Senin, 17 April 2017

BAGUSNYA DEPSOS DAN SATPOL PP

KPK Bongkar Korupsi di Depsos; Dalam Program Pengadaan 6 Ribu Mesin Jahit

Lagi, departemen negara tersandung kasus korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan indikasi adanya korupsi dana bantuan sosial di Departemen Sosial (Depsos).
Menurut Humas KPK Johan Budi SP, pengusutan kasus korupsi tersebut baru masuk tahap penyelidikan. Kami masih mengumpulkan keterangan para saksi, ujarnya kemarin. Hingga kini, ujar Johan, belum ada seorang pun yang ditetapkan sebagai tersangka.
Dia menambahkan, KPK mengusut perkara itu atas dasar hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap penggunaan APBN Depsos 2004 hingga 2006. Hingga semester II tahun anggaran 2005, BPK menemukan 70 kasus yang tak sesuai dengan penggunaan anggaran Rp 287,89 miliar. Dari jumlah itu, 63 temuan senilai Rp 189,28 miliar telah ditindaklanjuti. Temuan BPK itu, antara lain, adalah inefisiensi anggaran pada pengadaan mesin jahit dan sapi potong, ujarnya.
Kronologi kasus itu, pada 2004, Depsos bekerja sama dengan PT Ladang Sutera Indonesia (Lasindo) untuk pengadaan 6.000 unit mesin jahit senilai Rp 19,49 miliar. Bukannya meningkatkan kehidupan masyarakat miskin, mesin jahit dengan spesifikasi kecepatan tinggi dan membutuhkan arus listrik tinggi itu sama sekali tak bisa digunakan di rumah-rumah warga yang hanya dialiri arus listrik tegangan rendah.
BPK juga menemukan fakta bahwa mesin jahit tersebut disalurkan ke pemilik usaha konveksi di Jawa Timur dan Sumatera Utara. Konsekuensi dari penerapan kebijakan bantuan mesin jahit yang tak tepat arah dan guna itu, anggaran negara Rp 10,63 miliar terbuang sia-sia.
Tak hanya itu, pada 2006, BPK kembali menemukan inefisiensi dalam penggunaan dana APBN di Ditjen Pemberdayaan Sosial Depsos. Temuan BPK itu, antar lain, berupa kelebihan perhitungan biaya kontrak pengadaan sarana air bersih di Provinsi NTT dan NTB senilai Rp 307,91 juta.
BPK juga menemukan inefisiensi senilai Rp1,15 miliar pada program pemberdayaan sosial melalui DIPA Dekonsentrasi tahun anggaran 2005 dan 2006 pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.
Untuk mengusut tuntas kasus tersebut, KPK memanggil para pejabat tinggi departemen yang dipimpin Bachtiar Chamsyah itu, termasuk Dirjen Pemberdayaan Sosial Depsos Gunawan Sumodiningrat, untuk dimintai keterangan pada Kamis (14/6).
Sebelumnya, pada Rabu 13 Juni 2007, KPK memintai keterangan Kasubdit Direktorat Pemberdayaan Fakir Miskin Sonny W. Manalu. Sonny telah dua kali dimintai keterangan KPK. Pada Selasa 12 Juni 2007, KPK juga meminta keterangan kepada staf ahli Menteri Sosial Akib Masri. (ein)
Sumber: Jawa Pos, 18 Juni 2007

Politisi Demokrat Jadi Tersangka Kasus Korupsi Depsos

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan anggota DPR dari Partai Demokrat, Amrun Daulay sebagai tersangka. Amrun diduga terlibat korupsi dalam pengadaan sejumlah barang di Departemen Sosial (Depsos).

\\\"Sudah tersangka. Lebih detil tanya ke Johan Budi (Juru Bicara KPK),\\\" kata Wakil Ketua KPK, M Jasin lewat pesan singkatnya, Jumat (8\/4\/2011).

Amrun yang juga anggota Komisi II DPR ini tahu persis proyek pengadaan sapi impor di Depsos yang akhirnya membuat mantan Mensos Bachtiar Chamsyah ikut terseret. Pasalnya saat kasus ini terjadi, Amrun menjabat sebagai Dirjen Bantuan dan Jaminan Sosial.

Nama Amrun juga sebenarnya cukup sering disebut ikut terlibat dalam kasus korupsi di Depsos. Sudah beberapa kali Amrun masuk dalam dakwaan terdakwa kasus ini.

Di dalam dakwaan mantan Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah, Amrun disebut ikut bersama-sama dengan Bachtiar ikut memperkaya diri sendiri. Paling terbaru, ada di dalam dakwaan Direktur Utama PT Ladang Sutra Indonesia, Musfar Azis. Musfar didakwa bersama-sama dengan Bachtiar Chamsyah dan Amrun Daulay melakukan perbuatan yang merugikan negara sebesar Rp 20,373 miliar di kasus pengadaan mesin jahit.

Dirjen Depsos Diperiksa KPK Soal Korupsi Dana Fakir Miskin

Jakarta - KPK mulai menyelidiki dugaan korupsi dana pemberdayaan kaum fakir miskin di Direktorat Jenderal (Ditjen) Pemberdayaan Sosial Departemen Sosial (Depsos). Dirjennya, Gunawan Sumodiningrat, diperiksa.Usai diperiksa, Gunawan enggan berkomentar seputar pemeriksaannya itu. \\\"Saya hanya ngobrol-ngobrol saja,\\\" ujar Gunawan yang mengenakan safari abu-abu di Gedung KPK, Jl Veteran III, Jakarta, Kamis (14\/6\/2007).Humas KPK Johan Budi SP membenarkan bahwa Gunawan diperiksa terkait kasus dugaan korupsi dana pemberdayaan kaum fakir miskin di Depsos. \\\"Dia dimintai keterangan dalam kasus itu,\\\" ujarnya.KPK juga telah memeriksa Kasubdit Direktorat Pemberdayaan Fakir Miskin Sonny W Manalu pada Rabu 13 Juni kemarin. Pada 12 Juni lalu, KPK juga telah meminta keterangan dari staf ahli Mensos, Akib Masri.Dalam hasil pemeriksaan BPK semester II Tahun Anggaran 2005, disebutkan bahwa terdapat 70 temuan pemeriksaan di Depsos senilai Rp 287,89 miliar. Dua kasus di Depsos saat ini sedang diselidiki KPK, yakni pengadaan mesin jahit dan sapi potong.BPK menemukan sasaran penerima bantuan tidak tepat, karena salah satunya diterima pemilik usaha konveksi di Jawa Timur dan Sumatera Utara. Bantuan mesin jahit berspesifikasi tinggi dengan konsumsi listrik tinggi itu sebenarnya diperuntukkan membantu masyarakat miskin yang kapasitas listrik di rumahnya tidak mencukupi. Artinya, anggaran sebesar Rp 10,63 untuk pengadaan mesin jahit itu tidak efektif.Pada 2006, BPK juga menemukan inefisiensi dalam penggunaan anggaran dana APBN di Ditjen Pemberdayaan Sosial Depsos. Terdapat inefisiensi sebesar Rp 1,15 miliar dalam program pemberdayaan sosial. BPK menilai ada kelebihan perhitungan biaya kontrak pengadaan sarana air bersih di Provinsi NTB dan NTT sebesar Rp 307,91 juta.

Mobil Dinas Tak Mau Hidup, 11 Anggota Satpol PP Jambi Dipecat

Liputan6.com, Jambi - Sebanyak 11 anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Jambi dipecat secara mendadak. Berdasarkan informasi, pemecatan itu merupakan buntut hilangnya onderdil sejumlah mobil dinas yang terparkir di kantor Gubernur Jambi.
Diduga 11 anggota Satpol PP tersebut terlibat pencurian onderdil mobil dinas tersebut. "Terhitung sejak Selasa kemarin kita pecat. Statusnya honorer semua," ujar Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi Erwan Malik di Jambi, Rabu, 22 Februari 2017.
Menurut Erwan, kasus tersebut terendus saat sejumlah petugas Satpol PP akan memanasi mobil dinas yang terparkir di komplek kantor Gubernur Jambi. Namun, mobil tak kunjung hidup.
Sejumlah petugas lantas mengecek kondisi mobil. Saat dicek itu, diketahui ada sejumlah onderdil mobil yang hilang. "Kita langsung laporkan ke polisi hari Minggu lalu," ucap Erwan.

Ia mengatakan, kesebelas anggota Satpol PP yang dipecat itu merupakan petugas yang berjaga komplek kantor gubernur saat kejadian. Kini, mereka menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Polsek Telanaipura, Kota Jambi.
"Kasusnya masih kita dalami. Laporannya terkait beberapa alat mobil yang hilang," ujar Kanit Reskrim Polsek Telanaipura Ipda Imam Budianto.
Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar geram atas kejadian tersebut. Dari laporan yang diterimanya, anggota Satpol PP itu mencuri onderdil mobil dinas saat penyelenggaraan Pilkada Serentak pada 15 Februari 2017.
"Sudah ditangkap (polisi). Mungkin tidak puas dengan gajinya. Kalau mau banyak gaji, kerja sama orang kaya saja sana," ujar Fachrori dengan nada kesal.

Terlibat Mesum, Anggota Satpol PP Dipecat

MEULABOH - Sejak Kamis (30/11) lalu, Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Aceh Barat resmi memecat FR bin MN (26). Pasalnya, FR terbukti berbuat mesum dengan pacarnya hingga hamil tujuh bulan.
“Pemecatan ini untuk memberikan sanksi tegas sekaligus efek jera terhadap anggota kami yang melakukan pelanggaran berat. Karena setiap perbuatan yang menghina atau mencemarkan nama baik korps, tetap kami tindak tegas,” kata Kasatpol PP dan WH Aceh Barat, John Aswir kepada Prohaba, kemarin.
Pemberhetian FR secara tidak hormat itu tertuang dalam dalam surat bernomor: 888/38/2011, tanggal 30 November 2011. Surat tersebut ditandatangani langsung oleh John Aswir. Surat dimaksud dikeluarkan berdasarkan permintaan seluruh anggota Satpol PP.
Seluruh anggota Satpol PP dan John Aswir menilai, selama bertugas di Satpol PP Aceh Barat, FR telah melakukan pelanggaran berat. Imbasnya, SK pengangkatan yang tengah diproses, tak jadi dilanjutkan.
“FR ini berstatus masa percobaan dan belum resmi menjadi anggota Satpol PP,” katanya.
Seperti diberitakan, Selasa (29/11) lalu SR diamankan oleh kesatuannya di markas Satpol PP dan WH Aceh Barat. Pria yang baru lima hari bekerja sebagai petugas Satpol PP itu dituduh menghamili seorang gadis. Bahkan, janin yang tujuh bulan dikandung perempuan yang dihamilinya itu, keguguran.
Akibatnya, perempuan asal Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, yang kini masih dirahasiakan identitasnya tiu terpaksa dirawat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh.
Terbongkarnya keterlibatan FR dalam kasus maksiat tersebut setelah sang perempuan yang dihamilinya melaporkan perbuatan FR pada orang tuanya. Akhirnya, FR langsung diamankan oleh kesatuannya.
Pengakuan FR di hadapan penyidik Satpol PP, perempuan dimaksud telah berhubungan dengan sejumlah pria. FR yang mengaku beberapa kali berhubungan badan tanpa ikatan nikah itu mengaku janin tersebut bukan hasil darinya.(edi)

Terlibat Perampokan, Ketua RT dan Anggota Satpol PP Ditangkap

PALEMBANG - Aparat Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumsel menangkap tiga pelaku begal sadis di Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.
Ketiga pelaku adalah Heriyanto, Dwi Nurul Iman, dan Rinto Harahap. Mereka merupakan warga Desa Jati Mulya, Kecamatan Belitang Madang Jaya, OKU Timur, Sumsel.

Heriyanto diketahui merupakan Ketua RT di desa setempat. Sementara Dwi Nurul Iman merupakan pegawai honorer di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kabupaten OKU Timur.
Tersangka Heryanto terpaksa dilumpuhkan petugas dengan timah panas tepat di kaki kanannya, lantaran mencoba melakukan perlawanan saat ditangkap. Heryanto mengaku, merampok karena ajakan rekan-rekannya.
Dalam aksinya, komplotan ini berhasil menggondol tiga unit motor dan uang Rp10 juta milik korban. Hanya saja, dari hasil rampokan itu tersangka Heryanto dan Rinto tak mendapatkan jatah sepeserpun.
"Saya tanyain terus bagian saya, tapi dia (Dwi) tidak mau jawab. Sampai sekarang saya tak pernah dapat bagian (hasil rampokan)," ungkap Heryanto kepada wartawan, Senin (3/10/2016).
Saat gelar perkara di Mapolda Sumsel, dua tersangka Heryanto dan Rinto sempat menempeleng tersangka Dwi lantaran terus diam saat ditanya mengenai hasil rampokan tersebut.
"Semua tersangka lain sudah kabur. Hasil rampokan itu dia (Dwi) yang pegang. Tapi tidak mau dikasihkan ke kami," tuturnya.
Sementara itu, tersangka Rinto mengungkapkan, dirinya bertugas mengikat tangan korban dengan tali. "Sudah empat kali bobol rumah orang. Semuanya ditangkap polisi. Baru keluar penjara. Saya juga tak dapat jatah," jelasnya.
Terpisah, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel Kombes Pol Daniel Tahi Monang Silitonga mengatakan, pengungkapan aksi perampokan tersebut berbekal hasil penyelidikan laporan korban, pada 8 Maret 2016.
"Para tersangka melakukan aksi perampokan rumah korban dengan cara membobol pintu menggunakan dua balok besar. Saat itu, korban disekap di dalam kamar dengan ditodongkan sebilah badik oleh para tersangka," ungkapnya.
Daniel mengatakan, pihaknya masih melakukan pengembangan guna pengejaran terhadap dua tersangka lain yang sudah diketahui identitasnya. "Ada dua pelaku lain masih buron, inisialnya AN dan BR," pungkasnya.

Polisi Dalami Anggota Satpol PP Cabul Terlibat Kejahatan Lain

Bekasi - Polisi mendalami Zakaria, anggota Satpol PP pelaku pencabulan sejoli ABG, terlibat kasus kejahatan lain. Kejahatan ini termasuk pemerasan terhadap orang pacaran.

"Kita masih kembangkan kasus ini termasuk kemungkinan pelaku melakukan pemerasan pada orang yang pacaran," kata Kabid Humas Polres Bekasi Kota AKP Siswo kepada detikcom, Rabu (24/9/2014).

Siswo mengatakan, dua orang ABG korban pencabulan pada Senin dini hari lalu sudah diperiksa. Rencananya polisi akan kembali memeriksa Zakaria lagi. "Ini akan dilakukan pemeriksaan lanjutan terhap pelaku," katanya.

Siswo mengatakan, saat kejadian Zakaria sedang bertugas jaga bersama tiga orang rekannya di kantor Pemkot Bekasi, Jl A Yani. Saat itu dua orang petugas Satpol PP keluar kantor untuk untuk patroli menggunakan mobil Satpol PP, sedangkan Zakaria bersama rekannya berjaga di pos.

"Pelaku kemudian meninggalkan pos jaga dan keluar kemudian membawa para ABG ini. Untuk itu kita akan memeriksa tiga orang rekan pelaku ini," katanya.

ABG wanita yang jadi korban pelecehan mengaku dia bersama pacarnya digiring masuk ke dalam kantor Pemkot Bekasi. Saat ditanya-tanya oleh pelaku dia melihat ada motor yang mondar-mandir dan sebuah mobil Sapopol PP di kantor tersebut.

"Ada orang yang keliling pas saya lagi ditanya-tanyain sama dia. 3 Orang yang lewat, naik motor yang putih sama hitam, bolak-balik, yang terakhir mobil Satpol PP," kata korban saat ditemui detikcom di kediamannya.

Zakaria menggiring para ABG ini dengan tudingan berbuat asusila pada Senin (22/9) pukul 01.00 WIB. Di dalam teras kantor pemerintahan ini mereka kemudian dilecehkan. Tak hanya yang wanita, yang pria juga dilecehkan oleh Zakaria. Aksi ini kemudian direkam dalam HP Zakaria, namun diduga rekaman itu sudah dihapusnya.

Polisi ringkus oknum Satpol PP terlibat narkoba

Samarinda (ANTARA News) - Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Kota Samarinda, Kalimantan Timur, meringkus seorang oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja karena terlibat penyalahgunaan narkoba.

Kasat Reskoba Polresta Samarinda Komisaris Polisi Belny Warlansyah di Samarinda, Jumat, menyatakan oknum pegawai tidak tetap harian (PTTH) Satpol PP berinisial HS (33) itu ditangkap usai membeli satu poket narkoba jenis sabu-sabu seberat 0,28 gram senilai Rp200 ribu di Jalan Lambung Mangkurat Gang Masjid Blok D, Kelurahan Pelita.

"Oknum anggota Satpol PP itu ditangkap saat selesai membeli sabu-sabu di Jalan Lambung Magkurat," kata Belny.

Selain satu paket sabu-sabu seberat 0,28 gram, pada penangkapan itu polisi juga mengamankan satu unit sepeda motor.

Dari penangkapan oknum Satpol PP itu, lanjut Belny, polisi kemudian melakukan pengembangan dan berhasil meringkus seorang diduga bandar berinisial Sah (58) di Jalan Lambung Mangkurat, Gang masdid RT 40, Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir.

Dari tangan Sah, personel Satuan Reskoba Polresta Samarinda menyita barang bukti berupa 37 paket sabu-sabu seberat 11,04 gram senilai Rp13 juta, sebuah kotak rokok tempat menyembunyikan narkoba tersebut, satu unit telepon genggam serta uang tunai Rp3,5 juta, diduga hasil penjualan nakroba.

"Pengungkapan penyalahgunaan narkoba yang melibatkan oknum anggota Satpol PP itu masih kami kembangkan untuk mengungkap jaringannya," jelas Belny Warlansyah.

Sementara sebelumnya pada Rabu (16/11) sekitar pukul 14.00 Wita, personel Polsekta Samarinda Seberang meringkus lima orang terkait penyalahgunaan narkoba.

Kepala Sub Bagian Humas Polresta Samarinda Inspektur Polisi Satu Hardi menyatakan, kelima orang pelaku penyalahgunaan narkoba yang ditangkap personel Polsekta Samarinda Seberang itu yakni, Ams (29), RE (23), Er (22) serta bapak dan putrinya yakni, Fir (43) dan FA (21).

"Dari empat pelaku penyalahgunaan narkoba yang ditangkap personel Polsekta Samarinda Seberang itu, dua diantaranya perempuan yakni Er dan FA, yang merupakan putri dari Fir," ucap Hardi.

Penangkapan kelima pelaku penyalahgunaan narkoba itu berawal saat polisi meringkus Ams dan RE yang mengendarai sebuah sepeda motor.

Saat penangkapan itu, Ams dan RE sempat membuang sebuah bungkus rokok yang setelah diperiksa ternyata berisi satu paket sabu seberat 0,40 gram.

"Dari pemeriksaan, Ams dan RE mengaku sabu-sabu itu diperoleh dari Er. Polisi kemudian membawa Ams ke rumahnya dan disitu didapati Er dan FA. Kemudian Er mengaku jika narkoba tersebut milik FA dan saat dilakukan penggeledahan, ditemukan lagi dua paket sabu-sabu seberat 1,56 dari dompet FA. Dari keterangan FA itu akhirnya diketahui bahwa sabu-sabu tersebut milik Fir, bapaknya," tutur Hardi.

Polisi lanjut Hardi, masih terus mengembangkan pengungkapan penyalahgunaan narkoba yang melibatkan bapak dan anak tersebut.

Tidak ada komentar: