Jumat, 17 Juni 2016

PERUMPAMAAN YESHUA - 9

Matius
18:12"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?
18:13Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.
18:14Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

Sebuah keluarga apabila semuanya berkeadaan baik-baik, maka segala sesuatunya berlangsung biasa-biasa saja. Sang bapak ke kantor, sang ibu sibuk dengan berbagai kegiatannya, ya arisan, ya shopping ke mall-mall, ya ke salon untuk make up, ya ke fitness centre, sementara anak-anaknya ke sekolah. Antara satu dengan yang lainnya jarang terjadi pertemuan fisik karena kesibukan masing-masingnya. Bahkan malam haripun sulit terjadi sekeluarga berkumpul bersama-sama. Terlebih di zaman super canggih sekarang ini, pertemuan fisik sudah bisa digantikan dengan handphone. Kalau ada masalah kebutuhan duit, anak-anak tinggal SMS bapaknya, maka dalam sekejap duit sudah terkirim ke rekeningnya.

Kalau di keluarga saya, saya mempunyai 2 anak cewek dan seorang cowok yang paling bungsu. Antara kakak-beradik yang cewek-cewek itu setiap harinya tak pernah akur. Setiap hari selalu saja mereka beradu mulut. Maklum, si adik memang agak nakal, suka bikin keributan.

Suatu kali salah seorang anak sakit panas dan diteleponlah bapaknya yang sedang di luar kota. Karena masih banyak kesibukannya di sana, maka sang bapak hanya kasih petunjuk kepada istrinya supaya anak itu dibawa ke dokter langganan mereka. Lalu sang bapak terus-menerus memonitor perkembangan kesehatan sang anak cukup melalui telepon saja. Dan karena penyakit anaknya bisa berangsur-angsur sembuh, maka sang bapak itupun sudah mulai berkurang intensitas teleponnya, hingga tak menelepon-menelepon lagi karena dianggapnya sudah normal sebagaimana biasa.

Tapi bagaimana jika penyakit si anak itu semakin parah sehingga harus opname di rumahsakit karena menderita penyakit yang serius? Saya yakin apapun kesibukan sang bapak akan dihentikan dan langsung dia pulang ke rumah untuk menengok anaknya yang sakit itu. Dia tak lagi peduli tentang bisnis-bisnisnya yang batal, bahkan siap menanggung kerugian berapapun. Dan kalau sang bapak itu karyawan pabrik, pasti juga sudah tak peduli apakah dia akan dipecat atau tidak, yang penting dia bisa menjagai anaknya yang sakit serius itu.

Suasana di keluarga itu seketika berubah drastis. Bukan saja sang bapak yang meninggalkan pekerjaannya, tapi sang istri yang biasanya selalu tampil cantik, kini tak peduli lagi kalau penampilannya awut-awutan. Kepentingan menjagai anaknya yang sakit telah mengalahkan segala kesibukan sehari-harinya. Dan anak perempuan saya yang nakal mendadak menjadi anak yang baik, yang tak henti-hentinya meminta maaf kepada kakaknya karena kenakalannya selama ini.

Aneh, bukan?! Ketika keadaan baik-baik rasa kasih sayang di keluarga itu tampak kering, tak ada perhatian antara satu dengan yang lainnya. Tapi setelah ada satu anggota keluarga yang sakit, maka segala perhatian tercurah sepenuhnya ke si sakit. Sedikit sakit hanya menimbulkan sedikit perhatian. Tapi semakin berat sakitnya semakin dikasihi. Kalau biasanya tak pernah ketemu muka, kini justru setiap waktu ada di sampingnya. Kalau biasanya meminta uang ke bapaknya sukarnya setengah mati, kini oleh sang bapak malah ditawari: "Kamu pingin apa, nak?" Makanan dan buah-buahan kesukaannya selalu disediakan. Kalau biasanya tak pernah dikecup, kini setiap saat menerima kecupan kasih sayang.

Tetangga saya seorang manager bank BRI, memiliki rumah dan tanah yang luas, juga mobil, habis seluruhnya bahkan sampai-sampai menjadi pengangguran oleh sebab anak gadisnya sakit ginjal yang setiap minggu harus cuci darah. Maklum, di zaman itu masih belum ada jaminan sosial BPJS kesehatan. Dan sialnya, sudah habis semuanya, si anak akhirnya meninggal.

Jadi, betapa mahalnya harga kasih sayang itu. Tepat seperti perumpamaan ELOHIM YESHUA bahwa jika ada seekor saja domba yang hilang, yang 99 ekor ditinggalkan. Yang 99 ekor dijadikan taruhannya, sehingga 99 ekor yang baik-baik itu nilainya = 1 ekor yang hilang. Lihat saja dari cerita keluarga itu tentang pengorbanan dari anggota keluarga yang sehat; bapak, ibu dan saudara-saudaranya, nilai pekerjaan yang dipertaruhkan, nilai harta yang dikorbankan sampai habis-habisan. Bahkan tidak jarang bapak atau ibu yang rela menebus penyakit si anak yang disayanginya itu. "Kamu sehatlah, nak, biar ibu saja yang sakit", "Kamu hiduplah, nak, biar ibu saja yang mati."

Demikian pula dengan kerajaan sorga, kerajaan YAHWEH, guncang oleh sebab manusia yang terjatuh ke dalam dosa. Segala kekuatan sorgawi dikerahkan untuk melayani kita, baik BAPA, ANAK, ROH KUDUS maupun para malaikat. Dan Penebusan nyawa sudah diberikan melalui YESHUA ha MASHIA, supaya kita yang seharusnya mati, hidup!

Matius
7:9Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
7:10atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
7:11Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Kita yang berdosa saja tahu berkasih sayang, lebih-lebih lagi YAHWEH yang adalah KASIH. Sebelum kita tahu apa yang kita butuhkan, YAHWEH telah melakukannya untuk kita. Siapakah manusia dari zaman Adam hingga ke zaman kita sekarang ini yang merasa membutuhkan keselamatan akherat? Tak ada! Tak ada seorangpun manusia yang mencari dan merasa butuh keselamatan. Masing-masing kita hanya disibukkan untuk mencari kesenangan duniawi. Daya nalar kita tak sampai pada pikiran tentang keselamatan akherat. Bahkan bangsa Israelpun tak memahami apa kebutuhan mereka yang sesungguhnya, yang YAHWEH sediakan untuk mereka. Mereka selalu sesat hati dan selalu berusaha menjauhi YAHWEH, serta lebih suka mengambil jalan hidup sendiri.

Roma 3:11Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Tak ada manusia yang mencari ELOHIM, tapi ELOHIM-lah yang tiada henti mencari kita;

Yoh. 15:16Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Domba yang tersesat itu mencari rumput, bukan mencari gembalanya. Tapi gembalalah yang mencari domba yang tersesat itu. Kitapun tersesat karena mencari uang dan kesenangan duniawi. Tapi YAHWEH memanggil kita supaya jangan melanjutkan pencarian duniawi lagi, melainkan berpalinglah pada YAHWEH. Di rumah YAHWEH sudah tersedia rumput hijau yang berlimpah-limpah, mengapakah kamu harus mencari rumput yang lain lagi?

Mazmur
23:1Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
23:2Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
23:3Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
23:4Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
23:5Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
23:6Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Seorang montir yang sedang asyik membetulkan mesin mobil tentu tak menyadari kehadiran seseorang yang mendekatinya. Apa sebab? Sebab segala perhatiannya tercurah ke mesin mobil itu. Demikian halnya dengan kita; apakah yang sedang kita lihat atau perhatikan? Sebab kita tak mungkin bisa membagi perhatian, sehingga ketika yang satu kita lihat, yang lainnya tak kita lihat. Dunia atau TUHAN yang sedang kita perhatikan? Cobalah melihat pada TUHAN, pada segala yang dilakukanNYA untuk kita, maka kita akan melihat betapa besarnya kasih TUHAN itu kepada kita.

Di zaman sekarang hampir setiap orang memegang handphone. Dan dengan handphone itu kita terbiasa untuk membagi perhatian, sebagian perhatian pada percakapan di handphone dan sebagian perhatian pada orang yang ada di depan kita. Tentang hal ini anda pasti paham karena sering melakukannya. Pertanyaan saya adalah apakah benar anda bisa membagi perhatian secara benar-benar? Tidak mungkin, bukan?! Pasti terjadi ketimpangan konsentrasi. Itulah sebabnya anda hanya melihat YAHWEH secara samar-samar, karena bukan di sana yang menjadi pokok perhatian anda.



Tidak ada komentar: