Minggu, 16 Oktober 2016

OBROLAN DI RUMAH DUKA

Setelah dipastikan Umar, istri dan anak-anaknya telah meninggal dunia karena bertobat ala Islam dengan minum Baygon, saya melayat ke rumah duka. Di sana sudah banyak kaum Muslim yang melayat. Sambil menunggu jenazah dimandikan, baptis ala Islam, saya berkenalan dengan Hasan, kerabat Umar. Tentu saja jiwa penginjil saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk mengajak Hasan ngobrol tentang keagamaan.

Saya membuka percakapan: "Bung Hasan, apa pendapat anda tentang keputusan yang diambil Umar untuk bertobat dengan cara bunuh diri?"

Hasan menjawab: "Tentu saja Umar telah mengambil keputusan yang paling benar."

Saya bertanya: "Mengapa anda katakan itu benar?"

Hasan menjawab: "Sebab sesuai dengan firman Awloh dalam surrah Al Baqarah 54, bahwa kalau mau bertobat bunuhlah dirimu."

Saya bertanya: "Tapi secara umum, orang tidak membenarkan bunuh diri. Bagaimana menurut anda?"

Hasan menjawab: "Ya, pendapat orang umum dengan firman Awloh jelas beda, donk. Kita kaum Muslim harus mengikuti firman Awloh yang tertulis dalam Al Qur'an."

Saya bertanya: "Apakah sama dengan dilematis kaum Muslim DKI Jakarta dalam Pilkada 2017 mendatang tentang pencalonan Ahok yang bertabrakan dengan Al Maidah 51?"

Hasan menjawab: "Ya, sama, sebab baik Al Baqarah 54 maupun Al Maidah 51 sama-sama merupakan firman Awloh yang kalimatnya sangat jelas."

Saya bertanya: "Anda berkata 'kalimatnya sangat jelas.' Apakah ada kalimat di dalam Al Qur'an yang tidak jelas?"

Hasan menjawab: "Banyak sekali kalimat-kalimat dalam Al Qur'an yang tidak jelas, sehingga membuat orang harus menafsir-nafsirkannya."

Saya bertanya: "Contohnya?"

Hasan menjawab: "QS. 89:1-2: demi fajar dan malam sepuluh. Malam sepuluh itu apa, 'kan nggak jelas.
Itulah sebabnya ada banyak sekali tafsirannya. Ada yang menafsirkannya malam sepuluh itu ialah malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Ada pula yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan Muharram termasuk di dalamnya hari Asyura. Ada pula yang mengatakan bahwa malam sepuluh itu ialah sepuluh malam pertama pada bulan Zulhijjah.”

Saya bertanya: "Baiklah, jadi, kalau kalimatnya sudah jelas, maka itu kalimat positif yang harus dipahami sebagaimana adanya. Saya setuju sekali dan akan berdiskusi dengan anda tentang ayat-ayat yang jelas saja. Saya ingin memastikan saja: Apakah Islam berpegang pada Al Qur'an?"

Hasan menjawab: "Jelas, dan harus."

Saya bertanya: "Kalau Weda, Tripitaka, Alkitab, buku Fisika, buku Kimia, buku matematika, apakah menurut anda?"

Hasan menjawab: "Itu semua bukan pegangan umat Islam."

Saya bertanya: "Jawaban anda mantap sekali. Sekarang saya bertanya: mengapa kaum Muslim kalau sembahyang tidak menggunakan hioswa seperti orang Klenteng?"

Hasan menjawab: "Sebab tidak ada di Al Qur'an."

Saya bertanya: "Bagaimana dengan sholat 5 waktu. Apakah ada di Al Qur'an?"

Hasan menjawab: "Oh itu adanya di hadist."

Saya bertanya: "Mengapa tidak dituliskan dalam Al Qur'an? Mengapa bertobat dengan bunuh diri dituliskan dalam Al Qur'an dengan kalimat yang sangat jelas, tapi sholat 5 waktu yang merupakan kewajiban sehari-hari kaum Muslim tidak dituliskan dalam Al Qur'an? Mana yang lebih penting antara bertobat dengan sholat 5 waktu? Bukankah Umar sebelum melaksanakan amanah QS. 2:54 adalah seorang Muslim yang harus sholat 5 waktu? Malah Umar adalah Muslim sejak lahir, berarti 30 tahun dia adalah Muslim yang wajib bersholat 5 waktu. Jadi, Umar selama 30 tahun melakukan tulisan hadist, dan baru sekarang Umar melakukan perintah Al Qur'an. Apakah ini tidak terbalik?"

Hasan ketawa: "Hua..ha..ha....... waah, ketahuan nih, kekonyolan Al Qur'an. Pikiran abang sama dengan pikiran saya. Itulah sebabnya saya sekalipun Islam tak pernah sholat 5 waktu. Sebab saya ini oleh orangtua saya di sekolahkan, bukan anak gelandangan yang tidak bersekolah. Karena itu logika saya jalan. Saya umpamakan seorang polisi kalau menyidik penjahat pasti ingin mendapatkan jawaban yang masuk akal dan berdasarkan bukti-bukti. 'Kamu bilang tidak mencuri, apa buktinya?' Bukankah polisi akan bertanya begitu? Demikian pula pikiran saya ketika melihat Abi dan Ummi saya sholat 5 waktu, saya bertanya dalam hati: siapa yang suruh begitu itu?"

Saya bertanya: "Iyah, ketika orang bertanya: mengapa kaum Muslim menolak kepemimpinan Ahok, kalian bisa menjawab dengan cekatan: karena Al Maidah 51. Begitu pula kalau orang bertanya: kenapa Umar bunuh diri, kalian bisa menerangkan: karena Al Baqarah 54. Coba seandainya surrah Al Maidah 51 itu bunyinya: 'Wahai kaum Muslim, kalian wajib bersholat 5 waktu', bukankah ketika saya bertanya seperti tadi, anda sudah bisa langsung menunjukkan ayatnya?"

Hasan ganti bertanya: "Baiklah, saya akui di situlah letak kekurangsempurnaan Al Qur'an sebagai firman Awloh. Tapi bagaimana dengan kaum Nasrani yang ibadahnya hari Minggu?"

Saya menjawab: "Tidak ada orang Kristen yang ibadahnya hari Minggu, bung Hasan. Orang Kristen itu ibadahnya ya hari Sabat, bukan hari Minggu."

Hasan bertanya: "Lalu, gereja-gereja itu?"

Saya menjawab: "Gereja error. Kalau mau tahu gereja Kristen, ya di Alkitab. Yang tidak seperti Alkitab, ya bukan Kristen namanya. Kasusnya sama dengan pembicaraan kita sekarang ini. Mereka kalau ditanya: mengapa mereka menyembah Yesus? Mereka pasti menjawab: karena ada di Alkitab. Tapi ketika ditanyakan: mengapa kamu beribadah di hari Minggu, mereka gelagapan karena tidak ada di Alkitab. Coba seandainya Ibrani 4:9 itu bunyinya: "Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari Minggu, bagi umat Allah." Mereka pasti akan menggunakan ayat itu untuk menjawab pertanyaan orang. Mereka pasti akan menuduh orang-orang Yahudi yang ibadahnya Sabtu itu sesat karena tidak sesuai Alkitab. Tapi nyatanya Ibrani 4:9 bunyinya tidak seperti itu, melainkan: "Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah." Itulah sebabnya mereka nyata-nyata melakukan kesalahan yang teramat fatal. Hua..ha..ha......"

Sayang percakapan mendadak terpaksa harus diakhiri karena jenazah-jenazah itu sudah selesai di 'baptis'

dan segera akan dikebumikan. Terdengarlah kaum Muslim bermazmur: "lailahaillah, lailahaillah, lailahaillah, lailahaillah, lailahaillah, lailahaillah ..........."


Hasil gambar untuk gambar menggotong jenazah

Tidak ada komentar: