Minggu, 25 Desember 2016

AHOK MELANGGAR KALENDER

Kata Ahok: "Bagiku setiap hari adalah Natal."

>> Apakah hanya bagimu saja? Untunglah kalau itu hanya bagimu saja. Sebab kamu itu gubernur, bukan nabi, sehingga kamu bukanlah pengajar yang perkataannya harus diikuti.

>> Jika setiap hari adalah Natal, maka kamu melanggar hukum kalender. Sebab menurut kalender, Natal itu tanggal 25 Desember saja.

>> Jika setiap hari Yesus harus dilahirkan, kapan besarnya? Kapan dia akan mulai mengajar dan kapan dia akan menghadapi salib? Siapa yang sanggup menyusuinya setiap hari, menggendongnya kalau nangis dan mengganti pampersnya?

>> Jadi, siapakah Yesus? Bayi! Bayi terus, bayi selama-lamanya, supaya jangan sampai dia mengajar dan menjadi Tuhan atas hari Sabat. Itulah sebabnya Al Kitab ditutup selama-lamanya, disimpan di dalam lemari. Ngapain mendengarkan ocehan bayi?!

>> Siapa yang sanggup menyelenggarakan misa Natal setiap hari, menghias pohon cemara plastik setiap hari, mengirimkan kartu ucapan selamat Natal setiap hari, membeli baju baru setiap hari, karena tanggalnya merah maka tidak kerja selama-lamanya?

>> Apakah karena Kristen sehingga boleh ngomong atau bicara ngawur tanpa memperhatikan kaidah hukumnya omongan itu?

Kata temannya Ahok: "Yesus lahir di hatiku."

Maksudmu, setelah dia lahir di hatimu sebagai bayi, besok kalau sudah besar hendak kamu ajari maling, nyopet, korupsi, selingkuh, menipu, berbohong, membual dan membikin cerita-cerita dongeng?

Di hatimu ternyata isinya bayi Yesus, bukan Tuhan Yesus, ya?! Pantas saja Al Kitab kamu anggap hiasan lemari.

Berlawanan dengan ajaran YESHUA ha MASHIA yang menuntut kita supaya dilahirkan kembali di dalam ROH KUDUS. Kita yang harus menjadi bayi yang disusui ROH KUDUS, dibalik oleh orang-orang Minggu, Yesus yang dilahirkan di hati kita.

Mat. 12:37Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Kebenaran itu menuntut: berpikir yang benar, berbicara yang benar dan berbuat yang benar. Berbicara dengan hikmat ROH KUDUS tak mungkin akan kesalahan membikin kalimat. Dan perkataan hikmat itu sifatnya mengunci yang tidak memberi peluang kepada lawan untuk menyerang perkataan kita kembali. Itulah sebabnya orang-orang mengambil batu untuk melempari kita, sebab mereka sudah tidak bisa memperdebatkan perkataan kita.

Tidak ada komentar: