Minggu, 23 April 2017

MENGAPA AJARAN NENEK MOYANG BEGITU KUAT?

Mengapa ajaran nenek-moyang begitu kuat di hati kita?

1. Sebab nenek-moyang adalah yang awal, yang merintis, yang mendirikan suatu komunitas/kelompok. Nenek-moyang dianggap sebagai owner/pemilik, sehingga dianggap berhak menentukan suatu tujuan. Contohnya: Soekarno, sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia, kini seolah-olah merupakan sumbernya Indonesia.

2. Karena ajaran nenek-moyang sudah terlanjur mendarah-daging menjadi suatu kebiasaan yang membuat kita malas dan enggan untuk merubahnya. Sesuatu yang sudah membiasa biasanya tidak lagi dikontrol oleh nalar yang sehat, sebab malas mikir, malas merenungkannya. Lebih enteng melanjutkan kebiasaan daripada banyak merenungkannya. Lebih baik fokus mencari uang sedangkan adat-istiadat nenek-moyang dijalankan saja.

3. Menggoyang adat-istiadat akan menimbulkan pertentangan dan permusuhan dengan sanak famili.

4. Ukuran yang kita kenakan adalah asalkan itu baik, mengapa tak kita ikuti? Kita tidak menyadari bahwa apa yang baik bagi kita belum tentu baik juga di mata TUHAN. Justru sesungguhnya sering kali apa yang kita anggap baik itu merupakan dosa bila dikontrol dengan Firman TUHAN.

5. Ketidaksadaran kita bahwa kitapun merupakan nenek-moyang bagi anak-cucu kita, bahwa nenek-moyang sesungguhnya adalah sama-sama manusianya dengan kita, sama-sama bisa berbuat kekhilafan dan kesalahan. Sekalipun kita jahat, anak-cucu kita tetap akan menganggap kita baik dan benar. Contohnya kita terhadap ayah-ibu kita. Kita pasti tak bisa menilai bahwa mereka itu bersalah/khilaf. Bisa jadi karena sikap otoriter ayah-ibu kita yang selalu menganggap dirinya benar dan anak-anak yang selalu salah.

6. Karena ajaran masyarakat dan agama-agama supaya kita menghormati orangtua. Kita menjadi ekstrim untuk memaknai penghormatan dengan mengikuti segala langkahnya dan menyetarakan orangtua dengan TUHAN.

7. Karena kalau tidak menghormati TUHAN tak ada orang yang menyaksikannya, tapi kalau tidak menghormati orangtua disaksikan oleh masyarakat dan kita akan dikecam sebagai anak yang durhaka. Contohnya: langgarlah adat istiadat Batak, maka semua orang Batak pasti heboh. Tapi langgarlah Firman TUHAN, siapa yang peduli?! Dengan kata lain, jadilah maling asalkan memelihara adat-istiadat nenek-moyang.

8. Karena kita tidak menyadari bahwa ajaran TUHAN memiliki otoritas untuk mengabaikan ajaran nenek-moyang.

Tidak ada komentar: