Minggu, 12 Juni 2016

TANPA YESHUA NGGAK BISA MIKIR

Coba pikir: Menghadapi Lebaran dibutuhkan duit banyak; ya kenaikan harga, ya kenaikan ongkos pulang kampung, ya kasih THR karyawan warung, ya kasih angpaw anak cucu, ya kasih oleh-oleh tetangga. Sekalipun ada warung yang di hari-hari lainnya bisa untung banyak, apakah semua warung laris di hari-hari biasa? Sekalipun ada warung yang bisa meraup untung banyak di hari biasa, tapi berapa banyak yang untungnya pas-pasan untuk tarik nafas saja?! Lalu, selama puasa ramadhan, selama 30 hari dilarang buka siang hari, padahal kaum Muslim yang tidak puasa, yang butuh warung banyak sekali.

Juga, bagaimana dengan orang yang sakit atau terhalang berpuasa, yang membutuhkan warung?

Agama koq malah bikin kacau? Orang cari makan diperlakukan seperti maling. Apa orang tidak mikir: betapa enaknya para koruptor kelas kakap? Mengapa selalu orang-orang kecil yang dikepung dengan berbagai peraturan? Mengurus surat-surat sulit, berdagang dilarang, harga barang-barang dinaikkan terus, menjadi pengemispun ditangkap. Bagaimana mereka memecahkan tantangan yang bertimbun-timbun itu, jika pemerintah yang dikelilingi orang-orang pinter saja tak sanggup menciptakan lapangan kerja?

Muslim yang satu bilang boleh, Muslim yang lainnya bilang tidak boleh. Mana yang benar?!

ISLAM MAKAN ISLAM? MEMANG, TANPA YESHUA MANA BISA MIKIR?


Tidak ada komentar: