Rabu, 12 April 2017

PELANGGARAN HUKUM PEMERINTAH

Jika pemerintahan ini sah, maka rakyat yang ber-KTP adalah juga sah. Jika rakyat yang sah saja bisa dijebloskan ke penjara karena suatu pelanggaran undang-undang, mengapakah pemerintahan yang sah tidak bisa dipenjarakan karena pelanggaran yang sama?

Pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan yang sah. Kita tidak menggugat atau mempermasalahkan kesahannya, tapi kita menggugat dan mempermasalahkan kesalahannya dalam memerintah bangsa ini. Apakah presiden Jokowi sudah berjalan di atas rel Pancasila dan UUD 1945? Jika sudah, ya sudah, kita takkan mempermasalahkannya. Tapi jika belum atau terdapat penyimpangan, apakah itu tak bisa digugat atau dipermasalahkan?!

Jadi, sah itu bukan ukuran atau standart kebenaran. Karena itu harusnya bisa digugat atau dipermasalahkan. Setidaknya bukan bermaksud menumbangkan pemerintahan Jokowi tapi meluruskan pemerintahannya. Supaya kebijaksanaan-kebijaksanaannya yang tidak pas bisa dibenahi untuk menegakkan harkat dan martabat Pancasila dan UUD 1945.

Jangan mengkultuskan presiden, sebab presiden itu manusia biasa yang sama seperti kita. Karena itu presidenpun bisa melakukan kekhilafan atau kesalahan. Pancasila dan UUD 1945 itulah pengujinya apakah presiden melakukan kebenaran atau kesalahan. Bahkan justru presiden adalah kepalanya rakyat yang harus memberikan keteladanan bagaimana menegakkan Pancasila dan UUD 1945, bukannya memberikan contoh merobohkannya.

Kita beri kesempatan kepada presiden Jokowi untuk memperbaiki diri, bukan memberikan kesempatan kepadanya untuk berkuasa selama 5 tahun. Waktu yang tersisa adalah untuk berbenah bukan untuk melanggengkan kesalahannya. Kesalahan harus diminimalisirkan bukan dimaksimalisirkan.

>> Apakah tujuannya kita berpresiden? Untuk membawa rakyat ke jurang kemiskinan atau untuk mengentas kemiskinan?

>> Apa gunanya ada menteri tenaga kerja? Untuk menambah jumlah pengangguran atau untuk mengurangi pengangguran? Maksudnya, jika untuk menambah angka pengangguran saja mengapa harus dia yang menjadi menteri? Bukankah anak saya juga bisa menambah angka pengangguran?!

>> Apa gunanya ada menteri ekonomi? Untuk menambah susah hidup atau untuk meringankan hidup? Untuk menurunkan harga atau untuk menaikkan harga?

Jika dalam permainan sepakbola, gawang kebobolan bola itu namanya: goal, maka apa namanya untuk kegagalan mencapai tujuan?! Jika pemerintah bilangnya mempunyai program untuk fakir-miskin, mengapa saya masih di sini?! Mengapa fakir-miskin yang bernama Rudyanto masih belum dijangkau?! Tidak tahu atau tidak mau tahu?! Tidak kenal atau tidak mau mengenal?!

Tidak ada komentar: