Senin, 01 Agustus 2016

KEPADA SANG PENGUASA NEGERI KE-71

Mari berbicara dengan akal pikiran, bukan dengan bedil.

Jika engkau melihat pencuri, engkau berkata: "dia itu harus ditangkap karena melanggar hukum." Itu baik, jika engkau juga menangkap pelanggar hukum yang lainnya. Tapi menjadi miring jika kucing engkau kurung sedangkan harimau engkau lepaskan.

Jika engkau tidak bertuhan, minimalnya engkau harus berperikemanusiaan, supaya jangan seperti hewan. Sebab ada kerusakan parah di negeri ini yang disebabkan oleh kesalahan system. Ketika engkau menginginkan pejabat-pejabat yang bersih, engkau tidak membersihkan system perekrutannya, sehingga orang-orang yang tidak mumpuni bisa menjabat oleh sebab KKN.

PKI engkau sikat habis tapi engkau biarkan negara ini berpolitik atheis, politik yang kotor dan keji, yang berlumur fitnah. Asal mendapat kedudukan segala cara dihalalkan. Kemunafikan yang dibenci segala agama engkau biarkan merajalela. Kebaikan-kebaikan pro rakyat yang semu, yang dilakukan hanya menjelang pemilihan umum, yang terang-terangan bersifat mengelabuhi, menipu dan membodohi rakyat, tidakkah serupa dengan PKI? Orang yang satu berganti baju?!

Engkau mendirikan KPK, tapi engkau membiarkan system yang memaksa orang untuk korupsi. Bagaimana tidak terpaksa korupsi jika untuk kedudukan itu memerlukan biaya kampanye, membayar upeti ke parpol, lalu setelah menjabat diantri oleh parpol dan sumbangan mesjid?! Dan bagaimana orang bisa memiliki jiwa kerakyatan kalau fasilitas-fasilitas mewah yang disediakan? Mobil mewah, rumah mewah, bagaimana tidak membuat orang lupa daratan?!

Orang-orang yang dilahirkan dari politik atheis, bagaimana bisa diharapkan memiliki kebijaksanaan yang berpedoman pada Pancasila dan UUD 1945? Lihat saja seluruh negeri ini, semua ruang diisi oleh bangunan-bangunan megah, tiang pancang-tiang pancang fly over, jalan-jalan toll, dan fasilitas-fasilitas canggih kota dunia. Indonesia hendak engkau jadikan Amerika Serikat, kota-kota hendak engkau jadikan New York?!

Coba buka kembali UUD 1945, apakah amanahnya untuk membuat Indonesia canggih atau untuk memelihara fakir-miskin dan rakyat terlantar? Jika untuk memelihara fakir-miskin dan rakyat terlantar, mengapakah yang terlihat bangunan-bangunan? Bangunan-bangunannya megah dan mentereng, tapi di mana itu fakir-miskinnya? Pencuri engkau tangkap karena melanggar hukum, masakan yang melanggar UUD 1945 engkau bebaskan?

UUD 1945 menyuruh engkau memelihara fakir-miskin dan rakyat terlantar. Tapi yang engkau lakukan adalah menyingkirkan, menggusur, menangkapi, mengejar-ngejar dan membuang mereka ke penjara yang engkau beri nama: Panti Sosial. Di sanalah fakir-miskin dan rakyat terlantar engkau kumpulkan, engkau campur adukkan antara preman dengan bukan preman, antara orang gila dengan orang waras, antara orang sakit dengan orang sehat.

Untuk memberikan pemandangan indah pada mata orang-orang kaya, engkau singkirkan mereka. Untuk memberikan keuntungan bagi pengembang, engkau gusur mereka. Untuk membuat Indonesia seperti Amerika Serikat dan Jakarta seperti New York, engkau selewengkan UUD 1945.

Engkau berkata: "semakin banyak pengemis", padahal engkaulah yang menciptakan pengemis. Sebab ketika mereka berdagang, engkau rampasi modal dagangan mereka, engkau larang mereka berjualan di lampu merah, engkau gusur pasar-pasar tradisional, engkau tak becus memperbaiki perekonomian mengapakah engkau lemparkan kesalahan pada mereka?

Di tengah kemajuan zaman, mengapakah justru semakin sukar hidup dan semakin mahal biaya hidup? Harusnya biaya hidup makin murah dan hidup semakin gampang. Apa gunanya teknologi jika tidak membuat hidup semakin efisien?

Engkau berpikir orang miskin yang merusakkan negeri. Engkau tidak melihat bagaimana orang-orang kaya melakukan korupsi dan suap-menyuap. Engkau tidak melihat bagaimana orang-orang kaya menebarkan narkoba dan membangun pabrik bir. Engkau tidak melihat bagaimana orang-orang kaya meracuni pikiran orang dengan konsumerisme dan Pokemon? Engkau tidak melihat bagaimana orang-orang kaya mendirikan bar-bar, dan tempat-tempat hiburan maksiat?

Agama menyatakan pelacuran itu berdosa. Tapi apakah agama menyuruh engkau menumpasnya, jika faktanya engkau tidak sanggup menciptakan lapangan kerja dan memperbaiki perekonomian? Engkau menumpas para pengemis, padahal seluruh agama menganjurkan amal pada mereka. Tidakkah engkau sedang melawan agama?

Di zaman para nabi, pelacuran dan pengemis sudah ada. Tapi adakah catatan TUHAN atau para nabi itu memerangi mereka? Lembaga Nobel malah memberikan penghargaan kepada suster Teresa yang mengurusi fakir-miskin, bukannya memberi penghargaan kepada Satpol PP yang menghabisi mereka.

Kewenanganmu, kewenangan negara adalah membasmi kejahatan, bukan membasmi dosa. Kalau cuma mengemis, berdagang di lampu merah atau berdagang tidak tertib, apakah itu sama dengan kejahatan? Engkau membiarkan penjualan mobil dan motor meningkat tanpa engkau imbangi dengan pembangunan prasarananya, sehingga timbul kemacetan di mana-mana. Tidakkah ini ikut memperburuk perekonomian yang diakibatkan oleh ketidakmampuanmu? Tapi mengapa yang engkau persalahkan bertambahnya fakir-miskin?

Pembangunan di mana-mana menyatakan engkau sama sekali tidak pro rakyat kecil. Jangan katakan pembangunan itu menyerap tenaga kerja, jika orang-orang miskin yang bekerja engkau singkirkan. Engkau nyata melanggar UUD 1945.

Engkau bersekolah, engkau memang berilmu. Engkau lulus sekolah, engkau memang pintar. Tapi apakah engkau juga mengerti dan memahami?

"Sebarkan untuk membuka mata dan membuka hati, supaya Indonesia di usia 71 tahun ini bertobat!"

Tidak ada komentar: