantara ayat Al-Qur’an yang dituding berpotensi radikal adalah: QS. Al-Baqarah (2):191. Terjemah Harfiyah Depag: “dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah)…”
Kalimat ‘bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka’, seolah oleh ayat ini membenarkan untuk membunuh musuh di luar zona perang. Hal ini, tentu sangat berbahaya bagi ketentraman dan keselamatan kehidupan masyarakat. Karena pembunuhan terhadap musuh diluar zona perang sudah pasti menciptakan anarkisme dan teror, suatu keadaan yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam.
Maka Tarjamah Tafsiriyahnya adalah: “Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian di manapun kalian temui mereka di medan peran dan dalam masa perang…”
Ayat Al-Qur’an lain yang dituding berpotensi radikal adalah: QS. Al-Ahzab (33): 61. Adapun Tarjamah Harfiah Depag/Kemenag: “Dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.”
Dijelaskan, kalimat dibunuh dengan sehebat-hebatnya dalam tarjamah Depag versi lama, dan dibunuh tanpa ampun dalam tarjemah Kemenag versi baru, keduanya merupakan tarjamah harfiah dari kata quttilu taqtiila, artinya bukan dibunuh, tetapi dibunuh sebagian besar. Kemudia kata sehebat-hebatnya, atau ‘tanpa ampun’ sebagai tarjemah kata taqtiilaa tidak benar. Karena kata taqtiilaa hanya berfungsi sebagai penegasan, bukan berfungsi menyatakan sifat atau cara membunuh yang tersebut pada ayat ini.
Dijelaskan, Tarjamah Depag maupun Kemenag diatas berpotensi membenarkan tindakan kejam terhadap non-muslim. Padahal Islam secara mutlak melawan tindakan kejam terhadap musuh. Islam sebaliknya memerintahkan kepada kaum muslim berlaku kasih sayang dan adil kepada seluruh uma manusia, sebagai wujud dari misi rahmatan lil-‘alamin.
Tarjamah Tafsiriyah: “Orang-orang yang menciptakan keresahan di Madinah itu akan dilaknat. Wahai kaum mukmin, jika mereka tetap menciptakan keresahan di Madinah, tawanlah mereka dan sebagian besar dari mereka benar-benar boleh dibunuh dimana pun mereka berada”.
Dengan dua contoh terjemah ini, membuktikan bahwa tindakan radikal maupun teror yang banyak terjadi akhir-akhir ini, mendapat dukungan dan pembenaran, bukan dari ayat Al-Qur’an, melainkan terjemah harfiyah terhadap ayat di atas, dan hal itu bertentangan dengan jiwa Al-Qur’an yang tidak menghendaki tindakan anarkis. Dan para pelakunya telah menjadi korbanterjemah yang salah ini.
Ketika Rasulullah Saw dan kaum Muslimin di Madinah, beliau hidup berdampingan dengan kaum Yahudi, Nasrani, Musyrik dan kaum yang tidak beragama, sepanjang mereka tidak menganggu Islam. Apa yang akan terjadi sekiranya Rasulullah memerintahkan pengamalan ayat tersebut sebagaimana terjemahan Al-Qur’an dan Terjemahnya itu.
Kontroversi terjemah Al-Qur’an versi Kemenag RI, terutama disebabkan oleh kesalahan memilh metode terjemah. Metode terjemah Al-Qur’an yang dikenal selama ini ada dua macam, yaitu terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriyah, dan Depag memilih metode harfiyah/tekstual. (Desastian)



Pemerintah akan Revisi Terjemahan Alquran

http://www.republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/15/08/22/ntha431-pemerintah-akan-revisi-terjemahan-alquran

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah berencana untuk merevisi terjemahan Alquran. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Kementerian Agama (LPMA Kemenag) Muchlis Hanafi mengatakan, revisi akan dilakukan agar terjemahan Alquran sesuai dengan perkembangan bahasa dan dinamika masyarakat.

Menurut dia, gagasan merevisi terjemahan Alquran ini awalnya dimunculkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Alquran 2015 beberapa hari lalu. Mukernas Ulama Alquran yang digelar pada 18 hingga 21 Agus tus itu dihadiri 100 ahli Alquran dari 21 provinsi.

"Jadi, salah satu rekomendasi dari mukernas ini termasuk yang diminta Menteri Agama agar kita merevisi kembali terjemahan Alquran untuk disesuaikan dengan perkembangan bahasa dan dinamika masyarakat," ujar Muchlis di sela-sela penutupan Mukernas Ulama Al - quran, di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (21/8).

Mukernas Ulama Alquran 2015 melahirkan sembilan rekomendasi, salah satunya rencana merevisi terjemahan Alquran. Menurut Muchlis, revisi terjemahan Alquran ini akan dilakukan menggunakan anggaran tahun 2016. Nantinya, lanjut dia, ada tim tersendiri yang bertugas merevisi terjemahan Alquran tersebut.

Terjemahan Alquran yang ada saat ini, kata dia, terakhir kali direvisi pada 2002. "Berarti sudah mencapai 13 tahun usianya. Bahasakan berkembang dan dinamika masyarakat juga selalu ada," ungkap doktor tafsir lu lusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, itu.

Menurut Muchlis, nantinya tim yang bertugas akan menyesuaikan terjemahan Alquran Indonesia dengan konteks kekinian. Penggunaan bahasanya pun, kata dia, akan dibuat selaras dengan kondisi sekarang.

Selain itu, Mukernas Ulama Alquran juga memberikan mandat untuk memperbaiki dan menyempurnakan buku-buku tafsir Alquran. Setelah dilakukan perbaikan, Kemenag diminta untuk menyosialisasikan karya-karya tafsir itu. Menurut Muchlis, buku-buku tafsir yang ada saat ini memang masih memiliki kekurangan sehingga masih perlu dilakukan perbaikan.

Alquran digital
Selain itu, Kemenag juga akan membuat aplikasi Alquran digital yang bisa diunduh secara gratis oleh semua Muslim Indonesia. Diakui Muchlis, saat ini terlalu banyak aplikasi Alquran digital yang dapat diunduh oleh masyarakat. Jumlahnya ribuan, bahkan sampai jutaan.

Akibat banyaknya aplikasi Alquran digital ini sampai sulit diawasi. Bahkan, dari semua Alquran digital yang ada, kata dia, yang sudah memperoleh izin dari pemerintah itu hanya empat aplikasi. Karenanya, pemerintah bakal membuat sebuah aplikasi Alquran digital yang bernama "Jendela Alquran Indonesia".

Aplikasi itu, kata Muchlis, bisa dinikmati semua umat Islam di Indonesia secara gratis. "Secepat mungkin kita buat Jendela Alquran Indonesia," ujar dia. Nantinya, aplikasi ini bisa diunduh melalui website resmi dan juga ponsel pintar. Jika Alquran digital ini rampung dibuat, Muslim di Indonesia tidak perlu mencari aplikasi- aplikasi yang lain karena Al - quran digital tersebut pasti telah mengantongi sertifikat tashih.

Mukernas Ulama Alquran 2015 mengangkat tema "Implementasi Revolusi Mental dengan Pendekatan Alquran". Ulama tafsir terkemuka Prof Quraish Shihab tampil sebagai pembicara untuk mencurahkan pikirannya tentang revolusi mental dari aspek pendekatan Alquran.

Menurut Quraish, revolusi mental dengan pendekatan Alquran memang sudah men desak. Revolusi mental, kata dia, tentu harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan masyarakat. "Revolusi mental ini tranformasi etos, perubahan mendasar dalam hal mentalitas, cara berpikir, cara merasa, dan cara memercayai, yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," tutur Quraish.

Tujuannya agar masyarakat Indonesia dapat memiliki akhlak, perilaku, dan kebiasaan sehari-hari yang sesuai dengan nilai-nilai Alquran. Nilai-nilai mo ral dan ajaran agama ini bukan sekadar diketahui, tapi juga harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. c12, ed: Heri Ruslan

9 Rekomendasi Mukernas Ulama Alquran

1. Kemenag harus untuk menaruh perhatian yang besar terhadap keberadaan terjemah dan tafsir Alquran.

2. Melakukan pengkajian kembali dan penyusunan naskah akademik terkait berbagai aspek penulisan rasm dalam mushaf Alquran standar Indonesia.

3. Menyempurnakan terjemahan Alquran Indonesia.

4. Mengembangkan master mushaf Alquran standar Indonesia dalam berbagai format, baik cetak maupun aplikasi digital.

5. LPMA harus membuat mekanisme pengawasan aplikasi Alquran digital demi menjaga kemungkinan terjadinya kesalahan.

6. Mendukung penuh upaya pengembangan langgam nusantara untuk digunakan saat membaca Alquran.

7. Mendorong Kemenag menyosialisasikan karya-karya tafsir.

8. LPMA perlu membuat langkah-langkah strategis guna meningkatkan pemahaman yang moderat dan komprehensif terhadap Alquran.

9. LPMA harus memperkuat struktur organisasinya.



Kemenag lakukan revisi terjemah Al Quran

Kemenag lakukan revisi terjemah Al Quran
https://www.arrahmah.com/news/2016/05/12/kemenag-lakukan-revisi-terjemah-al-quran.html



JAKARTA (Arrahmah.com) – Menteri Agama Lukman Hakim saifuddin mendorong agar diakhir tahun 2018 atau awal tahun 2019, revisi terjemah Al-Qur’an sudah kelar, hingga al-Qur’an bisa dicetak dan dipakai masyarakat.
“Harapan saya, pada akhir 2018 atau awal 2019, revisi terjemah al-Qur’an sudah selesai, hingga al-Qur’an bisa dicetak dan dipakai masyarakat,” harap Menag kepada Tim Revisi Terjemah al-Qur’an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an) Badan Litbang Kemenag yang menemuinya di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4, Jakarta, Rabu (11/5/2016), lansir laman Kemenag.go,.id
Menurutnya menterjemahkan al-Qur’an agar sesuai dengan bahasa dan situasi terkini, bukan pekerjaan mudah, butuh ketekunan dalam melihat dan mencermati kata perkata, ayat per ayat bahkan hubungan antara satu ayat dengan ayat lain, baik dalam satu surat maupun dengan surat lainnya.
Lukman menyatakan, banyak ayat dalam al-Qur’an yang mempunyai makna dinamis dan mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi.
Saat ini, setiap tahunnya, rata-rata, al-Qur’an terjemahan dari Kemenag dicetak sekitar 4,5 juta eksemplar. Al-Qur’an mulai diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sejak KH Saifuddin Zuhri menjadi Menteri Agama, tepatnya pada tahun 1965. dan hingga kini, terus mengalami revisi untuk menyesuaikan dengan perkembangan bahasa, materi dan lain sebagainya.
Mewakili Tim Revisi, KH Malik Madany akan berupaya menghadirkan terjemahan al-Qur’an yang efektif dan efisien. Al-Qur’an terjemahan dari Indonesia dipergunakan pula di beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei dan lain sebagainya.
“Dari Juz 1 hingga 2, ada 27 kata/arti yang hendak dibakukan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia” kata KH Malik.
Hadir dalam audiensi tersebut, Kabalitbang dan Diklat, Abdurrahman Mas’ud, Anggota Tim Revisi antara lain KH A Malik Madany, Rosihan Anwar, Ahsin S, Muchlis Hanafi, Avdul Ghofur Maimun, Umi Husnul Khotimah, Zarkasi, Deny Hudaeny, Abdul Aziz Sidqi, Arum Ridiningsih, Imam Arif, Joni Syatri, Musaddad dan lain sebagainya. Hadir pula Staf Khusus Menag Hadi Rahman dan Aly Zawawi.


Tidak ada komentar: