Kamis, 15 September 2016

AJARAN-AJARAN YESHUA - 29

Luk. 11:44Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya."

Umumnya sebuah makam itu ditandai dengan batu nisan dan dituliskan nama dari yang meninggal, sehingga orang tahu kalau itu makam dan si A yang meninggal. Tapi ELOHIM YESHUA mengumpamakan mereka seperti makam yang tidak dikasih tanda sehingga orang tidak tahu kalau itu makam dan mereka yang meninggal.

Umumnya orang-orang yang kita sebut berdosa itu gampang kita kenali. Misalnya, perempuan pelacur, pasti mendandani mukanya dengan dandanan menor/mencolok, sehingga laki-laki yang pingin iseng tidak ragu-ragu mendekati dan menanyakan sewanya. Tapi kasus-kasus perselingkuhan sekarang ini justru pelakunya adalah ibu-ibu rumahtangga, orang yang sudah bersuami, mempunyai anak, hidupnya mapan dan dikenal sebagai orang baik-baik, sopan dan ramah.

Umumnya orang-orang yang hobbynya maling itu tinggalnya di perkampungan kumuh, pakaiannya sederhana, wajahnya wajah orang susah, tidak mempunyai motor dan kelihatan sebagai orang yang tidak berpendidikan, sehingga kalau orang ketemu dengan orang yang berciri-ciri seperti itu akan berhati-hati. Tapi maling sekarang ini tidak seperti itu. Pakaiannya seragam kantoran, jabatannya menteri, punya rumah bagus, punya mobil banyak, suka bagi-bagi duit dan rajin sholat. Kita baru tahu kalau dia maling setelah diberitakan ditangkap KPK.

Umumnya orang-orang yang suka main pukul dan suka membunuh itu orang-orang yang tidak berpendidikan, orang yang gampang emosi, tidak beragama, hidupnya di jalanan, dan suka disebut preman. Tapi yang terjadi sekarang ini, yang sukanya main pukul dan main bunuh justru orang-orang yang rajin ke gereja, rajin ke mesjid, dipanggil pak pendeta atau pak kiai. Dan berita yang paling akhir kita dengar adalah jemaah haji yang sedang menjalankan ritual haji di Mekkah, yang harusnya sedang khusyuk-khusyuknya beribadah, eeh, sempat-sempatnya mereka masuk ke ranah politik dan memberikan opini penolakan gubernur Ahok.

Polisi yang harusnya menegakkan hukum, malah suka menjadi pelanggar hukum. Pengadilan yang harusnya menegakkan keadilan, malah suka tidak adil. Tokoh-tokoh agama yang harusnya memberikan panutan hidup, justru malah menerjuni dunia pelacuran, pemerkosaan, korupsi, dan dunia preman. Mereka semua ini seperti kuburan yang tidak diberi tanda. Kuburan tapi seperti bukan kuburan. Orang jahat tapi seperti bukan orang jahat. Mereka menambah kejahatannya dengan penipuan. Jika pembunuh disandingkan dengan pembunuh, maka pembunuh yang dari kalangan ini dosanya bertambah, yaitu penipuan. Mereka mengelabuhi banyak orang!

Itulah sebabnya ELOHIM YESHUA selalu berbicara sangat keras terhadap mereka, sebagai peringatan bahwa dosa atau kejahatan mereka itu melebihi rata-rata orang. Mereka ini lebih jahat dari penjahat yang sejati. Tapi murid-muridNYA diajari supaya jangan gampang-gampang memposisikan diri sebagai bapak, sebagai pemimpin atau sebagai guru;

Matius
23:8Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.
23:9Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.
23:10Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

Bukan tidak boleh disebut bapak atau guru atau pemimpin. Tapi itu menyangkut sebuah tanggungjawab yang teramat berat. Karena itu jangan biarkan jiwa kita dirasuki roh ambisius, sehingga berlomba-lomba menjadi kepala, menjadi pemimpin, menjadi gubernur, menjadi anggota DPR ataupun presiden. Sekalipun kedudukan itu bisa dibeli dengan uang, namun apakah kita bisa menjalankan sesuai amanahnya? Sebab nyatanya banyak yang nggak sanggup mengemban amanah itu sehingga hidupnya harus berakhir di penjara KPK. Buat apa?!

ELOHIM YESHUA mengajarkan kerendahan jiwa;

Matius 23:11Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Dengan jiwa pelayan, yaitu kedudukan yang paling rendah, kita tak mungkin jatuh, sebab sudah di posisi yang paling rendah. Yang bisa jatuh adalah yang berada di ketinggian. Abaikanlah sebutan, abaikanlah kehormatan dan abaikanlah gaji yang besar. Semua orang Kristen harus mengosongkan dirinya, tanpa rencana-rencana, tanpa angan-angan, tanpa keinginan, tanpa harga, tanpa nilai, dan tanpa keuntungan. Biarlah orang Kristen tidak menjadi apa-apa, tetapi menjadi orang Kristen, yakni orang-orang yang melayani, menggarami dan menerangi dunia.

Biarlah kita tahunya bekerja, bekerja dan bekerja untuk kemuliaan TUHAN. Biarlah kita tak tahu apa-apa tentang upah, tentang berapa besar pengorbanan kita, tentang berapa besar jasa-jasa kita. Kita buang kalkulator, kita buang segala hitung-hitungan. Baiklah kita membayar dengan uang besar supaya ada kembaliannya. Baiklah kita memberikan pengorbanan yang lebih besar dari harga-harga, supaya ada pahalanya. Jangan sampai membayar kurang, jangan sampai kita dinilai masih kurang oleh TUHAN sehingga tidak diselamatkan.

Jangan seperti mereka yang menyebut dirinya: "hamba-hamba" TUHAN, tapi yang nyatanya lebih boss dari TUHAN-nya. TUHAN-nya tukang kayu, masak hamba-hambaNYA hidup glamour?!

>> TUHAN-nya ANAK, masak Vatikan menjadi PAPA/POPE/BAPAK?

>> TUHAN-nya tak berkerajaan, masak Vatikan berkerajaan?

>> TUHAN-nya tak bertakhta, masak Vatikan bertakhta?

>> TUHAN-nya tak bermahkota, masak Vatikan bermahkota?

Hasil gambar untuk gambar kuburan

Tidak ada komentar: