Rabu, 05 Oktober 2016

RUSIA SIAPKAN PERANG NUKLIR?

Soal Suriah, AS Putuskan Saluran Bilateral dengan Rusia

WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memutuskan pembicaraan atau saluran bilateral dengan Rusia terkait krisis Suriah. Alasannya, Rusia tidak memegang komitmennya untuk menghentikan kekerasan di Suriah.

”Amerika Serikat menangguhkan partisipasinya dalam saluran bilateral dengan Rusia yang didirikan untuk mempertahankan penghentian permusuhan,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Menurut seorang pejabat senior AS, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry terakhir berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, pada Selasa (4/10/2016). Pekan lalu, Kerry sudah mengancam akan hengkang dari pembicaraan dengan Rusia setelah Moskow menolak menghentikan serangan di Aleppo, Suriah.

Sementara itu, di Moskow, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan bahwa AS sedang berusaha untuk bergeser posisi guna menyalahkan Rusia, yang dalam beberapa hari terakhir telah mencoba untuk mempertahankan perjanjian gencatan senjata.

Terlepas dari klaim AS atau Rusia yang benar, pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang didukung oleh milisi Iran dan kekuatan Angkatan Udara Rusia, sejak pekan lalu telah meningkatkan serangannya ke wilayah yang dikuasai pemberontak di Aleppo. Serangan rezim Suriah ini menghancurkan sejumlah rumah sakit hingga pasokan air bersih.

Seorang pejabat intelijen AS mengatakan aksi pengeboman di Aleppo adalah salah satu yang paling mematikan sejak perang saudara meletus di Suriah tahun 2011.

”Serangan udara ini, sebagian besar difokuskan pada Aleppo, dan telah memanfaatkan berbagai amunisi mematikan, termasuk bom barel, bom thermobaric, amunisi pembakar, bom cluster dan bom busters bunker,” ujar pejabat intelijen yang berbicara tanpa bersedia menyebut nama, seperti dikutip Reuters.


Salahkan Rusia, AS Batal Bahas Perlucutan Senjata di Suriah

TEMPO.CO, Washington- Amerika Serikat membatalkan pembahasan kesepakatan perlucutan senjata di Suriah dengan Rusia. Pembatalan itu disampaikan pada hari Senin, 3 Oktober 2019.

AS menuding Moskow tidak memenuhi komitmennya yang telah disepakati pada tanggal 9 September 2016 untuk menghentikan pertempuran dan memastikan bantuan kemanusiaan diterima masyarakat yang terkurung oleh perang sipil di Suriah.

Pembatalan pembahasan perlucutan senjata antara AS dan Rusia yang terlibat perang di Suriah membuat harapan semakin redup untuk menghadirkan solusi diplomasi dalam waktu dekat.

Perang antara pasukan presiden Bashar al-Assad yang didukung Rusia melawan para pemberontak yang didukung As telah berlangsung selama  lima tahun enam bulan. Ratusan ribu orang telah tewas dan 11 juta orang hidup dalam pengungsian.

"AS membatalkan keterlibatannya dengan Rusia yang dilakukan untuk menghentikan permusuhan," kata John Kirby, Juru bicara Departemen Luar Negeri, seperti dikutip dari Reuters, 3 Oktober 2016.

Pertemuan terakhir Menteri Luar Negeri AS John Kerry dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membahas Suriah terjadi pada Sabtu, 1 Oktober 2016. Menurut pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, Kerry sempat mengancam meninggalkan ruang rapat.

Di Moskow, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova kepada wartawan mengatakan AS berusaha menyalahkan Rusia yang berusaha mempertahankan kesepakatan itu.

Sementara pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang didukung milisi Iran dan angkatan udara Rusia melanjutkan serangan melawan para pemberontak di Aleppo, kota terbesar di Suriah, meledakkan rumah sakit dan merusak suplai air.

Di kota Hasaka, bom meledak di acara pernikahan warga Kurdi yang menewaskan sedikitnya 20 orang.

Suriah Semakin Panas, Rusia Bersiap Hadapi Perang Nuklir  

TEMPO.CO, Moskow - Rusia memperingatkan rakyatnya untuk bersiap-siap menghadapi perang nuklir dengan negara-negara Barat. Sejumlah tempat penampungan di bawah tanah telah dibangun di Moskow, ibu kota Rusia, sebagai tempat menyelamatkan diri jika perang nuklir dengan Barat terjadi.

Menurut Rusia, Amerika Serikat akan menembakkan senjata nuklirnya ke Rusia sebagai balasan atas keterlibatan Rusia di Suriah.

Media Rusia dan pejabat Rusia menjelaskan, ketegangan di Suriah memanas setelah perang sipil yang semakin tak terkendali di Suriah.

"Si Gila Amerika akan meluncurkan senjata nuklirnya ke Moskow," ujar Kementerian Pertahanan Rusia melalui siaran televisi Rusia, Zvezda, pekan lalu dan dikutip Mirror, 3 Oktober 2016.

Tempat penampungan bawah tanah di Moskow yang dipersiapkan untuk menyelamatkan diri dari serangan senjata nuklir dari Barat mampu menampung 12 juta orang.

Rusia merupakan negara dengan persediaan senjata nuklir terbesar di dunia, yakni sebanyak 8.400 hulu ledak nuklir. Adapun AS memiliki 7.500 hulu ledak nuklir.

Rusia mendukung pemerintah Suriah yang dipimpin Bashar al-Assad. AS mendukung para pemberontak anti-Assad di Suriah. Rusia bersama pasukan Assad saat ini berusaha menguasai wilayah yang dikuasai pemberontak anti-Assad di timur Aleppo. Di sana tinggal lebih dari 250 ribu penduduk.

Rusia telah mengeluarkan peringatan bahwa AS akan menghadapi guncangan yang mengerikan sebagai konsekuensi jika mereka melakukan tindakan militer kepada pemerintah Suriah.

Gelar Latihan Perang Nuklir, Rusia Kerahkan 40 Juta Orang

MOSKOW - Rusia meluncurkan latihan pertahanan sipil nasional guna memastikan negara itu siap dalam hal serangan nuklir, kimia, dan biologis dari Barat. Latihan perang ini dilakukan ditengah meningkatnya ketegangan internasional, khususnya terkait dengan keterlibatan Rusia di Suriah.

"Penderita skizofrenia dari Amerika tengah mengasah senjata nuklir untuk Moskow," bunyi laporan yang diturunkan oleh jaringan televisi Zvezda yang dikelola Kementerian Pertahanan Rusia seperti dikutip dari Independent, Rabu (5/10/2016).

Berlangsung selama 3 hari, latihan perang ini melibatkan 200 ribu personel situasi darurat bekerjasama dengan 40 juta warga sipil. Latihan ini diadakan oleh Kementerian Pertahanan Sipil, Darurat dan Penanggulangan Dampak Bencana Alam (EMERCOM).

"Latihan akan meliputi latihan terkait radiasi, kimia, dan perlindungan biologis secara personil dan populasi selama keadaan darurat di fasilitas yang penting dan berpotensi berbahaya. Pemadam kebakaran, pertahanan sipil, dan perlindungan masyarakat pada lembaga-lembaga sosial dan bangunan publik juga direncanakan akan dilibatkan," bunyi pernyataan EMERCOM.

"Unit reaksi cepat akan disebar dan pusat pemantauan biologi selama latihan radiasi, kimia, serta menempatkan sanitasi di daerah darurat, sementara jaringan kontrol laboratorium akan dalam keadaan siaga," sambung pernyataan itu.

Selain latihan nasional, EMERCOM telah mengumumkan niatnya untuk membangun fasilitas bawah tanah di bawah Moskow untuk melindungi 100 persen populasi ibukota dari serangan nuklir.

 Hasil gambar untuk obama putin


Gelar Latihan Perang Nuklir, Rusia Kerahkan 40 Juta Orang

Tidak ada komentar: