Sabtu, 15 April 2017

MENGAPA DEPARTEMEN SOSIAL(DEPSOS) HARUS DIBUBARKAN?

Para pendiri bangsa ini, yakni yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta, melalui PANCASILA menyampaikan amanah agung kepada para pemimpin bangsa ini supaya memimpin bangsa ini menjadi bangsa yang bermoral religius, bukan berangasan seperti preman pasar yang tak pernah mengenal agama. Yang kedua, supaya bangsa ini dipimpin untuk memiliki rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, bukannya menjadi bangsa yang biadab. Yang ketiga, supaya bangsa ini bersatu, bukan menciptakan kesenjangan antara orang kaya dengan orang miskin. Yang keempat, supaya memiliki parlemen yang melahirkan peraturan-peraturan yang manusiawi, bukan parlemen sarang koruptor yang melahirkan peraturan-peraturan yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Yang kelima, supaya ada pemerataan pembangunan mulai dari Sabang hingga Merauke, bukan cuma Jawaoke saja.

Hasil gambar untuk gambar pancasila


Di atas adalah gambar burung Garuda yang merupakan lambang negara kita. Dan kita semua tahu kalau gambar lambang negara itu diinjak-injak atau diludahi oleh orang, maka orang itu pasti akan dipenjarakan seumur hidup. Tapi bagaimana jika oleh pemerintahan yang berkuasa lambang itu hanya dijadikan sekedar hiasan dinding, bukannya dipraktekkan isinya? Apa pendapat anda jika Soekarno-Hatta minta dihidangkan roti tapi oleh presiden yang sekarang disuguhi tahi?! Apakah anda akan memuji-muji pemerintah yang seperti itu?! Apakah anda setuju jika isi Pancasila dijungkirbalikkan sehingga menyengsarakan bangsa ini? Apakah anda senang menumpang bus yang sopirnya mabuk lalu busnya tercebur jurang?! Atau, bisakah anda menunjukkan satu saja dari kelima amanah agung itu yang telah dipraktekkan oleh pemerintah kita?!

Tahun 2014 yang lalu terjadi pemilihan presiden antara: Jokowi dengan Prabowo. Dan kita semua memilih Jokowi oleh sebab kelihatannya "pro rakyat kecil". Tapi apa yang terjadi beberapa waktu kemudian setelah dia dilantik menjadi presiden? Dia yang mengharapkan dukungan rakyat, akhirnya berdiri menantang rakyat: "Saya tidak takut kehilangan dukungan rakyat", dan diputuskanlah untuk mencabut subsidi BBM. Kebijaksanaan jahat itu dilanjutkan dengan kebijaksanaan jahat lainnya lagi yaitu mengangkat seorang yang diduga korupsi menjadi calon Kapolri, yaitu: Budi Gunawan. Dan kita semua menyaksikan komedi "Cicak vs Buaya", antara polisi dengan KPK.

Nah, dari antara kementerian-kementerian yang dibentuk oleh presiden Jokowi, ada satu kementerian yang bernama keren: "Kementerian Sosial" atau yang kita kenal sebagai Depsos - Departemen Sosial. Di zaman presiden Gus Dur, Departemen Sosial ini sempat dibubarkan dikarenakan pejabat-pejabatnya yang brengsek, yang bermental tikus itu tak becus melakukan kebajikan mengurusi fakir-miskin. Anggaran-anggaran yang disediakan untuk fakir-miskin selalu dilalap habis sehingga fakir-miskinnya hanya kebagian tulang doank. Namun para mantan pejabat Depsos mengusulkan untuk dibentuk kembali dengan nama: Badan Kesejahteraan Sosial Nasional[BKSN].

Adapun tugas dan fungsi Depsos sebagaimana yang diharapkan oleh presiden pembentuknya adalah menyelenggarakan urusan di bidang rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, perlindungan sosial, dan penanganan fakir miskin.

Tapi seperti apakah prakteknya?

Mata Depsos adalah mata yang mengawasi orang-orang yang berpakaian fakir-miskin. Setiap orang yang pakaiannya bukan jas dan dasi berada dalam pengawasan Depsos. Demikian pula dengan orang-orang yang tidak mampu membeli rumah, yang tidur di jalanan, mereka pasti akan ditangkap, dimasukkan ke mobil kerangkeng lalu dibawa ke Panti Sosial. Sorry, orang gila saja bisa mengerti untuk kabur jika ada razia Depsos. Orang gila saja tidak mau dimasukkan ke Panti Sosial apa lagi orang waras.

Pernahkah ELOHIM YAHWEH menangkapi fakir-miskin? Nggak pernah! ELOHIM YAHWEH malah memerintahkan orang-orang kaya supaya berbagi dengan fakir-miskin;

Ul. 15:11Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu."

Jika fakir-miskin disembunyikan oleh Depsos di Panti Sosial, maka bagaimana orang-orang kaya hendak mencari pahala? Gara-gara Depsos, orang-orang kaya bisa masuk neraka semuanya. Depsos melawan ELOHIM YAHWEH!

Bagaimana sikap ELOHIM YESHUA ha MASHIA terhadap fakir-miskin?

Matius 5:3"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Kata ELOHIM YESHUA, orang-orang miskin itu pemilik sorga, berarti orang-orang yang tidak bersalah. Tapi kenapa dikejar-kejar seperti maling oleh Depsos?

Lukas 16:19

"Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
16:20Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
16:21dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
16:22Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
16:23Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
16:24Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
16:25Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Depsos musuh orang Kristen? Benar Gus Dur, Depsos harus dibubarkan!

Bagaimana sikap nabi Muhammad SAW terhadap pengemis Yahudi?

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, hari  demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW  melakukannya setiap hari hingga menjelang Beliau SAW wafat.

Bagaimana sikap Sang Buddha Gotama terhadap fakir-miskin? Beberapa ajaran hukum karma mengatakan:

>> Kenapa di kehidupan ini anda selalu mempunyai pakaian berkecukupan, Sebab di kehidupan yang lalu anda sering menyumbangkan pakaian kepada para biksu dan orang miskin.

>> Kenapa di kehidupan ini anda selalu mempunyai makanan berkecukupan, Sebab di kehidupan yang lalu anda sering menyumbangkan makanan kepada fakir miskin.

>> Kenapa di kehidupan ini anda selalu kelaparan dan tak punya pakaian yang pantas, Sebab di kehidupan yang lalu anda hidup pelit tidak pernah menderma kepada fakir miskin.

Apakah ada agama yang melawan keberadaan fakir-miskin? Apakah ada agama yang mengajarkan memusuhi dan menindas fakir miskin sebagaimana yang dijalankan oleh Depsos? Mengapa agama-agama yang ada di NKRI ini berdiam diri saja dengan kelakuan Depsos yang tidak manusiawi?

Cerita lanjut perjalanan orang ketika dimasukkan ke Panti Sosial; Panti Sosial mana? Jawabnya: Semua Panti Sosial milik Depsos di mana saja sama saja.

Orang-orang yang dimasukkan ke Panti Sosial pasti akan menerima bentakan-bentakan, intimidasi, maki-makian kasar dari petugas panti, padahal mereka bukanlah pelanggar kriminal. Mereka bukan maling, bukan copet, bukan penodong, bukan narkoba, dan lain-lainnya. Bilangnya Depsos itu melayani fakir-miskin tapi nyatanya memperlakukan fakir-miskin bukan dengan senyum ramah, malah dengan kekerasan dan kekasaran.

Mereka tidak diperbolehkan keluar panti, artinya seperti dipenjara. Memangnya apa kriminal mereka sehingga hak-hak kemerdekaan mereka dirampas untuk hidup dan tinggal di bumi pertiwi ini?

Di Panti Sosial ada beberapa WC, tapi semuanya penuh dengan tahi, bahkan di selokan-selokannya. WC penuh tahi, tak ada pintu dan tak ada air di WC. Bahkan beberapa orang terpaksa meraup tahi-tahi di WC itu dengan kedua telapak tangannya untuk dibuang ke selokan. Hiiiiii........ menjijikkan! Jorok kayak kandang babi.

Pemerintah menganjurkan masyarakat membuat WC - MCK, supaya tidak lagi mandi di sungai. Pemerintah menggelontorkan anggaran bertrilyun-trilyun selama puluhan tahun untuk membangun MCK di desa-desa. Tapi Depsos dengan entengnya merusakkan ajaran kebersihan dan kesehatan itu. Pemerintah dengan gencar membasmi lalat dan nyamuk, tapi Depsos justru menjadi peternak lalat dan nyamuk. Pemerintah menganjurkan anak-anak bersekolah. Di sekolah diajarkan kebersihan dan kesehatan, tapi Depsos merusakkan ajaran baik itu.

Di Panti Sosial itu ada beberapa bangunan aula, dan setiap aula itu diisi oleh ratusan orang sehingga tak ada tempat untuk tidur secara berbaring. Terpaksa orang tidur secara berhimpit-himpitan atau tidur dengan duduk. Jumlah tangkapan sudah melebihi kapasitas gedung sehingga orang menjadi kehilangan kenyamanannya.

Hasil gambar untuk gambar aula panti sosial berlebihan


Di sekolahan diajari menyikat gigi dengan odol dan sikat, mandi dengan sabun mandi, di Depsos semua itu tak ada. Percuma sekolah jika kehidupan seperti di zaman Adam dan Hawa?! Di sekolah diajari makan makanan yang sehat dan bergizi, di Depsos dikasih makan makanan yang jorok cara memasaknya, jorok cara penyajiannya, tanpa bumbu dan ikan asin melulu. Sayur-sayuran yang tercemar pestisida dimasak tanpa dicuci lebih dahulu.

Kata orang DPR atau DPRD, tidak ada anggaran untuk makanan Depsos. Mungkin sebagiannya sudah dikorupsi. Okey, tak masalah itu. Tapi kenapa menangkapi orang jika tak mampu memeliharanya dengan baik. Kenapa membeli burung merpati kalau tak mampu memberinya jagung yang cukup? Kenapa menangkapi banyak-banyak orang kalau kapasitas gedungnya tak muat?

Di Panti Sosial orang dibiarkan tanpa kesibukan yang berarti selain dari senam dan bersih-bersih halaman. Banyak orang-orang yang waras dibuat menjadi stress oleh sebab hidup seperti dalam penjara. Orang menjadi pesimis dan kehilangan gairah hidup. Depsos telah melakukan pembunuhan jiwa-jiwa!

Sua Mereka yang Lapar dan Terkurung, Ahok Teringat Mother Teresa

Liputan6.com, Jakarta - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama blusukan mengunjungi para kakek dan nenek di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya II Cipayung, Jalan Bina Marga, Jakarta Timur. Blusukan ini juga dilakukan dalam rangka menghadiri Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke XVIII.

Usai kegiatan, pria yang karib disapa Ahok itu lanjut mengunjungi penampungan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di gedung belakang panti didampingi Kepala Dinas Sosial DKI Masrokhan. Namun ketika melihat 4 ruangan yang menampung PMKS ternyata diberi pintu teralis, Ahok pun protes. Apalagi di dalamnya ada lansia dan anak-anak.

"Ini menurut saya nggak manusiawi cara dinas sosial. Kita nggak mau kurung orang," ucap Ahok kepada Kadinsos dan pengelola panti tersebut, Rabu (18/6/2014).

"PKL kurang ajar aja nggak boleh dikurung. Kenapa anak-anak yang cuma ngemis karena butuh uang dikurung. Ini cara berpikir salah. Tolong ini diubah polanya," tegasnya.

Menurut Ahok, tujuan para PMKS ditampung di panti sosial agar dapat memperoleh pembinaan dan kehidupan layak. Juga untuk dapat bertemu langsung dengan pejabat pemerintahan agar dapat menyampaikan keluhan mereka. Bukan berarti PMKS itu boleh dikurung meskipun berpotensi mengalami gangguan jiwa.

"Anak-anak tidak boleh dikurung. Ibu-ibu bawa anak juga semua nggak bisa," ucapnya.

Mantan Bupati Belitung Timur itu pun meminta Dinsos DKI untuk mendata KTP para gelandangan atau pengemis sebelum menertibkan mereka. Jika KTP DKI, petugas Dinsos harus memulangkan ke rumahnya dan berkoordinasi dengan lurah atau RT/RW. PMKS yang memiliki rumah hanya dapat paling lama diinapkan semalam di panti sosial.

"Kalau punya KTP DKI tidak boleh dikurung. Bawa ketemu lurah, ganti KTP. Jadi kita tidak mau siapapun diperlakukan seperti itu," tegasnya.
Bau

Ahok pun kemudian menyempatkan diri berbincang-bincang dengan beberapa PMKS yang terkurung. Di antaranya seorang wanita yang ditertibkan karena mengemis.

Wanita itu mengeluh lapar pada Ahok karena belum diberi makanan. Ahok pun langsung meminta pengelola panti menyediakan makanan. Tak lama, makanan langsung diberikan kepada penghuni penampungan.

Setelah keluar dari gedung tersebut, Ahok menyempatkan diri melihat poliklinik panti. Ia lalu menanyakan siapa yang bertugas memandikan para PMKS. Karena ia mengaku mencium bau tak sedap ketika mengunjungi ruang-ruang penampungan.

"Mereka apa nggak ada uang mandiin? Bau di dalam. Kasih sampo biar bersih. Mother Teresa aja mandiin pengemis," pungkas Ahok. (Sss)

Panti Sosial Tak Manusiawi
MEDAN - Panti sosial dan rehabilitasi milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) di Berastagi, Kabupaten Karo, disebut tidak manusiawi.

Pasalnya, penghuni yang sedang ditampung di sana tidak mendapatkan fasilitas layak. Hal ini terungkap saat Komisi E DPRD Sumut saat kunjungan kerja (kunker) ke Panti Rehabilitasi Parawansa, Berastagi, baru-baru ini. Para wakil rakyat itu menemukan sejumlah persoalan ketika berkomunikasi dengan para penghuni panti rehabilitasi, mulai dari sarana prasarana, fasilitas, dan lainnya.

“Kondisi para penghuni panti sangat memprihatinkan. Mereka hanya diberikan jatah satu sabun mandi, satu batang sabun cuci, dan tiga bungkus sampo untuk satu bulan,” kata Ketua Komisi E DPRD Sumut, Syamsul Qodri Marpaung, di Medan, Senin (6/6).

Penghuni Panti Rehabilitasi Parawansa juga mengeluhkan makanan. Mereka dijatah layaknya tahanan karena pengelola panti, yakni Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Sosial (Dinsos) Sumut, mengaku kekurangan anggaran.

“Penghuni panti hanya mendapat Rp21.000 untuk biaya makan. Makanya mereka makan dengan lauk ala kadarnya seperti ikan asin,” ujar politikus PKS itu. Tak hanya itu, penghuni panti merasa diperlakukan layaknya narapidana.

Mereka tidak dibenarkan keluar ruangan atau kamar tidur. Situasi itu dinilai tidak ideal karena mereka tidak berada di penjara. “Mereka merasa terkekang. Ini bisa memunculkan masalah baru. Harusnya dipekerjakan petugas keamanan untuk berjaga- jaga,” tuturnya.

Syamsul menilai, UPT Dinsos Sumut sebagai pengelola panti tidak kreatif menjalankan tugas pokoknya dalam membina dan merehabilitasi para perempuan yang menjadi korban trafficking atau pekerja seks komersial di sana. Mereka menjadikan anggaran sebagai alasan.

Padahal, banyak potensi dana corporate sosial responsibility (CSR) yang bisa diperoleh untuk membantu mengelola panti. Berdasarkan hasil kunjungan tersebut, Komisi E meminta kepala UPT Dinas Sosial Sumut melaporkan kebutuhan atau biaya operasional, apakah sudah sesuai jumlah penghuni panti.

Komisi E akan memperjuangkan penambahan anggaran di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2016 dari dana APBD 2016 saat ini yang berjumlah Rp1,3 miliar. Saat kunjungan kerja ke Panti Rehabilitasi Parawansa, Berastagi tersebut, Komisi E DPRD Sumut diterima langsung Kepala UPT Dinsos Sumut, Ngiso.

Ketika ditanyai anggota Komisi E, Ngiso justru lebih banyak tidak menjawab dan mengaku jarang di tempat. “Wajar saja perlakuan mereka pada penghuni panti tidak manusiawi,” katanya.

Dari kunjungan itu, Wakil Ketua Komisi E DPRD Sumut, Zahir, menjelaskan didapatkan data kapasitas maksimal Panti Rehabilitasi Parawansa sebanyak 60 orang. Sementara anggaran yang disediakan pada APBD 2016 dialokasikan hanya untuk 27 orang. “Saya pikir ada yang salah dalam perencanaan anggaran ini,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut ditambah lagi dengan kinerja UPT Dinsos Sumut yang tidak profesional, menambah penderitaan penghuni yang seharusnya mendapatkan pembinaan selama di panti. Mereka seharusnya dibina dan diberdayakan, bukan dikurung.

“Kami akan merekomendasikan ke gubernur Sumut untuk mengevaluasi UPT Dinsos. Sebab, saat ini belum ada pejabat resmi definitif sebagai kepala Dinsos Sumut,” tandasnya.

fakhrur rozi

Diperlakukan Tak Manusiawi, Penghuni Panti Jompo Dievakuasi

Diperlakukan Tak Manusiawi, Penghuni Panti Jompo Dievakuasi

TEMPO.CO, Pekanbaru - Sebanyak 32 orang penghuni panti jompo Yayasan Tunas Bangsa dievakuasi lantaran tidak mendapatkan perlakuan manusiawi dari pengurus lembaga tersebut. Para manula itu dikurung dalam jeruji dan tidak menadapat makanan selayaknya.

"Ini sudah sangat tidak manusiawi," kata Kepala Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Riau, Esther Yuliani, Senin, 30 Januari 2017.

Yayasan Tunas Bangsa memiliki tiga gedung yang menangani panti asuhan, panti jompo dan perawatan orang sakit jiwa. Namun pada prakteknya, pengurus memperlakukan hal sama untuk semua penghuni panti. Tidak ada perbedaan antara penghuni gangguan jiwa maupun manula. Mereka disatukan dalam satu ruangan seperti penjara.

Tempo sempat mendatangi Panti Jompo Yayasan Tunas Bangsa di Jalan Lintas Timur, Km 20, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Bangunan panti berada di tengah perkebunan kelapa sawit dan jauh dari permukiman masyarakat.

Bangunannya tampak tak terusus, bau busuk menyeruak di setiap sudut ruangan. Ruangan yang kosong dimanfaatkan untuk kandang kambing. "Ini sangat tidak layak," kata Esther.

Saat mendekati sel tersebut, pemandangan kian memilukan. Para penghuni langsung berkumpul di depan jeruji sembari melambaikan tangan meminta makan. Tampaknya mereka dalam keadaan lapar. Ruang kurungan jauh dari kata bersih.

Tidak ada sekat antara tempat tidur dan lubang WC. Para penghuni panti hanya tidur di atas susunan papan yang tidak beralas. Di setiap jeruji, tergantung sebuah ember yang dimanfaatkan sebagai tempat minum.

Menurut Esther, Yayasan Tunas Bangsa sudah seharusnya ditutup. Dia meminta Pemerintah Riau segera memindahkan penghuni ke tempat yang layak serta memeriksa seluruh kesehatannya.

Bukan hanya itu, Esther mengaku juga mendapat pengaduan dari penghuni panti yang kerap kali mengalami penganiayaan dari pengurus. "Tidak ada perikemanusiaan di sini, panti harus ditutup dan pidanakan pemiliknya," ucapnya.

Peristiwa itu terungkap saat Kepolisian Resor Kota Pekanbaru menerima laporan kematian seorang balita bernama Muhammad Zikli, berusia 1,8 bulan, di Panti Asuhan Tunas Bangsa, Jalan Singggalang V, Tenayan Raya, Pekanbaru. Keluarga korban menduga balita tewas akibat dianiaya lantaran sekujur tubuh korban mengalami luka.

Lembaga Perlindugan Anak Riau kemudian melakukan sidak di dua panti lainnya yang beralamat di Jalan Cendrawasih, Kecematan Marpoyan Damai dan Jalan Lintas Timur, Km 20. Namun LPA Riau justru menemukan para orang tua penghuni panti jompo maupun penderita gangguan jiwa yang sangat memprihatinkan.

Para penghuni kini telah dievakuasi Dinas Sosial Riau dan Dinas Kesehatan ke Rumah Trauma Center (RTC) dan Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru untuk mendapat perawatan.

Kepala Kesatuan Reskrim Kepolisian Resor Kota Pekanbaru Komisaris Bimo Ariyanto menuturkan hingga kini Kepolisian terus melakukan penyelidikan terkait meninggalnya seorang bayi di panti asuhan itu. Polisi telah membongkar pemakaman korban untuk mengautopsi jasad korban.

Sejauh ini kata dia, polisi telah memeriksa lima orang saksi dari pengurus Yayasan Tunas Bangsa. Namun polisi belum menangkap pemilik yayasan bernama Lilis, karena tidak diketahui keberdaannya. "Kami kuatkan kesaksian terlebih dulu," ucapnya.

Tidak ada komentar: