Senin, 05 Desember 2016

KEPADA PARA PRIA TUHAN BERSERU

Dunia ini amburadul adalah karena manusia tidak menurut ajaran TUHAN, dan memakai akal pikirannya sendiri. Negara rusak dan rumahtanggapun menjadi tidak harmonis. Kalau contoh TUHAN, bentuk pemerintahan itu adalah kerajaan, bukan republik. Bentuk kerajaan dipimpin oleh satu orang saja, yaitu raja. Tapi bentuk republik kekuasaan ada di tangan rakyat, di tangan banyak orang, di tangan banyak macam pikiran.

Rumahtangga yang dicontohkan TUHAN, laki-laki adalah kepala, sedangkan perempuan sebagai penolong. Tapi rumahtangga masa kini berkonsep emansipasi perempuan, sehingga kekuasaan laki-laki sebagai kepala tidak lagi dominan, melainkan segala sesuatu harus dirundingkan dengan istrinya. Akibatnya, setiap kali rundingan terjadilah perbedaan pendapat yang berakhir dengan pertengkaran.

Seorang pemimpin diurapi dengan minyak, artinya TUHAN mengaruniakan ROH KUDUS ke atas orang itu untuk memimpin anggotanya dengan hikmat dari TUHAN. Karena itu seorang pemimpin memiliki kedudukan yang lebih dibandingkan dengan anggotanya oleh adanya ROH KUDUS itu, sehingga segala keputusan yang dibuatnya pasti bijaksana dan benar, baik di mata manusia maupun di mata TUHAN. Dan karena TUHAN sudah bersamanya, melalui ROH KUDUSNYA, maka segala kebijaksanaan yang dibuatnya tidak perlu dan tidak boleh dirundingkan dengan anggotanya. Apa saja yang diputuskannya disamakan dengan keputusan TUHAN, tidak boleh diperbantahkan. Entah baik atau tidak baik menurutmu, entah benar atau tidak benar menurutmu, entah menyenangkan atau tidak menyenangkanmu, kamu tidak dalam posisi berhak mengeluarkan pendapat. Apa yang merupakan hak pemimpin, bukan hak bagi anggota. Anggota kewajibannya hanya mengikutinya saja, bukan mengkritisi.

ROH KUDUS membuat orang menjadi pintar dalam waktu sekejap, tidak perlu kursus, tidak perlu seminar, tidak perlu sekolah dan tidak perlu kuliah, dan membuat orang itu seketika mengalahkan kepintaran semua orang yang dipimpinnya. Itulah kelebihan yang TUHAN berikan kepada orang yang dipilihNYA untuk memimpin.

Dunia yang dikuasai oleh iblis yang hendak diarahkan untuk dihancurkan, berusaha diselamatkan oleh ELOHIM YAHWEH melalui kelahiran bangsa Israel. Bangsa Israel yang dipilih dan diurapiNYA, direncanakan supaya mengambil kepemimpinan atas dunia ini supaya tidak semakin dirusakkan oleh iblis. Tapi sayang, bangsa Israel tidak memahaminya dan selalu tidak mau menuruti petunjuk ROH KUDUS, melainkan lebih menyukai menggunakan rancangannya sendiri. Suara ROH KUDUS yang menaungi kepala raja-raja Israel semakin hari semakin diabaikan;

Yesaya
63:8Bukankah Ia berfirman: "Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang," maka Ia menjadi Juruselamat mereka
63:9dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala.
63:10Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka.

Karena suara ROH KUDUS tidak didengar, melainkan lebih suka mendengarkan perkataan orang, maka rusaklah kerajaan Israel. Kerajaan itu mengalami pasang surut karena langkanya raja yang benar di mata TUHAN. Kadang rajanya baik kadang rajanya jahat sehingga Israel tidak bisa dijadikan alat pilihan TUHAN. Israel telah menjadi seperti pedang yang tumpul yang tidak bisa digunakan untuk berperang melawan setan.

Rusaknya Israel membuat kita tidak mempunyai contoh yang utuh tentang kepemimpinan ROH KUDUS, melainkan hanya dari serpihan-serpihannya saja. Misalnya, ketika kerajaan Yehuda di pimpin oleh Asa. Ketika raja Asa berpaut pada TUHAN, kerajaannya selalu memenangkan peperangan, menjadi kerajaan yang disegani bangsa-bangsa lain, dan rakyatnya bisa menikmati kemakmuran karena tidak ada peperangan lagi. Tapi pada akhirnya raja Asa mulai meninggalkan TUHAN, sehingga TUHAN menubuatkan akan adanya peperangan lagi;

2Tawarikh
16:8Bukankah tentara orang Etiopia dan Libia besar jumlahnya, kereta dan orang berkudanya sangat banyak? Namun TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, karena engkau bersandar kepada-Nya.
16:9Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan."

Seorang raja saja, jika dia berpaut pada TUHAN, maka seluruh rakyatnya akan patuh padanya, akan hormat padanya, lawan-lawannya segan padanya, dan kerajaan itu menikmati kemakmuran. Lebih-lebih lagi bagi seorang suami yang hanya memimpin istri dan anak-anaknya. Pasti rumahtangga itu akan menikmati kebahagiaan.

Sebab jika perkataan itu dari TUHAN datangnya, siapakah yang sanggup membantah atau menentangnya? Pasti semua orang akan menyetujuinya. Jikapun ada satu atau dua orang yang menentang, pasti bisa dengan mudah dipadamkan, sehingga secara garis besarnya, pemimpin itu dengan mudah dan lancar menjalankan keseluruhan program-programnya yang dari TUHAN, maka tercapailah kemakmuran dan kebahagiaan yang didambakan.

Tapi kalau perkataan itu dari dirinya sendiri, sehingga setara dengan pemikiran orang-orang yang lainnya, maka timbullah pertimbangan-pertimbangan. Perkataan itu menjadi mempunyai lawan untuk memperdebatkannya, maka terjadilah perselisihan, pertengkaran, perkelahian hingga peperangan. Sebab seimbang. Jadi, ketenteraman itu didapatkan dari ketimpangan, sedangkan peperangan ditimbulkan karena adanya keseimbangan. Contohnya: kalau tubuh kita kekar siapakah yang berani melawan kita? Yang melawan kita pasti orang-orang yang bertubuh kekar juga. Nggak mungkin orang kurus akan melawan orang kekar.

Nah, kunci untuk mendapatkan kekuatan yang melebihi orang lain, adalah TUHAN. Kita harus berpaut dengan segenap hati pada TUHAN, lalu peganglah kepemimpinan. Kepemimpinan yang berasal dari TUHAN pasti bijaksana. Kalau bijaksana pasti akan mendapatkan dukungan orang lain. Kalau didukung pasti tidak ada pertentangan. Kalau tidak ada pertentangan pasti makmur.

Tapi, betapa celakanya bila kita menjauhi TUHAN. Pemikiran yang baik pasti takkan muncul. Sudah begitu derajat kekuasaan kita rendahkan, dari kerajaan menjadi republik, dari raja menjadi presiden, dari kekuasaan mutlak menjadi tidak mutlak, dari tangan kita menjadi di tangan orang lain, orang banyak. Segala sesuatu harus dirundingkan, harus dirapatkan, harus dimusyawarahkan, harus didukung oleh suara terbanyak. Kalau di rumahtangga, suami sudah menurunkan derajatnya sehingga tidak lagi dominan, lalu si istri dinaikkan menjadi setara suaminya, maka jadilah 2 pemimpin dalam 1 rumah. Dan yang demikian ini disokong hukum oleh pemerintah.

Konsepnya saja sudah kacau; tumpang tindih. Pemerintah mengakui kepala rumahtangga adalah laki-laki, tapi pemerintah juga menyatakan kedudukan perempuan yang sejajar dengan laki-laki. Bilangnya presiden itu kepala negara, tapi dibilang juga kekuasaan ada di tangan rakyat. Sebuah konsep yang membuka ruang bagi pertentangan atau peperangan. Seperti kita tahu kalau listrik positif dihubungkan dengan listrik negatif akan menimbulkan kebakaran, maka jika konsep keseimbangan kekuasaan itu dipraktekkan, istri-istri menggunakan hak-haknya dan demo-demo FPI karena hak konstitusinya, maka kewalahanlah para suami dan sang presiden. Semuanya sama-sama memiliki kekuatan hukum.

Saya dulu juga berpikir bahwa istri harus dilibatkan dalam segala urusan pekerjaan. Saya tidak boleh memakai jalan saya sendiri, melainkan harus dirundingkan dengan istri. Akibatnya jelas fatal sekali. Rencana-rencana yang sudah tersusun di kepala saya, selalu dimentahkan oleh istri saya. Saya menyusun rencana dengan pikiran berhari-hari dan dengan kalkulator, dilawan oleh istri hanya dengan perasaannya. Rencana berantakan, rumahtangga berantakan juga. Padahal belum tentu rancangan saya tersebut gagal atau buruk. Tapi sudah keburu diveto.

Konsep itu jelas tidak benar sama sekali. Sebab saya ini sudah berdagang sejak lulus SMU dan sudah menggunakan perhitungan masak. Masak pedagang dilawan dengan ibu rumahtangga? Apa pengalaman dia di bidang perdagangan sehingga hendak menasehati saya?! Hanya oleh sebab istri?! Masak pembuat bakso menanyakan bumbu soto? Bukan levelnya! Saya memikirkannya berhari-hari dengan perhitungan, masak dilawan dalam sekejapan dan tanpa perhitungan?! Harusnya, kalau mau menasehati itu pakailah pikiran dan perhitungan juga.

Sekarang saya baru mengerti, bahwa kita harus berbagi tugas. Jika tugas saya bekerja mencari nafkah, maka itu harus saya lakukan sendiri, entah gagal atau berhasil, entah untung atau buntung. Dan kalau saya memerlukan rundingan, itu harus dengan sesama pedagangnya, bukan dengan ibu rumahtangga. Demikian halnya dengan segala tulisan saya di facebook ini. Saya tidak membiarkan diri saya dilecehkan atau direndahkan oleh komentator-komentator sembarangan, yang asal komentar doank. Saya menggunakan ayat-ayat dan ilustrasi-ilustrasi yang kuat, masakan hendak dipatahkan oleh anak-anak ingusan dengan dalil-dalil yang memuakkan. Karena itu saya kebaskan debu kaki saya. Nggak level! Kalau mau diskusi ya imbangilah kekuatan saya, jangan murid menggurui gurunya. Saya tidak boleh memberikan mutiara saya kepada babi. Jabatan yang TUHAN berikan ke saya sebagai imamat yang rajani merupakan amanah yang harus saya pegang teguh.

Pemerintahan raja dan kepala perempuan adalah laki-laki, merupakan suatu ketetapan TUHAN, supaya ada perbedaan antara raja dengan rakyat, antara tuan dengan hamba, antara pemimpin dengan yang dipimpin, antara guru dengan murid, dan antara laki-laki dengan perempuan. Antara siapa yang harus dituruti dengan siapa yang harus menuruti, harus ada perbedaan yang jelas.

Raja yang membuang kerajaannya dan suami yang menyetarakan diri dengan istrinya, merupakan pelanggaran hukum, merupakan dosa. Demikian pula dengan rakyat yang melawan raja maupun istri yang melawan suami juga merupakan dosa. Siapa saja yang melanggar garis perbatasannya, bersalah.

Sebagaimana laki-laki diciptakan yang pertama, baru kemudian perempuan, demikianlah laki-laki ditempatkan oleh ELOHIM YAHWEH sebagai yang pertama, sebagai yang sulung, sebagai yang pertama. Dan kepada anak sulung diberikan hak-hak istimewa; laki-laki diberikan akal pikiran untuk berpikir, untuk berhitung, sedangkan kepada perempuan diberikan perasaan untuk menikmati. Dengan kata lain, laki-laki yang memasak, perempuan bagian yang menikmati.

Itu menjadi filosofi bagi manusia, bahwa manusia itu harus terdiri dari perhitungan dan perasaan. Menggunakan perhitungan saja tidak boleh, menggunakan perasaan saja juga tidak boleh. Harus ada keseimbangannya; perhitungan harus menjadi dasar bagi perasaan. Jangan dibalik; perasaan yang dijadikan dasar perhitungan.

>> Kalau perasaan saja, orang akan bilang: "kurang perhitungan."

>> Kalau perhitungan saja, orang akan bilang: "tak punya perasaan."

Contohnya: Apakah kalau dagangan sepi anda berhenti memberi fakir-miskin? Itu namanya perhitungan saja, tak punya perasaan. Apakah kalau uang anda pas-pasan akan anda berikan ke fakir-miskin? Itu namanya perasaan saja, tanpa perhitungan. Lalu, benarnya bagaimana? Memberi fakir-miskin itu jangan digantungkan pada keuntungan, tapi pada kepunyaan. Punya uang atau enggak? Kalau punya, ya berikanlah, kalau nggak punya, ya jangan dipaksakan. Jangan diperhitungkan dengan dagangan, tapi dengan kepunyaan.

Apa beda perhitungan dengan perasaan? Kalau perasaan itu iramanya tetap sebab timbul dari kebiasaan. Dari kebiasaan menjadi naluri. Sedangkan perhitungan itu bisa berubah-ubah menurut situasinya. Dia mengikuti keuntungan. Seumpama mobil, perasaan itu gasnya, perhitungan itu remnya. Kalau tak ada masalah, ya jalan saja terus. Tapi manakala ada masalah, remlah!

Nah, ELOHIM YAHWEH memberikan perhitungan pada laki-laki dan berbicara pada laki-laki, supaya laki-laki itu mengerem atau mengendalikan istrinya. Supaya perhitungan itu mengendalikan perasaan.

Ams. 8:4"Hai para pria, kepadamulah aku berseru, kepada anak-anak manusia kutujukan suaraku.

Jika kamu berkata bahwa sejak dahulu Kristen itu mempercayai Allah Trinitas, tapi jika fakta dan bukti-buktinya menyatakan itu salah, masakan kamu tetap berpegang pada ajaran nenek-moyang sekalipun itu salah? Gunakanlah akal sehatmu, kawan, bukan perasaan saja.

Jika kamu berkata bahwa sejak dahulu Kristen itu Allahnya bernama: Tuhan, tapi jika fakta dan bukti-buktinya menyatakan itu tidak benar, masakan kamu tetap berpegang pada ajaran nenek-moyangmu yang salah itu? Gunakanlah akal sehatmu, kawan, bukan perasaan saja.

Jika kamu berkata bahwa sejak dahulu Kristen itu Tuhannya bernama: Yesus Kristus, tapi jika fakta dan bukti-buktinya menyatakan itu tidak benar, masakan kamu tetap berpegang pada ajaran nenek-moyangmu yang salah itu? Gunakanlah akal sehatmu, kawan, bukan perasaan saja.

Jika kamu berkata bahwa sejak dahulu Kristen itu Tuhannya berambut gondrong, tapi jika fakta dan bukti-buktinya menyatakan itu tidak benar, masakan kamu tetap berpegang pada ajaran nenek-moyangmu yang salah itu? Gunakanlah akal sehatmu, kawan, bukan perasaan saja.

Jika kamu berkata bahwa sejak dahulu Kristen itu Tuhannya dilahirkan di tanggal 25 Desember, tapi jika fakta dan bukti-buktinya menyatakan itu tidak benar, masakan kamu tetap berpegang pada ajaran nenek-moyangmu yang salah itu? Gunakanlah akal sehatmu, kawan, bukan perasaan saja.

Jika kamu berkata bahwa sejak dahulu Kristen itu Tuhannya berhari Minggu, tapi jika fakta dan bukti-buktinya menyatakan itu tidak benar, masakan kamu tetap berpegang pada ajaran nenek-moyangmu yang salah itu? Gunakanlah akal sehatmu, kawan, bukan perasaan saja.

Pergunakan nalar sehatmu untuk memeriksa apakah ajaran nenek-moyangmu itu masih relevan untuk dilestarikan? Kajilah perkataan-perkataan saya. Sebab saya dulu juga mewarisi ajaran-ajaran itu dan mendarah-daging dalam tubuh saya. Tapi setelah saya menemukan kebenaran yang lebih baik, maka apa yang salah itu segera saya tanggalkan. Saya pergunakan akal sehat saya untuk mengkaji segala sesuatu yang saya dengar. Lebih-lebih saya mendengarnya secara langsung dari TUHAN;

Matius 10:27Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.

Apa yang merupakan rahasia dalam kitab Injil harus saya terangkan, dan apa yang dibisikkan ke telinga saya pada waktu saya di warnet, harus saya kabarkan dari atas atap rumah, yaitu dari internet ini. Itulah tugas yang TUHAN berikan kepada saya. Dan Matius 10 seluruhnya sangat klop dengan kehidupan saya, cukup memberikan gambaran tentang diri saya.

Hasil gambar untuk gambar pikiran

Tidak ada komentar: