Rabu, 23 November 2016

SIAPAKAH MANUSIA?

Siapakah manusia? Menurut siapa? Menurut Darwin, manusia itu adalah monyet-monyet yang berevolusi. Tapi faktanya hanya ada teorinya, tidak ada pada prakteknya. Tidak ada catatan sejarah yang memberikan kesaksian tentang berubahnya monyet menjadi manusia, juga belum pernah ada seekor monyetpun yang menyapa manusia: "Hai, anak-anakku", atau manusia yang menyapa monyet: "Engkau adalah bapakku", seperti Ario Kiswinar yang menuntut diakui anak oleh Mario Teguh. Sebaliknya, kalau manusia yang berevolusi menjadi monyet, ini yang banyak sekali. Setidaknya di perempatan-perempatan jalan suka ada orang yang menjajahkan topeng monyet, sebagai cara praktis untuk menjadi monyet.

Menurut Georges Lemaitre, manusia itu berasal dari ledakan besar atau big bang. Di duga ada seorang teroris yang meledakkan bom molotov ke gereja Oikumene di Samarinda, lalu pecahan bom itu menjadi planet-planet yang mengenai anak-anak Balita, hingga seorang di antaranya meninggal dunia. Teori big bang diklaim seorang penulis buku-buku ilmiah; Harun Yahya, sebagai teori yang membenarkan ayat-ayat Al Qur'an tentang penciptaan alam semesta. Namun teori tersebut dibantah habis-habisan oleh Stephen Hawking, bahwa alam semesta ini tidak mungkin terjadi karena ledakan bom Samarinda, melainkan diciptakan oleh makhluk alien. Kata Stephen Hawking;


"Karena adanya  hukum alam, seperti gravitasi, semesta dapat mencipta dirinya sendiri dari ketiadaan... Tak perlu untuk menyeru pada Tuhan untuk menyalakan kertas biru dan mengatur alam semesta." (Hawking: God did not create Universe, The Times)

Itu kata Stephen Hawking. Kata dokter, manusia adalah hasil hubungan biologis laki-laki dengan perempuan. Manusia adalah anak-anaknya ayah dan bunda. Tentu saja teori dokter tersebut menjadi kabur oleh pengetahuan kita yang ternyata ayah dan bunda kita mempunyai ayah dan bunda lagi. Di Batak, nyata ada banyaknya ayah-bunda, seperti dinyatakan pada masing-masing marganya. Belum lagi di China, Menado, Israel, dan lain-lainnya yang menggunakan silsilah marga. Berarti ada jutaan tuhan di dunia ini sehingga tidak menjawab teori asal-usul yang mengharuskan dimulai dari angka nol atau satu atau dimulai dari kecil.

Hanya Alkitab yang memberikan jawab bahwa alam semesta ini dijadikan dari angka satu;

Kejadian 1:1Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Bahwa pada mulanya adalah ELOHIM yang esa. Dari DIA-lah segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Dan kalaupun di alam semesta ini dipekerjakan oleh system hukum-hukum alam, seperti gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, dan lain-lainnya, hukum-hukum alam itu dibuat oleh ELOHIM YAHWEH;

Mzm. 74:17Engkaulah yang menetapkan segala batas bumi, musim kemarau dan musim hujan Engkaulah yang membuat-Nya.

Ams. 8:29ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi,

Yohanes 1:3Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Segala sesuatu dijadikan oleh DIA yang Mahakuasa adalah jawaban yang paling kuat atas pertanyaan tentang asal-usul alam semesta ini. Tapi kalau ditanyakan tentang siapakah yang disebut manusia, jelas dia adalah anak-anak ELOHIM YAHWEH, yaitu orang-orang percaya yang diselamatkan. Sebab orang-orang yang tidak diselamatkan termasuk dalam golongan iblis yang akan dibinasakan, sehingga menjadi tidak ada. Manusia-manusia itu, yaitu orang-orang jahat itu tidak ada sekalipun pernah ada. Sebab 1 - 1 adalah nol, tapi 0 + 1 = 1. Jika semula ada lalu tidak ada, maka keberadaannya menjadi tidak ada artinya sama sekali.  Masih lebih baik asalnya tidak ada tapi kemudian ada.

Tentang manusia Alkitab nyatakan adalah orang-orang berdosa semuanya, dan upah dosa adalah maut, sehingga semua manusia terancam binasa. Tapi Alkitab juga menawarkan jalan keluar, yakni keselamatan melalui YESHUA ha MASHIA, sehingga orang-orang yang terancam dimusnahkan itu bisa ada untuk selama-lamanya.

Dari situ bisalah kita simpulkan bahwa yang disebut manusia adalah orang-orang Kristen saja. Al Qur'an sendiri menyatakan bahwa yang bukan Kristen adalah monyet atau kera;

QS. 2:65    Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina".

Kaum Muslim pasti setuju jika Firman Awloh itu "Kunfayakun", jika DIA bersabda: "Jadilah", akan terjadi sebagaimana yang disabdakanNYA itu. Karena itu jika Awloh bersabda: "Jadilah kamu kera yang hina", maka semua orang yang melanggar hari Sabat adalah monyet-monyet yang hina.

Maka kaum Muslim akan berkilah bahwa peraturan hari Sabat itu hanya untuk orang Yahudi saja. Benarkah? Mari kita buka ayat-ayat yang sebelumnya;

QS. 2:62    Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Ayat itu menyebutkan tentang orang-orang mu'min yang tidak lain adalah orang-orang Muslim. Orang Mu'min digandengkan dengan orang Yahudi, orang Ahok, dan orang-orang Shabiin. Berlawanan dengan Al Maidah 51, 'kan?! Ya, sudahlah, kita tidak sedang membahas Al Maidah, tapi Al Baqarah. Ayat berikutnya?

QS. 2:63   Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa".

Di situ disebutkan tentang gunung Thursina, yaitu gunung Sinai, tempat ELOHIM YAHWEH bersabda kepada bangsa Israel. Disebutkannya kisah itu merupakan permulaan dari peraturan hari Sabat. Karena pada waktu itu masih belum ada agama mu'min, Awloh mengajak kaum mu'min untuk melihat ke zaman nabi Musa. Jadi, ayat itu bukan untuk orang Yahudi dan orang Ahok, tapi untuk pelajaran bagi kaum Muslim yang tak mengerti tentang kisah itu.

Ayat berikutnya;

QS. 2:64    Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.

Ayat itu bercerita tentang orang-orang Yahudi yang berpaling dari kebenaran, tapi merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu ditujukan untuk kaum Muslim yang disebut: mu'min.

Orang-orang Yahudi yang berpaling, yaitu yang berdosa, beruntung adanya kasih karunia ELOHIM YAHWEH dalam YESHUA ha MASHIA, sehingga dosa-dosa mereka bisa diampuni. Sebab dosa tidak bisa ditebus dengan amal;


Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-’amal no. 6463, 6464, 6467:
“Tepatlah kalian, mendekatlah, dan bergembiralah, karena sesungguhnya amal tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” Para shahabat bertanya: “Termasuk juga anda wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, termasuk juga saya, kecuali jika Allah menganugerahkan ampunan dan rahmat kepadaku.”


Muhammad tidak mengatakan dirinya tidak berdosa, tapi dia memposisikan dirinya sebagaimana kaum Muslim lainnya yang berdosa, seperti teroris-teroris bom, FPI dan ISIS, yang membutuhkan pengampunan dan rahmat atau kemurahan hati ELOHIM YAHWEH. Itu dinyatakan dari gelarnya: SAW -
Shalallaahu 'Alayhi Wasallam, yang artinya: "semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya"


Juga dinyatakan dari kewajiban kaum Muslim mendoakannya;

QS. 33:56    Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya

Keterangan nomor 1231:  Dengan mengucapkan perkataan yang artinya: "Semoga keselamatan tercurah kepadamu hai nabi."

Muhammad perlu digotong beramai-ramai melalui doa kaum Muslim supaya dikasihani oleh Awloh, supaya mendapatkan kasih karunia. Dan Al Qur'an secara keseluruhannya memang tidak memiliki konsep keselamatan. Justru semua orang Islam dipastikan akan menghuni neraka menunggu dikasihani oleh Awloh, barulah dipanggil dari neraka;

QS. 19:71    Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

Main api, ya kena api. Kaum Muslim harus mencicipi api sebagaimana orang-orang yang mereka lukai oleh bom mereka. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Dan Tuhanmu berbeda dengan TUHANku;

Yohanes 3:18Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Selain itu juga dinyatakan dari doa setiap hari kaum Muslim;
   

QS. 1:6    ihdinaa alshshiraatha almustaqiima - Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Nyaris tak ada gunanya mempunyai Al Qur'an, mempunyai nabi Muhammad, mempunyai Jibril dan mempunyai Awloh, sebab nyatanya kaum Muslim masih mempertanyakan "Jalan yang lurus" itu. Tapi Kristen mempunyai jawaban yang jelas;

Yohanes 14:6Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Begitu pula Al Qur'an sebenarnya sudah menunjukkannya;

QS. 43:61     Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.

ISA itulah Siratal Mustaqim itu! Tak ada yang lainnya lagi sebagaimana kata rasul Petrus;

Kis. 4:12Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Menurut ayat di atas yang namanya manusia adalah yang di dalam nama YESHUA ha MASHIA, yakni orang-orang yang menguduskan hari Sabat, sebab DIA-lah TUHAN atas hari Sabat;

Mat. 12:8Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Jadi, yang disebut kera oleh Al Baqarah 65 adalah orang-orang yang melanggar hari Sabat, termasuk kaum mu'min.

Hasil gambar untuk gambar kera

Tidak ada komentar: