Senin, 16 Januari 2017

ORDO JESUIT

https://id.wikipedia.org/wiki/Yesuit

Serikat Yesus (Latin: Societas Jesu), biasa dikenal dengan Yesuit atau Jesuit adalah ordo Gereja Katolik Roma.[1][2][3][4][5][6][7] Serikat ini didirikan pada 1534 oleh sekelompok mahasiswa pascasarjana dari Universitas Paris yang merupakan teman-teman Iñigo López de Loyola (Ignatius Loyola).[2][8][9][10] Mereka bersumpah untuk melanjutkan persahabatan mereka setelah mereka selesai studi, hidup dalam kemiskinan sesuai Injil dan pergi mengemban perutusan di Yerusalem.[2][10] Mereka menyebut diri mereka amigos en el Señor — sahabat-sahabat di dalam Tuhan.[2]

Logo Serikat Yesus.
IHS: Iesus Hominum Salvator (Yesus Penyelamat Manusia)

Dasar

Ignatius Loyola

Pada 15 Agustus 1534, Ignatius Loyola dan enam mahasiswa lainnya (Fransiskus Xaverius, Alfonso Salmeron, Diego Laynez, dan Nicolas Bobadilla, semuanya orang Spanyol, Pierre Favre dari Perancis dan Simão Rodrigues, orang Portugis) bertemu di Montmartre di luar Paris, kemungkinan dekat Kapel St. Denys, Rue Antoinette, pada masa kini.[5][6] Mereka mendirikan Serikat Yesus untuk "mengemban pelayanan dan misi di Yerusalem, atau untuk pergi ke mana pun juga tanpa bertanya, menaati perintah Paus."[2][5][9]
Pada 1537 mereka pergi ke Italia untuk mendapatkan persetujuan Paus atas ordo mereka.[2][4]Paus Paulus III memberikan mereka persetujuan dan mengizinkan mereka untuk ditahbiskan menjadi pastor dalam Gereja Katolik.[2] Mereka menerima tahbisan di Venesia oleh Uskup Arbe (24 Juni).[2][6] Mereka mengabdikan diri untuk menyebarkan agama Katolik dan kerja amal di Italia, karena rencana perjalanan mereka ke Yerusalem terhalang oleh pecahnya kembali perang antara kaisar, Venesia, Paus, dan Kerajaan Ottoman.[2]

Bersama Favre dan Laynez, Ignatius pergi ke Roma pada Oktober 1538, untuk mendapatkan persetujuan Paus atas konstitusi ordo baru tersebut.[3][4] Sebuah dewan Kardinal memberikan laporan yang positif bagi usul konstitusi yang diajukan, dan Paus Paulus III mengukuhkan ordo ini melalui Bulla kepausan Regimini militantis Ecclesiae (27 September 1540), tetapi membatasi jumlah anggotanya 60 orang.[4] Batasan ini dihapuskan melalui bulla Injunctum nobis (14 Maret 1543). Ignatius dipilih menjadi pemimpin umum pertama.[4] Dia mengirim para sahabatnya sebagai misionaris ke seluruh Eropa untuk mendirikan sekolah, kolese, dan seminari.[4]
Ignatius menulis Konstitusi Serikat Yesus yang disahkan pada 1554.[3][4] Konstitusi ini menciptakan organisasi dengan kepemimpinan tunggal dan menetapkan penyangkalan diri dan ketaatan mutlak kepada Paus dan para pemimpinnya.[3] Prinsip utamanya menjadi Motto Yesuit: Ad Maiorem Dei Gloriam ("demi lebih besarnya kemuliaan Allah").[2][4][8]

Karya awal

Serikat Yesus didirikan bertepatan dengan Reformasi Katolik (Kontra-Reformasi), gerakan dalam Gereja Katolik yang ditujukan untuk melawan Reformasi Protestan (yang ajarannya menyebar ke seluruh Eropa yang beragama Katolik).[4][8] Mereka melaksanakan ketaatan total kepada Kitab Suci dan doktrin Katolik.[4][8] Ignatius pernah menyatakan dalam Latihan Rohaninya: "Saya percaya bahwa putih yang saya lihat adalah hitam bila hierarki Gereja mendefinisikan begitu."[4]
Ignatius Loyola dan para Yesuit pengikutnya percaya bahwa pembaruan Gereja harus dimulai dengan pertobatan hati.[3][7] Salah satu sarana utama untuk menghasilkannya adalah Latihan Rohani yang disebut retret Ignasian.[3] Selama empat minggu dalam kebisuan orang menjalani meditasi terpimpin mengenai hidup Kristus.[3] Pada masa itu, mereka secara teratur bertemu dengan seorang pembimbing rohani yang menolong mereka memahami panggilan atau pesan Tuhan melalui meditasi mereka.[3] Retret ini mengikuti pola Penyucian-Pencerahan-Kesatuan sesuai dengan tradisi mistik Yohanes Kasianus dan para Bapa Padang Pasir.[3] Ignatius menciptakan inovasi yang membuat mistisisme kontemplatif ini bisa diikuti oleh semua orang, dan menggunakannya sebagai sarana membangun kembali kehidupan rohani Gereja.[3][4]
Yesuit juga mendirikan banyak sekolah, yang menarik anak para elite karena metode pengajaran mereka yang maju dan moral yang tinggi.[4][5] Sekolah Yesuit memainkan peranan penting dalam memenangkan beberapa negara Eropa kembali ke Katolik, setelah beberapa lama didominasi oleh Protestan, terutama Polandia [5][8]
Sesuai dengan tradisi Katolik Roma, mereka mengajarkan penggunaan upacara dan dekorasi di dalam ritual dan Devosi Katolik.[5] Karena itu, banyak Yesuit perdana yang menonjol dalam seni visual dan pertunjukan maupun dalam musik.[5]
Kaum Yesuit berhasil mendapatkan pengaruh yang menonjol pada Periode Modern Awal karena para imam Yesuit sering bertindak sebagai "konfesor" raja-raja pada masa itu.[3][4] Mereka juga berperan penting dalam Reformasi Katolik dan dalam berbagai misi Katolik karena struktur mereka yang kendur (tanpa harus tinggal dalam suatu komunitas, melakukan "doa ofisi" bersama, dan lain-lain) membuat mereka lebih fleksibel untuk memenuhi kebutuhan orang-orang pada masa itu.[3][4]

Pengembangan

Misi awal di Jepang dirasakan positif oleh pemerintah Jepang sehingga pemerintah memberikan kaum Yesuit tanah feudal Nagasaki pada 1580.[3][4][11] Namun hak ini dihapus pada 1587, karena pemerintah Jepang khawatir atas berkembangnya pengaruh Yesuit di sana.[3][4][11]
Dua misionaris Yesuit, Gruber dan D'Orville, mencapai Lhasa di Tibet pada 1661.[3]
Misi Yesuit di Amerika Selatan menimbulkan kehebohan hebat di Eropa, terutama di Spanyol dan Portugal, karena mereka dianggap mengganggu upaya penjajahan pemerintah kerajaan.[3][4] Kaum Yesuit seringkali menjadi satu-satunya kekuatan yang menghalangi perbudakan orang Indian.[3][4] Di banyak tempat di Amerika Selatan terutama wilayah yang kini dikenal sebagai Brasil dan Paraguay mereka membentuk pemerintahan kota Indian-Kristen yang disebut reduksi (bahasa Spanyol: Reducciones).[3][4] Ini adalah masyarakat teokrasi yang dianggap ideal.[3] Salah satu sebab terjadinya tekanan pada kaum Yesuit saat itu adalah bahwa mereka banyak menghalangi perbudakan orang Indian oleh bangsa Spanyol dan Portugis.[3][4]
Para Jesuit, seperti Manoel da Nóbrega dan José de Anchieta membentuk beberapa kota di Brasil pada abad 16, termasuk São Paulo dan Rio de Janeiro, dan sangat berpengaruh dalam pasifikasi, dan pendidikan suku-suku bangsa Indian.[3][4]
Misi Yesuit di Tiongkok menyebabkan munculnya pertikaian ritus di awal abad 18.[3][4][11]
Ordo Yesuit di Cina
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
"Hidup dan Karya Confucius, oleh Prospero Intorcetta, 1687
Para sarjana Yesuit yang bekerja dalam misi asing ke masyarakat kafir memainkan peranan penting dalam memahami bahasa mereka yang tidak dikenal.[3][4] Merekapun berusaha untuk memproduksi tata bahasa dan kamus bahasa tersebut dalam huruf Latin, suatu usaha pertama yang terorganisasi dalam linguistik.[3][4] Ini dilakukan, contohnya, untuk bahasa Jepang dan Tupi-Guarani (sebuah bahasa masyarakat pribumi di Amerika Selatan).[3][4][11]

Periode kesulitan

Tekanan terhadap Yesuit di Portugal, Perancis dan Kerajaan Dua Sisilia, Parma dan Spanyol pada 1767 adalah masa sulit bagi Serikat ini, Paus Clement XIII.[3][4] Menyusul keputusan yang ditandatangani oleh Paus Clement XIV pada Juli 1773, Yesuit ditekan di semua negara (kecuali Rusia, karena Ortodoks Rusia menolak mengenal otoritas Paus).[3][4] Karena jutaan Katolik (termasuk banyak Yesuit) tinggal di Polandia bagian barat dan Kekaisaran Rusia, Serikat ini berhasil mempertahankan keberadaannya dan menjalankan pekerjaannya dalam masa penekanan.[3][4]
Serikat ini dipulihkan kembali oleh Paus pada 1814, lalu terjadilah pertumbuhan yang luar biasa seperti yang diperlihatkan oleh begitu banyaknya kolese dan universitas Yesuit yang didirikan.[3][4] Meskipun banyak dipertanyakan, kaum Yesuit biasanya mendukung otoritas kepausan dalam Gereja dan beberapa anggotanya terkait dengan gerakan Ultramontanis dan deklarasi Infalibilitas kepausan pada 1870.[4]

Yesuit kini

Yesuit pada masa kini merupakan ordo keagamaan terbesar di Gereja Katolik.[3][4] Anggotanya lebih dari 20.000 orang dan melayani di 112 negara di enam benua.[3][4] Pemimpin Umum Yesuit saat ini adalah Adolfo Nicolás.[4][5] Ciri pelayanan Serikat Yesus adalah bidang misi, hak asasi manusia, keadilan sosial, dan pendidikan tinggi (utama).[3][4][5] Serikat Yesus menyelenggarakan kolese dan universitas di berbagai negara dan di seluruh dunia, seperti Filipina, India, dan Indonesia.[3][4] Di Amerika Serikat, Yesuit mengelola lebih dari 50 kolese, universitas, dan sekolah menengah.[3][4]

Yesuit di Indonesia

Karya Yesuit di Indonesia diawali dengan karya Santo Fransiskus Xaverius dan beberapa imam lainnya di Maluku sejak pertengahan abad ke-16.[1] Tetapi karena perseteruan Portugal dan Spanyol, karya Yesuit ditarik pada pertengahan abad ke-17.[1]
Pada 1859 van den Elzen, SJ dan J.B. Palinckx, SJ tiba di Indonesia, dan memulai kembali karya Yesuit di Indonesia.[1] Pada 1893 W.J. Staal, SJ ditugaskan sebagai Vikaris Apostolik yang berkedudukan di Batavia.[1]
Pada 14 Desember 1904, Van Lith, SJ membaptis 171 orang di Sendangsono, Muntilan, Jawa Tengah, setelah sebelumnya 4 orang dari desa Kalibawang dibaptis pada 20 Mei 1904.[1] Van Lith juga membangun sekolah seminari menengah di Muntilan.[1] Seminari ini akhirnya menghasilkan para imam Yesuit pertama dari Indonesia yang ditahbiskan antara tahun 1926–1928 yaitu F.X. Satiman, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan Albertus Soegijapranata, SJ. Dengan keputusan Paus Pius XII pada tanggal 1 Agustus 1940 Vikariat Apostolik Semarang didirikan, dengan uskup pertamanya Albertus Soegijapranata, SJ, sebagai uskup pribumi Indonesia pertama.[1] Seorang imam diosesan, Yustinus Darmojuwono, Pr. kemudian menggantikannya sebagai Uskup Agung Semarang sejak 1964 dan kemudian diangkat menjadi kardinal pertama dari Indonesia pada 26 Juni 1967.[1] Yustinus Darmojuwono kemudian digantikan oleh Julius Darmaatmadja, SJ sebagai uskup agung Semarang dan kemudian menjadi uskup agung Jakarta dan diangkat sebagai kardinal kedua dari Indonesia.lalu digantikan oleh Ignatius Suharyo,Pr 29 Juni 2010.[1]
Dewasa ini karya Yesuit Indonesia tersebar di 7 keuskupan di Indonesia sebagai berikut:[1]

Aktivitas Yesuit di Indonesia

Yesuit juga aktif dalam karya komunikasi sosial, pendidikan, pelayanan pastoral, dan sosial kemasyarakatan.[1]
Dalam bidang komunikasi Yesuit berkarya dengan menerbitkan Majalah Hidup, Majalah Basis, penerbitan Cipta Loka Caraka dan Kanisius, studio Sanggar Prativi dan audiovisual Puskat.[1] Dalam bidang sosial kemasyarakatan Yesuit mengupayakan keadilan melalui karya-karya yang sudah dibuatnya antara lain melalui pembinaan para sukarelawan pada Institut Sosial Jakarta dan Jesuit Refugee Service Indonesia.[1]
Di bidang pendidikan Yesuit aktif melalui sekolah-sekolah umum seperti Kolese Kanisius dan Kolese Gonzaga Jakarta, Kolese Loyola Semarang, Kolese de Britto Yogyakarta dan Kolese Le Cocq d'Armandville Nabire-Papua, maupun pendidikan khusus teknik dan pertanian seperti SMK Kolese Mikael Solo, ATMI St. Mikael (Akademi Teknik Mesin Industri) di Solo, SMTIK-PIKA (Sekolah Menengah Teknologi Kayu Atas-Pendidikan Industri Kayu Atas) di Semarang, SPMA di Ambarawa, KPTT (Kursus Pertanian Taman Tani) di Salatiga, AAK (Aksi Agraris Kanisius) di Semarang.[1]
Dalam bidang pendidikan tinggi, Yesuit mengelola Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta dan anggotanya mengajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.[1]
Dalam pelayanan pastoral, Yesuit mengajar agama, membimbing retret, memberi bimbingan rohani, mendirikan pusat riset dan pengembangan di bidang pastoral.[1]
Dalam bidang sosial kemasyarakatan, sejumlah Yesuit aktif dalam bidang sosial budaya dan kemasyarakatan.[1] Petrus Josephus Zoetmulder memiliki pengetahuan mendalam mengenai sastra Jawa dan berhasil menyusun dua jilid kamus Jawa Kuna.[1]
Yesuit memiliki karya pendidikan bagi para anggotanya di tingkat novisiat, filsafat, tahap orientasi kerasulan, teologi dan tersiat.[1] Di Indonesia, pendidikan di tingkat Novisiat ada di Novisiat St Stanislaus, Girisonta.[1] Pendidikan filsafat di Kolese Hermanum, dengan tempat studi di STF Driyarkara, Jakarta.[1] Pendidikan Teologi diadakan di Kolese Ignatius , Kotabaru, Yogyakarta, dengan tempat studi teologi di Fakultas Teologi Wedhabakti Universitas Sanata Dharma.[1]

Beberapa Yesuit Indonesia yang terkenal

Jesuit Refugee Service

JRS (Jesuit Refugee Service) (Pelayanan Jesuit untuk para pengungsi) adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional milik Ordo Serikat Yesus yang berkantor pusat di Roma, Italia. Misi JRS adalah menemani, melayani, dan membela hak-hak para pengungsi dan orang-orang yang terpaksa meninggalkan tempat asalnya. Selama berkarya, JRS telah menarik banyak orang untuk bekerja dengan pengungsi selama beberapa waktu. Roh dan tradisi yang menghidupkan komitmen ini harus selalu ditularkan.
Sejarah JRS adalah sejarah dan pengalaman para pengungsi. Penderitaan para manusia perahu Asia telah menyentuh hati Romo Jenderal Yesuit terdahulu, Rm. Pedro Arrupe, pada tahun 1980 untuk membantu para pengungsi.
“Tersentak dan kaget menyaksikan penderitaan ribuan manusia perahu dan pengungsi, saya merasa bahwa ini merupakan tugas saya untuk mengirimkan berita kepada 20 pembesar Serikat Jesus di seluruh dunia. Saya mensharingkan perasaan saya, dan meminta pendapat mereka tentang apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu pada situasi tragis seperti. (Surat untuk seluruh Serikat Yesus, 1980)
Tanggapan dari Serikat Yesus begitu cepat dari yang diperkirakan. Segera, Rm. Pedro Arrupe kemudian memanggil Pater Michael Campbell-Johnston, SJ dan mereka memikirkan bentuk tanggapan yang lebih terorganisir terhadap masalah para pengungsi di seluruh dunia.
Pada tanggal 14 Agustus 1980, Romo Pedro Arrupe menerbitkan surat untuk seluruh Serikat Yesus, surat yang mendirikan Jesuit Refugee Service secara resmi. Pada akhir surat itu Pater Pedro Arrupe menulis:
“Saya berharap Anda sekalian menerima isi surat ini dan menjawab kebutuhannya dalam semangat siap sedia. Santo Ignasius mengajarkan kita untuk pergi ke mana pun ke tempat yang paling membutuhkan demi pelayanan yang lebih besar kepada Allah. Kebutuhan spiritual dan material sekitar 16 juta pengungsi di seluruh dunia mungkin akan lebih besar lagi. Tuhan memanggil kita melalui orang-orang tidak berdaya ini. Kita selayaknya memperhatikan kesempatan untuk membantu mereka sebagai privilese yang nantinya akan membawa berkah melimpah kepada kita sekalian dan serikat kita.”
Sejak permintaan ini 20 tahun yang lalu, JRS telah tumbuh menjadi pelayanan mendunia, dengan aktivitas di 50 negara dan diimplementasikan oleh sekitar 500 personel inti. JRS menjaring sahabat-sahabat untuk bergabung dalam misinya untuk menemani, melayani dan membela orang-orang yang terpaksa pergi meninggalkan tempatnya. Seperti refleksi kelompok JRS tahun 1985, kami percaya bahwa panggilan ini bukan untuk kita sendiri.

Karya JRS di Indonesia

Jesuit Refugeee Service Indonesia mulai berkarya di Pulau Galang pada saat pengungsi Vietnam datang dengan menaiki kapal kecil. Beberapa Jesuit Indonesia ditugaskan untuk menemani, melayani, dan membela hak-hak para pengungsi di Pulau Galang. Beberapa di antara mereka adalah: P. I. Warnabinarja SJ, P. V. Sugondo SJ, P. A. Padmaseputra SJ. Setelah pemerintah Indonesia menutup Pulau Galang, JRS Indonesia juga selesai tugasnya.
Bulan Maret 1999 Pater Provincial Serikat Jesus menunjuk P. Hendra Sutedja SJ sebagai direktur nasional JRS Indonesia dan P. Karim Albrecht SJ sebagai direktur JRS Timor Timur. JRS kembali berkarya di Indonesia untuk menanggapi masalah para pengungsi yang mulai muncul di Indonesia. Kantor pusat JRS ada di Jakarta bersama dengan kantor Mitra Inigo. Segera JRS Indonesia melakukan banyak kontak dan membantu para pengungsi Aceh, Maluku, Kalimantan, dan Timor Timur.
Pada saat hasil jajak pendapat di Timor Timur diumumkan, begitu banyak orang Timor Timur terpaksa melarikan diri karena situasi yang tidak aman. JRS Indonesia kemudian mendirikan JRS Timor Barat pada tanggal 11 September 1999 untuk melayani para pengungsi dari Timor Timur. Fr. Andre Sugijopranoto SJ ditunjuk sebagai direktur JRS Timor Barat dan berkedudukan di Kupang, NTT. Pada hari yang sama direktur JRS Timor Timur dibunuh di Dili.
Bulan November 1999 P. Hendra Sutedja SJ mengundurkan diri sebagai direktur nasional JRS Indonesia dan untuk sementara Fr. Andre Sugijopranoto SJ ditunjuk sebagai direktur nasional JRS Indonesia.
Bulan Maret 2000 JRS mendirikan sebuah kantor lagi di Ambon, Maluku. Keberadaan JRS di Ambon sebenarnya sudah dimulai semenjak akhir tahun 1999. Pada waktu itu Ibu Margaretha Soetrisno adalah seorang relawan aktif JRS di Jakarta. Ia kemudian beberapa kali pergi ke Ambon untuk menjalin kontak dan membantu para pengungsi.
Awal bulan Oktober 2000 P. Y. Edi Mulyono SJ menggantikan P. Andre Sugijopranoto SJ sebagai direktur nasional JRS Indonesia.
Saat ini ada 3 karya JRS di Indonesia: di Timor Barat, Maluku, dan Sumatra.

Karya Timor Barat

Menjelang jajak pendapat, JRS Indonesia secara resmi didirikan di Timor Timur. Saat terjadi perang di Timor Lorosae setelah pengumuman jejak pendapat, JRS Internasional memutuskan untuk mendirikan JRS West Timor pada tanggal 11 September 1999 dengan Frater Andre Sugijopranoto SJ sebagai Direktur Lapangan dan Hendra Sutedja SJ sebagai Direktur Nasional. Mgr. Petrus Turang sebagai uskup Keuskupan Agung Kupang menerima baik kehadiran JRS dan memasukkan JRS dalam "Team Pelayanan Pengungsi Keuskupan Agung Kupang". Berhubung Romo Hendra Sutedja SJ di bulan November 1999 mengundurkan diri sebagai Direktur Nasional, maka Frater Andre Sugijopranoto diangkat untuk menjabat sebagai Direktur Nasional.
Secara umum kondisi para pengungsi Timor Timur yang menjadi perhatian JRS adalah mereka tinggal di tangsi pengungsi bersama para eks-milisi. Para pengungsi ini banyak yang ingin kembali ke Timor Timur, tetapi banyak dari mereka mereka ini ditakut-takuti, bahkan diintimidasi oleh para eks-milisi. Karena tinggal terpencil di tangsi, maka informasi sesungguhnya yang benar tentang situasi Timor Timur setelah jajak pendapat tidak diketahui oleh para pengungsi. Yang mereka ketahui hanya cerita dari mulut para eks-milisi tentang keadaan tidak aman Timor Timur. JRS Timor Barat sekarang ini berkarya di tiga tempat.
  • Kupang: Kupang sebagai pintu gerbang NTT menjadi tempat sentral karena semua orang dari Indonesia yang akan ke Atambua dan Dili harus melewati Kupang. Pada awalnya, JRS diberi beberapa ruangan di Sentrum Mahasiswa oleh Uskup. Di Kupang para pengungsi dulu terkonsentrasi di Gereja-gereja, GOR, dan kamp-kamp di Tuapukan, Noelbaki, Naibonat, serta di rumah-rumah penduduk (mengkontrak ataupun menumpang di tempat saudara). Diperkirakan sekarang ini masih ada 20.000-an pengungsi yang tetap ada di Kupang dan sekitarnya. Bersama UNHCR, IOM, dan LSM lainnya, JRS saling bekerja sama dalam menangani para pengungsi. Pelayanan yang dibuat adalah membantu repatriasi, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan anak-anak, kursus, pemberian makanan tambahan, pemberdayaan, pemberian informasi dan mendorong proses rekonsiliasi, serta pelayanan surat menyurat.
  • Atambua: Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Atambua, di ujung utara perbatasan NTT-Timor Timur. Diperkirakan ada kurang lebih 50.000 orang pengungsi yang masih tertahan di Atambua. JRS masuk ke kamp-kamp di sekitar Atambua untuk memberikan keterangan tentang situasi Timor Timur dan mengajak para pengungsi untuk segera pulang. JRS juga memberikan kursus-kursus ketrampilan, memberikan obat dan makanan tambahan. Di samping itu juga memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan anak dengan merekrut pengungsi sebagai guru, sebagaimana dibuat di JRS Kupang. Awalnya bekerjasama dengan UNHCR dan IOM dalam memulangkan para pengungsi. Sekarang JRS bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan TNI.
  • Betun: Betun adalah kota kecil di ujung selatan perbatasan NTT-Timor Timur. Pengungsi di Betun berasal dari Ainaro, Same, Suai. Pelayanan yang dibuat di sana adalah pemulangan pengungsi, reuni keluarga, mendorong proses rekonsiliasi, surat-menyurat, pelayanan kesehatan dan pendidikan, pemberdayaan dan bantuan darurat. Walaupun tidak ada UNHCR, JRS terus membantu orang yang mau pulang ke Timor Timur di samping memberi pelayanan di kamp-kamp.
Pengurus dan relawan JRS berganti-ganti yang terdiri dari para religius (yang pernah ikut terlibat adalah RGS, CB, PI, FCJ, OSF, PBHK, SSpS) maupun para kaum awam yang umumnya masih muda-muda, dari UGM, USD, UNS, UNAIR, UAJY, maupun orang-orang dari Timor NTT sendiri. Kerjasama dengan banyak badan PBB dan LSM Internasional yang lain menuntut bahwa relawan JRS mempunyai kemampuan berbahasa Inggris, agar lebih efektif bekerja untuk para pengungsi.
Ketika tanggal 6 September 2000 terjadi pembunuhan tiga staff UNHCR, JRS Atambua dan Betun terpaksa ikut mengungsi ke Timor Timur, karena ada isu bahwa semua LSM akan disweeping oleh milisi. JRS Kupang tetap melakukan pelayanan. Tidak sampai satu bulan kemudian, JRS sudah memasuki kamp-kamp pengungsi di Atambua dan Betun lagi ketika semua LSM internasional dan lokal maupun lembaga PBB meninggalkan para pengungsi. Setelah pembunuhan itu, Timor Barat dalam status siaga lima, amat tidak aman untuk PBB bekerja di sana. Maka JRS sendirian memulai bekerja dengan pengungsi.
Kupang menjadi pusat JRS Indonesia sementara ini, dengan pertimbangan bahwa kantor pusat harus dekat dengan pengungsi dan membantu penuntasan masalah pengungsi. Dengan demikian, dari Kupang ini aktivitas JRS di tempat-tempat lain digerakkan: JRS Atambua, Betun, Maluku, Aceh, Medan. Di JRS Betun ada empat orang pengurus, di Atambua ada enam orang, dan di Kupang (di luar pengurus Nasional), ada tiga orang.

Karya Maluku

Sejak tahun 1999, relawan JRS, Ibu Margaretha VE dari Jakarta bekerja sama dengan LSM lokal di Ambon untuk melayani pengungsi dan memberdayakan masyarakat setempat. Dia aktif bekerja dengan LSM lain untuk mengirim barang-barang ke Ambon. Di Jakarta pun dia juga terlibat dalam negosiasi dengan pihak berwenang untuk membela hak-hak para pengungsi.
JRS memutuskan untuk membuka kantor di Ambon pada akhir Maret 2000. JRS menyewa rumah sebagai kantor, dekat perbatasan masyarakat muslim dan kristen. Memilih tempat itu karena menginginkan adanya suatu kantor yang dapat didatangi orang kristen maupun muslim. JRS membuat proyek dalam kerjasama dengan banyak LSM lokal dan Gereja lokal. Yulius Setiarto ditunjuk sebagai koordinator Proyek dan berbasis di Ambon. Beberapa relawan dan penduduk lokal bergabung dalam tim pada bulan Mei 2000.
Dengan kerja awal Ibu Margareta, JRS dapat mudah memasuki tempat para pengungsi di Ambon, baik kristen maupun muslim. JRS kemudian mengunjungi pulau lain seperti Seram dan Buru untuk melihat kemungkinan bekerja di sana.
Team JRS kemudian dibagi dalam dua kelompok yang melayani tempat berbeda. Kelompok pertama melayani pengungsi di Halong dan Arema. Untuk mencapai tempat itu harus menggunakan speedboat setiap hari. Tidak mungkin pergi dari Ambon ke tempat lain melalui darat karena tidak aman. Kelompok kedua melayani pengungsi di Soya, Hatalai, Kayu Putih, Latuhalat, Benteng, dan beberapa tempat di Ambon. Banyak kali relawan JRS tidak dapat mencapai beberapa lokasi karena banyak barikade di jalan.
Sebelum JRS dievakuasi dari Ambon, JRS telah menyiapkan pelayanan kesehatan bergerak dalam kerjasama dengan RS Hative. JRS menyediakan obat dan relawan sementara RS Hative meyediakan perawat dan mobil. JRS juga bekerjasama dengan dokter di Puskesmas di wilayah Piru, Seram Barat untuk melayani kesehatan bagi orang muslim dan kristen. Di Leksula, Buru Selatan JRS memberi obat pada LSM lokal, juga pakaian, alat rumah tangga, terpal dan susu untuk para pengungsi. Sebagian obat berasal dari donatur di Jakarta, sisanya dibeli di Ambon.
JRS membantu kebutuhan anak-anak di Maluku. Dari kontak dengan mereka di beberapa tempat penampungan, diketahui bahwa banyak anak yang tidak dapat bersekolah. JRS mulai membuka tempat tinggal agar sekelompok anak dapat belajar bersama. Bersama banyak LSM lokal mulai mengatur kurikulum dan mencoba membuat sistem. Di Leksula dilakukan pengumpulan data dan merekrut lima guru dari Buru untuk terlibat dalam program JRS.
Bersama dengan pengungsi sendiri, JRS menggali pekerjaan alternatif yang dapat membantu mereka. Di Latuhalat, bekerjasama dengan pemimpin tradisional untuk menggunakan tanah kosong agar pengungsi dapat menanam sayur. Di Soya, pengungsi berinisiatif mengolah tanah untuk sayur dan beternak. JRS menyediakan benih, pupuk dan alat untuk pengungsi. Di Halong Indah, dibentuk satu kelompok penjual dan tiga kelompok pembuat sagu.
JRS juga bekerja dengan LSM lokal untuk menyediakan barang kebutuhan pokok seperti pakaian, susu, mi instan, buku dll untuk pengungsi. Ada beberapa LSM yang mengirim bantuan tetapi JRS tidak mempunyai cukup banyak relawan untuk membagi barang itu. LSM lokal sangat antusias membantu pengungsi tetapi biasanya mereka tidak punya cukup dana untuk menyewa mobil yang dapat membawa barang itu ke tempat pengungsi.
JRS juga memberi bantuan darurat dengan menyediakan atap daun di Arema karena bangunan yang ditempati tidak mempunyai atap. JRS mengevakuasi pengungsi dari tempat lama karena alasan keamanan, kemudian menempati tempat baru.
JRS juga sering menemani para wartawan dan pekerja kemanusiaan dari Jakarta atau kota lain untuk pergi ke tempat pengungsi dan kantor LSM lokal, baik kristen maupun muslim.
Pada akhir Juni 2000, Direktur nasional memutuskan menarik semua staff JRS dari Maluku karena alasan keamanan. Pada waktu itu, setiap hari ada orang yang ditembak penembak gelap, bahkan di depan kantor JRS. Pertempuran terjadi tiap hari dengan menggunakan senjata otomatis. Pemerintah kemudian menyatakan status darurat sipil di Ambon dan merencanakan untuk menutup transportasi dari dan menuju Ambon. Semua staff berpindah ke Timor Barat dan bekerja di sana.
Di Kupang ada sekitar 150 pengungsi dari Ambon. Beberapa staff JRS kemudian melayani pengungsi ini dengan menyediakan obat, makanan, beasiswa dll. Juga menyediakan transportasi ketika beberapa pengungsi memutuskan kembali ke Ambon.
Pada bulan Januari 2001 JRS memutuskan kembali ke Maluku, setelah mempertimbangkan bahwa situasi cukup aman untuk bekerja kembali. Banyak pengungsi menyambut ketika tim JRS tiba. JRS mulai bekerja dengan mengunjungi beberapa tempat dulu seperti: kota Ambon (Gedung Serba Guna, Crisis Center, Soya]], Hatalai, gereja Stella Maris, gereja Hati Kudus, Mess Kowad, Latuhalat, Perigi Lima, SLB, Gunung Lama, Geofisika, Passo, dll ), Tual di Maluku Tenggara dan beberapa tempat di Pulau Seram.
JRS menghubingi LSM lokal muslim di Ambon dan dapat bekerja bersama tanpa banyak kesulitan. Dari banyak kontak dengan kelompok kristen, JRS juga dapat bekerja bersama dengan mereka. Dengan komunikasi ini, JRS dapat mengunjungi pengungsi baik muslim maupun kristen. Aktivitas Laskar Jihad dan termasuk tekanan terhadap relawan muslim membuat proses saling mengunjungi tidak dapat dilanjutkan. JRS masih menghubungi dan membantu Tim Relawan Kemanusiaan Muslim, tetapi tidak dapat langsung melayani pengungsi muslim. JRS di Ambon terutama menangani anak-anak korban perang agar mereka lebih memikirkan dan menyiapkan masa depannya daripada harus ikut berperang. Selain itu juga melakukan pemberdayaan terhadap para pengungsi dan memberikan bantuan darurat.
Sejak Desember 2001 JRS Maluku memasuki Pulau Buru untuk merespon kebutuhan informasi para pengungsi Buru di Ambon mengenai tempat asal mereka, sekaligus melayani IDPs yang ada di P. Buru, yang tinggal di gunung-gunung sehingga tidak ada LSM yang berani mendampingi dan melayani di sana. Karena kebutuhan yang mendesak, maka JRS memutuskan mengirim dua staff JRS untuk mendampingi dan melayani pengungsi di Buru. Sejak bulan Maret 2002 JRS mengutus satu staff untuk tinggal dan melayani para pengungsi di Seram bersama para relawan TIRAM (Tim Relawan Kemanusiaan Masohi) yang selama ini menyalurkan bantuan dari JRS. Tujuan kehadiran relawan JRS di sana adalah untuk efektifnya pelayanan pengungsi di P. Seram dan mendampingi LSM lokal agar menjadi mandiri.

Karya Sumatera

  • Aceh
Konflik berkepanjangan di Aceh juga menimbulkan banyak korban yang akhirnya terpaksa mengungsi di dalam Aceh atau keluar Aceh. Pengungsi di Aceh punya karakteristik berbeda. Semula mereka dapat mengungsi di tempat-tempat umum dan tempat terbuka seperti masjid, pinggir jalan, atau gedung pemerintah. Lalu banyak dari pengungsi tidak dapat lagi mengungsi seperti itu, karena ada pihak aparat yang tidak suka ada pengungsian, sehingga mereka pun terpaksa menyelamatkan diri ke bukit-bukit maupun desa-desa terpencil yang dianggap aman. Bagi sebagian aparat, pengungsian menunjukkan bahwa situasi tidak aman. Aparat menutupi pengungsian, sehingga terkesan situasi aman. Tetapi teror terhadap masyarakat terus terjadi, situasi tetap belum aman karena rumah-rumah dibakar, pertanian dirusak atau dirampas. Para pemuda dan laki-laki dikejar-kejar dan dicurigai sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka. Di banyak tempat, tidak ada lagi lelaki atau mahasiswa, karena kebanyakan lari ke kota besar atau bukit.
Para pengungsi seperti itu banyak yang kekurangan makanan, sarana kesehatan dan pendidikan. Sementara LSM-LSM internasional tidak lagi mau bekerja di sana karena alasan keamanan. Dalam situasi ini JRS hadir mendampingi dan membela hak-hak para pengungsi. Pada akhir Juni 2001, JRS melakukan penjajagan sekaligus membentuk tim JRS di Aceh pada awal Juli 2001. Tim JRS memilih pelayanan pertama di Aceh Timur dengan bantuan darurat di bidang kesehatan, pendidikan dan makanan.
JRS Aceh bernama Jroeh Refugee Service (Pelayan Pengungsi yang Baik) yang dijalankan sendiri oleh orang-orang Aceh. Demi alasan keamanan, maka orang Jawa belum mungkin bekerja langsung bersama tim ini.
  • Medan
JRS Medan dirintis oleh supervisor JRS Aceh, A. Dedi Handoko SH dalam pendampingan JRS Indonesia, sejak bulan Juli 2001. Selanjutnya dibantu relawan, Charles Tunggul Ekson Butar Butar, mahasiswa Unika Santo Thomas, yang kemudian menjadi staff JRS sampai bulan April 2002. Dia mengorganisir para pengungsi dalam wadah ARSINS (Aceh Refugee Service in North Sumatera). Ternyata ARSINS berhasil dalam menuntut pemerintah agar memberikan hak-hak bagi pengungsi seperti makanan, kesehatan dan pendidikan, walaupun tidak luput dari korupsi dengan mengutip uang dari pengungsi. Setelah hubungan dengan ARSINS berakhir, JRS mulai melayani pengungsi secara langsung.
Ada banyak sekali pengungsi dari Aceh, yang kebanyakan berasal dari Jawa, yang bertransmigrasi ke Aceh. Daerah yang relatif sangat rawan konflik di Aceh adalah Takengon (Kabupaten Aceh Tengah) dan Meulaboh (Kabupaten Aceh Barat). Ke-dua daerah itu adalah daerah yang paling banyak terdapat komunitas pengungsi. Kebanyakan pengungsi berasal dari etnis Jawa (prosentase etnis ini mendekati 100 % dari total pengungsi yang ada di 2 daerah tersebut).
Dari kenyataan seperti itu, kebanyakan pengungsi memilih untuk keluar dari Provinsi Aceh, selanjutnya bergerak menuju Provinsi Sumatera Utara sebagai tempat tujuan luar Aceh terdekat.
Banyak kelompok pengungsi terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, tapi tidak tahu kemana harus pergi. Mereka tidak memiliki cukup uang untuk membayar atau menyewa kendaraan yang memungkinkan mereka bergerak cepat dan jauh dari daerah konflik.
Pada awal bulan Juli 2001 terjadi peristiwa di Takengon-Lhokseumawe (Aceh Utara). Sekitar 500 orang pengungsi bergerak mengungsi dari Takengon. Tanpa tahu arah, ternyata perjalanan kaki mereka, mengantar mereka menuju ke daerah konflik yang lain, yaitu Lhokseumawe. Beberapa keluarga harus rela meninggalkan mayat keluarga mereka di tengah jalan yang meninggal karena tidak mampu melakukan perjalanan yang cukup berat. Tercatat ada 12 (dua belas) orang di antara mereka meninggal dunia dalam perjalanan di tengah hutan menuju ke tempat yang mereka sendiri tidak tahu dimana.

Tidak ada komentar: