Rabu, 12 April 2017

FAKIR MISKIN DAN FAKIR MELARAT

Saya ingin membagi golongan miskin ke dalam 2 kelompok dengan istilah miskin dan melarat. Sebab ada orang miskin yang bisa makan kecukupan tapi ada pula yang untuk makanpun susah. Karena itu orang yang bisa makan tapi tak bisa membeli barang-barang lainnya saya sebut orang miskin, sedangkan untuk orang yang kesulitan makan saya sebut melarat.

Orang-orang yang saya sebut miskin biasanya adalah orang-orang yang mempunyai penghasilan tetap, seperti kaum buruh yang mendapatkan gaji bulanan yang dibawah standart UMR[Upah Minimum Regional]. Contohnya adalah PRT[Pembantu Rumah Tangga] atau pegawai toko/warung. Mereka ini bisa makan kenyang tapi gaji mereka kecil sekali.

Sedangkan orang-orang yang saya sebut melarat biasanya adalah orang-orang yang pekerjaan dan penghasilannya tidak tetap, contohnya: para pengangguran, gelandangan, pengemis, pemulung, tukang beca, dan lain-lainnya. Sehari makan sekali atau sehari makan sehari kelaparan atau bahkan ada yang memakan nasi sisa makanan orang.

Di Senen saya bisa merasakan dan membayangkan bagaimana pahitnya kehidupan ini. Suami menganggur, si istri bekerja sebagai tukang cuci pakaian dengan penghasilan sekitar Rp. 20.000,- perhari. Terkadang ada tetangga yang berbelas kasihan memberikan uang ala kadarnya. Tapi apakah setiap hari? Yang jelas setiap malam mereka begadang menunggu dan mengharapkan adanya orang yang berbagi nasi kotakan atau nasi bungkus. Sayangnya tak setiap hari ada orang yang berbagi makanan. Terkadang semalaman ada banyak orang berbagi, sampai 6 bungkus didapatkan, tapi seringkali berminggu-minggu kosong. Puji TUHAN, saya berkesempatan berbagi rejeki dengan mereka selama 3 bulanan saya di Senen. Minimalnya setiap hari saya kasih Rp. 10.000,- terkadang maksimal Rp. 40.000,-

Yang jelas menemukan lapangan pekerjaan itu sulit. Para sarjana ekonomi saja tak mampu menciptakan lapangan kerja, lebih-lebih orang-orang 'bodoh' itu. Yang jelas orang-orang yang sudah mempunyai pekerjaan saja banyak yang sempoyongan, pusing, stres dan merugi, lebih-lebih mereka. Yang jelas orang-orang kaya saja sering kekurangan modal, lebih-lebih mereka yang tak memiliki modal sama sekali. Yang jelas pemerintah tak sanggup mengatasi pengangguran, tak pernah menjangkau mereka dengan permodalan dan tak pernah memberikan bantuan ataupun perhatian atas nasib mereka. Bahkan pemerintah tak pernah berpihak pada mereka, melainkan selalu berpihak pada kalangan atas.

Para pengemis yang asli ditangkapi, tapi para pengemis yang berkedok gereja atau mesjid, yang meminta-minta sumbangan dan persembahan dari umatnya dibiarkan, bahkan malah seringkali disumbang oleh pemerintah. Padahal perintah TUHAN adalah supaya menyantuni fakir-miskin bukannya membangun gedung gereja atau mesjid. Manusianya bukan bangunannya yang harus dimegahkan.

Toko-toko tradisional dibiarkan dimakan oleh supermarket, Indomart dan Alfamart. Pedagang-pedagang kakilima yang biasanya merupakan pekerjaan fakir-miskin, kini disaingi oleh orang-orang berduit yang membuka usaha kakilima. Angkutan umum tradisional seperti Angkot dan ojek pangkalan dibiarkan dimakan oleh angkutan online seperti GOJEK, GRAB dan UBER. Calo-calo tiket dihabisi digantikan oleh calo-calo tiket modern, seperti Indomart dan Alfamidi.

Contoh lain: "Kalijodo" yang tadinya tempat pelacuran yang para pelacurnya melacurkan diri untuk makan, kini mereka disingkirkan tanpa mempedulikan bagaimana kelanjutan hidup mereka. Diundanglah para kontraktor, cukong-cukong, dikasih pekerjaan untuk menyulap lokasi itu menjadi taman kota yang indah. Kini lokasi itu menjadi taman kota yang indah yang disediakan untuk wisata orang-orang kaya. Para fakir-miskin yang berada di lokasi itu pasti akan ditangkap oleh SATPOL PP lalu dimasukkan ke penjara Departemen Sosial[Depsos].

Komplek-komplek pelacuran miskin itu disingkirkan, sedangkan hotel-hotel, kelab-kelab malam dan dunia hiburan yang bisa memberikan penghasilan pajak ke pemerintah dibiarkan bertumbuh subur dibeking oleh pejabat-pejabat kuat. Orang-orang miskin disingkirkan, para koruptor dibiarkan menjamur.


Hasil gambar untuk gambar kantong kolekte



Hasil gambar untuk gambar indomaret


Hasil gambar untuk gambar warung nasi uduk


Hasil gambar untuk gambar gojek

Hasil gambar untuk gambar tiket online alfamidi

Hasil gambar untuk gambar pelacur elite


Hasil gambar untuk gambar kalijodoh

Hasil gambar untuk gambar dugem


Hasil gambar untuk gambar kakek miskin

Tidak ada komentar: