Minggu, 25 Desember 2016

PELAJARAN MEMBACA NUBUATAN - 14

Sangkakala adalah alat musik tiup semacam terompet yang dibuat dari tanduk domba jantan, yang biasanya untuk tanda peperangan. Dalam nubuatan kitab Wahyu ketika pembukaan meterai yang ketujuh, diperlihatkan ada 7 malaikat yang masing-masing memegang sebuah sangkakala. Itu adalah 7 jurus atau gebrakan ELOHIM YAHWEH dalam meluapkan murkaNYA yang bernyala-nyala, sebagai peringatan keras bagi orang-orang yang ingin benar supaya memanfaatkan peringatan keras itu untuk bertobat. Sebab setelah 7 kali peringatan keras itu, maka pintu belas kasihan ELOHIM YAHWEH akan ditutup, sehingga takkan ada pertobatan atau pengampunan lagi.

Daniel 8:13

Kemudian kudengar seorang kudus berbicara, dan seorang kudus lain berkata kepada yang berbicara itu: "Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?"
8:14Maka ia menjawab: "Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar."

Sampai berapa lama dunia ini dikuasai oleh kegelapan? Sampai lewat 2300 petang dan pagi, dan itu menunjuk ke tahun 1.844 Tarikh Masehi, berdirinya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, sebagai kandang yang benar bagi umat-umat ELOHIM YAHWEH. Tahun 1.863 gereja itu diorganisasikan ke dalam General Conference sebagai kantor pusatnya, sedangkan nama jemaatnya: Masehi Advent Hari Ketujuh.

Di Al Kitab dikiaskan sebagai jemaat ketujuh, jemaat Laodekia, Wahyu 3:14-22. Di luar itu adalah gereja-gereja palsu, kaki tangannya paus Vatikan.

>> ELOHIM YAHWEH menguduskan hari Sabat;

Kejadian 2:2

Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.
2:3Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

>> ELOHIM YESHUA adalah TUHAN atas hari Sabat;

Mat. 12:8Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

>> Manusia adalah yang menerima hari Sabat;

Mrk. 2:27Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,

Kata Al Qur'an yang tidak menguduskan hari Sabtu adalah kera atau monyet.

>> Umat YAHWEH akan seperti YAHWEH;

Ibrani 4:9

Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.
4:10Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.

Jika umat YAHWEH ditandai dengan hari Sabat, maka umat Roma Katolik ditandai dengan apakah? Jika di hari Minggu anda melihat ada orang berjalan membawa Al Kitab, siapakah orang itu? Jika di hari Jum'at anda melihat ada orang berjalan mengenakan sarung, siapakah orang itu? Jika di hari Sabtu anda melihat ada orang berjalan membawa Al Kitab, siapakah orang itu?  Jika di tanggal 25 Desember ada orang berpakaian pesta, siapakah orang itu?

Tahukah anda ke arah mana tujuan orang yang sedang berjalan, jika di papan petunjuk dituliskan ke kiri ke Jakarta, ke kanan ke Bandung, sedangkan orang yang anda lihat itu berjalan ke kiri, ke manakah dia akan sampainya? Jika anda umat YAHWEH, hari yang manakah yang anda sucikan? Sabtu atau Minggu atau Jum'at? Jika anda umat Kristen atau Yesus Kristus si Gondrong, hari yang manakah yang anda sucikan? Sabtu atau Minggu atau Jum'at? Tunjukkan dan buktikan keberanian imanmu! Buktikan merahmu, kata rokok Gudang Garam.

Apa kata masyarakat umum jika melihat ada orang ke gereja pada hari Sabtu? "Itu orang aneh! Bawa Al Kitab, sepertinya orang Kristen, tapi koq hari Sabtu ke gerejanya? Nggak umum itu!" Sekarang mari kita cocokkan dengan keterangan Al Kitab tentang orang itu;

Wahyu 12:17Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.

Kata Al Kitab: "keturunan yang lain." Tak seperti kebanyakannya.

Ams. 14:12Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.

Apa yang akan terjadi dengan orang-orang yang menerima "tanda binatang" kepausan?

Wahyu 14:9

Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: "Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya,
14:10maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba.
14:11Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya."

Siapakah orang yang menyembah binatang atau paus Vatikan dan patung-patungnya? - umat Katolik?! Siapakah yang menerima tanda di dahi dan di tangannya? Tanda di dahi = ajaran, tanda di tangan = tanda yang kelihatan atau bisa dilihat. - Umat Kristen?!

Penghakiman ini bukan sedang menghakimi orang-orang Hindu, Buddha, Khong Hu Chu dan sanak familinya, tapi sedang menghakimi nabi-nabi palsu. ELOHIM YESHUA mulai tanggal 22 Oktober 1844 Tarikh Masehi, mulai mengadakan penghakiman. Itulah sebabnya jemaat terakhir disebut Laodikia, sebab Laodikia itu artinya adalah umat yang sedang dihakimi;

1Ptr. 4:17Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?

Jadi, ada 5 kelompok orang yang sedang dihakimi sejak tahun 1844, yaitu: bangsa Yahudi, umat Islam, umat Katolik, umat Kristen dan umat Advent. Sebab mereka semua menyangkut-nyangkut nama ELOHIM YAHWEH.

SANGKAKALA PERTAMA;

a. Untuk masa sebelum 1844;

 Wahyu 16:2Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.



Maut Hitam, disebut juga Wabah Hitam atau Black Death, adalah suatu pandemi hebat yang pertama kali melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 (1347 – 1351) dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi pula epidemi pada sebagian besar Asia dan Timur Tengah, yang menunjukkan bahwa peristiwa di Eropa sebenarnya merupakan bagian dari pandemi multi-regional. Jika termasuk Timur Tengah, India, dan Tiongkok, Maut Hitam telah merenggut sedikitnya 75 juta nyawa. Penyakit yang sama diduga kembali melanda Eropa pada setiap generasi dengan perbedaan intensitas dan tingkat fatalitas yang berbeda hingga dasawarsa 1700-an. Beberapa wabah penting yang muncul kemudian antara lain Wabah Italia (1629 – 1631), Wabah Besar London (1665 – 1666), Wabah Besar Wina (1679), Wabah Besar Marseille (1720 – 1722), serta wabah pada tahun 1771 di Moskwa. Penyakit ini berhasil dimusnahkan di Eropa pada awal abad ke-19, tetapi masih berlanjut pada bagian lain dunia (Afrika Tengah dan Oriental, Madagaskar, Asia, beberapa bagian Amerika Selatan).

Maut Hitam menimbulkan akibat drastis terhadap populasi Eropa, serta mengubah struktur sosial Eropa. Wabah ini mengakibatkan perburuan dan pembunuhan terhadap kaum minoritas seperti Yahudi, pendatang, pengemis, serta penderita lepra. Ketidakpastian untuk tetap bertahan hidup menciptakan suatu kecenderungan yang tak sehat pada masyarakat untuk hidup hanya untuk hari ini, seperti digambarkan oleh Giovanni Boccaccio pada The Decameron (1353).
 


Kejadian awal di Eropa awalnya disebut sebagai "Mortalitas Besar" (Great Mortality) oleh para penulis kontemporer. Nama "Maut Hitam" umumnya dianggap berasal dari gejala khas dari penyakit ini, yang disebut acral necrosis, di mana kulit penderita menjadi menghitam karena pendarahan subdermal. Catatan sejarah telah membuat sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa Maut Hitam adalah suatu serangan wabah bubonik yang disebabkan bakteri Yersinia pestis dan disebarkan oleh lalat dengan bantuan hewan seperti tikus rumah (Rattus rattus), walaupun ada juga kalangan yang menyangsikan kebenaran hal ini.




Selama ribuan tahun, tidak ada penyakit epidemi. Namun, ketika orang-orang mulai tinggal di kota, infeksi bisa menyebar dengan lebih mudah. Ketika pedagang dan tentara melakukan perjalanan dari kota ke kota, mereka membawa bakteri dan virus bersama mereka dan menyebarkan infeksi ke populasi baru. Anak-anak dalam bahaya terbesar karena hingga abad kesembilan belas, 50% anak meninggal sebelum usia lima tahun.

Terdapat beberapa teori mengenai asal dari wabah ini. Salah satu teori yang paling tua adalah bahwa maut hitam berasal dari dataran stepa di Asia tengah. Dari daerah ini, menyebar menuju Eropa melalui Jalur Sutra dibawa oleh tentara dan pedagang Mongol. Wabah ini menyebar di Asia dan merebak di Provinsi Hubei, Cina, Pada tahun 1334. Maut Hitam di Eropa pertama kali dilaporkan berada di Kota Caffa yang berada di Krimea pada tahun 1347.

Antara 1346 dan 1350 lebih dari sepertiga penduduk Eropa tewas oleh wabah pes (Black Death).
 


Wabah penyakit ini muncul melalui tiga varian penularan. Paling umum merupakan Varian Pes berasal dari pembengkakan kelenjar getah bening (Bubo) yang muncul di leher korban, ketiak ataupun pangkal paha. Penyakit ini tumbuh dengan berbagai ukuran, dimulai dari sebesar telur hingga sebesar apel. Meskipun beberapa orang selamat dari penderitaan, wabah penyakit ini biasanya hanya memberikan harapan hidup satu minggu pada korban. Penyebaran wabah Pes bermula dari seranggga (umumnya kutu) yang terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat termasuk di antaranya tikus dan marmot yang terinfeksi wabah. Setelah tikus tersebut mati, kutu menggigit manusia dan menyebarkannya kepada manusia.

Varian kedua merupakan wabah Pneumonia yang menyerang sistem pernapasan dan disebarkan hanya dengan menghirup udara yang dihembuskan melalui korban. Wabah penyakit ini jauh lebih mematikan dibanding wabah Pes, harapan hidup hanya dapat diukur dalam satu atau dua hari. Varian ketiga merupakan penularan wabah Septicemia, wabah ini menyerang sistem darah. Berbeda dengan kedua wabah lainnya, varian ini dapat menyebar melalui gigitan serangga atau hewan pengerat yang telah terinfeksi, atau melalui kontak dengan manusia yang telah terinfeksi lainnya.




Tingkat kematian dari wabah ini sangat bervariasi di seluruh daerah dan berbeda tergantung sumbernya. Diperkirakan wabah ini membunuh kurang lebih 200 juta orang pada abad ke-14.

Wabah ini membunuh sekitar 40% populasi Mesir pada saat itu.[1] Setengah populasi penduduk Paris meninggal, Florence Italia kehilangan populasinya dari 110 ribu orang pada tahun 1338, menjadi sekitar 50 ribu orang pada tahun 1351.60% penduduk Hamburg dan Bremen meninggal.[2] Sebelum tahun 1350, terdapat sekitar 170.000 penduduk di Jerman, dan angka ini berkurang hampir 40.000 pada 1450.[3] Pada tahun 1348 wabah ini menyebar dengan sangat cepat sebelum para dokter atau pemerintah dapat mengetahui asal wabah tersebut, populasi Eropa telah berkurang sepertiganya. Pada kota yang padat, sangat umum ketika setengah penduduknya meninggal karena wabah. Orang Eropa yang tinggal di daerah yang terisolasi tidak mengalami kerugian separah yang di kota. Salah satu pihak yang tingkat kematiannya juga tinggi adalah rahib dan biarawan, karena biasanya mereka yang merawat korban Maut Hitam.[4]

Di Kawasan Asia Tenggara termasuk di antaranya Indonesia, belum ditemukan bukti terutama bukti tertulis mengenai keberadan Maut Hitam dan akibatnya kepada populasi penduduk. Hal ini cukup mengherankan mengingat Asia Tenggara terutama Indonesia, termasuk kedalam jalur laut pada Jalur Sutra. Ramainya perdagangan antara Arab, India, dan Cina, membuat Indonesia sangat berpotensi untuk terkena wabah ini. Terdapat beberapa teori mengenai asal Maut Hitam yang berasal dari kawasan Asia Tenggara, tetapi teori-teori ini belum dapat dibuktikan secara pasti.

Penelitian Sharon N DeWitte dari University of South Carolina telah memberi dimensi baru dalam mempelajari wabah Maut Hitam dan memberi tampilan pertama kehidupan perempuan dan anak-anak selama wabah melanda. Penelitian tentang Maut Hitam jarang terjadi karena sampel yang digunakan sangat jarang, hanya beberapa sampel besar yang jelas berasal dari abad ke-14 saat Maut Hitam terjadi. Menurut analisis Sharon Dewitte, Maut Hitam yang terjadi pada abad ke-14 bukan wabah pemusnah massal, melainkan ditujukan kepada orang yang lebih lemah dari segala sisi termasuk usia dan fisik. Orang yang selamat dari Maut Hitam mengalami masa perbaikan kesehatan dan berumur panjang dimana rata-rata tutup usia berkisar 70 hingga 80 tahun dibandingkan orang yang hidup sebelum wabah melanda. Kondisi fisik membantu kelangsungan hidup pasca Maut Hitam, dimana kesehatan tidak selalu sama tetapi menjelaskan kondisi daya tahan tubuh bertahan dalam melawan wabah penyakit yang berulang. Secara langsung maupun tidak langsung, wabah Maut Hitam sangat kuat membentuk pola kematian berkelanjutan selama beberapa generasi setelah berakhirnya epidemi.
 


Fanatisme dan semangat akan religi berkembang terutama di Eropa karena Maut Hitam. Beberapa kelompok masyarakat Eropa menyerang kelompok tertentu seperti orang Yahudi, biarawan, orang asing, pengemis, dan peziarah.[5] lepers[5][6] Mereka mengira bahwa dengan melakukan itu, akan membantu mengatasi masalah wabah. Pengidap penyakit Kusta dan orang-orang yang memiliki kelainan kulit atau yang memiliki jerawat yang parah, biasanya akan dikucilkan.

Karena para dokter pada abad ke-14 kehabisan ide untuk menjelaskan mengenai penyebabnya, masyarakat Eropa mulai mengubah sudut pandang kepada astrologi, gempa bumi, dan sumur yang dicemarkan oleh orang Yahudi sebagai alasan untuk penyebab wabah. Pemerintah di Eropa tidak dapat menyelesaikan masalah karena mereka tidak tahu mengenai penyebab dan cara penyebarannya.Mekanisme penyebaran wabah pada abad ke-14 tidak dimengerti oleh orang pada saat itu. Banyak orang kemudian menyalahkan bahwa ini adalah kemarahan Tuhan.

Ada banyak serangan terhadap masyarakat Yahudi.[7] Pada bulan Agustus 1349, komunitas Yahudi di Mainz dan Cologne dimusnahkan. Sebelumnya pada bulan Februari, penduduk Strasbourg membunuh 2.000 penduduk Yahudi untuk alasan yang sama. [7] Hingga tahun 1351, 60 Komunitas besar dan 150 komunitas kecil Yahudi telah dimusnahkan.[8]



Giovanni Boccaccio, seorang penulis asal Italia hidup melalui wabah karena melanda kota Florence pada tahun 1348. Pengalaman ini mengilhaminya untuk menulis ‘The Decameron‘, kisah tujuh pria dan tiga wanita yang melarikan diri dari wabah penyakit dengan melarikan diri ke sebuah villa di luar kota. Cerita Giovanni sangat menggambarkan keadaan abad pertengahan di Eropa pada waktu itu.

Masing-masing warga menghindari warga yang lain, hampir tidak ada tetangga yang saling berhubungan, saudara tidak pernah menghubungi atau hampir tidak pernah mengunjungi satu sama lain. Wabah penyakit ini lebih buruk dan luar biasa hingga menyebabkan ayah dan ibu menolak untuk menjenguk anak-anak mereka yang terjangkit wabah, seolah-olah mereka tidak miliki anak.

Banyak pria dan wanita jatuh sakit, dibiarkan tanpa perawatan apapun kecuali dari rasa sosial teman (tapi hanya sedikit), meskipun banyak yang mencoba membayar dengan upah tinggi tetapi tidak memiliki banyak kesempatan memperolehnya.

Nasib yang sangat menyedihkan menimpa kalangan kelas bawah dan sebagian besar kelas menengah. Kebanyakan dari mereka tetap tinggal di rumah, hidup dengan kemiskinan dan harapan keselamatan, ribuan orang jatuh sakit. Mereka tidak mendapatkan perawatan dan perhatian, hampir semua penderita wabah penyakit meninggal. Banyak yang mengakhiri hidup di jalan-jalan malam hari dan siang hari, meninggal di rumah-rumah mereka yang diketahui mati karena tetangga mencium bau mayat membusuk. Mereka yang lebih peduli tergerak oleh amal agama akan menyingkirkan mayat-mayat yang membusuk. Dengan bantuan porter, mereka membawa mayat (yang terkena wabah penyakit) keluar dari rumah dan meletakkannya di pintu.
 


b. Untuk masa hari kiamat:

Wahyu 8:7Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah hujan es, dan api, bercampur darah; dan semuanya itu dilemparkan ke bumi; maka terbakarlah sepertiga dari bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau.

Liputan6.com, Rio de Janeiro - Moncong pesawat maskapai Brasil Airlines ini dilaporkan penyok. Gara-gara terbang ke arah terjadinya hujan es.
Beruntung seluruh penumpang dan awak selamat dalam insiden mendebarkan tersebut. Ketika peristiwa itu terjadi, penerbangan Brasil TAM Airlines JJ 3307 lepas landas di Rio de Janeiro dalam perjalanan ke kota Natal pada tanggal 9 Februari.

Dikutip dari News.com.au, burung besi itu lalu naik ke ketinggian sekitar 18.000 kaki, hingga memasuki apa yang digambarkan sebagai 'awan hujan es'.
Alhasil, bagian depan pesawat pun rusak terkena hantaman hujan es tersebut.



7 Kebakaran Hutan Terbesar Sepanjang Sejarah Dunia

Kebakaran hutan adalah sebuah kebakaran besar yang terjadi di alam liar, tetapi juga dapat menghanguskan rumah-rumah dan lahan pertanian di sekitarnya. Penyebab umum dari terjadinya kebakaran hutan adalah petir, akibat ulah manusia, maupun pembakaran yang di sengaja.

Hingga di akhir abad ke-20 bumi kita ini telah kehilangan hutan sebanyak 25 juta hektar akibat kebakaran besar. Peristiwa ini berdampak langsung pada ekosistim global dengan naiknya emisi karbon dan hilangnya keanekaragaman hayati. Kebakaran hutan juga merupakan bencana lingkungan terbesar yang terkadang dampak asapnya menyelimuti daerah yang luas.
Berikut ini mimin sajikan 6 Kebakaran Hutan Terbesar yang pernah terjadi dalam catatan sejarah dunia.

1. Kebakaran Hutan Chelan, Oregon

Api yang semula berasal dari kilat di Chelan, Washington, terus menyebar dan meluas. Sampai ke 10 negara bagian Amerika, yaitu Oregon, Washington, Idaho, Montana, California, Nevada, North Carolina, Louisiana, Texas and Arizona yang terjadi pada bulan Agustus 2015.

Petugas pemadam pun ditambah sampai sebanyak 30 ribu orang. Apalagi, Pusat Pemadam Kebakaran Nasional mencatat sudah sebanyak 2,9 juta hektar wilayah terbakar. Selain itu, ditemukan 41.194 titik api dan menghanguskan 1.074 bangunan. Begitu mendesaknya bencana kebakaran ini, sampai-sampai Amerika meminta bantuan kepada Australia untuk menjinakkan si jago merah. Amerika juga menerjunkan militernya untuk membantu para pemadam kebakaran.


2. Kebakaran Hutan Hinckley, Minnesota

Kebakaran Hinckley merupakan sebuah kebakaran besar yang terjadi pada tanggal 1 September 1894 yang membakar area minimal 810 km² , mungkin lebih dari 1000 km², termasuk kota Hinckley dan Minnesota. Kobaran api telah membunuh ratusan orang, dengan jumlah minimum diperkirakan 418 korban jiwa. Namun, beberapa ahli percaya angka sebenarnya dari korban yang meninggal mendekati hampir 800 korban jiwa.

3. Kebakaran Hutan Yellow Stone, Montana

Kebakaran Hutan Yellowstone yang terjadi pada tahun 1988 di Montana dan Idaho ini membakar lebih dari 1,5 juta hektar hutan. Kebakaran hutan ini membakar sedikitnya 793.880 hektar hutan di Montana dan Wyoming. Yellowstone National Park ditutup untuk semua personil non darurat untuk pertama kalinya dalam sejarah taman National Park Yellowstone.

4. Kebakaran Hutan Thumb, Michigan

Kebakaran ini terjadi pada tanggal 5 September 1881, di daerah Thumb, Michigan di Amerika Serikat. Api yang membakar lebih dari satu juta hektar (4.000 km²) dalam waktu kurang dari satu hari, adalah konsekuensi dari kekeringan yang melanda, ditambah hembusan angin, panas, dan kerusakan ekologi yang ditimbulkan oleh penebangan. Kejadian ini, disebut “the Great Thumb Fire” , “the Great Forest Fire of 1881” atau “the Huron Fire” yang membunuh 282 orang di Sanilac, Lapeer, Tuscola dan Huron. Perkiraan kerusakan yang ditimbulkan mencapai kerugian $ 2.347.000.

5. Kebakaran Hutan Cloquet, Minnesota


Kebakaran Hutan Cloquet terjadi di bagian utara Minnesota pada Oktober, 1918. Disebabkan oleh percikan pada kereta api lokal ditambah dengan kondisi kering dedaunan hutan. Bencana ini menyebabkan bagian barat Carlton County hancur, Moose Lake, Cloquet, dan Sungai Kettle. 
Wilayah Cloquet adalah wilayah yang paling rusak oleh bencana ini. Bencana ini adalah bencana alam terburuk dalam sejarah Minnesota. Total korban jiwa yang meninggal mencapai 453 jorban jiwa dan 52.000 orang terluka atau mengungsi, 38 komunitas hancur, 250.000 hektar lahan terbakar dan kerugian sebesar $73.000.000 dalam kerusakan properti diderita.

6. Kebakaran Hutan Kalimantan, Indonesia

Akibat terjadinya kemarau sangat panjang pada tahun 1982-1983 menjadi pemicu kebakaran hutan di Pulau Kalimantan. Pada peristiwa kebakaran hutan ini menyebabkan 3,2 juta lahan hutan musnah dilahap api dengan kerugian mencapai lebih dari Rp. 6 Triliun.

Kebakaran ini menyebabkan beberapa provinsi di kalimantan terselimut kabut selama lebih dari sebulan.

7. Kebakaran Hutan di Riau, Indonesia

Kejadian yang baru-baru ini terjadi, kebakaran hutan di Riau dan Jambi. Kepala Kepolisian Jenderal Badrodin Haiti menduga adanya unsur kesengajaan dalam kasus kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia bagian barat ini.

Sejumlah laporan menyebutkan, Badan penanggulangan bencana daerah (BNPD) Riau mencatat, sebanyak 1.264,75 hektar lebih hutan dan lahan di Riau telah terbakar, dan akan terus bertamabah jika tidak ada penanggulangan cepat dari semua pihak.

Saat Laut Berubah Menjadi Merah

OLEH PENULIS SEDARLAH! DI FILIPINA
Bayangkan para nelayan sedang berjalan ke tepi laut, siap menjalankan rutin dini hari mereka, mempersiapkan perahu dan jala. Seperti biasa, mereka berharap mendapat banyak ikan. Namun tiba-tiba, suatu pemandangan yang mengerikan membuat mata mereka yang masih mengantuk menjadi terbelalak. Ribuan ikan telah tersapu ke pantai—mati. Penyebab pembinasaan massal ini? PASANG MERAH!
PASANG MERAH adalah fenomena global. Pasang merah terdapat di pesisir Atlantik maupun Pasifik di Amerika Serikat dan Kanada. Bencana ini juga terdapat di Australia, Brunei, Eropa barat laut, Jepang, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, dan tempat-tempat lainnya. Meskipun orang yang mengetahui keberadaan fenomena ini relatif sedikit, pasang merah bukanlah hal baru.
Di Filipina, pasang merah pertama kali terlihat di provinsi Bataan pada tahun 1908. Pada tahun 1983, pasang merah meracuni ikan dan kerang di Laut Samar, Teluk Maqueda, dan Teluk Villareal. Sejak saat itu, pasang merah terlihat di banyak daerah pesisir lainnya. Zenaida Abuso, dari Satuan Tugas Penanggulangan Pasang Merah Nasional Filipina, mengatakan kepada Sedarlah! bahwa ”selain membunuh ikan, menurut catatan Biro Perikanan dan Sumber Daya Laut Filipina, terdapat 1.926 kasus keracunan kerang yang melumpuhkan akibat pasang merah”.* Tetapi, apa sebenarnya fenomena yang memautkan ini?
Apa Pasang Merah Itu?
Istilah ”pasang merah” memaksudkan perubahan warna air yang kadang-kadang terjadi di bagian tertentu laut atau samudra. Sering kali warnanya berubah menjadi merah, tapi bisa juga cokelat atau kuning. The New World Book Encyclopedia melaporkan bahwa ”luas laut yang berubah warnanya dapat berkisar dari beberapa meter persegi hingga lebih dari 2.600 kilometer persegi”.
Apa penyebab perubahan warna tersebut? Pada umumnya, pasang merah disebabkan oleh beberapa spesies alga mikroskopis bersel tunggal atau protozoa yang disebut dinoflagelata. Organisme yang sangat kecil ini memiliki bagian-bagian yang menjorok ke luar berbentuk seperti rambut, yang disebut flagella—berbentuk seperti cambuk, berfungsi sebagai pendorong untuk bergerak dalam air. Ada sekitar 2.000 jenis dinoflagelata, 30 di antaranya beracun. Organisme yang sangat kecil ini biasanya berdiam di air hangat dengan kadar garam tinggi.
Pasang merah terjadi jika dinoflagelata, dengan mendadak dan sangat cepat, berkembang biak. Konsentrasi organisme ini dapat membengkak hingga 50.000.000 per liter air! Meskipun para ilmuwan belum mengerti sepenuhnya mengapa hal itu terjadi, telah diketahui bahwa dinoflagelata berkembang biak jika kondisi-kondisi tertentu secara bersamaan mempengaruhi laut. Hal ini termasuk cuaca yang abnormal, temperatur yang tinggi, zat gizi yang berlebihan dalam air, sinar matahari dalam jumlah besar, serta arus laut yang tenang. Kadang-kadang, jika terjadi hujan lebat, mineral dan zat gizi lainnya tersapu dari darat ke air laut di daerah pesisir. Zat gizi ini membantu proliferasi dinoflagelata. Akibatnya? Pasang merah!
Sayangnya, kadang-kadang manusia memperburuk fenomena ini. Sewaktu sejumlah besar limbah industri dan manusia dibuang ke laut, zat-zat gizi tertentu dapat menjadi berlebihan. Keadaan itu dapat memicu perkembangbiakan populasi dinoflagelata secara besar-besaran. Kandungan oksigen dalam laut langsung menipis sehingga sejumlah besar ikan mati.
Pasang merah di lautan yang hangat serta perairan yang tenang di pesisir, biasanya terjadi antara akhir musim panas dan awal musim hujan. Hal ini dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa bulan, bergantung pada keadaan umum daerah yang bersangkutan.
Korbannya
Kebanyakan pasang merah tidak berbahaya; akan tetapi, beberapa sangat merugikan. Beberapa spesies dinoflagelata melepaskan zat beracun yang melumpuhkan ke dalam air dan membunuh ikan serta kehidupan laut lainnya. Beberapa pasang merah menyebabkan kerugian yang sangat besar akibat matinya ikan, tiram, cumi-cumi, klam, remis, udang, dan kepiting, yang memangsa dinoflagelata. Sewaktu pasang merah yang berbahaya melanda, sejumlah besar ikan mati tampak terapung di laut dan dapat menumpuk di pantai sampai berkilo-kilometer.
Manusia juga sangat terpengaruh. Di daerah-daerah tempat menangkap ikan merupakan sumber pendapatan, pasang merah telah membuat nelayan tidak bisa lagi menangkap ikan, padahal itulah mata pencaharian mereka. Lebih buruk lagi, pasang merah telah menyebabkan hilangnya nyawa manusia.
Keracunan Pasang Merah
Salah satu toksin yang dilepaskan beberapa dinoflagelata disebut saksitoksin. Toksin itu adalah sejenis garam larut-air yang menyerang sistem saraf manusia. Oleh karena itu, zat ini digolongkan sebagai neurotoksin. The New Encyclop√¶dia Britannica melaporkan bahwa ”toksin yang dilepaskan ke dalam air mengganggu sistem pernapasan manusia”. Daerah-daerah pantai harus ditutup sewaktu racun pasang merah terlepas ke udara akibat pecahnya gelombang.
Apakah Anda gemar makan kerang dan makanan laut lainnya? Nah, pasang merah dapat membuat kerang yang memangsa dinoflagelata menjadi beracun. Majalah Infomapper menyatakan bahwa ’bivalvia dan kerang-kerangan lainnya seperti tiram, remis, dan klam adalah yang paling berbahaya karena kerang-kerang ini mendapat makanan dengan cara menyaring arus air dan menyerap lebih banyak toksin dibandingkan dengan ikan’. Akan tetapi, ”ikan, cumi-cumi, udang, dan kepiting . . . masih aman untuk dikonsumsi manusia”. Alasannya? Toksin pasang merah terkumpul dalam usus mereka, dan biasanya bagian ini dibuang sebelum dimasak.
Meskipun demikian, perlu tetap berhati-hati sewaktu menyantap makanan laut—khususnya kerang-kerangan—yang didapat dari daerah yang diketahui terkontaminasi pasang merah. Pasang ini dapat menyebabkan kondisi yang disebut paralytic shellfish poisoning (keracunan kerang yang melumpuhkan), atau PSP. Jika Anda telah menelan racun pasang merah, Anda akan mengalami gejalanya dalam waktu 30 menit. Bagan yang disertakan berisi daftar dari beberapa gejalanya. Jika tidak ditangani dengan tepat, PSP dapat melumpuhkan sistem pernapasan, yang dapat mengakibatkan kematian.
Saat ini, penawar racun pasang merah belum diketahui. Akan tetapi, beberapa prosedur darurat telah diterapkan dan berhasil. Racun pasang merah dapat dikeluarkan dari perut pasien dengan membuat sang pasien muntah. Cuci perut dengan tabung yang dimasukkan melalui mulut ke dalam lambung juga telah digunakan untuk mengeluarkan racun. Dalam beberapa kasus, pernapasan buatan perlu dilakukan. Di Filipina, beberapa orang percaya bahwa meminum air kelapa dicampur dengan gula merah dapat membantu korban pulih lebih cepat.
Solusinya
Saat ini, pasang merah berada di luar kendali kita. Namun, banyak orang percaya bahwa masalah pasang merah dapat diperkecil jika pupuk kimia dan pestisida dikurangi penggunaannya. Hal ini mencegah bahan-bahan tersebut tersapu ke laut. Larangan membuang limbah manusia dan industri ke laut juga akan turut mengatasi masalah ini. Pendekatan lainnya adalah membersihkan daerah sekitar pantai dari sumber zat gizi yang dapat menyebabkan perkembangbiakan dinoflagelata.
Sementara itu, beberapa pemerintah terus memonitor dengan ketat situasi ini. Misalnya, di Filipina, suatu lembaga pemerintah secara teratur menguji kerang-kerangan guna memastikan keamanannya untuk pasar lokal maupun internasional. Akan tetapi, akhirnya, hanya sang Pencipta-lah yang dapat menghapus efek mencelakakan bagi umat manusia akibat laut yang berubah merah.

Meskipun pasang merah yang terjadi di Filipina langsung dikaitkan dengan masalah keracunan kerang yang melumpuhkan, beberapa ahli mengatakan bahwa keadaan ini tidak selalu terjadi di semua negara tempat terjadinya fenomena ini.

Gejala Keracunan Pasang Merah
1. Kebas atau terbakar pada bibir, gusi, dan lidah
2. Wajah mati rasa dan kebas, yang kemudian menyebar ke bagian lain dari tubuh
3. Sakit kepala dan pusing
4. Kehausan dan mengeluarkan banyak liur
5. Mual, muntah, dan diare
6. Sulit bernapas, berbicara, dan menelan
7. Nyeri di persendian dan merasa limbung
8. Detak jantung lebih cepat
9. Otot terasa lemas dan hilang keseimbangan
10. Badan menjadi lumpuh

Organisme penyebab terjadinya pasang merah
”Pyrodinium bahamense”
”Gymnodinium catenatum”
”Gambierdiscus toxicus”

Hasil gambar untuk gambar laut pasang merah


Hasil gambar untuk gambar laut pasang merah


Hasil gambar untuk gambar laut pasang merah

Hasil gambar untuk gambar laut pasang merah


Hasil gambar untuk gambar laut pasang merah


Hasil gambar untuk gambar laut pasang merah

Hasil gambar untuk gambar laut pasang merah

Tidak ada komentar: