Minggu, 17 Juli 2016

PERUMPAMAAN YESHUA - 36

Lukas
18:1Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
18:2Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.
18:3Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
18:4Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun,
18:5namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."
18:6Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!
18:7Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
18:8Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

Di zaman dulu tidak dikenal system keadilan yang berjenjang dari pengadilan negeri, pengadilan tinggi dan mahkamah agung. Juga tidak ada kejaksaan maupun pembelaan bagi seorang terdakwa. Dalam setiap kota negara hanya menyediakan seorang hakim, sehingga setiap ada orang yang berperkara bisa langsung dilaporkan ke hakim di kota tersebut. Tapi hakim tidak mengurusi perkara kriminal yang melanggar undang-undang negara, melainkan perkara-perkara kemasyarakatan biasa, seperti masalah warisan atau pertengkaran suami-istri. Sedangkan perkara-perkara yang berkaitan dengan kerajaan diurusi oleh raja. Sebab hanya raja saja yang diperlengkapi dengan tentara.

Kalau sekarang setiap perkara harus melalui kepolisian. Dari polisi dilemparkan ke kejaksaan, lalu oleh kejaksaan diajukan ke sidang pengadilan, dimulai dari tingkat kota, yakni pengadilan negeri. Jika terdakwa tidak puas dengan keputusan pengadilan negeri bisa banding ke pengadilan tinggi, yakni di tingkat provinsi. Jika masih tidak puas bisa mengajukan kasasi ke mahkamah agung. Ini adalah suatu upaya negara dalam menegakkan keadilan, seolah-olah bisa diperoleh keadilan yang seadil-adilnya. Namun fakta membuktikan system yang sudah dibuat berlapis-lapis ini masih bisa juga dibobol, bahkan malah melahirkan mafia peradilan.

Demi keadilan yang diharapkan, negara menggaji polisi, jaksa, hakim negeri, hakim tinggi dan hakim mahkamah agung. Ada 5 orang yang digaji untuk sebuah keadilan yang nol besar, yang hasilnya tidak berbeda jauh dari zaman dulu yang hanya menyediakan seorang hakim saja sebagaimana diceritakan dalam perumpamaan tersebut. Seorang hakim yang lalim yang terpaksa meluluskan perkara seorang janda yang tidak tahu malu yang setiap hari merengek-rengek supaya perkaranya dimenangkan.

Seorang hakim yang lalim itu tidak lain adalah ELOHIM YAHWEH. Sekalipun disebutkan ELOHIM YAHWEH itu Mahaadil, namun disebut pula Mahapemurah dan Mahapengampun. Sifat yang kontradiksi sekali. Sebab jika disebut Mahapemurah dan Mahapengampun jelas tidak mungkin Mahaadil. Tapi kesemua sifat yang kacau-balau itu justru sangat menguntungkan kita.

Coba seandainya ELOHIM YAHWEH itu seperti KPK - Komisi Pemberantasan Korupsi, yang sepakterjangnya galak tak kenal kompromi. Setiap orang yang korupsi ditangkapnya tanpa ampun, maka apa jadinya dengan kita yang berdosa ini? Tidakkah kita semua ini akan ditangkap oleh ELOHIM YAHWEH dan dijebloskan ke neraka?

Sebaliknya, jika tidak ada KPK, jika penanganan korupsi hanya dilaksanakan oleh kepolisian saja, yang setiap perkara bisa disuap, apa jadinya negara ini jika semua pejabat berlomba-lomba korupsi seperti di zaman orde baru? Dunia ini rusak jika ELOHIM YAHWEH hanya Mahapemurah dan Mahapengampun. Tapi ELOHIM kita adalah ELOHIM yang ajaib; DIA, ya KPK, ya polisi. Ada kalanya DIA keras seperti KPK, tapi ada kalanya DIA lunak seperti polisi. Ada kalanya DIA Mahaadil, ada kalanya DIA Mahapemurah.

ELOHIM YAHWEH yang seperti KPK itu, bukankah telah menunggangbalikkan kota Sodom dan Gomora? Bukankah telah menghukum manusia dengan air bah? Bukankah telah menghukum bangsa Israel yang murtad di padang gurun? Bukankah telah membuang bangsa Israel ke Babilon? Bukankah raja Daud ketika bersalah pada peristiwa Batsyeba juga telah diambil tindakan menghukum? Bukankah terhadap Yudas Iskariot yang berkhianat juga diambil tindakan tegas? Bukankah Ananias dan Safira juga dihukum mati?

Sedangkan sebagai polisi yang bisa disuap, bukankah ELOHIM YAHWEH itu masih menyayangi Yakub yang penipu kakaknya, Esau? Bukankah ELOHIM YAHWEH juga telah membatalkan hukuman terhadap kota Niniwe yang seharusnya dihukum seperti Sodom dan Gomora? Bukankah ELOHIM YAHWEH telah mengutus ANAKNYA, YESHUA ha MASHIA, untuk menyelamatkan kita?

Di Perjanjian Lama DIA adalah KPK, tapi di Perjanjian Baru DIA adalah polisi. Di Perjanjian Lama DIA menjadi ELOHIM, tapi di Perjanjian Baru DIA adalah BAPA. Di Perjanjian Lama DIA berbicara hukum, di Perjanjian Baru DIA berbicara kasih. Di Perjanjian Lama kita diperlakukan sebagai hamba, tapi di Perjanjian Baru kita diperlakukan sebagai anak.

ELOHIM YAHWEH itu benar-benar seperti hakim yang lalim di perumpamaan itu. Sebab DIA tidak segan-segan menghukum orang-orang yang baik, sebaliknya siap menyelamatkan orang-orang yang jahat.

Orang baik? Seperti suster Teresa yang selama 47 tahun melayani orang miskin, orang sakit, yatim-piatu, dan memperjuangkan hak-hak kaum lemah? Apakah bisa diselamatkan orang-orang yang beragama Roma Katolik, yang menyembah patung-patung, yang berpaham Trinitas, yang menyejajarkan Maria dengan ELOHIM YESHUA, yang ibadahnya hari Minggu? Jika bisa diselamatkan maka rusaklah Alkitab! Sebab Alkitab secara tegas menyatakan keselamatan itu hanya melalui iman kepada ELOHIM YESHUA;

Yohanes 3:18Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Di Alkitab ada orang yang seperti suster Teresa, yakni: Kornelius. Dia seorang perwira Romawi yang suka bersedekah pada orang-orang Yahudi. Namun ELOHIM YAHWEH menganggap itu masih belum cukup jika dia belum dibaptis dalam nama ELOHIM YESHUA ha MASHIA. Karena itu ELOHIM YAHWEH mengutus rasul Petrus untuk memberitakan Injil kepadanya.

Sebaliknya, orang jahat seperti Paulus, orang yang dalam pikirannya dipenuhi kejahatan untuk menganiaya orang-orang Kristen, persis seperti teroris Muslim sekarang ini, malah bisa dijadikan rasul yang terbesar dari antara ke-12 rasul yang mula-mula. Separuh dari Perjanjian Baru, yakni 14 kitab dari 27 kitab adalah tulisannya.

Di hukum ELOHIM yang ke-2, ELOHIM YAHWEH menyatakan DiriNYA;

Keluaran
20:4Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
20:5Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
20:6tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

ELOHIM YAHWEH itu membenci orang-orang yang tidak mau diatur oleh hukum-hukumNYA. ELOHIM YAHWEH itu kasih sekaligus juga memiliki kebencian. Jadi, sangat tidak lengkap jika ELOHIM YAHWEH hanya disebut ELOHIM yang Pengasih saja, seolah-olah DIA tidak bisa menghukum. Yang benar, ya Pengasih, ya Pembenci;

Maleakhi
1:2"Aku mengasihi kamu," firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?" "Bukankah Esau itu kakak Yakub?" demikianlah firman TUHAN. "Namun Aku mengasihi Yakub,
1:3tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun."

Kasih dan kebencian ELOHIM YAHWEH merupakan pilihan yang ditawarkan kepada kita; mana yang kita inginkan? Ingin dibenci atau ingin dikasihi? Cari caranya bagaimana mendapatkannya.

Perumpamaan di atas diawali dengan nasehat supaya berdoa tidak jemu-jemunya atau berdoa dengan tekun, dan ditutup dengan pertanyaan: apakah anda mempunyai iman?

Nabi Elia setelah menyembelih 850 nabi-nabi palsu, berdoa memohon supaya ELOHIM YAHWEH menurunkan hujan ke tanah Israel yang saat itu dilanda kekeringan karena 3,5 tahun tidak ada hujan. Setelah berdoa pertama dia menyuruh bujangnya melihat ke langit apakah ada tanda-tanda hujan akan turun? Bujang itu kembali dan menerangkan: "Tidak ada apa-apa." Tapi nabi Elia tidak berhenti berdoa. Dia berdoa lagi dan berdoa lagi, sampai akhirnya doa itu dikabulkan. Nabi Elia berdoa sampai 7 kali;

1Raja-raja
18:42Lalu Ahab pergi untuk makan dan minum. Tetapi Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya.
18:43Setelah itu ia berkata kepada bujangnya: "Naiklah ke atas, lihatlah ke arah laut." Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: "Tidak ada apa-apa." Kata Elia: "Pergilah sekali lagi." Demikianlah sampai tujuh kali.
18:44Pada ketujuh kalinya berkatalah bujang itu: "Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut." Lalu kata Elia: "Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan."
18:45Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat. Ahab naik kereta lalu pergi ke Yizreel.

Orang beriman tahu bahwa semakin banyak doanya berarti semakin dekat dengan pengabulannya. Karena itu orang beriman semakin lama bukan semakin lemah doanya, justru semakin kuat. Semakin lama semakin semangat, karena dia tahu itu sudah lebih dekat. Tapi orang yang tak beriman semakin lama semakin loyo dan semakin putus asa.

ELOHIM YESHUA sendiri ketika berdoa memohon kekuatan, semakin meningkat kesungguh-sungguhanNYA berdoa;

Lukas 22:44Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
22:43Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.


Tidak ada komentar: