Minggu, 03 Juli 2016

PERUMPAMAAN YESHUA - 22

Matius
7:3Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
7:4Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
7:5Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Perumpamaan yang sama yang lebih umum kita dengar adalah: "kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak." Artinya kesalahan orang lain lebih mudah kita lihat dari pada kesalahan diri sendiri. Celakanya, kesalahan orang lain itu kecil kita besar-besarkan, sedangkan kesalahan kita yang lebih besar tak kita rasakan.

Ternyata yang membuat perumpamaan seperti itu bukan hanya ELOHIM YESHUA saja dan untuk bangsa Israel saja, melainkan bangsa-bangsa lain juga membuat perumpamaan yang sama. Ini menyatakan bahwa tabiat menghakimi orang lain itu merupakan penyakit kita semua. Dalam bahasa kedokterannya disebut penyakit bawaan, sebab begitu dilahirkan sudah membawa penyakit itu.

Contoh saja, bayi yang menangis terus-terusan yang membuat ibunya kelabakan. Digendong masih menangis, dikasih susu masih menangis, dikasih mainan masih menangis. Ibunya bingung, begini salah begitu juga salah. Tangis yang tak henti-hentinya itu menyatakan perlakuan ibunya masih belum benar, seolah-olah besar sekali kesalahan ibunya itu. Padahal letak kesalahan yang sesungguhnya adalah pada bayi itu yang tak bisa ngomong yang jelas apa permintaannya.

Masih bayi sudah begitu, itu tandanya penyakit bawaan. Dan dibuatkannya perumpamaan, menyatakan bahwa penyakit itu menyebalkan sekali yang harus diperangi, harus dimusnahkan dari diri kita. Bahkan sampai ada istilah: "ngegosip", yaitu kesukaan orang untuk membuat gosip atau membicarakan permasalahan tetangganya.

Kaum laki-laki menuding kaum perempuan itu tukang ngegosip. Tapi berdasarkan rumus "gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak", apakah kaum laki-laki tidak ada salahnya? Jangan-jangan justru laki-lakilah yang membuat perempuan membikin gosip. Ulah laki-laki yang mengganggu istri orang itulah mungkin yang sedang digosipkan ibu-ibu di kampung tersebut.

Apakah kita tidak boleh mempersalahkan orang yang kita anggap bersalah? Mempersalahkan orang berdasarkan anggapan atau perasaan kita saja jelas tidak boleh. Tapi kita harus menggunakan perangkat hukum. Dan dari adanya berbagai macam hukum, hukum yang lebih tinggi mematahkan hukum yang lebih rendah.

Misalnya orang Batak bermarga Simatupang hendak mengawini gadis bermarga yang sama. Kita tidak boleh berkata: "Menurut pendapat saya, kamu salah. Kawin semarga itu tidak boleh." Perkataan "pendapat saya" itu tidak boleh dikenakan jika ada perangkat hukumnya. "Menurut pendapat saya" itulah yang disebut main hakim sendiri. Kalau di Facebook banyak orang yang mengomentari tulisan saya dengan: "menurut pendapat saya....." Padahal saya menggunakan perangkat hukum, yakni: Alkitab, tapi hendak dilawan dengan "menurut pendapat saya....." Mana bisa begitu?

Jadi, perkawinan semarga itu harus dihakimi berdasarkan hukum adat Batak, sehingga kita harus mengatakan: "menurut adat istiadat Batak perkawinan semarga itu dilarang." Tapi, Indonesia bukan negara Batak. Karena itu kita harus mengadu pada hukum negara tentang perkawinan. Hukum adat unggul jika tidak dikalahkan oleh hukum negara. Tapi apakah undang-undang perkawinan melarang orang kawin satu marga? Jika negara tidak melarang, maka hukum adat Batak itu menjadi batal.

Hukum Indonesia melarang orang Kristen memberitakan Injil. Okey, tapi apakah TUHAN melarang orang Kristen memberitakan Injil? Ternyata TUHAN malah menyuruh orang Kristen memberitakan Injil. Karena itu bagi saya, peraturan Indonesia itu saya abaikan, sebab ada hukum TUHAN yang lebih tinggi dari hukum negara. Jika Indonesia menganggap saya bersalah, silahkan hukum saya. Tapi yang jelas TUHAN tidak akan menghukum saya.

Orang-orang Kristen Minggu berkata bahwa ibadah hari Minggu karena hari Minggu adalah hari TUHAN. Dari mana pasalnya hari Minggu hari TUHAN? Ternyata "Minggu" itu dari bahasa Portugis; "Domingo" yang artinya hari TUHAN. Tapi bagaimana jika bahasa Portugis itu saya lawankan dengan Alkitab, Firman TUHAN?

Mat. 12:8Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Kel. 20:10tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

Menurut Alkitab yang milik TUHAN adalah hari Sabat, bukan Minggu. Maka merekapun berdalih tentang hari TUHAN bangkit;

Wahyu 1:10Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,

Ayat itu menyebut "hari TUHAN" sedangkan Roma Katolik menambahkan: "hari TUHAN bangkit." Mana yang benar? Mana ada kata-kata: "bangkit"-nya? Ketika mereka mengklaim berdasarkan bahasa Portugis, saya lawankan dengan Alkitab. Begitu pula ketika mereka berdasarkan Roma Katolik, kembali saya hadapkan itu dengan Alkitab. Jadi, saya tak pernah main hakim sendiri dan berkata-kata: "menurut pendapat saya ......." Mana laku pendapat saya?!

Di saat yang lain mereka berkata: "Apakah dilarang beribadah setiap hari?" Apakah saya sedang membicarakan hari ibadah? Bukan, saya sedang membicarakan hari perhentian; Sabat. Ibadah di hari apa saja tidak dilarang. Tapi melakukan pekerjaan duniawi di hari Sabat itulah yang dilarang. Jadi, saya bukan sedang membicarakan soal hari ibadah, tapi soal hari perhentian dari segala pekerjaan duniawi;

Keluaran
20:9enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
20:10tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
20:11Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Jadi, saya tak pernah menghakimi kesalahan orang berdasarkan pendapat pribadi saya, melainkan berdasarkan Alkitab. Dan jika ada orang yang melakukan perbuatan tercela atau dosa, seperti mencuri atau berzinah, sesuai petunjuk Alkitab, saya harus memanggil orang itu dan membicarakannya secara empat mata;

"Saudara, saya perlu mengingatkan tentang dosa yang mungkin anda lakukan, sebagaimana Hukum Alkitab: Jangan mencuri, jangan berzinah, ....................."

2Tim. 4:2Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Dan jika orang itu masih bandel, tidak bertobat, maka saya akan menghadapkannya ke jemaat dan mengusirnya dari kumpulan;

1Korintus
5:1Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.
5:2Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu?
5:4Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita,
5:5orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.

Kita hancurkan reputasinya, kita permalukan dia di hadapan umum, sebab kita mengharapkan jiwa orang itu terselamatkan. Kita menjatuhkan reputasinya bukan oleh sebab membencinya, tapi oleh sebab mengasihinya. Sebab jika kuda baru mau berjalan jika dicambuk, ya kita cambuk supaya mau berjalan.

Ams. 18:6Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan.

Ams. 20:30Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan, dan pukulan membersihkan lubuk hati.

Pekerjaan menegor kesalahan orang adalah pekerjaan tua-tua jemaat atau majelis gereja. Karena itu tua-tua jemaat atau majelis gereja janganlah orang sembarangan, jangan karena kaya atau terkenal sehingga didudukkan di situ, melainkan harus memenuhi persyaratan Alkitab;

Titus
1:5Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu,
1:6yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.
1:7Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah,
1:8melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri
1:9dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.

Sebagai tua-tua atau majelis jemaat bukanlah tugasnya mencari-cari kesalahan orang. Karena itu kita tidak dibenarkan melakukan "sweeping" pribadi orang. Selama mata kita tidak melihat dan telinga tidak mendengar, serta tidak ada pengaduan dari jemaat, maka kita ya diam-diam saja. Tapi manakala mata melihat dan telinga mendengar, serta adanya pengaduan jemaat, maka kita harus cepat tanggap mengatasinya. Jangan melihat tapi pura-pura tidak melihat atau mendengar tapi pura-pura tidak mendengar, serta jangan mengabaikan laporan jemaat.

Gal. 6:1Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

Jangan menyapu dengan sapu kotor. Jangan menyalahkan orang jika diri sendiri bersalah. Karena itu jangan menjadi tua-tua atau majelis jemaat jika tidak memenuhi persyaratan. Sekalipun tak ada gading yang tak retak, tapi janganlah guru itu sederajat dengan muridnya. Jangan majelisnya pezinah menghakimi jemaatnya yang berzinah. Nggak cocok itu.

Ketika kelas 1, nilai matematika saya 5. Ketika kelas 2, nilai matematika saya juga 5. Tapi antara nilai 5 di kelas 1 dengan nilai 5 di kelas 2, bukankah derajatnya sudah berbeda? Artinya, jangan selalu jatuh di tempat yang sama. Dosa biarlah merupakan suatu perjalanan dari satu langkah ke langkah berikutnya, bukan seperti berjalan di tempat. Jangan sampai kemarin begitu, sekarang begitu dan besokpun masih tetap begitu. Tapi berubahlah menurut pembaruan budimu, berubahlah menurut perkembangan pengetahuanmu.

Sebab panggilan Kristen adalah panggilan supaya kita menjadi lebih baik. Kita dipanggil untuk diperbaiki, bukan untuk menjadi pemelihara kesalahan.

Kesalahan gereja yang terbesar adalah menempatkan orang-orang yang tidak layak pada kedudukan tua-tua atau majelis gereja. Inilah yang menyebabkan gereja menjadi sarang penyamun;

Mat. 21:13dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."


Tidak ada komentar: