Kamis, 13 April 2017

MENGAPA ORANG MISKIN?

Mengapa orang miskin? Ada banyak faktornya;

>> Karena keturunan orang miskin;
Keturunan orang miskin biasanya dihantui rasa minder atau rendah diri. Inilah salah satu penyebab mengapa mereka tetap miskin.

>> Karena kekayaannya berkurang;
Mungkin usahanya merugi, mungkin kalah saingan, mungkin karena memburuknya situasi ekonomi, mungkin karena utang banyak, mungkin karena salah managemen, mungkin dihabisi oleh kebijaksanaan pemerintah yang tidak bijaksana, seperti bangkrutnya toko-toko tradisional oleh sebab kehadiran toko-toko modern, dagangannya dirampas oleh SATPOL PP karena dianggap melanggar peraturan daerah, karena kena PHK, dan lain-lainnya.

Untuk DKI Jakarta, gubernur Ahok yang tukang gusur adalah gubernur yang paling beringas menyikat masyarakat kecil. Dengan menyombongkan kejujurannya dia merasa halal untuk memelaratkan orang, bahkan yang ada dalam otaknya adalah melarang orang datang ke Jakarta dan mengusir fakir-miskin dari kota Jakarta. Konsep berpikirnya, kota indah adalah kota yang bersih dari gembel. Kota indah adalah kota yang didukung oleh penduduknya yang berpakaian jas dan dasi. Para gembel dianggapnya merusakkan pemandangan dan mengganggu. Mending pelihara para koruptor yang pakaiannya berbau harum.

Jadi, pemerintah mempunyai andil yang cukup besar dalam memiskinkan masyarakatnya!

>> Karena melambungnya biaya hidup;
Jika pemasukan dengan pengeluarannya tidak berimbangan yang disebabkan oleh keborosan atau kenaikan harga-harga, maka orangpun bisa jatuh miskin. Di sinipun peran pemerintah dalam menjaga kestabilan harga perlu dipertanyakan, misalnya: bagaimana harga cabe bisa sampai Rp. 160.000,- perkilogram? Harga BBM naik, tarip listrik naik, bukankah kita bertanyanya ke pemerintah?


BAGAIMANA MENGENALI FAKIR MISKIN?

Menebak fakir-miskin itu sama sulitnya dengan menebak hati orang. Sebab orang yang menempati rumah gedung bisa jadi adalah orang kaya yang sudah bangkrut yang sudah tak memiliki apa-apa, termasuk rumah itu sudah disita bank. Dia tinggal di rumah besar tapi perutnya setiap hari menahan lapar; siapa tahu?! Apakah dia bukan fakir-miskin? Apakah tak perlu ditolong karena menempati rumah besar?

Ada orang kaya yang menyuruh keluarga miskin menjaga dan menempati salah satu rumahnya yang kosong. Apakah keluarga itu bukan lagi termasuk miskin? Ada keluarga yang menempati rumah, tapi itu rumah kontrakan, apakah keluarga itu termasuk kaya?

Ada keluarga yang menempati rumah sederhana tapi hidupnya berkecukupan oleh sebab ditopang oleh anak-anaknya yang kaya. Apakah keluarga itu miskin oleh sebab rumahnya sederhana? Banyak orang-orang pendatang yang menempati rumah kost. Sekalipun tempat kostnya sederhana namun mereka adalah pedagang yang penghasilannya besar. Apakah mereka termasuk orang miskin?

Pengemis atau pengamen idiot atau cacat biasanya mempunyai penghasilan yang besar, bahkan tak jarang SATPOL PP menangkapi mereka dan menemukan uang puluhan juta. Apakah mereka itu miskin oleh sebab pekerjaannya mengamen?

Ada gelandangan yang dandanannya selalu necis; kaosnya bermerk, celananya Jean's, arlojinya konon seharga Rp. 1,5 juta sedangkan sepatunya seharga Rp. 550.000,- Tapi setiap hari lontang-lantung mengakunya bokek dan selalu minta rokok dan kopi. Dia bilang menyesal telah membeli barang-barang mahal itu yang seharusnya bisa untuk modal berjualan kopi. 

Janda. Apakah kalau janda berarti miskin sedangkan suami-istri berarti kaya? Siapa bilang?! Lani, perempuan hamil tua yang saya tolong di Senen adalah perempuan yang mempunyai suami. Tapi kini suaminya tidak lagi tukang parkir alias pengangguran. Apakah karena punya suami lalu tak perlu ditolong?!

Jabatan atau penghasilan tolok ukurnya? Di Senen ada perempuan[janda] yang berdagang kopi dan rokok, tapi penghasilan setiap harinya bisa mencapai Rp. 300.000,- atau Rp. 9 juta perbulan. Gaji jabatan apakah yang setara itu? Sedangkan penjual bakso, gorengan, nasi bebek, nasi goreng bisa beromset puluhan juta setiap harinya atau minimalnya berkeuntungan Rp. 30 juta perbulan. Padahal gaji presidennya hanya sekitar Rp. 63 juta. Saya pikir mending menjadi pedagang bakso daripada presiden yang setiap hari didemo rakyatnya.

Jadi, yang paling tahu keadaan ekonomi seseorang tidak lain adalah para tetangganya. Di sini peran pak RT-lah yang harus dipercayai dan dijadikan pedomannya, bukan orang luar; bukan pejabat kelurahan atau kecamatan yang melihat orang dari rumah atau penampilannya doank. Tapi pak RT-lah yang paling tahu apakah si-A sudah mapan atau sedang kolaps.

Warga Korban Penggusuran Pasar Ikan Kini Tinggal di Perahu

 
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Puluhan warga Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, yang terkena dampak penggusuran, saat ini menempati perahu nelayan yang ada di pinggiran tanggul perairan Sunda Kelapa.
Dari pantauan Kompas.com, terlihat puluhan perahu nelayan terparkir rapi di pinggiran tanggul. Tampak pula berbagai macam peralatan rumah tangga, seperti televisi, kasur, dan pakaian tersusun di atas perahu tersebut.
Basri, misalnya, warga RW 4, RT 12, Kelurahan Penjaringan ini mengaku sudah dua hari dirinya beserta keluarganya tinggal di atas perahu tersebut.
"Saya sudah dua hari di sini, anak istri serta cucu saya juga tinggal di atas perahu ini," kata Basri, Selasa (12/4/2016).
Basri mengatakan, bersama keluarganya, dia terpaksa tinggal di atas perahu disebabkan rusun yang diberikan Pemprov jaraknya terlalu jauh dari tempat mata pencariannya.
Sehari-hari, Basri menafkahi keluarganya dari hasil melaut. Rusun yang diberikan ialah di Rusun Marunda.
"Saya ini nelayan, rusun yang dikasih jauh sekali Mas jaraknya. Kalau boleh ya nanti saya buat gubuk-gubuk kecil, Mas," kata Basri.
Selain Basri, ada juga Fahri yang membawa serta anak dan istrinya untuk tinggal di atas perahu. Fahri memiliki dua buah perahu yang biasa digunakannya untuk melaut dan menjadi pemandu bagi wisatawan yang datang.
Sudah dua hari Fahri bersama anak dan istrinya tinggal di atas perahu. Untuk mandi, dia memanfaatkan masjid yang ada di Luar Batang. Namun, Fahri tak tahu sampai kapan dirinya akan bertahan di atas perahu nelayan.
"Saya enggak tahu sampai kapan, Mas, mungkin sampai pemerintah memperhatikan saya," kata Fahri.

Nasib Hak Pilih Warga Korban Penggusuran di DKI Tidak Jelas

Jakarta - Kinerja Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) di DKI tengah dipertanyakan. Pasalnya, tugas pencocokan dan penelitian data penduduk calon pemilih di Pilkada DKI nanti hingga saat ini masih belum rampung.

Di satu sisi, KPUD DKI tak memberikan kepastian mengenai mekanisme pencantuman daftar pemilih bagi ribuan warga DKI korban penggusuran. Sehingga, terdapat ribuan warga korban penggusuran di DKI yang tidak jelas nasib hak pilihnya.

"Persoalannnya adalah para (calon) pemilih yang menjadi korban penggusuran. Mereka yang dipaksa pindah sangat banyak. Tapi kini keberadaannya tidak diketahui," ujar ketua tim Advokasi dan Pengamanan cagub cawagub Anies-Sandi Agus Otto di kantor pemenangan Anies-Sandi di Cicurug, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/10/2016).

Agus berharap tidak ada upaya pembiaran secara sengaja hingga para warga korban penggusuran tak terakomodir dalam daftar pemilih di Pilkada nanti. Ia mengatakan sebagai warga negara, mereka memiliki hak politik yang sama.

Agus mendesak agar KPU turun tangan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Jika dibiarkan, kata dia, maka terdapat ribuan oraang yang justru akan kehilangan suara di Pilkada nanti.

"Sehingga terancam kehilangan hak konstitusionalnya karena kehilangan hak pilih. Kita ingatkan KPUD DKI, jangan sampai membiarkan ini," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Data dan Saksi Tim Pemenangan Anies-Sandi, Ahmad Sulhy menyebutkan setidaknya terdapat 168 ribu warga DKI korban penggusuran. Jumlah tersebut menunjukkan adanya potensi suara yang hilang di Pilkada DKI jika nantinya tak terakomodir dalam daftar pemilih.

Padahal, sumber daya yang dimiliki KPU dalam melaksanakan tugas pemutakhiran data penduduk dan daftar pemilih cukup memadai. Setidaknya, KPU memiliki dua ribu petugas PPDP untuk memvalidasi seluruh daftar pemilih secara maksimal.

Warga Korban Penggusuran: Ahok Bukan Lagi Manusia

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Salah satu perwakilan warga Kampung Akuarium Penjaringan Jakarta Utara, Yati (43) menyesalkan gaya kepemimpinan gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
"Maaf, ini orang (Ahok) kalau boleh saya bilang bukan lagi manusia, tapi dajjal," kata Yati saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) yang diinisiasi oleh Komnas HAM, Jakarta, Kamis (15/9/2016).
Pernyataan itu merujuk pada alasan Ahok yang selama ini menuding warga menempati lahan secara ilegal tetapi begitu mudah menyerahkannya kepada pemilik modal atau pengembang.
"Hampir seluruh kasus penggusuran tidak pernah melalui proses musyawarah antara pemerintah dan warga. Di Akuarium Penjaringan, kami sekarang masih tinggal di perahu nelayan yang ada di pinggiran tanggul perairan Sunda Kelapa, dan Ahok tidak peduli," beber dia.
Padahal, menurut Yati, masalah penggusuran bukan saja soal kepemilikan hak atas tanah, melainkan juga sistem sosial yang sudah terbangun, baik berupa suasana persaudaraan, tempat kerja, maupun pertetanggaan yang tidak bisa diterjemahkan dengan cara memindahkan korban penggusuran ke rusunawa.
Selain itu, kata dia, rumah susun warga (rusunawa) yang diberikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta jaraknya terlalu jauh dari tempat mata pencaharian warga.
"Kami ini manusia, punya bangunan sosial berusia tahunan. Anak-anak sekolah disekitar sini, punya jamaah pengajian, mushola, tempat cari makan juga disini. Tetapi kami diusir paksa seperti memindahkan barang," katanya.
"Ironisnya lagi, kami tinggal Akuarium sudah puluhan tahun, beranak pinak disini dari kekek, orang tua, saya dan anak-anak saya semua lahir disini. Tetapi waktu penggusuran kami minta ditunda sampai anak selesai ujian sekolah tidak boleh, minta sampai Hari Raya Idul Fitri juga tidak boleh. Malah besoknya langsung kirim tentara, polisi dan Satpol PP. Ini pemerintah (Pemda) atau penjajah?," cetus Yati.‎
Karenanya, Yati tidak habis pikir dengan setiap penggusuran yang dilakukan Ahok selama ini seperti orang kesetanan. Tanpa mau ‎membuka ruang dialog dan selalu tergesa-gesa.
Tak hanya perwakilan warga Kampung Akuarium Penjaringan, korban penggusuran di Bukit Duri, Kalijodo, Pasar Ikan, dan Kampung Akuarium Rawajati dan lain-lain juga turut hadir dalam FGD tersebut. (icl)

Ahok Diminta Buktikan Lahan Pasar Ikan Milik Negara

JAKARTA, KOMPAS.com — Koordinator Advokasi Urban Poor Consortium (UPC) Gugun Muhammad meminta Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membuktikan ucapan mengenai kawasan Pasar Ikan di Penjaringan, Jakarta Utara, adalah lahan milik negara.
"Nah, Pemda punya enggak sertifikatnya? Enggak pernah itu nunjukkin. Pokoknya langsung klaim tanah negara," kata Gugun saat dihubungi Kompas.com dari Jakarta, Selasa (12/4/2016).
Menurut Gugun, Ahok kerap menggunakan Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum untuk melakukan penggusuran.
Padahal, kata Gugun, ketika tanah itu akan digunakan untuk pembangunan, katakanlah untuk jalur hijau, pemerintah daerah, menurut dia, mesti mengikuti mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
"Tetapi, Ahok enggak mau pakai undang-undang itu. Padahal, undang-undang itu mengatur, warga negara yang tinggal di atas tanah negara pun berhak mendapat ganti kerugian," ujar Gugun.
Karena itu, Gugun meminta Ahok berhenti melakukan penggusuran permukiman rakyat kecil, apalagi jika penggusuran dilakukan hanya untuk memenuhi keinginan pengembang.
"Saya minta Ahok segera bertobat ya. Jadi, jangan lagi politik dia berpihak kepada kelas atas, lalu mengorbankan yang bawah, yang miskin," ujar Gugun.
Kebijakan merelokasi warga korban penggusuran ke rusunawa juga ia nilai tidak tepat.
"Lama-lama orang masuk rusun. Ketika semua masuk rusun lama-lama orang dari daerah enggak bakal bisa masuk ke Jakarta. Jadi, mestinya penggusuran berhenti, lalu tata tuang diatur bersama, tidak diprioritaskan ke yang kaya-kaya," ujarnya.
Pada Senin (11/4/2016), Pemprov DKI Jakarta menertibkan ratusan bangunan di kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara. Penolakan warga tak membuat bangunan-bangunan itu selamat dari pembongkaran.
Penertiban dilakukan untuk membuat ruang terbuka hijau dan merevitalisasi kawasan wisata bahari di lokasi tersebut.

Untung Rugi Tinggal di Rumah Susun

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dr_wahyutriasmara/untung-rugi-tinggal-di-rumah-susun_552e0b196ea8349c288b4581


Untung Rugi Tinggal di Rumah Susun


Saya pernah tinggal di rumah susun selama 3 bulan, ketika waktu itu sedang mengikuti pelatihan workhsop kesehatan di Ibu kota. Pandangan masyarakat akan rumah susun mungkin masih dianggap sebagai hunian bagi masyarakat kelas menengah bawah. Namun pendapat itu sepertinya tak selalu benar, karena di rumah susun yang saya tinggali waktu itu dihuni oleh mereka orang-orang yang mempunyai pekerjaan mapan. Ada rekan dokter, wartawan, hakim, dan polisi yang tinggal disana. Di lahan parkirnya pun berederet mobil terparkir mulai yang biasa hingga mobil yang berkategori mewah. Rumah susun dapat juga diartikan sebagai apartment versi sederhana. Perbedaan keduanya jika di apartement semua fasilitas tersedia, sementara di rumah susun fasilitas serba terbatas. Sebagai contoh beberapa kondisi rumah susun di beberapa wilayah jakarta kami perhatikan kondisinya hampir sama, dimana tidak memiliki sistem sanitasi yang baik, utamanya berkaitan dengan pengelolaam sampah. Belum lagi masalah ventilasi dan jendela yang berfungsi untuk masuknya cahaya matahari juga dirasa masih kurang memadai. Hal sangat berisiko menimbulkan berbagai penyakit bagi penghuni rumah susun itu sendiri. Privasi tinggal di rumah susun juga menurut saya menjadi sangat kurang. Boleh dibilang selama tinggal dirumah susun saya seringkali mendengar tetangga sebelah rumah bertengkar (suami-sitri), belum bayi yang menangis tak berhenti dimalam hari, bunyi radio, tv yang keras, orang mendengkur, hingga tetangga yang ngerumpi pun suaranya bisa sampai rumah susun yang saya tempati. Pernah juga waktu itu saya coba untuk pindah ke blok lain di rumah susun yang saya tinggali tapi setelah saya perhatikan suasananya juga tak jauh beda dengan blok rumah susun kami. Tinggal di rumah susun membuat waktu berinteraksi sosial dengan orang lain menjadi lebih banyak. Bayangkan saja ketika pada pagi hari kita membuka pintu keluar rusun sudah disambut oleh puluhan tetangga yang juga sedang akan beraktifitas. Beruntung tetangga rusun saya ramahramah walaupun ada 1-2 orang agak cuek. Saat ada tetangga yang sakitpun mereka juga tanggap untuk saling bantu dan tolong, pernah waktu itu saya dibangunkan ditengah malam oleh tetangga sebelah kamar karena mendengar tetangga di blok sebelah tiba-tiba anaknya kejang-kejang. Memilih tinggal di rusun bagi sebagian orang mungkin menjadi pilihan sulit yang terpaksa harus diambil. Namun jangan jadikan hal itu menjadi sebuah beban, agar kita tetap kerasan dan tidak jenuh tinggal disana. Oleh karena itu saya coba bagikan beberapa tips nyaman dan sehat bagi anda yang akan memilih tinggal di rumah susun sebagai berikut ini : 1. Pilih rumah susun yang lingkungannya aman, dekat dengan fasilitas umum (sekolah, masjid, pusat perbelanjaan, rumah sakit/klinik) 2. Rajin membersihkan rusun, buang sampah pada tempatnya, membuka jendela disiang hari, supaya rumah tidak jadi sarang penyakit. 3. Awasi penggunaan kompor, gas, air dan listrik untuk menghindari terjadinya kebakaran dan kebanjiran. 4. Bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik terhadap warga penghuni rusun agar tercipta hubungan harmonis diantara penghuni yang berasal dari berbagai profesi dan kalangan yang berbeda. 5. Rajin membayar iuran (air, listrik, sampah, iuran kebersihan, keamanan dan lahan parkir). Tinggal dirusun memang penuh suka duka, murahnya sewa, dekatnya dengan lokasi kerja, mempunyai banyak kenalan baru dari berbagai profesi, menjadi salah satu keuntungan tinggal di rusun. Tapi kurangnya privasi, minimnya fasilitas yang memadai, lingkungan yang kurang sehat barangkali juga membuat masih banyak orang enggan untuk tinggal di rumah susun. Semoga kedepan pemerintah dan pengembang rumah susun lebih memperhatikan pembangunan rumah susun, agar lebih diminati dan menjadi solusi mengatasi kebutuhan rumah layak huni, serta menekan penyerobotan lahan pertanian yang dialihkan menjadi lahan perumahan yang belakangan marak terjadi. salam sehat, dr. Wahyu Triasmara



Baru Diresmikan Ahok, Lift Rusun Tambora Rusak

JAKARTA, KOMPAS.com — Rumah Susun Sederhana Sewa atau Rusunawa Tambora, Jakarta Barat, baru saja diresmikan pada Selasa (24/2/2015) lalu. Namun, lift rusun setinggi 16 lantai tersebut rusak.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku belum mendapat laporan mengenai rusaknya lift tersebut. Meski begitu, jika benar rusak, Basuki menyatakan bahwa lift tersebut masih garansi.
"Ini kan masih masa garansi," kata pria yang akrab disapa Ahok itu, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (18/3/2015).
Basuki pun menceritakan bahwa awalnya rusun tersebut direncanakan hanya lima lantai agar tidak memerlukan lift. Namun, karena tanah mahal, akhirnya bangunan dibangun setinggi 16 laintai.
"Itu makanya kenapa Pak Jokowi lebih suka semua yang lima lantai enggak ada lift. Karena ada kemungkinan orang yang tidak biasa main lift itu jadi mainan," kata Basuki.
Selain itu, lanjut Basuki, pihaknya akan melakukan pembatasan penggunaan lift tersebut. Hal tersebut mencontoh penggunaan lift pada rusun di Singapura.
"Makanya, dia mesti seperti di Singapura, itu liftnya enggak berhenti di tiap lantai. Jadi bisa diatur. Misalkan minggu ini yang ganjil, minggu depan genap. Jadi kamu harus selalu turun satu lantai. Misal tinggal di lantai 4, liftnya berhenti di lantai 5," tuturnya.
Tak hanya masalah lift, pasokan air PAM di rusun itu juga terganggu. Oleh karena itu, Basuki mengatakan, Pemprov DKI ingin membeli Palyja. "Kalau di Waduk Pluit nanti enak, dia nanti pakai air dari situ, udah diolah," katanya. (Mohamad Yusuf)

Tidak ada komentar: