Rabu, 28 Desember 2016

PELAJARAN MEMBACA NUBUATAN - 17

Peniupam sangkakala yang ketiga:

a. Untuk masa 1833 - 1844 Tarikh Masehi;

Wahyu 16:4

Dan malaikat yang ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah.
16:5Dan aku mendengar malaikat yang berkuasa atas air itu berkata: "Adil Engkau, Engkau yang ada dan yang sudah ada, Engkau yang kudus, yang telah menjatuhkan hukuman ini.
16:6Karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi, Engkau juga telah memberi mereka minum darah; hal itu wajar bagi mereka!"
16:7Dan aku mendengar mezbah itu berkata: "Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu."

Kalau sangkakala kedua laut yang menjadi darah, kini sungai-sungai dan mata-mata air yang menjadi darah. Mengenai hujan darah rupanya sudah merupakan fenomena biasa yang banyak dituliskan dalam sastra-sastra kuno mulai dari abad ke-8 Sebelum Masehi hingga abad ke-19. Dan yang terakhir adalah hujan darah di Kerala, India, mulai tanggal 25 Juli hingga September 2001, sebanyak 500.000 meter kubik air hujan berwarna merah tercurah ke bumi. Tapi itu benar-benar darah - sel hidup!

Tidak ada yang mengerti apa yang sedang terjadi, Pada saat itu, 25 Juli 2001, hujan lebat dengan air berwarna merah menghujani negara bagian Kerala di India. Hujan itu berlangsung hingga September 2001 dan lebih dari 500.000 meter kubik air hujan berwarna merah tercurah ke bumi. Pada mulanya ilmuwan mengira air hujan yang berwarna merah itu disebabkan oleh pasir gurun, namun para Ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan, unsur merah di dalam air tersebut adalah sel hidup, sel yang bukan berasal dari bumi !

Hujan yang pertama jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah selatan India. Bukan hanya hujan berwarna merah, 10 hari pertama dilaporkan turunnya hujan berwarna kuning, hijau dan bahkan hitam. Setelah 10 hari, intensitas curah hujan mereda hingga September. Hujan tersebut turun hanya pada wilayah yang terbatas dan biasanya hanya berlangsung sekitar 20 menit per hujan. Para penduduk lokal menemukan baju-baju yang dijemur berubah warna menjadi merah seperti darah dan juga melaporkan adanya bunyi ledakan dan cahaya terang yang mendahului turunnya hujan yang dipercaya sebagai ledakan meteor.

Contoh air hujan tersebut segera dibawa untuk diteliti oleh pemerintah India dan ilmuwan. Salah satu ilmuwan independen yang menelitinya adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi. Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 km. Pertama kali mereka mengira bahwa partikel merah di dalam air adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab. Hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 dimana pasir dari gurun sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris. Namun mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yang hidup.

Komposisi sel tersebut terdiri dari 50% Karbon, 45% Oksigen dan 5% unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri. Ia memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur didalam membrannya. Namun tidak ada nukleus yang dapat diidentifikasi. Setiap meter kubik sampel yang diambil, terdapat 100 gram unsur merah. Jadi apabila dijumlah, maka dari Juli hingga September terdapat 50 ton partikel merah yang tercurah ke Bumi.


 
Di Universitas Sheffield, Inggris, seorang ahli mikrobiologis bernama Milton Wainwright mengkonfirmasi bahwa bahwa unsur merah tersebut adalah sel hidup. Hal ini dinyatakan karena Wainwright berhasil menemukan adanya DNA dari unsur sel tersebut walaupun ia belum berhasil mengekstraknya.

Karena partikel merah tersebut adalah sel hidup, maka para ilmuwan mengajukan teori bahwa partikel merah itu adalah darah. Menurut mereka, kemungkinan batu meteor yang meledak di udara telah membantai sekelompok kelelawar di udara. Namun teori ini ditolak karena tidak adanya bukti-bukti yang mendukung seperti sayap kelelawar yang jatuh ke bumi.

Dengan menghubungkan antara suara ledakan dan cahaya yang mendahului hujan tersebut, Louis mengemukakan teori bahwa sel-sel merah tersebut adalah makhluk ekstra terestrial. Ia menyimpulkan bahwa materi merah tersebut datang dari sebuah komet yang memasuki atmosfer bumi dan meledak di atas langit India.

Sebuah studi yang dilakukan oleh mahasiswa doktoral dari Universitas Queen, Irlandia yang bernama Patrick McCafferty menemukan catatan sejarah yang menghubungkan hujan berwarna dengan ledakan meteor. McCafferty menganalisa 80 laporan mengenai hujan berwarna, 20 laporan air berubah menjadi darah dan 68 contoh fenomena mirip seperti hujan hitam, hujan susu atau madu yang turun dari langit. 36 persen dari contoh tersebut ternyata terhubung dengan aktivitas meteor atau komet. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi mulai dari Romawi kuno, Irlandia dan Inggris abad pertengahan dan bahkan California abad ke-19. McCafferty mengatakan, "kelihatannya ada hubungan yang kuat antara laporan hujan berwarna dengan aktivitas meteor, Hujan merah Kerala cocok dengan pola-pola tersebut dan tidak dapat diabaikan begitu saja."

Jadi, apakah hujan merah di Kerala berasal dari luar bumi ? Sebagian ilmuwan yang skeptis serta merta menolak teori ini. Namun sebagian ilmuwan lain yang belum menemukan jawabannya segera melirik kembali ke sebuah teori usang yang diajukan oleh ahli fisika Sir Fred Hoyle dan Dr Chandra Wickramasinghe, yaitu teori yang disebut Panspermia, sebuah teori yang menyatakan bahwa kehidupan di bumi ini berasal dari luar angkasa.

Menurut kedua ilmuwan tersebut pada mulanya di luar angkasa terdapat awan gas antar bintang yang mengandung bakteri. Ketika awan itu mengerut karena gravitasi untuk membentuk sistem bintang, bakteri yang ada di dalamnya tetap bertahan hidup di dalam komet. Ketika komet itu terkena sinar matahari, panas matahari mencairkan permukaan es pada komet, bakteri-bakteri tersebut lolos dan tersapu ke planet-planet terdekat. Teori ini juga didasarkan pada argumen Charles darwin bahwa sesungguhnya bakteri memiliki karakteristis "luar bumi".


Hasil gambar untuk gambar hujan darah di kerala


Hasil gambar untuk gambar hujan darah di kerala


Hasil gambar untuk gambar hujan darah di kerala


TRIBUNNEWS.COM, SIMEULUE - Di Universitas Sheffield, Inggris, seorang ahli mikrobiologi bernama Milton Wainwright mengonfirmasi, unsur merah tersebut adalah sel hidup. Hal ini dinyatakan karena Wainwright berhasil menemukan adanya DNA dari unsur sel tersebut walaupun ia belum berhasil mengekstraknya. Karena partikel merah tersebut adalah sel hidup, maka para ilmuwan mengajukan teori, partikel merah itu adalah darah. Menurut mereka, kemungkinan batu meteor yang meledak di udara telah membantai sekelompok kelelawar di udara. Namun, teori ini ditolak karena tidak adanya bukti-bukti yang mendukung, umpama sayap kelelawar yang jatuh ke bumi.
Dengan menghubungkan antara suara ledakan dan cahaya yang mendahului hujan tersebut, Louis mengemukakan teori bahwa sel-sel merah tersebut adalah makhluk ekstraterestrial (ET). Louis menyimpulkan, materi merah tersebut datang dari sebuah komet yang memasuki atmosfer bumi dan meledak di atas langit India.
Sebuah studi yang dilakukan mahasiswa doktoral dari Universitas Queen, Irlandia, bernama Patrick McCafferty, menemukan catatan sejarah yang menghubungkan hujan berwarna dengan ledakan meteor. McCafferty menganalisis 80 laporan mengenai hujan berwarna, 20 laporan air berubah menjadi darah dan 68 contoh fenomena mirip seperti hujan hitam, hujan susu, atau madu yang turun dari langit. Sebanyak 36 persen dari contoh tersebut ternyata terhubung dengan aktivitas meteor atau komet.
Peristiwa-peristiwa itu terjadi mulai dari Romawi kuno, Irlandia, dan Inggris abad pertengahan, hingga ke Kalifornia pada abad 19. Jadi, apakah hujan merah di Kerala berasal dari luar bumi? Sebagian ilmuwan yang skeptis serta merta menolak teori ini.
Namun, sebagian ilmuwan lain yang belum menemukan jawabannya segera melirik kembali ke sebuah teori usang yang diajukan ahli fisika Sir Fred Hoyle dan Dr Chandra Wickramasinghe. Teori mereka disebut Panspermia, yang menyatakan bahwa kehidupan di bumi berasal dari luar angkasa.
Sampai kini belum ada jawaban pasti mengenai penyebab hujan merah ini. Jawaban yang ada masih sebatas teori. Dan The Sky is Bleeding sepertinya bakal terus menjadi sebuah misteri. Mungkin juga, kali ini di Simeulue yang warganya memiliki kewaspadaan yang amat tinggi terhadap bahaya smong alias tsunami. (Serambinews.com/yocerizal)

Hujan Darah Gegerkan Warga Simeulue

Dalam sejarah modern, Hujan katak juga pernah terjadi ketika berlangsungnya Perang Lalain di Perancis pada tahun 1794.

9 Fenomena Hujan Aneh Paling Menakutkan

Para tentara yang sedang bertempur di tengah medan peperangan sangat terkejut ketika hujan yang jatuh dikepala mereka ternyata bukan hanya air saja melainkan katak muda berukuran kecil, masih ada buntut seperti kecebong.  Begitu banyaknya jumlah katak yang turun dari awan sampai-sampai  mereka terselip masuk dalam topi, kerah seragam dan kantong pakaian prajurit.

Tak hanya di Prancis, wabah hujan katak juga pernah terjadi di Leicester, Massachusets (AS) pada tanggal 7 September 1953, Naphlion (Yunani) pada Mei 1981, Kansas City (AS) pada 1873 dan yang terakhir hujan kecebong (anaknya si kodok di Ishikawa, Jepang. Dalam pandangan sains, asal muasal fenomena hujan aneh menakutkan katak ini sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah.

Ketika badai tornado yang berbentuk Waterspouts, jenis tornado yang terbentuk di dalam air menyerang sarang/kolam sungai dimana tempat habitat ribuan katak hidup hingga membuat katak-katak tersebut terhisap masuk kedalam gulungan angin. Dan ketika gulungan angin mulai mereda, ribuan katak-katak tersebut terlepas dari gulungannya dan seolah-olah turun dari langit.

Mengerikan! Ribuan Ular jatuh dari awan


Peristiwa mengerikan hujan ular ini terjadi di kota Memphis, Amerika Serikat pada 15 Januari tahun 1877. Entah apa penyebabnya ribuan ular-ular ini terjatuh dari langit. Yang pasti kerumunan orang-orang yang sedang berada ditempat terjatuhnya ular-ular tersebut seketika shock dan berlari histeris ketakutan.
 
 
Hujan Ikan


Sepanjang sejarah, hujan hewan yang sering terjadi adalah Ikan, dimulai pada tahun 1861 yang terjadi di Singapura, 23 Oktober 1947 di Lousiana, 2004 dan 2010 di Gurun pasir Lajamanu, Australia. Dan yang terakhir ditepi danau Elliot dan danau Argyle. Yang lebih menganehkan di kota Yoro, Honduras hujan ikan selalu terjadi tiap tahunnya sampai-sampai dirayakan dalam festival rakyat.
 
 
Cacing-cacing Menjijikkan

Warga penduduk di Kota Jennings, Amerika Serikat dikagetkan dengan jatuhnya ribuan cacing dari atas awan layaknya hujan. Ribuan cacing yang terjatuh itu masih terlihat menggumpal karenasaking banyaknya jumlah mereka. Kejadian jatuhnya cacing-cacing di tahun 2007 lalu adalah yang kedua kalinya, sebelumnya pernah terjadi juga pada tahun 1891 di West Virginia (AS).
 
 
HUJAN DARAH

Hujan darah yang terjadi di Kerala adalah sebuah fenomena di mana darah dianggap jatuh dari langit dalam bentuk hujan. Kasus telah tercatat sejak Homer Iliad, yang terjadi pada abad kedelapan SM, dan tersebar luas. Sebelum abad ke-17 secara umum percaya bahwa hujan itu sebenarnya darah. Sastra cermin kultus, di mana munculnya hujan darah dianggap sebagai pertanda buruk, dan digunakan sebagai alat bayangan peristiwa, tapi sementara beberapa mungkin perangkat sastra telah, beberapa kejadian yang bersejarah.

Tercatat contoh hujan darah biasanya mencakup wilayah kecil. Durasi dapat bervariasi, kadang-kadang hanya berlangsung dalam waktu singkat, yang lain beberapa hari. Pada abad ke-17, penjelasan untuk fenomena itu pindah dari takhayul dan mencoba memberikan alasan alami. Pada abad ke-19 hujan darah itu ilmiah diperiksa dan teori-teori yang memberi debu air warna merah diperoleh tanah. Saat ini, teori-teori dominan adalah bahwa hujan disebabkan oleh debu merah dilarutkan dalam air (hujan debu), atau karena adanya mikro-organisme. Alternatif penjelasan meliputi bintik matahari dan aurora, dan dalam kasus hujan merah di Kerala pada tahun 2001, debu dari meteorit dan sel extraterrestrial di dalam air.

 
 Sejarah dan digunakan dalam literatureOccurrences hujan darah sepanjang sejarah didistribusikan dari kuno, ke hari modern. Contoh sastra paling awal adalah di Homer Iliad, di mana Zeus dua kali menyebabkan hujan darah, pada suatu kesempatan untuk memperingatkan tentang pembantaian di pertempuran. The pertanda yang sama juga terjadi dalam karya penyair Hesiod,  menulis sekitar 700 SM;  Penulis John Tatlock menunjukkan bahwa cerita Hesiod mungkin telah dipengaruhi oleh yang tercatat dalam Iliad. Yang Plutarch biografi abad pertama Yunani juga menceritakan tradisi hujan darah pada masa pemerintahan Romulus, pendiri Roma . Penulis Romawi Pliny Livy dan merekam beberapa kasus kemudian hujan darah, dengan Livy menggambarkan sebagai pertanda buruk .

kejadian yang tidak biasa seperti hujan darah dianggap pertanda buruk dalam Antiquity, dan kepercayaan ini bertahan melalui Abad Pertengahan dan baik ke period.Throughout Awal modern utara dan barat Eropa ada banyak kasus hujan darah yang digunakan oleh penulis kontemporer untuk meramalkan kejadian buruk: Anglo-Saxon Chronicle mencatat bahwa pada 685, "ada hujan berdarah di Inggris Dan susu dan mentega diubah menjadi darah Dan Lothere, raja Kent, meninggal..". Tatlock menunjukkan bahwa meskipun Chronicle ditulis jauh setelah peristiwa, hal itu mungkin karena dasar dalam kebenaran sejarah. Dia mencatat bahwa walaupun hujan mungkin tampaknya menjadi pertanda kematian Lothere, penulis sejarah abad pertengahan sering mencatat kejadian biasa dalam karya mereka "hanya untuk kepentingan umum mereka". Gregorius dari Tours catatan bahwa dalam 582 "Di wilayah Paris ada hujan darah yang nyata dari awan, jatuh pada pakaian orang banyak, yang begitu bernoda dan melihat bahwa mereka menanggalkan pakaian mereka sendiri ngeri" Meskipun pekerjaan Geoffrey dari Monmouth - penulis abad ke-12 yang mempopulerkan legenda Raja Arthur - dianggap sebagai "fantastis" daripada yang dapat diandalkan, dia juga mencatat terjadinya hujan darah. Acara ini selanjutnya diperluas oleh Layamon dalam bukunya puisi Brut (ditulis sekitar 1190), yang menggambarkan bagaimana hujan darah adalah salah satu dari beberapa-tanda, dan yang dengan sendirinya menyebabkan kehancuran: 

Dalam waktu yang sama di sini datang tanda aneh, seperti sebelumnya pernah datang, atau tidak pernah sampai sekarang sejak. Dari surga sini datang banjir luar biasa, tiga hari hujan darah, tiga hari dan tiga malam. Itu melebihi kerugian besar! Ketika hujan pergi, di sini datang lagi anon token. Berikut datang hitam lalat, dan terbang di mata laki-laki; dalam mulut mereka, di hidung mereka, hidup mereka pergi semua untuk kehancuran; banyak seperti lalat di sini adalah bahwa mereka makan jagung dan rumput. Celakalah adalah seluruh rakyat yang diam di tanah! Setelah itu datang seperti kematian yang beberapa di sini tetap hidup. Setelah itu di sini datang seorang terjadi jahat, bahwa raja Riwald meninggal.
Banyak karya yang merekam kejadian hujan darah, seperti yang dari Layamon, ditulis secara signifikan setelah acara ini seharusnya telah terjadi. Abad ke-14 biksu Ralph Higden dalam karyanya, yang Polchronicon, menceritakan bahwa di 787 ada hujan darah, mungkin dimaksudkan oleh penulis sebagai indikasi invasi Viking datang. Ditulis dalam abad ke-12, Kitab Leinster catatan peristiwa sensasional, termasuk hujan perak, melainkan catatan mandi darah di 868 .

Dalam karya William dari Newburgh, hujan darah membuktikan drive dan penentuan Richard si Hati Singa. Menurut William dari Newburgh, seorang penulis sejarah kontemporer, Mei 1198 Richard dan buruh yang bekerja di kastil basah kuyup dalam "hujan darah". Sementara beberapa penasihatnya berpikir hujan itu pertanda buruk, Richard tidak terkejut:

raja tidak tergerak oleh mengendur sedikit pun langkah kerja, di mana ia merasakan kesenangan yang tajam seperti itu, kecuali aku salah, bahkan jika malaikat telah turun dari surga untuk mendesak ditinggalkan itu ia akan sama sekali dikutuk.
-William dari Newburgh
Di Jerman, mandi darah adalah salah satu dari beberapa ayat-ayat kedatangan Black Death di 1348-1349. Fenomena ini mendapat eksposur kepada khalayak luas di abad ke-16, selama Renaisans, ketika digunakan sebagai contoh dari kuasa Allah, sebuah bentuk sastra menggunakan keajaiban seperti hujan darah sebagai peringatan terhadap amoralitas menjamur di seluruh Eropa yang berasal dari Italia. Di Jerman, karya-karya seperti itu sangat populer di kalangan Protestan Meskipun peristiwa yang tidak biasa seperti. Sebagai hujan darah masih dirawat dengan takhayul, seringkali sebagai demonstrasi kekuasaan yang saleh, Nicolas-Claude Fabri de Peiresc (1580-1637) adalah salah satu dari sedikit yang diusulkan penyebab alami; setelah mendengar dari hujan berdarah di Aix-en-Provence, ia menyarankan hal ini disebabkan oleh kupu-kupu. Meskipun teori nanti akan ditolak, ia membantu orang seperti Pierre Gassendi dan René Antoine Ferchault de Réaumur untuk meletakkan dasar untuk menghapus takhayul dari penjelasan dari fenomena tersebut.

Di Eropa, ada lebih sedikit dari tiga puluh kasus yang tercatat hujan darah pada abad 13, 14, dan 15 sama sekali. Ada 190 kasus di abad 16 dan 17, ada penurunan abad ke-17 ketika hanya 43 yang tercatat, tapi ini mengangkat lagi dengan 146 pada abad ke-19 Ada sedikit literatur tentang masalah hujan darah. meskipun telah mendapat perhatian beberapa naturalis Fenomena ini mendapat liputan internasional pada tahun 2001, setelah hujan merah jatuh di Kerala, India.  Penjelasan
Photomicrograph partikel dari sampel air hujan merah dari penulis KeralaWhile paling kuno, seperti Hesiod dan Pliny, cenderung menganggap hujan ke tindakan dewa, Cicero menolak ide dan sebaliknya menyarankan bahwa hujan merah mungkin disebabkan oleh "ex aliqua penyakit menular terrena "," dari beberapa penyakit menular duniawi ".dua kasus dalam Illiad dijelaskan oleh Heraclitus sebagai hujan hanya berwarna merah daripada harfiah darah, namun yang scholiast kemudian (seorang komentator kritis atau penjelasan) menunjukkan bahwa pengendapan darah yang telah menguap sebelumnya: setelah pertempuran, darah akan mengalir ke dalam program air di dekatnya, menguap, dan kemudian jatuh sebagai hujan. Penjelasan ini menunjukkan ketidakbiasaan dengan sifat-sifat destilasi bergema oleh Eustathius dari Tesalonika, seorang Uskup Agung abad ke-12.

Tatlock, dalam studi beberapa kasus abad pertengahan hujan darah, mencatat bahwa kasus abad pertengahan hujan darah "setuju baik" dengan rekan klasik mereka. Meskipun ada variabel - misalnya hujan kadang-kadang hanya berlangsung dalam waktu singkat, sementara pada kesempatan lain dapat hari-hari terakhir - mereka secara luas dianggap sebagai pertanda buruk, dan peringatan peristiwa yang akan datang. Ia juga menunjukkan bahwa fenomena hanya dapat dicatat di daerah kecil karena warna hujan tidak akan selalu diperhatikan, dan hanya mungkin jelas terhadap latar belakang pucat. Pada periode klasik, acara-acara seperti mandi darah terlihat sebuah demonstrasi kekuatan saleh, dalam periode abad pertengahan, orang Kristen kurang cenderung atribut fenomena untuk alasan-alasan tersebut, meskipun pengikut agama alam-senang untuk melakukannya .

Pada abad ke-19, ada kecenderungan acara pemeriksaan seperti hujan darah lebih ilmiah; Ehrenberg melakukan eksperimen di Akademi Berlin, mencoba untuk menciptakan "hujan darah" dengan menggunakan debu dicampur dengan air. Dia menyimpulkan bahwa hujan darah disebabkan oleh air mencampur dengan debu kemerahan sebagian besar terdiri dari hewan dan bahan sayuran. Ia tidak jelas pada asal debu, yang menyatakan bahwa ia tidak memiliki karakteristik dari debu Afrika yang mungkin telah menunjukkan itu berasal dari Gurun Sahara. Sebaliknya, ia menyarankan bahwa debu berasal dari rawa-rawa kering di mana ia dijemput oleh angin kekerasan dan kemudian akan jatuh sebagai hujan.  Penjelasan ini sudah berlangsung, dan Academic Press Kamus Sains dan Teknologi (1992) atribut warna darah hujan dengan keberadaan debu yang mengandung oksida besi.

Alasan lain untuk hujan darah selain dari debu kadang-kadang diberikan. Schove dan Peng-Yoke telah menyarankan bahwa fenomena tersebut dapat dihubungkan ke bintik matahari dan aurora  Ketika turun hujan merah di Kerala., Debu adalah penyebab yang dicurigai. Alternatif teori termasuk debu dari meteorit dan sel extraterrestrial di dalam air.  Ini yang kemudian diberhentikan. Partikel-partikel menyebabkan warna merah di Kerala adalah "morfologi mirip" untuk ganggang dan jamur spora .


sumber: wikipedia.com
b. Untuk masa hari kiamat;

Wahyu 8:10

Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air.
8:11Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit.

Meteor Chelyabinsk

Pada tanggal 15 Februari 2013, sebuah meteor memasuki atmosfer Bumi, tepat di atas Rusia, sekitar pukul 09:20:26 Waktu Yekaterinburg (03:20:26 UTC), dan berubah menjadi bola api.[1][2][3][4] Meteor ini melewati region Ural dan meledak di langit kota Chelyabinsk.[n 1] Meteor melintas dari utara ke selatan di kawasan tersebut.
Akademi Sains Rusia menyatakan bahwa meteor itu seberat 10 ton dan memasuki atmosfer bumi dalam kecepatan 54.000 kph[6][7][8] (34.000 mph, atau 15 km/s, sekitar 44 kali kecepatan suara) dan meledak di ketinggian antara 18 dan 32 mil di atas permukaan tanah (30 hingga 50 km).[9] Namun, badan ruang angkasa AS, NASA, memperkirakan bahwa meteor tersebut jauh lebih besar, kira-kira berdiameter 17 meter (56 ft) dan berat 10 ton,[2] dengan pelepasan energi yang setara dengan 500 kiloton TNT, 20-30 kali lebih kuat daripada pengujian nuklir Trinity di New Mexico (18 kt), atau bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima (16 kt) dan yang dijatuhkan di Nagasaki (21 kt).[1][2][10][11] Objek meledak di udara pada ketinggian antara 30 dan 50 km (20 dan 30 mil) di atas permukaan tanah.[12] Karena jauh lebih kecil daripada objek yang saat ini sedang dilacak oleh para ilmuwan antariksa, meteoroid ini tidak terdeteksi sebelum memasuki atmosfer.[13]
Meteor Chelyabinsk merupakan salah satu objek asing terbesar yang tercatat pernah memasuki Bumi sejak meteor Tunguska pada tahun 1908 dan merupakan satu-satunya peristiwa meteor jatuh yang diketahui memakan korban dalam jumlah besar.[14] Meteor jatuh di Rusia ini bisa diklasifikasikan sebagai bola api atau bolide,[15] dan peristiwa ini disebut sebagai ledakan udara, karena objek meledak di atmosfer dalam perjalanannya menuju Bumi.[16] Meskipun ada teori yang menyatakan bahwa objek adalah asteroid 2012 DA14 yang mendekati Bumi lima belas jam kemudian, sumber-sumber Rusia dan ESA mengungkapkan bahwa kedua objek ini sama sekali tidak berhubungan.
Sekitar 1200 orang dilaporkan cedera akibat peristiwa ini, terutama sekali disebabkan oleh kaca jendela yang pecah akibat gelombang kejut; dua di antaranya dilaporkan mengalami cedera serius,[1] seorang wanita 52 tahun yang tulangnya patah diterbangkan ke Moskow untuk mendapat perawatan.[17] Hampir 3.000 bangunan di enam kota di seluruh negara dilaporkan mengalami kerusakan akibat ledakan dan jatuhan meteor.[18][19] Ledakan meteor juga menciptakan cahaya menyilaukan, cukup terang untuk dapat dilihat dan diamati dengan mata telanjang di Oblast Sverdlovsk, Tyumen, Oblast Orenburg, Bashkiria, dan di Kazakhstan.

Laporan awal

Penduduk setempat menyatakan mereka menyaksikan benda terbakar yang sangat terang di langit Chelyabinsk, Sverdlovsk, Tyumen, Orenburg, Bashkiria, dan wilayah tetangganya di Kazakhstan.[20][21][22] Rekaman video amatir menunjukkan bahwa bola api melesat di langit dan meledak tidak lama kemudian.[23][24][25] Ledakannya menghasilkan cahaya yang sangat terang, bahkan lebih terang daripada sinar matahari.[26][27] Foto objek juga sempat diambil tak lama setelah benda itu memasuki atmosfer oleh satelit cuaca Meteosat 9.[8]

Rincian teknis

Objek dan entri

Menurut Badan Antariksa Federal Rusia (RFSA) , pada awalnya diperkirakan bahwa meteor itu melesat dengan kecepatan sekitar 108.000 kph (67.000 mph atau 30 km/s) pada “lintasan rendah”. Sedangkan Akademi Sains Rusia menyatakan bahwa meteor memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 54.000 kph (33.000 mph atau 15 km/s).[6][7][8]
Perkiraan mengenai ukuran objek masih diperdebatkan, berkisar dari diameter 15 m hingga hanya beberapa meter.[2][28] Badan antariksa Amerika Serikat NASA memperkirakan diameter bolide sekitar 17 meter (56 ft), dengan massa mencapai tujuh hingga sepuluh ton. Sementara ledakannya diperkirakan setara dengan ratusan kiloton TNT.[2] Energi yang dilepaskannya cukup besar dan bisa diklasifikasikan sebagai peristiwa seismik.[29]
Pattani Geographical Society menyatakan bahwa meteor yang melesat di atas Chelyabinsk memiliki tiga daya ledak yang berbeda. Ledakan pertama adalah ledakan yang paling kuat, yang diawali dengan munculnya lintasan terang di langit, yang berlangsung selama lima detik. Ketinggiannya diperkirakan antara 30–70 km, dengan intensitas 0,1 sampai 10 kiloton (0.4–4.2 TJ).[n 2][30] Hiposentrum ledakan itu berlokasi di sebelah selatan Chelyabinsk, di Emanzhelinsk dan Yuzhnouralsk. Gelombang kejut mencapai Chelyabinsk dua menit kemudian.

Pasca-ledakan

Tiga lokasi tempat jatuhnya serpihan meteor telah ditemukan, dua di kawasan di dekat Danau Chebarkul, dan satu lagi berjarak sekitar 80 km (50 mil) ke sebelah barat laut, di dekat kota Zlatoust dan perbatasan antara Bashkiria dan Oblast Chelyabinsk. Salah satu meteorit yang jatuh di dekat Chebarkul menciptakan kawah berdiameter enam meter (20 kaki). Sebuah lubang juga ditemukan oleh nelayan setempat di permukaan Danau Chebarkul yang membeku.[8] Di Kazakhstan, petugas darurat menyatakan mereka melihat dua objek tak dikenal yang mendarat di Provinsi Aktobe, Kazakhstan, berdekatan dengan wilayah Rusia yang kejatuhan meteor.[31]

Kerusakan dan cedera

Pada 15 Februari 2013, sekitar 1.200 jiwa[1] dilaporkan cedera akibat peristiwa ini, termasuk 159 anak-anak. Petinggi kesehatan menyatakan 112 orang telah dirawat di rumah sakit, dan dua di antaranya dalam kondisi yang serius. Sebagian besar korban cedera akibat terkena pecahan kaca.[1] Gedung-gedung perkantoran di pusat kota Chelyabinsk di evakuasi. Kelas untuk semua siswa di Chelyabinsk dibatalkan, terutama karena kaca jendela yang pecah.[8] Setidaknya 20 anak cedera saat kaca jendela di sebuah Taman Kanak-Kanak meledak pada pukul 09:22.[32]
Setelah kejadian tersebut, pejabat pemerintah Chelyabinsk meminta kepada para orang tua untuk membawa anak-anak mereka pulang dari sekolah.[33] Seorang juru bicara kementerian dalam negeri menyatakan bahwa sekitar 600 m2 (6,500 sq ft) atap sebuah pabrik seng runtuh selama kejadian berlangsung.[34] Warga di Chelyabinsk yang jendelanya hancur akibat ledakan berupaya untuk menutupinya kembali dengan benda apapun yang tersedia karena suhu di daerah itu mencapai −15 °C (5 °F).[28][35][36]
Gubernur Chelyabinsk, Mikhail Yurevich, mengungkapkan bahwa mendistribusikan pemanas kepada warga yang terkena dampak adalah tujuan utama pemerintah saat ini.[8] Ia memperkirakan kerugian akibat peristiwa tersebut kurang lebih 1 miliar rubel[37] (sekitar 33 juta USD). Pemerintah Chelyabinsk menyatakan bahwa kaca jendela rumah-rumah yang pecah (kecuali jendela balkon) akan diganti dengan dibiayai oleh negara.[38]
Meteor Chelyabinsk dianggap sebagai meteor terbesar yang pernah menghantam bumi sejak peristiwa Tunguska pada 1908 dan satu-satunya peristiwa meteor jatuh yang dilaporkan mencederai sejumlah besar manusia.[39][40]

Reaksi

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menegaskan bahwa sebuah meteor telah menghantam Rusia dan menyatakan: “hal itu membuktikan bahwa keseluruhan planet rentan terhadap meteor dan sistem spaceguard diperlukan untuk melindungi planet dari peristiwa serupa di kemudian hari”.[25][41] Dmitry Rogozin, wakil perdana menteri, mengusulkan mengenai keberadaan suatu program internasional yang akan memperingatkan negara-negara mengenai ancaman dari “benda alien”.[42] Pemimpin Partai Demokratik Liberal Rusia , Vladimir Zhirinovsky, menyatakan bahwa itu bukanlah meteor, tapi “pengujian senjata baru Amerika”.[42] Meskipun demikian, NASA sepakat dengan badan antariksa Rusia Roskosmos, yang menyatakan bahwa benda itu memanglah sebuah meteor.[43]
Kolonel Jenderal Nikolai Bogdanov, komandan Distrik Militer Pusat, membentuk satuan pasukan khusus untuk dikerahkan ke wilayah-wilayah yang terkena dampak guna mencari serpihan meteor dan untuk memantau situasi. Serpihan meteorit yang berukuran sekitar 5 mm hingga 1 cm dilaporkan telah ditemukan di dekat Chebarkul, region Chelyabinsk.[44]

Liputan media

Peristiwa ini dengan cepat mendapat liputan yang luas dari media-media, baik lokal maupun internasional.[45] Kurang dari 15 jam setelah jatuhnya meteor, video yang berkaitan dengan peristiwa tersebut telah dilihat jutaan kali.[46]

Pendekatan asteroid yang bersamaan

Teori awal menunjukkan bahwa peristiwa ini tidak berhubungan dengan mendekatnya asteroid 2012 DA14 pada tanggal 15 Februari, yang berhasil mendekati Bumi pada jarak 27.700 km.[26][47] Teori ini mendapat dukungan dari pemerintah; meteor Chelyabinsk bergerak dari utara ke selatan, sedangkan lintasan asteroid tersebut melintas dari selatan ke utara.[48][49] Pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh European Space Agency (ESA).[50]
Ledakan meteor ini terjadi 16 jam sebelum mendekatnya asteroid 2012 DA14 ke Bumi, yang merupakan “objek asing paling dekat ke Bumi yang pernah diprediksi”.[51] Para astronom juga menyatakan pendapat yang serupa. Phil Plait menyatakan bahwa kedua objek ini tidak mungkin berkaitan karena keduanya terpisah hampir 500.000 km jauhnya dan masing-masingnya menuju ke arah yang berbeda.[26] Setelah analisis awal foto-foto dari lokasi kejadian, para ilmuwan di Observatorium Geofisika Sodankylä, Finlandia, menyimpulkan bahwa lintasan kedua objek tersebut berbeda.[52] Simon O'Toole dari Observatorium Astronomi Australia juga menyatakan hal yang sama.[53] Phil Bland dari Universitas Curtin mengungkapkan bahwa mendekatnya kedua objek tersebut ke Bumi pada waktu yang hampir bersamaan mungkin hanya kebetulan saja.[54] Marco Langbroek (VU University Amsterdam) menyatakan tidak mungkin bagi serpihan meteor yang berada dalam orbit yang sama dengan 2012 DA14 untuk memasuki atmosfer di 55 derajat lintang utara; seperti yang terlihat dari arah pendekatan serpihan tersebut, 55 derajat lintang utara terletak di sisi belakang Bumi.[55]
Tak lama setelah kejadian, NASA merilis sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa 2012 DA14 dan meteor yang jatuh di Rusia “berbeda secara signifikan”, baik lintasan maupun kedua objek tersebut sama sekali tidak berhubungan.[51]

Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk


Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk

Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk


Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk
Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk


Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk
Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk

Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk

Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk


Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk

Hasil gambar untuk gambar Meteor Chelyabinsk

Tidak ada komentar: