Kamis, 29 Desember 2016

PELAJARAN MEMBACA NUBUATAN - 18

Data tambahan untuk penyakit mematikan:

FLU SPANYOL:
Pandemik Flu 1918 (biasa disebut Flu Spanyol) adalah Pandemik Influenza kategori 5 yang mulai menyebar di Amerika Serikat, muncul di Afrika Barat dan Perancis, lalu menyebar hampir ke seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Influenza Tipe A subtipe H1N1. Kebanyakan korban Flu ini adalah Dewasa Muda. Flu Spanyol terjadi dari Maret 1918 sampai Juni 1920,[1] menyebar sampai ke Arktik dan kepulauan Pasifik. Diperkirakan 50 sampai 100 juta orang di seluruh dunia meninggal.

Flu Spanyol pertama kali dimulai pada tahun 1918 yang kemudian menyebar dengan sangat cepat dari Asia, Eropa, hingga juga Amerika bagian utara. Penyakit ini bertanggung jawab atas banyak sekali korban yang meninggal. Hanya dalam rentang waktu 2 tahun saja, diperkirakan telah ada 50 hingga 100 juta orang yang meninggal karena wabah paling mematikan satu ini. Hanya di Amerika Serikat saja diketahui lebih dari setengah populasinya telah meninggal.

Seperti kebanyakan wabah di daftar ini, pada saat penyakit ini pertama kali muncul, para penderitanya sudah divonis pasti meninggal. Karena seperti sekarang ini, tidak ada perawatan medis yang dapat menyembuhkan virus flu (obat era modern ini hanya memperpendek umur hidup si virus). Yang bisa dilakukan dokter hanyalah mencoba membuat pasien lebih merasa nyaman. Pada saat itu, mereka yang "beruntung" akan meninggal tenggelam di paru-paru mereka sendiri. Sebaliknya mereka yang tidak, akan terkena infeksi bakteri kedua dan harus meninggal dengan sangat menderita.

BAU BESAR:

Bau Besar (bahasa Inggris:The Great Stink) adalah suatu peristiwa yang terjadi pada musim panas tahun 1858 di mana bau menyengat dari limbah dan pembuangan manusia yang berasal dari Sungai Thames sangat kuat tercium di pusat kota London, Inggris.

Hingga akhir abad 16, warga London menggantungkan persediaan air mereka pada pasokan air yang bersumber dari air sumur dangkal, Sungai Thames beserta anak-anak sungainya, atau salah satu dari sekitar selusin mata air alami yang terdapat di London, termasuk mata air musim semi di Tyburn yang dihubungkan oleh pipa yang menyalurkan air ke sumur atau tangki besar di Cheapside. Pasokan air ini tidak diizinkan digunakan untuk tujuan komersial atau industri yang tidak sah. Untuk itu, pemerintah kota London menunjuk seorang penjaga saluran yang akan memastikan bahwa penduduk yang berprofesi sebagai pembuat bir, juru masak dan penjual ikan akan membayar untuk air yang mereka gunakan.[1]
Penduduk London yang kaya bertempat tinggal di dekat pipa saluran air dan bisa mendapatkan izin untuk penyaluran air ke rumah mereka, namun penyadapan tidak sah terhadap saluran air tetap saja tidak bisa dicegah, terutama oleh rumah tangga miskin. Air dari saluran diberikan kepada setiap rumah oleh operator air, yang dikenal dengan sebutan "cobs". Pada tahun 1496, para cobs ini mendirikan serikat mereka sendiri yang dinamakan "Persaudaraan Petugas Air dari St. Cristofer"[1]
Pada tahun 1582, seorang warga Belanda bernama Peter Morice menyewa sebuah bangunan di tepi utara Sungai Thames dan kemudian mendirikan sebuah kincir air yang berfungsi untuk memompa air dari Thames ke berbagai tempat di London. Kincir air lainnya kemudian ditambahkan lagi pada tahun 1584 dan 1701 dan tetap digunakan sampai tahun 1822. Namun, pada tahun 1815, limbah rumah tangga warga London diperbolehkan untuk dibuang ke Sungai Thames melalui saluran pembuangan. Pembuangan limbah ini terus dilakukan selama tujuh tahun berikutnya. Limbah ini berpotensi untuk dipompa kembali ke rumah tangga yang sama yang kemudian digunakan sebagai air minum, memasak, dan mandi. Sebelum Bau Besar, ada sekitar 200.000 cesspit (tempat pembuangan kotoran, mirip dengan septic tank di era modern) di London. Untuk mengosongkan satu cesspit ini warga diharuskan membayar sebesar satu shilling. Banyak warga London yang tidak mampu membayarnya. Akibatnya, bau kotoran merebak ke udara dan rumah tangga yang tidak mampu mengosongkan cesspit harus menyalurkan pembuangan mereka ke Sungai Thames.[1]

Kolera

Wabah kolera mulai meluas selama periode 1840-an. Penyebabnya tidak diketahui, namun teori yang paling banyak diterima adalah bahwa penyakit ini disebabkan oleh udara yang membawa "racun Miasma". Pada tahun 1854, Filippo Pacini mengungkapkan penemuannya tentang bakteri Vibrio cholerae yang menjadi penyebab utama penyakit kolera, namun teori ini diabaikan sampai ditemukan kembali tiga puluh tahun kemudian oleh Robert Koch. Pada tahun sama, seorang dokter bernama John Snow mengemukakan bahwa penyakit kolera ini ditularkan oleh air minum yang tercemar oleh limbah setelah terjadinya bencana epidemi yang berpusat di Soho pada tahun 1854, tetapi ide ini tidak diterima secara luas. Untuk Mengkonsolidasikan beberapa badan-badan lokal yang terpisah berkaitan dengan saluran pembuangan, Komisi Metropolitan Sistem Pembuangan dibentuk pada tahun 1848. Komisi ini bertugas melakukan survei terhadap sistem pembuangan London dan kemudian mulai membersihkan cesspit-cesspitt di ibukota.[3].


Cacar (Amerika Utara) - 1775

Pada era modern ini, penyakit cacar mungkin hanyalah sekedar penyakit ringan yang berasal dari virus dengan nama ilmiah Variola dan walaupun sangat mengganggu tapi dapat relatif mudah disembuhkan. Sayangnya hal itu tidak berlaku sama pada saat sejarah wabah penyakit ini muncul.
Ketika era politik dan perang revolusioner sedang terjadi di pesisir timur, sebuah penyakit yang dinamai The Great Smallpox atau singkatnya Cacar tengah menyerang seluruh benua Amerika Sebelah Utara, tepatnya pada tahun 1775 sampai dengan tahun 1782. Karena terjadinya perang Amerika maka tidak banyak yang diketahui mengenai wabah penyakit mematikan satu ini, namun yang diketahui adalah setidaknya hingga abad ke-20 setidaknya penyakit Cacar ini telah merenggut 300 Juta Korban Jiwa.



Peniupan sangkakala keempat:

a. Untuk masa 1833 - 1844 Tarikh Masehi;

Wahyu 16:8

Dan malaikat yang keempat menumpahkan cawannya ke atas matahari, dan kepadanya diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api.
16:9Dan manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan mereka menghujat nama Allah yang berkuasa atas malapetaka-malapetaka itu dan mereka tidak bertobat untuk memuliakan Dia.

Saya tidak menemukan catatan peristiwa di tahun-tahun itu, tapi selewat tahun itu ada banyak sekali dan di berbagai tempat di dunia diserang gelombang panas yang mematikan.

Bhataramedia.com – Gelombang panas yang terjadi tahun 2011 silam, terbukti menjadi pemecah rekor di seluruh Amerika Utara. Beberapa daerah di Amerika Serikat dan Kanada mencatat rekor suhu dan kelembaban tertinggi. Selain itu, gelombang panas ini juga mematikan. Lebih dari 40 orang meninggal sebagai akibat langsung dari suksesi hari-hari panas yang secara teratur mencapai 113 Fahrenheit dalam rentang dua bulan musim panas.
Jumlah korban tewas tidak seberapa jika dibandingkan dengan gelombang panas yang pernah direkam sebelumnya. Namun, hal tersebut menerima liputan pers lebih dari yang lain. Ini adalah perubahan yang lengkap, mengingat gelombang panas tidak pernah dilihat sebagai berita penting atau menarik di masa lalu. Bencana alam ini tidak sedramatis gempa bumi atau tornado; Namun, membunuh lebih banyak orang setiap tahunnya bila dibandingkan dengan dua lainnya.
Banyak gelombang panas terkenal yang tercatat, terjadi di abad ke-20 dan ke-21. Fenomena ini telah melanda di hampir setiap bagian dari dunia dan telah bertanggung jawab untuk banyak bencana alam dan bencana ekonomi. Efeknya tidak memiliki batas; negara-negara maju dan berkembang sama-sama telah terkena panas yang mencengangkan untuk jangka waktu yang lama.
Menurut artikel Eric Klinenberg tahun 2002 di Slate.com, lebih dari 400 orang Amerika meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan panas di dalam satu tahun. Dengan kata lain, gelombang panas membunuh lebih banyak orang di AS daripada bencana alam lainnya yang dikombinasikan. Namun, menurut Eric, gelombang panas bergerak lambat dan lama, sehingga dapat dicegah.
“Kedatangan gelombang panas selalu diumumkan dan cukup mudah untuk mencegah kerusakan pada manusia,” tulisnya. “Korban panas cenderung lemas secara bertahap, sendirian di rumah, tidak berhubungan dengan keluarga, teman dan jasa sosial yang dapat menyelamatkan nyawa mereka. Memperlakukan mereka dengan air atau membawa mereka ke tempat yang ber-AC.”

Gelombang Panas di Amerika Utara, 1936

Amerika Utara telah terpukul oleh beberapa gelombang panas besar. Salah satu yang melanda pada tahun 1936 dianggap paling parah di alam sejarah Amerika modern. Waktu itu juga sungguh mengerikan. Bencana ini terjadi ketika Amerika Serikat dan Kanada berada di tengah-tengah Depresi Besar. Selain itu, tahun 1930-an adalah salah satu dekade terkering. Ini adalah era dari beberapa kekeringan dan badai debu terparah.
Selama musim panas tahun 1936, tujuh negara mencapai rekor tertinggi sementara tambahan 36 negara berada di atas suhu normal. Provinsi Ontario dan Manitoba di Kanada mencapai rekor tertinggi di atas 110 derajat Fahrenheit.
Gelombang panas ini sangat menghancurkan pada manusia. Pada era sebelum adanya Air Conditioner (AC), daerah perkotaan seperti Chicago, Detroit, St Louis, Milwaukee, Cleveland, Toronto dan daerah perkotaan di Amerika Utara lainnya “mendesis”. Lebih dari 1.693 orang, sebagian besar orang tua, tewas di kota-kota (beberapa perkiraan mengklaim sebanyak 5.000 mungkin telah meninggal karena gejala yang disebabkan oleh panas yang berlebihan).
Petani juga mengalami dampak ekonomi. Tanaman hancur oleh panas, sehingga harga jagung dan gandum melonjak. Beberapa lahan pertanian tetap tandus atau kering sampai September ketika suhu kembali ke tingkat normal.

Gelombang Panas di Chicago, 1995

Di antara tahun 1936 dan 1995, ada beberapa gelombang panas mematikan : New York City (1972, 1984), St. Louis (1980), Philadelphia (1993), Dallas (1998) dan Milwaukee (1995) (Klinenberg, 2002). Gelombang panas yang melanda Chicago pada tahun 1995 terbukti menjadi yang terburuk.
Lima puluh sembilan tahun setelah musim panas tahun 1936, kota Chicagi disiksa oleh suhu yang lebih tingii dari rata-rata. Hanya dalam waktu satu minggu di bulan Juli, 739 orang meninggal. Situasi ini sangat buruk sehingga truk trailer pendingin ditempatkan di dekat kamar mayat dan rumah sakit. Trailer-trailer ini digunakan untuk menyimpan mayat, yang telah memenuhi fasilitas ini.
Seperti biasa, orang tua merupakan korban yang paling terpukul. Selain itu, orang miskin atau mereka yang tidak memiliki AC juga menjadi korban.
Klinenberg membandingkan kematian dari gelombang panas ini dengan bencana lain yang terkenal di kota Chicago, serta dengan bencana alam lainnya di tahun 1990-an.
Untuk menempatkan gelombang panas 1995 dalam konteks, pikirkan kebakaran besar Chicago tahun 1871. Bencana ini menewaskan tidak kurang dari setengah populasi. Bencana terbaru lainnya, seperti Northridge, Gempa California 1994 atau Badai Andrews Tahun 1992, menewaskan sepersepuluh dan seperduapuluh dari jumlah orang,” tulisnya.
Namun, gelombang panas ini kemudian akan dikerdilkan oleh salah satu yang melanda Perancis dan Eropa pada tahun 2003.

Gelombang Panas di Perancis, 2003

Sebenarnya, gelombang panas yang melanda Perancis pada Agustus 2003 mempengaruhi sebagian besar Eropa. Rekor panas banyak dicapai di beberapa negara dan banyak dari negara-negara tersebut memiliki angka kematian yang cukup besar (perkiraan akhir untuk Eropa adalah 71.310, menjadikannya yang paling mematikan sejauh ini). Perancis terkena imbas paling parah.
Menurut laporan USA Today tahun 2003, laporan pemerintah dari National Institute of Health and Medical Research (INSERM) memperkirakan bahwa jumlah korban tewas mencapai 14.802 di Perancis saja.
Sekali lagi, orang tua merupakan korban yang paling banyak. Banyak warga senior di Paris menyerah selama puncak gelombang panas, ketika suhu mencapai 104 derajat Fahrenheit. Alasan lain jumlahnya begitu tinggi adalah bahwa Perancis merupakan negara yang jarang memiliki rumah tangga dan bangunan dengan sistem pendingin udara.
Pada awalnya, perkiraan pemerintah mencapai angka 11, 435. Namun, panas tidak membunuh beberapa orang secara langsung. Menurut laporan USA Today, banyak yang “memiliki kondisi sangat lemah selama suhu puncak, tetapi tidak meninggal sampai beberapa hari kemudian.”

Gelombang Panas di Amerika Utara, 2006 dan Setelahnya

Pada musim panas tahun 2006, banyak daerah di Amerika Serikat dan Kanada mengalami gelombang panas yang mematikan lainnya. Pada kejadian ini, 225 orang meninggal. 15 Juli adalah hari pertama. Pada hari ini, Pierre, South Dakota dipanggang di suhu 117 derajat Fahrenheit.
Selama periode antara 15 Juli dan 22 Juli hampir setiap negara (kecuali Alaska, Minnesota dan Dakota Utara) mencatat suhu 90 derajat Fahrenheit atau lebih.
Di California, 164 kematian dikaitkan dengan penyakit yang berhubungan dengan panas. Negara bagian Central Valley dan California Selatan dihantam oleh panas yang lembab, yang tidak biasanya terjadi di kedua daerah.
Benua Amerika akan mengalami gelombang panas lokal lainnya di tahun-tahun mendatang. Akhirnya, pada tahun 2011, banyak dari wilayah Amerika Serikat dan Kanada akan terpengaruh oleh gelombang panas yang sama. Pada saat ini, gelombang panas akhirnya diakui sebagai bencana alam, serta ada lebih banyak liputan oleh media.
Gelombang panas ini bukan yang pertama, tidak pula menjadi yang terakhir. Tren menunjukkan bahwa suhu rata-rata akan terus meningkat setiap musim panas. Selain itu, orang-orang yang berisiko (orang miskin dan orang tua) akan terus menjadi korban. Gelombang panas tidak dapat dicegah. Namun, kematian dapat dicegah jika dilakukan tindakan tertentu.

Terbaru : Gelombang Panas di India, 2015

Situasi saat ini di India tampak sangat muram. Korban tewas mendekati 2000, seiring naiknya suhu sebesar 15 sampai 20 derajat Celcius di atas normal. Menurut organisasi yang berbasis di Brussels, Emergency-Event Database, ini adalah gelombang panas paling mematikan kelima di dalam sejarah.
Sebagian besar wilayah di India telah terpengaruh. Hal ini terutama paling berdampak pada masyarakat miskin.
Menurut Voice of America News, banyak orang di negara tersebut berharap bahwa musim hujan (yang sering dimulai di sekitar waktu ini) akan membawa hujan dan cuaca dingin ke daerah selatan negara itu.
Chandra Bhushan, wakil direktur New Delhi-based Center for Science and Environment mengatakan : “Umumnya ada kenaikan suhu berjalan lambat, tetapi itu tidak terjadi. Kami memiliki bulan Maret dan April yang luar biasa dingin dan basah, kemudian dari minggu pertama Mei, suhu tiba-tiba mulai meningkat dan peningkatannya terjadi sangat cepat, sangat cepat. Artinya adalah pada waktu yang sangat singkat, suhu meningkat hampir 15 sampai 20 derajat Celsius. (dari VOA News, 2015)

Kebakaran Peshtigo - 8 Oktober 1871
Kebakaran yang tidak terlalu menyorot perhatian publik di wilayah Wisconsin dan terjadi bersamaan dengan Kebakaran Hebat Chicago ternyata menjadi kebakaran paling mematikan pada tahun itu. Kota Peshtigo, kota yang dilanda kekeringan itu dilalap si jago merah ketika angin kencang membawa api-api kecil dari padang yang terbakar. Api yang semakin tak terkendali terus merembet dan mencapai sisi lain dari sungai Peshtigo, membuat kota tersebut terperangkap dari dua sisi. Saat api berhasil dijinakkan, 1200 orang tewas dan dua belas kota hangus terbakar.


Gelombang Panas 1988 - Musim Panas 1988
Kekeringan yang melanda dan menghancurkan perekonomian agrikultur AS semakin diperburuk oleh serangan gelombang panas pada 1988. Kerugian pada sektor agrikultur akibat bencana ini melebihi US$ 61 miliar. Kondisi kekeringan ini memicu kebakaran yang melanda Taman Nasional Yellowstone dan Gunung Rushmore pada musim panas 1988. Sekitar 5000 hingga 10000 orang terkena berbagai komplikasi kesehatan akibat panas yang sangat menyengat ini.


Gelombang Panas 1980 - Musim Panas 1980
Serangan gelombang panas di tahun 1980 terbukti menjadi salah satu kondisi cuaca terburuk dalam sejarah AS. Temperatur bertekanan tinggi melanda pusat AS dan AS bagian selatan, menekan suhu hingga mencapai 90 derajat Fahrenheit (32,2 derajat Celsius). Sebanyak 10000 orang meninggal dunia akibat hawa panas dan berbagai penyakit dari stres berkepanjangan. Kerusakan agrikultur diestimasi sebesar US$ 48 miliar.


Kebakaran dan Gempa Bumi Dahsyat San Francisco
Penduduk San Francisco terbangun di pagi hari oleh gempa bumi berkekuatan 7,7 hingga 7,9 skala Richter yang berlangsung kurang dari satu menit. Walau hanya sebentar, gempa ini mengakibatkan kebakaran hebat di berbagai penjuru kota selama empat hari berturut-turut. Tak hanya merusak saluran gas kota, gempa juga merusak jaringan air bawah tanah.

Pemadam kebakaran pun kesulitan karena kekurangan air. Saat api berhasil dipadamkan, 3000 nyawa melayang dan lebih dari 500 blok terbakar. 225.000 orang yang berhasil selamat, harus menerima kenyataan pahit menjadi tunawisma.


GELOMBANG PANAS JEPANG:


Setidaknya dua orang tewas dan ratusan lainnya dibawa ke rumah sakit selama akhir pekan saat gelombang panas melanda Jepang. Seorang wanita 74 tahun pingsan saat bekerja di sebuah rumah kaca di Prefektur Chiba, dan kemudian dinyatakan meninggal. Sedangkan di dekat Ibaraki, seorang wanita 61 tahun ditemukan ambruk di kebunnya dan meninggal. Pada Ahad, seorang pria 76 tahun dibawa ke rumah sakit di Sera, Hiroshima, setelah pingsan di tepi sungai. "Dia diduga menderita heatstroke," kata seorang petugas ambulans melalui telepon. Pejabat itu mengatakan ada laporan yang belum diklarifikasi, yakni bahwa orang itu bekerja di sawah sebelum jatuh.

Lebih dari 190 orang dibawa ke rumah sakit pada Ahad lalu akibat penyakit yang berhubungan dengan hawa panas. Menurut Kyodo News, di 400 kota, suhu berada di atas 35 derajat Celcius. Suhu tertinggi tercatat di Tatebayashi di Prefektur Gunma dan Kota Ibigawa di Gifu, yaitu 36 derajat Celcius. Menurut Badan Meteorologi Jepang, di dua puluh lima lokasi di seluruh negeri, termasuk Kyoto, suhu melambung lebih dari 35 derajat Celcius. Pada Sabtu lebih dari 250 orang dibawa ke rumah sakit akibat penyakit yang berhubungan dengan hawa panas. Gelombang panas terburuk menghantam Jepang pada Agustus tahun lalu. Sebanyak 17 orang tewas saat suhu melonjak hingga 41 derajat Celcius di Ekawasaki di Shimanto, Prefektur Kochi.


GELOMBANG PANAS AUSTRALIA:


Tahun 2014 penduduk Australia yang menghadapi gelombang panas ekstrem mendapat peringatan bahwa situasi masih akan memburuk, dengan ratusan kebakaran melanda beberapa negara bagian dan suhu hampir mencapai rekor tertinggi. Sebagian besar Australia tenggara telah mengalami gelombang panas yang terik yang memicu kebakaran hutan parah di pesisir barat, membakar 55 rumah dan menewaskan satu orang pada Minggu.

Suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius selama beberapa hari berturut-turut di Australia Selatan dan ada larangan total untuk menyalakan api untuk rekreasi di negara bagian tetangga Victoria, dimana para atlet tenis yang bertanding untuk Australia Terbuka pingsan, muntah dan keram di tengah panas terik. Permainan dihentikan Kamis siang karena panas ekstrem, dan seorang tukang kebun sekolah di Melbourne, berusia 76 tahun, meninggal dunia setelah jatuh ke tanah Rabu.

Para petugas kesehatan di Australia Selatan mengatakan 129 orang dibawa ke rumah sakit dalam tiga hari terakhir karena kelelahan dan dehidrasi akibat panas. Di Victoria, ada 109 kasus dan panggilan ambulan dilaporkan melonjak hampir dua kali lipat dari jumlah panggilan untuk kasus serangan jantung. Kebakaran hutan mengganas di dua negara bagian tersebut. Menurut dinas pemadam kebakaran Australia Selatan, ada 800 kobaran dan "pola api yang meningkat dalam lebih dari 48 jam ke depan."


GELOMBANG PANAS INDIA:


Meskipun beberapa daerah merasakan panas luar biasa, kamu harus bahagia karena tidak mengalami gelombang panas seperti di India sana. Bayangkan saja, gelombang panas di India tercatat sudah membunuh lebih dari 1.100 orang. Terdengar mengerikan memang, tapi ternyata gelombang panas itu bukan sekali ini terjadi. Pada tahun 2007 silam, lebih dari 100 orang warga di kawasan India Utara menjadi korban gelombang panas yang mencapai suhu 45 derajat celcius itu. Dan Uttar Pradesh menjadi lokasi korban terbanyak. Untuk kali ini, dalam sepekan terakhir kawasan selatan India yakni Telangana dan Andhra Pradesh yang menjadi korban. Dengan suhu paling rendah 47 derajat celcius dan rata-rata mencapai 50 derajat celcius, tentu kamu bisa membayangkan betapa panasnya kondisi India saat ini, seperti dilansir abcactionnews.

Pertanyaan pun muncul, mengapa gelombang panas di India kali ini sangat mematikan? Penyebab pun dituduhkan pada pemanasan global yang makin buruk. Beberapa ilmuwan di India menyimpulkan, "Gelombang panas yang ada meningkat dengan suhu rata-rata 8 derajat dalam 100 tahun terakhir. Pemanasan global yang disebabkan oleh manusia telah mengubah tahun 2014 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah Bumi," Rupanya tekanan panas yang dialami Bumi memang tengah meningkat dan tak hanya di India. Bahkan efek rumah kaca tercatat meningkat di Amerika Serikat karena polusi udara. Kini beberapa negara lain juga diperingatkan akan gelombang panas.


GELOMBANG PANAS PERANCIS:


Di Perancis, ada 14.802 kematian yang berhubungan dengan panas (terutama di kalangan orang tua) selama terjadinya gelombang panas, menurut data dari Institut Kesehatan Nasional Perancis. Perancis pada umumnya tidak mengalami musim panas yang sangat panas, terutama di daerah utara, namun selama tujuh hari pada bulan Juli-Agustus 2003, Perancis memiliki suhu lebih dari 40 °C (104 °F), yang tercatat di Auxerre, Yonne. Karena musim panas biasanya relatif sedang, kebanyakan orang tidak mengetahui bagaimana cara untuk bereaksi terhadap suhu yang sangat tinggi (misalnya, mengenai rehidrasi), dan sebagian besar rumah warga dan fasilitas perumahan yang dibangun dalam 50 tahun terakhir tidak dilengkapi dengan penyejuk udara. Selain itu, suhu tinggi sangat jarang dianggap sebagai ancaman utama.

Bencana itu terjadi pada bulan Agustus, bulan di mana banyak orang, termasuk menteri pemerintah dan dokter, sedang berlibur. Banyak mayat yang tidak diklaim selama berminggu-minggu karena kerabat mereka sedang berlibur. Sebuah gudang berpendingin di luar Paris digunakan untuk menampung mayat karena mereka tidak memiliki cukup ruang di fasilitas mereka. Pada 3 September 2003, lima puluh tujuh mayat yang masih tidak diklaim di kawasan Paris dikuburkan.

Tingginya angka kematian dapat dijelaskan dengan mengaitkan peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak berhubungan. Pada hari-hari normal, hampir setiap malam di Perancis cuacanya dingin, bahkan di musim panas sekalipun. Akibatnya, rumah-rumah (biasanya rumah batu, beton atau bata) tidak terlalu hangat selama siang hari, dan AC biasanya tidak diperlukan. Selama gelombang panas, suhu mencapai rekor tertinggi bahkan di malam hari, yang mencegah siklus pendinginan yang biasanya terjadi. Warga usia tua yang tinggal sendirian belum pernah menghadapi cuaca panas yang ekstrim seperti ini, dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi, atau terlalu dilemahkan oleh cuaca panas sehingga tidak mampu mempertahankan diri. Warga usia tua yang tinggal dengan keluarga mereka atau di panti jompo mungkin bisa mengandalkan bantuan dari orang lain untuk melindungi diri. Hal ini menyebabkan kelompok-kelompok usia yang paling lemah memiliki tingkat kematian lebih tinggi dibandingkan dengan warga yang sehat secara fisik, sebagian besar korban berasal dari kelompok warga usia tua.

Buruknya sistem kesehatan negara sehingga mempengaruhi jumlah korban tewas adalah salah satu masalah yang menjadi kontroversi di Perancis. Pemerintahan Presiden Jacques Chirac dan Perdana Menteri Jean-Pierre Raffarin menyalahkan para keluarga yang meninggalkan orang tua mereka saat mereka berlibur. Selain itu, sistem hari kerja 35 jam, juga dituding mempengaruhi jumlah dokter yang bertugas pada saat itu. Banyak perusahaan-perusahaan yang tutup pada bulan Agustus, sehingga karyawan tidak punya pilihan lain selain pergi berlibur. Dokter keluarga juga memiliki kebiasaan untuk berlibur pada waktu yang sama.

Oposisi dan sebagian besar editorial pers lokal menyalahkan pemerintah atas banyaknya korban. Kebanyakan dari mereka menyalahkan Menteri Kesehatan Jean-Fran├žois Mattei karena tidak segera kembali dari liburannya di saat ancaman gelombang panas semakin serius, dan para pembantunya juga memblokir tindakan darurat di rumah-rumah sakit umum (seperti panggilan untuk dokter). Seorang kritikus, Dr. Patrick Pelloux, kepala serikat dokter darurat, menyalahkan pemerintahan Raffarin karena mengabaikan peringatan dari para profesional kesehatan. Mattei kehilangan jabatannya dalam perombakan kabinet pada tanggal 31 Maret 2004

Gelombang panas yang terjadi di dunia akhir akhir ini memang sangat mengerikan, karena efek dan akibat yang ditimbulkan sangat besar. Sahabat anehdidunia.com fenomena mengerikan itu terjadi secara tak langsung memang karena perbuatan manusia yang secara serakah menumbangkan pohon pohon yang bertugas menjaga keseimbangan bumi. Mari kita kembalikan kehijauan bumi dengan menanam pohon dan menjaga kebersihan. Semoga dunia kembali tersenyum.



b. Untuk masa hari kiamat:

Wahyu 8:12

Lalu malaikat yang keempat meniup sangkakalanya dan terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiga dari padanya menjadi gelap dan sepertiga dari siang hari tidak terang dan demikian juga malam hari.
8:13Lalu aku melihat: aku mendengar seekor burung nasar terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring: "Celaka, celaka, celakalah mereka yang diam di atas bumi oleh karena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya."

BLACK SUNDAY:



Sabtu dini hari waktu Indonesia bagian barat, dunia khususnya umat muslim dikejutkan dengan berita jatuhnya crane (alat berat) proyek pembangunan Masjidil Haram di Mekah yang kemudian menimpa sejumlah calon jemaah haji yang ketika itu sedang berada di lokasi kejadian. Berita terakhir mengabarkan bahwa 10 orang WNI turut meninggal dunia dalam peristiwa tersebut bersama lebih dari 100 calon jamaah haji dari negara lainnya.

Pemerintah setempat menyatakan bahwa jatuhnya crane tersebut sementara diduga diakibatkan oleh badai pasir, angin, dan hujan lebat. Badai pasir sendiri telah terjadi di Jedah sejak hari Selasa tanggal 8 September 2015. Tidak hanya Arab Saudi, badai pasir juga melanda negara-negara Timur Tengah lainnya seperti Libanon, Suriah, Israel, Siprus, dan Palestina. Israel sendiri menyatakan bahwa badai pasir tahun ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah negara itu.




Badai pasir yang dalam bahasa Inggris disebut ‘dust storm’ atau ‘sand storm’ ini merupakan sebuah fenomena meteorologi yang umum terjadi di daerah arid (gersang) dan semi-arid, utamanya tanah yang kering. Badai ini disebabkan oleh meningkatnya kecepatan angin dalam suatu wilayah yang luas. Badai pasir dapat memindahkan keseluruhan bukit pasir dan membawa pasir dalam jumlah besar hingga dapat menyerupai dinding pasir dengan tinggi yang bisa mencapai 1,6 km.




Salah satu badai pasir terburuk sepanjang sejarah, khususnya Amerika, adalah peristiwa ‘Black Sunday’ (hari Minggu yang hitam), badai pasir terparah yang terjadi pada tanggal 14 April 1935. Badai ini menyebabkan kerusakan ekonomi dan pertanian yang sangat besar, diperkirakan sebanyak 300 juta ton tanah pindah dari area padang rumput di Amerika Serikat.

Black Sunday pertama-tama menimpa Oklahoma Panhandle (wilayah Oklahoma yang menyerupai gagang panci meliputi Cimarron, Texas, dan Beaver) dan Oklahoma Barat Laut lainnya (meliputi Harper, Woods, Alfalfa, Grant, Kay, Ellis, Woodward, Major, Garfield, Noble, Dewey, Blaine, dan Kingfisher), yang lalu bergerak menuju wilayah bagian selatan. Badai ini terjadi di sore hari sekitar pukul 4 di Beaver, pukul 5.15 di Boise dan Amarillo (Texas) pada pukul 7.20. Kondisi paling parah menimpa Texas dan dampaknya terasa ke daerah-daerah di sekitarnya.




Badai Black Sunday merupakan bagian dari ‘Dust Bowl’ (mangkuk pasir) yang juga dikenal sebagai ‘Dirty Thirties’ (tahun 30-an yang kotor). Dust Bowl merupakan periode dimana badai pasir parah terjadi di wilayah Amerika Serikat dan Kanada pada tahun 30-an. Kejadian alam ini merusak ekologi dan pertanian, berdampak kekeringan parah dan kegagalan penerapan pertanian tanah kering untuk mencegah erosi yang disebabkan oleh angin atau proses Aeolian. Pada peristiwa ini kekeringan terjadi dalam tiga gelombang, 1934, 1936, dan 1939-40, tetapi di beberapa wilayah dataran tinggi mengalami kekeringan selama kurang lebih delapan tahun.




Menurut sejarah, perlakuan tanah oleh petani setempat juga menjadi pemicu fenomena alam ini. Pada masa awal eksplorasi oleh pendatang Eropa dan Amerika, area terjadinya Dust Bowl ini kurang menarik karena dianggap tidak cocok untuk pertanian gaya Eropa karena kurangnya air dan kayu. Area terjadinya Dust Bowl berada di ‘Great Plains’ (dataran besar), dataran berupa padang rumput dan stepa yang terletak di bagian barat sungai Missisipi dan bagian timur pengunungan Rocky di Amerika Serikat dan Kanada. Tetapi kemudian pada pertengahan tahun 1800-an, pada masa berakhirnya perang sipil, terjadi gelombang perpindahan penduduk ke area ini yang kemudian diikuti dengan pengolahan tanah kering dan semi kering ini menjadi area pertanian.




Berawal dari musim hujan yang tidak biasa, pemerintah yakin bahwa ‘rain follows the plow’, hujan mengikuti bajak, dimana iklim berubah karena menetapnya penduduk dan banyaknya pertanian di daerah tersebut. Yang pada akhirnya teori ini ditolak oleh para ahli klimatologi dan dianggap hanya takhayul saja. Akibat kepercayaan yang salah, saat itu pemerintah berpendapat bahwa iklim di area tersebut sudah berubah secara tetap atau permanen dan pasti berhasil untuk pertanian.

Metode pertanian yang dilakukan oleh para petani di jaman itu menyebabkan erosi dalam skala besar. Pembajakan tanah dalam-dalam dan persiapan lainnya membuat tanaman asli menghilang yang mana tanaman tersebut menahan tanah di tempatnya dan membantu mempertahankan kelembaban tanah. Lebih jauh lagi, para petani katun meninggalkan lahan gundul selama musim dingin ketika angin sedang kencang-kencangnya, dan membakar tunggul dengan maksud untuk mengendalikan gulma atau tanaman pengganggu sebelum menanam. Hal ini tentunya menghilangkan nutrisi organik tanah dan vegetasi permukaan tanah.

Setelah mengalami iklim yang baik dengan curah hujan dan musim dingin yang sedang di tahun 1920-an yang berakibat pada pertambahan jumlah penduduk yang menetap dan membuka lahan pertanian, wilayah ini tiba-tiba memasuki musim kemarau yang tidak biasa di tahun 1930-an. Akibat dari perlakuan terhadap tanah pada saat bertani yang mengakibatkan terjadi erosi dan hilangnya tanah permukaan, kekeringan mengakibatkan keringnya permukaan tanah dan seiring berjalannya waktu tanah menjadi rapuh, dan secara perlahan berubah menjadi pasir atau debu.




Pada tanggal 11 November 1933, badai pasir yang sangat kuat mengambil tanah permukaan pertanian di Dakota Selatan. Badai pasir besar selama dua hari kemudian terjadi mulai tanggal 9 Mei 1934 yang memindahkan tanah permukaan Great Plains sebanyak kurang lebih 12 juta pon pasir ke daerah Chicago. Dua hari kemudian, badai yang sama menuju ke timur, ke kota-kota seperti Cleveland, Buffalo, Boston, New York, dan Washington D. C. Badai debu yang parah membuat salju musim dingin di tahun itu (1934-1935) menjadi seperti berwarna merah hingga disebut ‘red snow’.

Puncak Dust Bowl terjadi ketika Black Sunday, badai pasir paling parah pada periode tersebut. Dan kata Dust Bowl sendiri tercetus saat Edward Stinley, editor berita Associated Press kota Kansas, ketika menulis kembali berita Black Sunday yang ditulis oleh reporter dari Denver yaitu Robert E. Geiger.

Pada tahun 1935, sekitar empat tahun kejadian Dust Bowl, penduduk setempat bermigrasi ke arah barat meninggalkan pertanian mereka untuk mencari pekerjaan. Lebih dari 500.000 orang tidak memiliki rumah, dan sebagian penduduk di daerah Kansas juga Oklahoma meninggal akibat sakit kekurangan nutrisi dan pneunomia.

Bagi masyarakat Amerika Serikat peristiwa alam ini cukup diingat oleh mereka. Hingga Christopher Nolan, sutradara film Interstellar di tahun 2014, menyertakan adegan badai pasir yang terinspirasi dari film dokumenter kejadian alam di tahun 30-an karya sutradara Ken Burns berjudul ‘The Dust Bowl’.

Alam memang tidak pernah bisa diketahui maksudnya dengan mudah oleh manusia. Kejadian masa lalu diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan masa depan. Dengan belajar dari masa lalu, diharapkan manusia dapat lebih mengerti alam dan terhindar dari musibah-musibah di kemudian hari.


Hasil gambar untuk gambar badai pasir


Hasil gambar untuk gambar badai pasir


Hasil gambar untuk gambar badai pasir


Hasil gambar untuk gambar badai pasir

Hasil gambar untuk gambar badai pasir

Hasil gambar untuk gambar badai pasir

Hasil gambar untuk gambar badai pasir


Hasil gambar untuk gambar badai pasir

Hasil gambar untuk gambar badai pasir

Hasil gambar untuk gambar badai pasir

Hasil gambar untuk gambar badai pasir

Hasil gambar untuk gambar badai pasir

Tidak ada komentar: