Kamis, 21 Juli 2016

PERUMPAMAAN YESHUA - 40

Lukas
17:7"Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
17:8Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
17:9Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
17:10Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Kalau seorang bapak pulang dari kantornya, ada 2 yang dipanggilnya, yaitu: anak dan pembantunya. Anak dipanggil untuk diajak makan, tetapi pembantu dipanggil untuk disuruh membersihkan meja makan. Anak dikasih bapaknya yang enak-enak tidak dituntut mengucapkan terimakasih, sedangkan pembantu yang disuruh-suruh tak mungkin menuntut majikannya mengucapkan terimakasih padanya.

Pembantu di zaman dulu berbeda dengan pembantu di zaman sekarang. Kalau sekarang pembantu gajinya lumayan-lumayan. Tapi dulu yang namanya hamba atau budak itu tak menerima gaji. Mereka hanya dikasih makan. Itupun bukan makanan yang sama dengan makanan majikannya. Seperti itulah ELOHIM YAHWEH mengajarkan bangsa Israel memperlakukan orang-orang asing yang menjual dirinya sebagai budak kepada bangsa Israel.

Sara, istri Abraham, memberikan budaknya: Hagar, supaya ditiduri Abraham. Namun setelah melahirkan anak: Ismael, anak itu disebut sebagai anak Sara. Jika kemudian ibu dan anak itu diusir oleh Sara, adalah karena Sara sudah mempunyai anak kandung sendiri, yakni: Ishak. Begitu pula dengan Yakub yang mempunyai 2 istri: Lea dan Rahel. Kedua perempuan itu saling berebut cintanya Yakub. Ketika mereka tidak hamil tapi ingin mempunyai anak, budaknyalah yang diberikan ke Yakub. Tapi anaknya diaku sebagai anak mereka.

Dengan demikian tergambarlah perbedaan yang mencolok antara majikan dengan hambanya. Bahwa seorang hamba itu tak lebih dari seekor sapi, yang mengertinya bekerja, bekerja dan bekerja saja bagi tuannya. Hidup mereka hanyalah kewajiban, kewajiban, dan kewajiban saja, tanpa mengenal hak. Hak adalah milik tuan, sedangkan kewajiban adalah milik hamba.

Bangsa Israel sebelum dijadikan anak ELOHIM YAHWEH, mereka juga budak-budaknya bangsa Mesir. Namun sekalipun mereka disebut anak, kenyataannya mereka juga diperlakukan sebagai budaknya ELOHIM YAHWEH. Kepada mereka dikenalkan "hak" dan "kewajiban" mereka. Jika mereka bisa menunaikan kewajiban mereka dengan baik, maka mereka menerima berkat. Tapi jika mereka tidak menunaikan kewajiban mereka, maka mereka akan menerima kutuk. Jadi, mereka di zaman Perjanjian Lama memainkan peranan, ya budak, ya anak. Sebab mereka harus memberikan gambaran terhadap 2 Perjanjian ELOHIM YAHWEH, yakni: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama yang dipenuhi dengan peraturan-peraturan menandai Israel sebagai budak ELOHIM YAHWEH, sedangkan Perjanjian Baru yang menuntut kesadaran menandai Israel/Kristen sebagai anak-anak ELOHIM YAHWEH.

Jika konsep Perjanjian Lama: "Hamba yang disebut anak", konsep Perjanjian Baru: "anak yang disebut hamba." Bangsa Israel di Perjanjian Lama hanya menikmati sebutannya saja: "anak-anak ELOHIM YAHWEH." Padahal kenyataannya mereka diperlakukan sebagai budak. Sebaliknya, di Perjanjian Baru, kita ini menikmati banyak kebebasan sebagai anak-anak ELOHIM YAHWEH. Namun oleh ELOHIM YESHUA kita disuruh berkata: "Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

>> Bangsa Israel hanya dikasih domba, tapi kita dikasih ELOHIM YESHUA.

>> Bangsa Israel wajib disunat, kita dibebaskan dari sunat.

>> Bangsa Israel dilarang makan babi, kita dibebaskan makan babi.

>> Bangsa Israel wajib ke Yerusalem, kita bebas di kota mana saja.

>> Bangsa Israel hanya menerima janji, kita menerima penggenapannya.

>> Bangsa Israel dijadikan berkat, kita adalah penerima berkat. Mereka yang berjerih-lelah, kita yang menikmati hasil jerih-lelah mereka. Mereka yang menciptakan komputer, kita tinggal membelinya saja. Mereka menjalankan ritual-ritual keagamaan yang rumit, kita hanya menjalankan yang gampang-gampang saja.

Budak akan bertanya: "apa yang harus aku lakukan supaya tuanku tidak marah?" Maka budak itu akan menyapu rumah supaya "tuannya tidak marah." Budak takut pada hukuman. Tapi anak berkata: "Aku menyapu rumah bukan supaya ayahku tidak marah, tapi supaya rumahku bersih."

Matius 19:16Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Itulah pertanyaan seorang budak Perjanjian Lama. Yang dia pikirkan hanya bagaimana caranya menghindarkan neraka? Tapi Perjanjian Baru mengajarkan: "Bagaimana saya menjadi seorang manusia?" Sebab keselamatan bukan diberikan kepada orang yang menginginkannya, tapi diberikan kepada orang yang benar. Sama seperti piala tidak diberikan kepada orang yang menginginkannya, tapi diberikan kepada yang juara. Setiap peserta suatu perlombaan pasti menginginkan hadiahnya. Sama seperti semua orang Kristen pasti menginginkan sorga. Tapi apakah sorga diberikan kepada orang yang menginginkannya? Apakah neraka dijauhkan oleh sebab orang menakutkannya?

Karena itu fokus pemikiran kita jangan pada sorga atau nerakanya, tapi pada kebenarannya. Apakah saya sudah benar? Sebab kalau kita benar, kita tak perlu meminta sorga tapi itu pasti diberikan ke kita. Kita tak perlu harus meminta-minta piala. Yang perlu adalah apakah kita bisa menjadi juara?

Sebenarnya apa maksud keselamatan yang ELOHIM YAHWEH selenggarakan itu? Apakah ELOHIM YAHWEH sedang mempromosikan sorga? Bukan! Tapi ELOHIM YAHWEH bermaksud mendandani kita, supaya kita menjadi manusia yang sempurna, bukan supaya kita masuk sorga. Sorga itu hanya wadah, tempat tinggal kita saja, bukan sesuatu yang penting. Yang dipentingkan oleh ELOHIM YAHWEH adalah supaya kita ini memiliki kemuliaan kita kembali sebagai manusia, gambar ELOHIM YAHWEH. Sebab dosa telah menyebabkan kita ini bertabiat seperti hewan, tidak seperti manusia lagi. Ini yang harus dipulihkan.

Karena itu ketika kita memberi uang kepada fakir miskin, bukanlah supaya mendapatkan pahala, bukanlah karena adanya perintah TUHAN, tapi karena pemikiran: apakah orang miskin itu sudah hidup manusiawi? Apakah orang miskin itu sudah kecukupan? Apakah orang miskin itu makan seperti apa yang saya makan?
Kita tidak peduli apakah berpahala atau tidaknya, kita tidak peduli diperintahkan ELOHIM YAHWEH atau tidak. Sebab baik pahala maupun perintah ELOHIM itu hanya ada di Perjanjian Lama, sebagai pelajaran yang akan memicu terbukanya kesadaran kita.

Dulu ketika masih kanak-kanak kita dilarang memegang pisau. Apa sebab? Sebab kesadaran kita masih belum terbuka. Tapi kini kita malah memegang pisau setiap hari. Kini kita memiliki kebebasan memegang pisau. Apa sebab dibebaskan? Sebab kita sudah tahu apa gunanya pisau itu.

Jadi, kita berbuat baik, menolong orang maupun memberitakan Injil bukanlah supaya masuk sorga, tapi supaya sesama kita bisa masuk sorga semuanya. Bukan supaya kita diselamatkan, tapi supaya orang-orang lain itu diselamatkan. Bukan supaya ELOHIM YAHWEH senang, tapi supaya sesama kita itu senang. Bukan karena kita melakukan perintah kasih, tapi karena kita mempunyai kasih.

Kita baru bisa memberi orang uang kalau kita ada kelebihan uang. Kita baru bisa mengasihi sesama kalau di dalam diri ini ada berlimpah-limpah kasih. Kita bisa berkelimpahan kasih jika kita menerimanya dari ELOHIM YAHWEH. Sebab DIA-lah sumur kasih, sumber kasih. Dan ELOHIM YAHWEH sudah memberikan kasihNYA yang terbesar, yaitu ELOHIM YESHUA ha MASHI. Sekarang tinggal bagaimana kita memberinya harga.

Di depan kita ada 1 dolar Amerika. Berapa kita mau hargai dolar Amerika itu? Tergantung orangnya, siapa kita? Kalau kita orang Indonesia, ya akan menghargainya Rp. 13.000,- Tapi kalau kita orang Jepang, ya akan menghargainya 100 Yen Jepang. Dan kalau kita orang China, ya akan menghargainya 7 Yuan. Bagi orang China nilainya 7, bagi orang Jepang nilainya 100, sedangkan bagi kita nilainya 13.000.

Seharga berapakah ELOHIM YESHUA bagi orang Islam? Hanya nabi biasa, kata mereka. Bagi orang Kristen Minggu? Itu TUHAN yang nggak jelas, sebab ya BAPA, ya ANAK, ya ROH KUDUS. TUHAN yang membingungkan. Tapi bagi saya, saya melepaskan tali kasutNYApun tak layak. Karena itu apapun yang saya berikan dalam hidup saya ini sama sekali bukanlah apa-apa. Hanya di hadapan anda saja saya berani menyebut diri penginjil dan telah berbuat banyak untuk penginjilan. Tapi di hadapanNYA, saya merasa malu sekali. Jika anda semut, saya mungkin kecoa sehingga terlihat besar. Tapi kecoa terhadap Singa dari Yehuda? Malu, saya!

Orang-orang di Porong - Sidoarjo, tak menyadari kalau tanah persawahannya adalah sumber minyak yang sangat besar. Apa sebab? Sebab mereka tak memperhatikannya. Tapi PT. Lapindo memperhatikan baik-baik, bahwa apa yang sepintas seperti sawah biasa itu adalah harta karun yang sangat besar. Dan bencana lumpur Lapindo adalah bukti bahwa penglihatan PT. Lapindo itu tidak salah. Yang bodoh adalah penduduk Porong itu.

Wouh, apakah anda sudah memperhatikan ELOHIM YESHUA ha MASHIA? Hati-hati, jangan salah lihat!


Tidak ada komentar: