Selasa, 27 Desember 2016

PELAJARAN MEMBACA NUBUATAN - 16

Peniupan sangkakala yang kedua;

a. Untuk masa 1833 - 1844 Tarikh Masehi;

Wahyu 16:3Dan malaikat yang kedua menumpahkan cawannya ke atas laut; maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut.

Pada umumnya air laut berwarna biru. Namun kita memiliki sebuah laut yang diberi nama: Laut Merah, yang di Al Kitab dikenal sebagai laut Teberau, yang pernah dibelah oleh nabi Musa sehingga bisa untuk jalan bangsa Israel keluar dari negeri Mesir.

Kata "teberau" dari bahasa Ibrani: Suf, yang artinya gelagah atau alang-alang. Secara umum warna air di sini biru sebagaimana laut-laut lainnya. Dan tanpa penjelasan yang memadahi tentang sejak kapan diberi nama
Laut Merah, namun diyakini pernah terjadi berwarna merah yang diduga berasal dari Trichodesmium erythraeum -

This is a prolific nitrogen-fixing species of bacteria that fixes approximately half of the nitrogen in the food chain of the ocean. Unlike other bacteria, it can also photosynthesize. This is a colonial species that forms long filaments. Some of the bacteria in the colony fix the nitrogen, and others are specialized for photosynthesis. However, the two processes must be done with two of them, because the oxygen byproduct that results from photosynthesis would interfere with the nitrogen-fixing process, so they must be done in separate cells.




Discoloration of the Red Sea
This species can also literally turn the Red Sea a red color that can be seen from outer space. The cause of this is unknown, but most scientists believe that a species of bacteria of the Trichodesmium genus, most likely this species, is the cause.


Dikatakan bahwa sampai abad ke-20 orang-orang Eropa menyebutnya Teluk Arab, sedangkan Herodotus

dan Ptolemeus menyebutnya "Arabicus Sinus".

Pendapat lain tentang asal usul disebut Laut Merah, karena di sekitar laut tersebut banyak ditumbuhi alang-alang yang tumbuh subur berkat keberadaan air tawar disekitar tempat tersebut. Alang-alang dalam bahasa Inggris disebut dengan reed, tapi masyarakat setempat mengucapkannya red (merah). Karena keberadaan alang-alang tersebut di laut, maka dinamakanlah red sea (Laut Merah), padahal seharusnya the reed seas (Lautan Alang-alang).

Al Kitab menyebut "Teberau" sebanyak 29 kali, sedangkan "Laut Merah" hanya disebutkan sekali;

Kisah 7:36    Dialah yang membawa mereka keluar dengan mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di tanah Mesir, di Laut Merah dan di padang gurun, empat puluh tahun lamanya.

Tapi itu LAI Terjemahan Baru, sedangkan LAI Terjemahan Lamanya menyebut: Laut Kolzom; "Ia itu juga yang membawa mereka itu ke luar, kemudian daripada diadakannya mujizat dan tanda ajaib di tanah Mesir, dan di laut Kolzom, dan di padang belantara empat puluh tahun lamanya."

DRFT_SB


Maka ia juga yang membawa mereka itu keluar, setelah ia mengadakan beberapa mu'jizat dan 'alamat ditanah Masir, dan dilaut Kolzom, dan dalam tanah belantara itu empat puluh tahun lamanya.
BABAIni orang bawa dia-orang kluar, bila dia sudah buat perkara hairan dan tanda-tanda di negri Masir dan di laut Kulzum dan di tanah sunyi ampat-puloh tahun punya lama.
KL1863{Kel 7-14} Ija-itoe jang menghantarken dia-orang kaloewar, habis dia adaken bebrapa moedjidjat dan tanda-tanda dinegari Mesir, dan dalem laoet Kolzom, dan {Kel 16:1; Ula 1:3} dalem padang-belantara ampat-poeloeh taoen lamanja.
KL1870Ija-itoelah dia, jang menghantar akan mareka-itoe kaloewar kemoedian daripada di-adakannja beberapa moedjizat dan tanda-tanda dalam negari Masir dan dilaoet Kolzom dan dalam padang Tiah empat poeloeh tahoen lamanja.
DRFT_LDK'Ija 'ini sudah meng`aluwarkan marika 'itu, sambil meng`adakan babarapa muxdjizat dan xalamet didalam tanah Mitsir, dan dalam lawut kholzum, dan dalam padang Tijah 'ampat puloh tahon lamanja.



Dengan demikian masih memberikan kemungkinan bahwa di antara tahun 1833 - 1844 pernah terjadi berwarna merah, terlepas dari apa penyebabnya sehingga disebut Laut Merah, sehingga ketika Al Kitab berkata tentang laut yang berwarna merah, kita mempunyai laut yang bernama Laut Merah, dan kebetulan itu menunjuk pada laut Teberau yang pernah menjadi kisah perjalanan bangsa Israel di padang gurun, di mana ELOHIM YAHWEH menyatakan kemuliaanNYA.

>> Tempat ibu Musa menyembunyikan bayi nabi Musa sampai diketemukan oleh puteri firaun dan diberi nama: Musa, yang artinya diambil dari air.

Kel. 2:3Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil;

>> ELOHIM YAHWEH membelah laut tersebut sehingga bisa untuk bangsa Israel berjalan kaki menyeberanginya;

>> Firaun dan pasukannya ditenggelamkan di situ;

Kel. 15:4Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut; para perwiranya yang pilihan dibenamkan ke dalam Laut Teberau.




b. Untuk masa hari kiamat;

Wahyu 8:8

Lalu malaikat yang kedua meniup sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut. Dan sepertiga dari laut itu menjadi darah,
8:9dan matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga dari semua kapal.

Mengapa Air Lautan Berubah Menjadi Merah Darah di Berbagai Tempat di Dunia?

Beberapa wilayah perairan di seluruh dunia dilaporkan berubah menjadi merah darah, dan ini memicu sejumlah orang menjadi takut bahwa Akhir Zaman sudah dekat. Mulai dari lautan hingga sungai-sungai, sejumlah wilayah perairan nampaknya berubah menjadi darah hanya dalam waktu semalam. Dengan gambar-gambar menakjubkan bermunculan secara online tentang peristiwa-peristiwa ini, sejumlah kelompok berbeda menunjukkan nubuat Alkitab dalam Kitab Wahyu 16:4, yang menggambarkan seorang Malaikat menuangkan cawannya ke atas laut, dan itu menjadi darah – sebagai bukti bahwa kiamat sudah dekat. Namun, adakah penjelasan lain disamping tanda-tanda Akhir Zaman, yang bisa menjelaskan fenomena misterius ini?

Akhir-akhir ini, sejumlah posting bermunculan di media sosial yang menyebutkan bahwa Akhir Zaman sudah dekat, berkat foto-foto lautan darah di berbagai tempat di bumi. The Washington Post melaporkan salah satu peristiwa di China yang membuat sungai di kota Wenzhou benar-benar merah seperti darah. Penduduk setempat mengatakan mereka bangun pagi-pagi dan menyaksikan pemandangan itu, tanpa penjelasan kenapa airnya berwarna merah darah.

Wenzhou yang menjadi basis iman Kristen, banyak yang menyebutnya Yerusalem China, sebagian penduduk di daerah itu menunjukkan nubuat Alkitab mengenai peristiwa air berubah menjadi darah. Kitab Wahyu menuliskan tentang seorang Malaikat yang menuangkan cawannya ke atas lautan dan itu menjadi darah.

Meskipun banyak yang percaya lautan merah ini sebagai tanda-tanda dari Surga, pemerintah China mengatakan ada penjelasan sederhana untuk air merah ini. Badan Perlindungan Lingkungan Wenzhou mengatakan, pengujian mengindikasikan air berubah menjadi merah menakutkan karena pembuangan limbah ilegal, sepertinya pewarna buatan dari industri kain.

red-china-7


red-china-7-3

red-china-7-2


The Telegraph melaporkan insiden misterius lain yang mengakibatkan ditutupnya pantai-pantai di Sydney, Australia. Para turis di wilayah tersebut takut bahwa darah ini akibat serangan ikan hiu, namun tidak ada dilaporkan serangan seperti itu terjadi. Faktanya, pejabat setempat menyatakan bahwa warna merah darah itu akibat perkembangbiakan alga merah secara tak terkendali di wilayah tersebut. Pantai-pantai ditutup, dan beberapa foto air laut misterius ini mulai beredar luas secara online.



Menurut BBC, penduduk Kepulauan Pasifik, Tonga, juga dikejutkan oleh lautan merah darah. Seperti di China, banyak orang di wilayah tersebut menjadi ketakutan bahwa ‘gelombang merah’ merupakan tanda-tanda Akhir Zaman. Namun, sama seperti pantai-pantai di Australia, gelombang merah ini diakibatkan oleh perkembangbiakan alga merah. Bahkan, perkembangbiakan alga merah ini sekarang menjadi peristiwa tahunan di Pantai Teluk Mexico, Florida.
Gelombang merah disebabkan oleh ledakan perkembangbiakan dan akumulasi sejenis alga mikroskopis tertentu, utamanya dinoflagellata, di perairan pantai. Beberapa spesies dinoflagellata memproduksi racun-racun yang termasuk diantara yang paling berbahaya dari yang dikenal manusia. Perkembangbiakan alga yang membahayakan ini, menjadi ancaman serius dan berulang terhadap kesehatan manusia, satwa liar, ekosistem laut, perikanan, keindahan pantai dan ekonomi.
Spesies yang paling mengganggu di Teluk Mexico dinamai Karenia Brevis. Seperti jenis dinoflagellata lainnya, organisme mikro bersel tunggal ini berfotosintesis menggunakan khlorofil seperti tumbuhan, namun mereka bergerak kemana-mana dengan menggunakan dua flagella (ekornya) yang mendorong mereka melalui perairan.
Cara reproduksi mereka adalah pembelahan sel aseksual – satu sel membelah menjadi dua sel, dua menjadi empat sel, dan seterusnya. Dengan kondisi yang tepat, ukuran populasi ini bisa meledak dengan cepat. Ada tiga faktor penentu terjadinya ledakan perkembangbiakan ini dan daya tahan keberadaan mereka sepanjang waktu:
  • Keberadaan organisme Karenia Brevis di wilayah perairan
  • Sumber nutrisi utama
  • Pergerakan arus angin atau air yang memampatkan populasi Karenia Brevis menjadi kerumunan yang semakin padat.
Meskipun pembuangan limbah ilegal dan perkembangbiakan alga merah secara luar biasa telah dinyatakan sebagai penyebab semua peristiwa lautan merah darah, berita semakin dekatnya Akhir Zaman ini semakin santer beredar secara online.

australia-7




Kematian massal ikan-ikan dan hewan-hewan laut terjadi di seluruh dunia, salah satunya disebabkan “Gelombang merah”.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda khawatir mengenai lautan berubah menjadi darah di seluruh dunia?

Liputan6.com, Norilsk - Sebuah sungai di Norilsk, Rusia tiba-tiba berubah warna jadi merah terang pada Selasa 6 September 2016 lalu. Penampakannya lebih mirip pembuluh darah daripada aliran air.
Kejadian aneh itu memicu kehebohan di kalangan penduduk setempat. Pemerintah pun memerintahkan dilakukannya penyelidikan, untuk mengetahui apakah ada kerusakan pipa di area kota yang dikenal sebagai produsen nikel itu.

Pengguna media sosial pun mengunggah foto yang memperlihatkan Sungai Daldykan yang menjadi merah. Beberapa di antaranya menulis bahwa Juni lalu sungai tersebut juga telah berubah warna.
Beberapa netizen memperkirakan bahwa zat besi yang terdapat di tanah menjadi penyebab warna merah. Namun pengguna lainnya mengatakan, berubahnya warna itu lebih mungkin disebabkan karena limbah industri.
"Kebocoran terjadi di sungai dari pabrik Nadezhda," ujar salah seorang warga Norilsk, Yekaterina Baslyga, dalam Instagram.

Sementara itu Norilsk Nickel membantah perubahan itu disebabkan karena polusi aktivitas pabrik dan menyebut bahwa warna sungai tak berbeda dari kondisi biasa. Namun perusahaan itu telah mengurangi kegiatan produksi sementara penyelidikan dilakukan.
Menurut seorang kandidat PhD dari Vernadsky Institute for Geochemistry and Analytical Chemistry, Denis Koshevoi, Norilsk Nickel memompa larutan kimia dari Nadezhda ke bendungan pembuangan. Mereka juga memompa konsentrat logam dari pabrik bijih ke Nadezhda.
"Secara periodik terdapat sejumlah insiden ketika pipa patah dan cairan tumpah dan masuk ke Daldykan--itu yang menyebabkan perubahan warna," ujar Koshevoi.

Sungai di Kediri Berubah Warna Jadi Merah Darah



Liputan6.com, Kediri - Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, belum memastikan penyebab warna air sungai di Kecamatan Pesantren berubah menjadi merah. Petugas pemerintah akan intensif menelusuri penyebabnya.

"Kami masih akan cek ke lokasi guna mengetahui penyebab pastinya," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkot Kediri Apip Permana di Kediri, dilansir Antara, Rabu 27 April 2016.

Warna air sungai di Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, berubah menjadi merah darah. Warga setempat serta yang melintas di jalur menuju kawasan wisata Gunung Kelud (1.731 meter di atas permukaan laut) panik.

Binti, warga setempat mengaku tidak mengetahui dengan persis penyebab warna merah darah di sungai itu. Ia pun kaget sebab perubahan warna itu baru terjadi kali ini.

"Kalau penyebabnya bisa jadi limbah, tapi asalnya dari mana saya tidak tahu. Selama di daerah sini, saya juga baru tahu ini ada perubahan warna sungai sangat merah seperti darah," kata dia.

Dia sempat merinding mengetahui perubahan warna sungai itu. Bahkan karena perubahan yang sangat mendadak, para tetangga, pekerja pabrik, serta pengguna jalan banyak yang berhenti untuk melihat perubahan air sungai.

"Banyak pekerja bahkan pengendara jalan yang berhenti untuk menyaksikan perubahan air sungai. Ini kejadian aneh," kata Binti.

Perubahan warna sungai itu terjadi dari arah sungai mulai dari timur terjadi siang hari. Warga juga tidak mencium bau yang menyengat dari sungai ketika air berubah menjadi merah.

Di lokasi Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, terdapat sejumlah perusahaan misalnya ada pabrik gula, ada industri rumahan pengolahan bekicot. Namun, selama ini belum pernah diketahui dari industri itu mengeluarkan warna seperti darah itu.

Binti berharap pemerintah daerah segera melakukan penelitian asal perubahan warna itu. Jika warna itu ternyata dari limbah dan berbahaya, masyarakat tentunya menjadi korban.

"Harapannya segera diteliti, penyebabnya apa, agar kami pun juga tahu," kata Binti.

Tidak ada komentar: