Kamis, 30 Juni 2016

PERUMPAMAAN YESHUA - 19

Matius 25:14-30;



Diceritakan tentang seorang tuan yang hendak bepergian ke luar negeri, mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Ada yang diberi 5 talenta, ada yang diberi 2 talenta dan ada yang diberi 1 talenta. Yang diberi 5 talenta menjalankan uangnya sehingga beroleh laba 5 talenta, demikian pula dengan yang diberi 2 talenta beroleh laba 2 talenta. Tapi yang diberi 1 talenta tidak mau menjalankan uangnya, malah menyembunyikannya karena takut dengan tuan yang dianggapnya kejam yang menuai di tempat di mana tuan itu tidak menabur dan memungut di tempat di mana tuan itu tidak menanam. Baginya tuan itu seperti perampok yang suka sewenang-wenang. Karena itu dia tak mau menjalankan uangnya.

Apa kata tuan itu tentang masing-masing hambanya? Tuan itu memuji hamba yang diberi 5 talenta dan 2 talenta karena telah mengembangkannya, tapi murka terhadap hamba yang menyembunyikan 1 talentanya.

1 talenta adalah ukuran timbangan sebesar 3.000 syikal atau 34 kilogram, sedangkan di Perjanjian Baru berbicara tentang jumlah uang yang sangat besar yaitu 6.000 dinar. Adapun 1 dinar adalah upah pekerja sehari. Jika upah pekerja harian saat ini Rp. 60.000,-

>> 5 talenta = 5 x 6.000 x Rp. 60.000,- = Rp. 1.800.000.000,-

>> 2 talenta = 2 x 6.000 x Rp. 60.000,- = Rp. 720.000.000,-

>> 1 talenta = 1 x 6.000 x Rp. 60.000,- = Rp.  360.000.000,-


Dari melihat nilainya yang begitu besar, jelas maksud pembagian talenta itu adalah untuk modal berdagang, bukan pemberian cuma-cuma. Tentu sangat sayang jika uang sebegitu besar itu hanya disimpan saja, tidak diputarkan, mengingat jika dipakai berdagang pasti akan sangat menguntungkan. Dan ayat perumpamaan itu menerangkan;

Matius
25:14"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
25:15Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

Jadi, yang dimaksud hamba-hamba di sini adalah orang-orang kepercayaan tuan itu, bukan pekerja-pekerja biasa, berdasarkan nilainya yang berbeda-beda. Kalau uang itu semacam THR - Tunjangan Hari Raya, pasti jumlahnya tidak sebesar itu dan tidak berbeda-beda nilainya. Karena itu jika tuan itu marah pada orang yang menerima 1 talenta yang menyembunyikannya, jelas hal yang wajar.

Perbedaan nilai uang yang didasarkan pada kesanggupan masing-masing, sesungguhnya bukanlah perbedaan, sebab standartnya "kesanggupan." Truk tronton memuat mesin pabrik, truk kecil memuat mesin kecil dan becak memuat sekarung beras, itu adalah keadilan "sama rasa." Justru menjadi ganjil jika truk tronton hanya memuat sekarung beras, sedangkan becak memuat mesin pabrik. Jadi, semua harus berdasarkan pada kapasitas atau kemampuannya.

"Siapa yang memberi dan kepada siapa mengembalikannya?" Jika yang memberi talenta itu tuan "A" masakan kita mengembalikannya ke tuan "B"?

Minimal pemberian yang kita terima adalah hidup. Entah bangsa apa saja, entah agama apa saja, jika kita masih bernafas, maka hidup adalah yang paling pertama dan yang paling penting. Sebab oleh hidup inilah kita melakukan segala aktifitas. Tapi tahukah anda siapa yang memberi kita hidup dan kepada siapa kita harus mengembalikannya?

Setelah tuan itu memberi saya hidup pada tahun 1962, tuan itu bepergian ke luar negeri. Puji TUHAN, bahwa di tahun 2004, saya mulai menyadari bahwa 1 talenta yang selama 42 tahun saya sembunyikan, yakni hidup saya ini, harus saya kembangkan dan harus saya kembalikan kepada tuan yang memberi saya hidup itu. Saya tidak mau membuat tuan itu murka dan menghukum saya. Karena itu hidupku ini bukanlah aku lagi yang hidup, melainkan hidup untuk keuntungan atau kemuliaan YESHUA ha MASHIA. Dari DIA saya hidup, maka kepada DIA saya kembalikan hidup ini;

Gal. 2:20namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Mat. 19:29Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

1Kor. 6:20Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Saya telah dibeli oleh YESHUA ha MASHIA. Karena itu saya harus bekerja untuk kepentingan DIA, bukan untuk kepentingan diri saya lagi. Selama 42 tahun saya seperti orang yang belum ada yang Empunya, sehingga saya hidup untuk diri saya sendiri. Tapi kini saya tahu bahwa TUHAN adalah yang Empunya hidup saya. Bagaimana dengan anda? Apakah anda sudah laku? Apakah sudah ada yang membeli anda?

Dari kemampuan saya sebagai orang yang termiskin di dunia, setiap hari saya menyisihkan sekitar Rp. 20.000,- untuk membayar sewa internet di warnet - warung internet. Di sini saya bukan bermain game online untuk bersenang-senang atau untuk mencari hiburan, tapi untuk memberitakan Injil. Saya membuat 4 akun email, lalu saya daftarkan ke facebook, membuat 4 akun facebook, yang masing-masing akun saya muati sekitar 25-an grup, sehingga saya memasuki sekitar 100-an grup. Jika masing-masing grup beranggotakan 1.000 orang, bukankah itu saya sedang berbicara pada 100.000-an orang setiap hari? Sekalipun tidak semuanya membaca tulisan saya, tapi semuanya "bisa" membaca tulisan saya. Di gedung gerejapun yang dihadiri ratusan orang juga tidak mungkin semuanya mendengarkan khotbah pendetanya. Entah berapa orang yang menyimak dan mengerti khotbah tersebut.

Jika saya yang termiskin menyisihkan Rp. 20.000,- setiap hari, seorang yang gagap teknologi bisa bermain di "Yahoogroups.com", "Twitter" dan "Facebook" serta bisa menjangkau 100.000-an orang, maka betapa dahsyatnya jika anda yang kaya dan pandai berinternet yang melakukannya? Jika becak bisa memuat barang besar, bukankah yang truk 3/4 dan truk tronton bisa memuat yang lebih besar lagi? Masakan anda yang lebih segalanya dari saya, kalah dari saya yang serba kekurangan?

Saya yang hanya menerima 1 talenta telah mengembangkannya sedemikian rupa, bagaimana dengan anda yang menerima 2 talenta atau 5 talenta? Saya hanya menerima hidup, sedangkan emas dan perak tak ada pada saya. Istri tak ada, anak tak ada, rumah tak ada, mobil tak ada, sepedamotor tak ada, laptop tak ada, HP-pun tak ada.

Mat. 8:20Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."

Apakah anda berpikir seperti orang yang menerima 1 talenta dalam perumpamaan tersebut?

Matius
25:24Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
25:25Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!

Sama seperti pertanyaan Firaun tentang TUHAN;

Kel. 5:2Tetapi Firaun berkata: "Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi."

Siapakah TUHAN, yang tidak ikut melahirkan tapi hendak menjadi BAPA, tidak ikut memelihara tapi hendak menuntut dharma bhakti, tidak memberi rejeki tapi hendak menuntut persembahan? Kayak preman atau perampok jika maunya hanya meminta tanpa pernah memberi. Bukankah aku punya istri dan punya anak yang merupakan kewajibanku? Masakan semua itu harus aku lepaskan untuk ENGKAU?!

Memangnya sebagai suami, bisa apakah anda terhadap istri dan anak-anak anda? Mungkinkah anda bisa mengasihi atau mencintai mereka jika anda tak mempunyai hidup? Mungkinkah anda bisa memberi mereka nafkah kalau TUHAN mencabut pekerjaan anda? Mungkinkah anda bisa melindungi mereka jika TUHAN memukul anda dengan penyakit yang melumpuhkan? Bisa-bisa bukan anda yang menjadi pelindung istri dan anak-anak, melainkan merekalah yang menjadi pelindung anda, jika TUHAN berkehendak. Berapa banyak sekarang ini para suami yang menganggur dan dinafkahi istri dan anak-anaknya?

Ketika saya masih berkeluarga, setiap hari isinya keributan dengan istri. Berumahtangga yang harusnya membawa kebahagiaan, malah menjadi neraka, baik bagi saya maupun bagi istri dan anak-anak saya. Tapi kini, walaupun terpisah dan jauh, saya bisa melayangkan doa syafaat untuk mereka yang saya tinggalkan. Saya jauh lebih tenteram dan damai, lebih mengurangi dosa dan menambah pahala, serta kini saya bisa mempunyai "istri dan anak-anak" yang seratus kali lipat, sebagaimana kata TUHAN;

Mat. 19:29Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Sebab istri dan anak-anak saya yang sejati adalah siapa saja yang sehati, sejiwa, sepikir, seiman, Setuhan dan sebaptisan. Kebersamaan secara "pikirani" lebih berarti dari pada kebersamaan secara fisik. Sebab jika pikiran tidak sejalan jika berjalan bersamapun seperti berjalan dengan musuh.

Mat. 12:50Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Rumahtangga saya yang berantakan bukanlah teladan yang baik untuk anda. Tapi jika itu bisa membawa saya lebih dekat pada TUHAN, tidakkah saya mensyukurinya?

Kembali ke perumpamaan; jawaban tuan itu;

Matius
25:26Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
25:27Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.

Jika hidup dari TUHAN, maka dari manakah anda bisa ke sana ke mari, bisa membeli ini dan itu, bisa membuat ini dan itu? Dari manakah istri, anak-anak, kepandaian, uang, mobil, rumah, dan lain-lainnya yang merupakan kebanggaan anda saat ini? Jika hidup saja dituntut dikembangkan untuk kemuliaan TUHAN, bagaimana dengan semuanya itu? Tidakkah istri dan anak-anak juga dituntut untuk memuliakan TUHAN, yaitu dengan mendahulukan TUHAN, lebih dari suami atau bapaknya? Bahwa setiap jiwa adalah milik TUHAN dan harus memuliakan TUHAN.

Bagaimanakah memuliakan TUHAN? Apakah dengan menyanyi-menyanyi dan menari-nari di gereja? Bukan! Jauh sekali panggang dari api. Tapi muliakanlah TUHAN dengan menghormati hukum-hukumNYA, aturan-aturanNYA, ketetapan-ketetapanNYA, perintah-perintahNYA dan perbuatan-perbuatan yang memuliakan namaNYA. Sebab sekalipun suara anda merdu dan tarian anda bagus, apalah artinya jika anda menginjak-injak hukum-hukum TUHAN? Jadi, entah suara anda bagus atau tidak bagus, anda harus mentaati hukum-hukum YAHWEH. Karena itu suara bagus bukanlah apa-apa! Beritakanlah Injil dengan cerita tentang TUHAN, bukan dengan nyanyian. Sebab nyanyian tak pernah bisa membuat orang mengenal TUHAN. Semua pemberita Injil memberitakan Injil dengan cerita, bukan dengan nyanyian.

Muliakanlah TUHAN itu bukan kepada jemaat gereja saja, tapi kepada orang-orang lain yang belum mengenal Injil dan kebenaran, kepada orang-orang Islam, Hindu, Buddha, dan lain-lainnya.

Matius
25:29Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
25:30Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Jika anda tidak mengembangkan talenta/hidup anda, maka apapun juga yang ada pada anda akan diambil, termasuk Kekristenan dan keselamatan anda akan dicabut dan diberikan kepada orang lain yang dianggap bisa mengembangkan kemuliaan TUHAN.


Tidak ada komentar: